
“Pasti Natasha yang menculik mereka. Itu pasti.” Sadiyah histeris saat menyadari kemungkinan Natasha menculik Faras dan Faris.
“Kita belum punya bukti kalau Natasha yang menculik mereka.”
“Aaargh…” Sadiyah benar-benar terpukul mendengar kabar kedua anak kembarnya diculik. Ia menyalahkan Kagendra atas semua kejadian yang menimpa anak mereka. Ia marah karena Kagendra tidak mendukung dugaannya bahwa Natasha lah dalang dibalik penculikan Faras dan Faris.
“Tenanglah, Sayang.” Kagendra mencoba menenangkan Sadiyah yang berteriak-teriak histeris.
“Semuanya gara-gara kamu. Andaikan saja kamu tidak kembali dalam kehidupanku yang tenang, semua ini tidak akan terjadi. Aku dan anak-anak sudah hidup nyaman di desa tanpa kamu. Pergi kamu! Kamu hanya memberikan kepedihan dan penderitaan saja. Aaargh…”
Sadiyah meronta mencoba melepaskan diri dari dekapan Kagendra. Setelah tenaganya habis akibat meronta dan memukul-mukul dada Kagendra, ia menggigit pundak Kagendra sekuatnya dengan harapan Kagendra kesakitan dan akan melepaskan dirinya.
Darah tampak merembes dari kameja yang dipakai Kagendra tapi ia tidak melepaskan pelukannya terhadap Sadiyah.
“Tenanglah, Sayang. Kita pasti bisa menemukan Aras dan Aris. Mereka anak yang cerdas. Pasti mereka bisa bertahan.”
“Kembalikan Aras dan Aris!” Sadiyah kembali meraung-raung.
Setelah Sadiyah mengetahui kabar penculikan Faras dan Faris, ia tidak mau menemui siapapun termasuk menggendong dan menyusui bayi kembar yang baru saja dilahirkannya.
Sepanjang hari, jika tidak melamun, maka Sadiyah akan menangis histeris. Alena dan Atep mencoba menggantikan peran Kagendra dan Sadiyah sebagai orangtua pengganti bagi keponakan kembar mereka yang baru saja lahir.
******
Sudah hari kelima sejak peristiwa penculikan Faras dan Faris. Kagendra sudah mulai frustasi dengan keadaan. Ia mulai meragukan kemampuan para anak buahnya dalam menemukan Faras dan Faris.
Bugh…bugh…
“Kalian memang tidak berguna. Dulu, kalian tidak berhasil menemukan istri saya dan sekarang kalian juga tidak bisa menemukan anak-anak saya. Berengsek kalian semua!”
Kagendra mulai melampiaskan kekesalannya dengan memukuli anak buahnya.
“Sabar, Ndra. Jangan sampai kamu kehilangan kendali seperti ini. Abah sudah mulai menggerakkan semua anak buah Abah untuk membantu kalian mencari Aras dan Aris. Mereka adalah cucu-cucu Abah. Abah pun berhak untuk membantu mencari mereka. Turunkan ego kamu. Jangan segan menerima bantuan Abah.”
“Tapi, Bah…”
“Jangan gengsi menerima bantuan. Ingat! Abah bukan orang lain. Abah adalah ayah kamu dan kakek dari anak-anak kamu. Reputasi kamu dan kelompok kamu tidak akan jatuh hanya karena menerima bantuaan dari orang-orang gaek seperti Abah dan anak buah Abah. Kami memang sudah tua tapi kami memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dari kalian.”
Kagendra mengangguk pasrah mendengar perkataan ayahnya.
“Kang, kami menemukan sedikit petunjuk. Orang-orang kita melihat ada anak kecil berkeliaran di daerah sekitar terminal bus.” Salah seorang anak buah Yusuf yang bernama Bahar melapor, Yusuf memang membiasakan anak-anak buahnya untuk memanggilnya dengan sebutan Kang, berbeda dengan Kagendra yang dipanggil Bos.
“Dua orang anak kecil?” tanya Yusuf antusias.
__ADS_1
“Hanya satu orang, Kang,” jawab Bahar sambil memperlihatkan sosok anak kecil di dalam layar ponselnya.
“Ah, ini Aras atau Aris, ya?” Yusuf mengambil ponsel milik Bahar dan memperlihatkannya pada Kagendra.
“Ini Aris!” seru Kagendra lantang. “Mang Bahar yakin kalau cuma ada satu orang anak kecil?” tanya Kagendra.
“Iya, Den. Hanya ada satu anak kecil yang terlihat.”
“Bos!” Rudi datang tergopoh-gopoh.
“Ada apa, Rud?”
“Ada petunjuk besar, Bos. Orang kita yang bertugas membuntuti Natasha menemukan hal yang mencurigakan. Natasha terlihat mendatangi sebuah gudang kosong di daerah selatan.”
“Kita segera menuju ke sana, Rud.” Kagendra bergegas.
“Jangan terlalu reaktif, Ndra. Kita sudah menemukan petunjuk kalau Aris sudah terlihat di daerah terminal bus. Kita harus menemukan dan menyelamatkan Aris terlebih dahulu. Abah tidak sanggup membayangkan anak sekecil Aris berkeliaran di terminal. Bagaimana kalau dia kelaparan dan kedinginan? Abah akan mengerahkan anak buah Abah untuk mencari Aris. Kamu kerahkan anak buah kamu untuk menyergap Natasha.”
“Iya, Bah.”
Drrrt…
Ponsel Kagendra bergetar. Ada nomor yang tidak dikenal tampil di layar ponsel milik Kagendra. Biasanya Kagendra jarang menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal tetapi saat ini ia berharap kalau orang yang menghubunginya memberikan pentunjuk sekecil apapun tentang keberadaan anak-anaknya.
“Selamat siang, Pak. Saya Agung dari polsek Cinam**. Apa benar saya bicara dengan ayah dari anak bernama Faris?”
“Siang, Pak. Benar saya dengan ayahnya Faris. Apa Faris ada bersama dengan Bapak?”
“Betul, Pak. Faris diantarkan ke kantor kami. Dia mengaku sudah dua hari terlunta-lunta di jalan hingga akhirnya diantarkan ke kantor kami.”
“Terima kasih, Pak. Saya akan segera datang untuk menjemput anak saya. Apa boleh saya bicara dengan anak saya?”
Terdengar petugas kepolisian itu memberikan teleponnya pada Faris.
“Hallo, Ayah.”
“Aris? Kamu benar Aris?” tanya Kagendra tidak sabar.
“Iya, Ayah. Ayah cepat kesini. Aris takut.” Faris mulai terisak.
“Jangan khawatir. Ayah segera menjemput kamu, Nak. Kamu sendirian? Aras dimana?”
Faris mengangguk tanpa menyadari kalau ayahnya tidak bisa melihat anggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Aras masih di gudang, Yah. Aras dipukuli sama orang jahat itu. Tadinya Aris juga mau dipukuli sama orang jahat itu tapi Aras yang jadi dipukulinya. Ayah cepat datang. Kasihan Aras.”
“Iya, Nak. Kamu tunggu sama Bapak Polisi. Jangan kemana-mana!”
Air mata meleleh dari pelupuk mata Kagendra. Ia lega sekaligus takut. Ia lega karena Faris bisa meloloskan diri dari sekapan para penjahat itu dan berada di tempat yang aman bersama dengan para polisi. Namun, Kagendra merasa takut dengan kondisi Faras yang belum ia ketahui. Ia yakin para penjahat itu melampiaskan kekesalan karena Faris berhasil meloloskan diri pada diri Faras. Ia jadi kembali teringat dengan pengalaman buruk saat ia diculik dulu. Ia bisa merasakan bagaimana Faras dan Faris saat berada dalam cengkraman para penjahat itu.
Kagendra bergegas menuju kantor polisi ditemani oleh Rudi dan beberapa anak buahnya. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke kantor polisi.
“Aris!” Kagendra berteriak memanggil Faris saat ia melihatnya duduk di kursi ditemani oleh beberapa orang polisi wanita.
“Ayah!” Faris segera berlari memeluk Kagendra. Ia curahkan segala rasa takut, lelah dan sedih yang ia tahan selama beberapa hari ini dalam tangisan. Setelah berhasil meloloskan diri dari cengkraman para penculik dan berkeliaran tak tentu arah di jalanan kota, Faris menguatkan dirinya untuk tetap bertahan demi saudara kembarnya yang masih disekap.
Adegan ayah dan anak berpelukan membuat orang-orang yang menyaksikannya meneteskan air mata. Faris memang telah menceritakan sedikit kisah penculikan yang dialami olehnya kepada para polisi wanita yang tadi mengelilinginya. Sepertinya Faris memang memiliki kemampuan untuk bercerita dengan baik. Para polisi wanita itu ikut merasakan kesedihan saat Faris menceritakan penderitannya.
“Aris terluka?” Kagendra bertanya sambil memeriksa tubuh Faris dengan saksama. Ia tidak melihat luka luar yang cukup serius. Hanya ada beberapa luka kecil di lutut dan siku Faris.
Faris menggeleng. Ia menyusut air mata dan ingus dengan punggung tangannya.
“Aris tidak terluka tapi Aras terluka. Orang-orang jahat itu mukulin Aras,” adu Faris.
“Apa yang orang-orang jahat itu lakukan?” tanya Kagendra geram.
“Maaf, Pak. Saya Agung yang tadi menelepon Bapak.” Seorang polisi tampak datang menghampiri dan menginterupsi Kagendra.
“Maaf, Pak Polisi. Saya Kagendra, ayah dari Faris.”
“Sebaiknya, Bapak jangan dulu bertanya apa-apa pada Faris. Saya khawatir Faris trauma jika ia kembali mengingat hal buruk yang terjadi padanya.”
“Aris baik-baik saja, Pak Polisi. Aris harus segera menyelamatkan Aras. Aras dipukuli karena Aris. Aras melindungi Aris dan gak ingin Aris kena pukul. Orang-orang jahat itu pukul Aras, Yah. Tadinya mau pukul Aris tapi malah pukul Aras. Aris takut terus nangis jadinya Aras yang kena pukul.” Faris bercerita dengan kalimat yang kurang runut karena rasa khawatir pada saudara kembarnya.
Beruntung Kagendra berhasil menangkap maksud dari Faris. Ia pun lega karena sepertinya Faris tidak mengalami trauma atas kejadian yang menimpanya. Ia berusaha untuk menceritakan detail peristiwa yang dialami dirinya dan Faras.
“Aris mengenal orang-orang yang memukuli Aras?” tanya Kagendra hati-hati.
“Pak Kagendra…” sela Agung.
“Tidak apa-apa, Pak Polisi. Saya bisa pastikan kalau anak saya tidak mengalami trauma. Saya mengenal anak saya. Dia sedang berusaha memberikan petunjuk kepada kita sesuai dengan kapasitas otak kanak-kanaknya. Anak saya anak yang cerdas. Saya yakin dia akan memberikan petunjuk yang penting.”
Agung mengangguk mendengar penjelasan Kagendra.
“A Endra!” seru suara seorang perempuan.
************
__ADS_1
to be continued....