Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
155. Di Kantor Polisi


__ADS_3

“A Endra!” seru suara seorang perempuan.


“Kiran!” seru Kagendra melihat adik sepupu dari pihak ibunya, Xena Sasikirana Ghazali atau biasa dipanggil Kiran oleh keluarga dan saudara-saudaranya. Kiran adalah polisi muda yang berprestasi. Walaupun usianya masih muda tapi prestasi yang ditorehkannya tidak main-main. Sudah dua kali ia mendapatkan penghargaan prestigious yang hanya mampu didapatkan oleh petugas yang memang benar-benar berprestasi dan memberikan pelayanan terbaik dalam tugasnya. Tidak jarang juga ia mendapatkan luka-luka, baik luka ringan atau luka berat saat bertugas sehingga ibunya sering memintanya untuk pensiun dini.


“A Endra sedang apa di sini? Apa ada kasus?”


“Kamu ada waktu? Bisa kita bicara?”


Kiran melihat jam tangannya lalu mengangguk.


Kagendra berjongkok untuk menyamakan tinggi badan dengan Faris. “Aris, Ayah mau bicara dulu sama Tante Kiran. Kamu sama Om Rudi dulu, ya?”


Faris mengangguk dan melepaskan genggaman tangannya.


“Kita bicara di ruangan Kiran saja, A”


Kagendra berjalan mengikuti Kiran menuju ruangannya.


“Jadi, ada apa, A?’” tanya Kiran tanpa basa-basi.


“Anak Aa diculik.”


“Hah? Yang tadi kan anak Aa. Anak yang mana lagi yang diculik?”


“Yang satu lagi. Kamu kan tahu kalau Aa punya anak kembar. Aris berhasil lolos tapi Aras masih dalam penguasaan para penculik.”


“Oh iya ya. Kiran lupa Aa punya anak kembar. Sudah berapa lama kejadiannya?”


“Lebih dari seminggu.”


“Kenapa Aa tidak menghubungi polisi?”

__ADS_1


“Aa tidak mau melibatkan polisi.”


“Sombong sekali. Apa sekarang Aa dan anak buah Aa berhasil menemukan jejak penculik itu, huh?”


Kagendra menggeleng.


“Nah kan. Makanya jangan terlalu percaya diri dengan kemampuan anak buah Aa. Mungkin Aa dan anak buah Aa memiliki kemampuan untukmengintimidasi oihak lawan atau berhadapan head to head langsung dengan lawan sambil tembak-tembakan dan baku hantam tapi tidak dengan kasus orang hilang. Dulu, nyari istri yang kabur aja gak berhasil, kan?” sindir Kiran. Sepupunya itu memang mengetahui sepak terjang Kagendra di dunia bawah tanah. Kiran juga sering membantu Kagendra dalam kegiatan sampingannya.


“Kamu jangan menyindir seperti itu, Kiran.”


“Bukannya menyindir tapi Kiran kesal karena Aa tidak langsung menghubungi Kiran buat bantu nyari Aras dan Aris. Apa Aa gak nganggep Kiran lagi? Atau gak percaya sama Kiran, huh?”


“Bukannya begitu, Dek. Aa kalut dan tidak bisa berpikir jernih. Kasus ini melibatkan anak-anak Aa bukannya orang lain. Aa dan anak buah Aa bisa berhasil dengan kasus lain tapi sulit jika kasusnya berhubungan dengan orang-orang yang berhubungan dengan orang-orang yang Aa sayangi. Kamu mengerti kan, Dek?”


“Halah, lagunya panggil dak dek dak dek kalau ada maunya.”


Kiran memang ceplas ceplos jika berbicara dengan keluarga atau teman dekatnya. Wibawanya sebagai seorang polisi tangguh otomatis hilang jika bicara dengan orang-orang terdekatnya.


Kagendra menatap tajam Kiran. Ia sedang tidak dalam mood santai saat ini. Ia diburu waktu untuk menemukan Faras sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya.


“Aa masih tidak ingin melibatkan polisi. Aa khawatir para penculik itu akan bertindak jauh jika Aa melibatkan polisi.”


“Tapi kami sudah tahu kasus penculikan terhadap Aras dan Aris. Kami tidak bisa berdiam diri.”


“Kamu atur saja supaya polisi tidak terlibat.”


“Nah, apa Aa kira kalau Kiran ini bukan polisi? Aa minta bantuan Kiran artinya Aa melibatkan polisi.”


“Aa minta bantuan kamu sebagai sepupu Aa, bukan sebagai polisi. Mengerti?” tegas Kagendra seakan tidak ingin dibantah.


“Iya, A. Kiran ngerti. Jangan galak-galak gitu. Kiran suka takut kalau muka Aa sudah merengut seperti itu.” Kiran berusaha mengajak Kagendra becanda agar tidak terlalu tegang.

__ADS_1


“Aa percaya sama kamu.”


“Iya, Kiran jamin, polisi tidak akan bertindak kalau memang Aa tidak berkenan.”


“Terima kasih.”


“Huh, dasar sombong.”


“Jangan lupa makan. Badan kamu sudah seperti triplek begitu,” sindir Kagendra.


“Siapa coba yang ganggu waktu makan siang Kiran. Tadi itu, Kiran mau keluar cari makan.”


“Oh.”


“Cuma ‘Oh’, bukannya minta maaf terus traktir Kiran makan siang.”


“Kamu ikut ke rumah, sekalian makan siang dan bahas kasus.”


“Kiran ada urusan lain. Kalau Kiran sudah selesai, Kiran langsung meluncur ke rumah Aa.”


Kagendra mengangguk. Ia memang harus mengatur strategi untuk menemukan Faras. Dengan Faris yang sudah ditemukan, ia bisa mendapatkan informasi lokasi gudang tempat mereka disekap.


Kagendra keluar dari ruangan Kiran. Ia melihat Faris yang sedang duduk melamun di samping Rudi.


“Aris!” panggil Kangendra. “Kita pulang!”


“Aras bagaimana?”


“Kita pulang dulu. Aris rindu sama Ibu, kan? Kita ketemu dulu sama Ibu. Dari kemarin, Ibu menangis terus ingat sama Aras dan Aris.”


Aris kembali menangis. Ia menghambur memeluk ayahnya. Kagendra menggendong Aris keluar dari kantor polisi. Ia sudah menyerahkan urusan dengan pihak berwajib pada Kiran dan anak buahnya. Ia ingin segera pulang menemui Sadiyah.

__ADS_1


************


to be continued...


__ADS_2