
Kagendra tiba di rumahnya tepat jam 12 malam. Ia melihat Sadiyah yang sudah tidur dengan lelap sambil memeluk guling.
Kagendra duduk di tepi kasur tempat Sadiyah tidur. Ia menatap wajah Sadiyah dalam. Tangannya mengelus pipi mulus milik Sadiyah dan tangannya tetap di wajah Sadiyah untuk beberapa saat.
“I miss you.” ucap Kagendra lirih.
Sadiyah terbangun karena mendengar adzan subuh berkumandang. Ketika ia terbangun ia kaget melihat Kagendra yang terlelap tidur di sebelahnya.
“Aa, bangun A. Mau sholat berjamaah di masjid tidak?” Sadiyah mengoyang-goyangkan lengan Kagendra.
Kagendra bergeming.
Sadiyah kembali mengoyang-goyangkan lengan Kagendra.
Masih juga belum terbangun, Sadiyah mendekatkan bibirnya di bibir Kagendra. Diciumnya bibir suaminya itu dan setelah menciumnya, ia gigit bibir Kagendra dengan sedikit agak keras.
Kagendra bermimpi sekawanan lebah sedang menyerangnya, dan target serangan segerombol lebah itu adalah bibirnya. Ia merasakan kesakitan di bibirnya setelah seekor ratu lebah menyengat bibirnya.
“Aww…” Kagendra seketika bangun sambil memegang bibirnya yang terasa sakit dan panas.
Sadiyah tertawa tertahan mendengar jerit kesakitan dari Kagendra.
“Kenapa A?” tanya Sadiyah tanpa rasa bersalah.
“Saya mimpi bibir saya digigit ratu lebah. Rasanya panas dan sakit.” Kagendra masih memegangi bibirnya yang terasa bengkak karena sengatan ratu lebah.
“Ah itu kan cuma mimpi.” ujar Sadiyah sambil berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya.
“Memang hanya mimpi tapi sengatan ratu lebah itu seperti nyata. Bibir saya berasa panas dan bengkak.” Kagendra bangun dari berbaringnya menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melihat cermin mengecek keadaan bibirnya.
“Ratu lebahnya kan Iyah. Iyah yang menyengat bibir Aa.” Sadiyah terkikik mengingat kejahilannya menggigit bibir Kagendra.
Kagendra bercermin dan melihat bibirnya memang agak sedikit memerah. Ia merasa heran dengan mimpinya yang terasa nyata.
“Gak sholat di masjid A?” tanya Sadiyah yang melihat Kagendra masih santai berada di dalam kamar mandi.
“Saya sholat di rumah saja. Kita berjamaah.” tawar Kagendra.
“Siap Bos.” ucap Sadiyah sambil ikut masuk ke dalam kamar mandi untuk menyikat giginya dan berwudhu.
__ADS_1
“Aa mau sarapan dengan menu apa?” tanya Sadiyah setelah mereka selesai sholat subuh berjamaah.
“Menu sarapan andalan kamu saja. Saya sudah kangen dengan masakan kamu.” jawab Kagendra lugas.
“Iyah masakin menu sarapan lengkap buat Aa yang sudah absen tidak makan masakan Iyah selama satu minggu lebih.” seru Sadiyah bersemangat.
Kagendra tersenyum melihat kegembiraan yang terpancar dari wajah Sadiyah. Ia merasa sedikit menyesal karena telah berbohong mengenai kepergiannya ke Singapura.
“Oh iya A. semalam Aa pulang jam berapa? Maaf Iyah gak tungguin soalnya ngantuk banget. Lagian Iyah juga gak tahu Aa pulangnya kapan jadi gak Iyah siapkan makan malam juga. Maaf ya A.” Sadiyah menampilkan wajah menyesalnya
“Maaf. Seharusnya aku yang minta maaf” ucap Kagendra dalam hatinya.
Kagendra tersenyum menanggapi permintaan maaf Sadiyah.
Sadiyah segera beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan bagi suaminya. Ia akan memasak menu sarapan yang istimewa mengingat sudah satu minggu lebih suaminya itu tidak menikmati masakan buatannya.
“Setelah urusan ini selesai, saya akan benar-benar berada di sisi kamu. Saya harap kamu mau bersabar dan menunggu saya menyelesaikan urusan yang belum tuntas ini. Percayalah, nanti kamu akan memiliki saya seutuhnya.” janji Kagendra pada Sadiyah yang baru sanggup ia ucapkan dalam hatinya saja.
*************
Hari ini, Rika dan Tegar, suaminya beserta dengan putri mereka datang berkunjung ke rumah baru Sadiyah.
“Iya maafin Teh Iyah. Teteh juga baru tahu info pindahnya dua hari sebelumnya. Memang suami teteh itu ngeselin banget.” Sadiyah meminta maaf.
“Padahal kalau saya tahu Teh Iyah dan suami sedang bangun rumah, saya bisa tawarkan loh jasa saya buat desain interiornya.” sesal Tegar.
“Maaf deh Mas Tegar. Nanti kalau saya punya kantor cabang di kota ini, saya minta bantuan deh sama Mas Tegar. Tapi nanti ya, soalnya saya belum punya cukup modal nih buat bikin kantor sendiri.” Sadiyah memang berencana untuk mendirikan kantor cabang di kota ini agar memudahkan ia untuk mengembangkan usahanya.
“Siap bantu, Teh.” seru Tegar semangat.
“Do’akan saja supaya dananya cepat terkumpul.” pinta Sadiyah
“Aamiiin.” Rika dan Tegar kompak mengaminkan keinginan Sadiyah.
“Teh, besok sudah punya acara sendiri belum?” tanya Rika.
“Belum tahu nih. Tapi sepertinya sih belum ada agenda yang sudah terjadwal.” jawab Sadiyah.
“Boleh gak kalau saya minta antar ke suatu tempat?” Rika ragu-ragu meminta.
__ADS_1
“Mau antar kemana? Insya Allah Teteh antar kalau memang waktunya tidak bentrok dengan jadwal yang sudah Teteh susun.”
“Antar ke dokter kandungan.” jawab Rika.
“Haaaaaaah….kamu hamil Ka?” tanya Sadiyah kaget.
Rika menganggukan kepalanya.
“Kenapa bukan suami kamu yang antar?” tanya Sadiyah sambil memandang tajam ke arah Tegar.
“Maaf Teh kalau merepotkan. Kebetulan besok jadwal kontrol ke dokter kandungan bentrok dengan rapat penting di kantor pusat yang ada di Singapura. Jadi besok subuh saya harus sudah berangkat ke Singapura dan berada di sana selama satu minggu. Saya mohon kebaikan dari malaikat penolong kami agar bisa mengantar istri tercinta saya kontrol ke dokter kandungannya.” Tegar memasang wajah memelas meminta keikhlasan Sadiyah untuk mengantar Rika.
“Dasar lebay.” tanggapan Sadiyah atas permintaan Tegar.
“Karena saya sudah bingung kemana lagi kami meminta pertolongan selain pada malaikat penolong kami.” Tegar kembali memainkan dramanya.
“Dasar nyebelin.” Sadiyah memasang wajah cemberutnya.
“Teh Iyah sebutkan saja satu keinginan Teh Iyah, maka saya akan berusaha mengabulkannya.” Tegar masih berdrama ria.
“Sudah ah, geli dengernya juga.” protes Sadiyah untuk menghentikan drama yang diciptakan oleh Tegar.
Rika hanya cekikikan saja menyaksikan tingkah konyol suaminya.
“Mau kan Teh?” Tegar kembali menanyakan kesediaan Sadiyah untuk mengantar istrinya.
“Insya Allah. Apa sih yang tidak buat kalian.” sahut Sadiyah.
“Makasih Teteh.” Rika memeluk erat Sadiyah.
“Awas kalau Mas gak bawa oleh-oleh khusus buat Teh Iyah dari Singapura. Aku cincang nanti.” ancam Rika.
“Siap sayang….” Tegar mencium pipi istrinya dengan hangat.
Sadiyah yang menyaksikan keromantisan pasangan yang ada di hadapannya ini ikut berbahagia, apalagi ketika ia mendengar kabar gembira bahwa Rika sedang hamil anak keduanya.
*****************
to be continued....
__ADS_1