
“Neng, kamu sudah benar-benar yakin dengan semua ini?” tanya Darmawan untuk memastikan.
“Sudah sangat yakin, Mang.”
Darmawan menganggukkan kepalanya.
“Nanti Iyah akan ganti nomor telepon. Jangan berikan nomor telepon Iyah pada siapapun. Hanya Mang Awan dan Bi Ita yang tahu nomor telepon baru Iyah. Nanti Iyah yang akan menghubungi Mang Awan dan Bi Ita.”
Rostita memeluk Sadiyah dengan erat.
“Hati-hati di desa Cibeber. Kamu harus jaga diri. Jaga kesehatan kamu. Bi Ita harap kamu akan menemukan kebahagian baru.”
“Iyah pamit.” Sadiyah mencium punggung tangan Rostita dan Darmawan.
“Mak, titip Iyah. Tolong jaga dia buat kami.”
“Siap, Den. Iyah sudah seperti anak Mak. Mak ikut mengasuh Neng Iyah sejak bayi. Mak pasti menjaga Neng Iyah.”
“Tolong awasi jadwal makannya ya Mak. Jangan sampai lewat jam makan nanti dia sakit.”
“Insya Allah, Neng. Neng Ita jangan khawatir. Mak pamit dulu.”
***********
Di dalam perjalanan menuju desa Cibeber, ponsel Sadiyah berdering dan ia melihat nama Kagendra yang memanggil di layar.
“Assalamu’alaikum, sayang.” sapa Kagendra
“Wa’alaikumsalam.” jawab Sadiyah.
“Aa ganggu tidak? Kamu lagi ngapain? Aa baru beres dari lokasi. Capek sekali.”
“Iyah lagi istirahat, A. Masih terasa lemas."
“Kepala kamu masih sakit? Masih mual? Kalau kamu mual-mual, seperti tanda-tanda orang yang….”
__ADS_1
“Jangan berpikiran buruk, A. Iyah sudah tidak sakit kepala dan mual-mual lagi. Iyah juga sudah minum obat dan air jahe. Mungkin kemarin-kemarin kecapekan dan masuk angin.”
“Ya sudah, kamu jangan kerja dulu. Istirahat saja sampai badan kamu fit lagi.”
“Iya, A.”
“I miss you. Iyah kangen juga gak sama Aa?”
“Hmmmm….”
“Kenapa jawabnya cuma hmm….”
“I miss you, too.” jawab Sadiyah.
“#Mungkin nanti Iyah akan benar-benar merindukan Aa, tapi sepertinya ini yang terbaik buat kita. Iyah tidak ingin Aa berpura-pura lagi sayang sama Iyah. Iyah tahu kalau Aa terpaksa melakukan ini karena desakan Aki, Abah dan Ibu. Kalau Aa bisa memilih, pasti Aa akan memilih Natasha.” batin Sadiyah yang berbicara.
“Rasanya Aa ingin cepat-cepat pulang saja.”
Hening...
“Ada apa, A?”
“Tidak. Hanya saja kamu kok diam saja. Kamu sedang melamun? Lagi bayangin wajah Aa? Atau teringat momen romantis sama Aa?” goda Kagendra.
Tak disangka, wajah Sadiyah masih merona ketika mendengar godaan Kagendra.
“Sudah dulu ya. Rudi sudah manggil-manggil.”
“Iya, A.”
“Sampai jumpa nanti di rumah. Masakin makanan yang enak-enak buat Aa. Baru 2 hari disini, Aa sudah kangen sama masakan kamu. Lebih kangen sama kamu sih. Sudah ya.”
“Iya, A. bye.” Sadiyah memutuskan sambungan telepon sebelum Kagendra sempat menjawab padahal Kagendra sudah mengucapkan kata I love you tapi Sadiyah sudah terburu menutup sambungan teleponnya.
“Selamat tinggal A. Maafkan Iyah kalau Aa pulang ke rumah, Iyah sudah tidak ada di sana. Iyah sudah tidak bisa membuat masakan lagi buat Aa.” Sadiyah kembali meneteskan air matanya walaupun tidak sederas kemarin.
__ADS_1
***********
Keesokan harinya, Kagendra sama sekali tidak bisa menghubungi Sadiyah. Tidak terhitung berapa banyak teks yang dikirimkan dan juga panggilan yang tidak terjawab. Semua pesan teks masih bercentang satu yang artinya ponsel Sadiyah belum aktif.
Saat ini, Kagendra masih berpikiran positif. Ia mengira mungkin ponsel Sadiyah sedang kehabisan daya dan ia lupa untuk mengisi dayanya. Ataupun kuota internetnya sudah habis. Tapi kan di rumah mereka memasang wifi, tidak mungkin jika Sadiyah kehabisan kuota. Apakah dia lupa membayar tagihan wifi.
Kagendra segera mengecek tagihan wifi di rumahnya. Setelah dicek ternyata tagihannya sudah selesai dibayar.
Esok harinya, Kagendra mengecek ponselnya dan masih melihat pesan yang dikirimkan pada Sadiyah belum terbaca. Ia mencoba melakukan panggilan ke telepon Sadiyah tapi tetap ponselnya belum aktif.
Kagendra segera menghubungi anak buahnya yang bertugas untuk mengawasi istrinya.
“Fai, kamu masih mengawasi istri saya kan?”
“Masih, Bos. Istri Bos masih terpantau berada dalam rumah dan tidak keluar rumah sejak Bos pergi ke Thailand. Hanya saja beberapa hari lalu ada yang berkunjung ke rumah Bos.” jelas Faiq, anak buah Kagendra yang diperintahkan untuk mengawasi Sadiyah demi keselamatannya selama Kagendra berada di luar negeri.
Sebenarnya, Kagendra sudah berhenti memerintahkan Faiq untuk mengawasi Sadiyah. Tapi Kagendra memerintahkan Faiq kembali untuk mengawasi Sadiyah untuk keselamatan istrinya itu selama ia berada di Thailand.
“Siapa yang berkunjung ke rumah saya?”
“Seorang ibu-ibu, sepertinya keluarganya istri Bos. Saya kirimkan foto yang saya ambil.”
Faiq mengirimkan foto Mak Isah dan Mang Aep yang sedang berkunjung ke rumah mereka.
Kagendra melihat Mak Isah dalam foto yang dikirimkan oleh Faiq dan merasa lega karena ada yang menemani istrinya selama ia berada di luar negeri.
“Itu Mak Isah, yang bantu-bantu di rumah keluarga istri saya. Berapa hari Mak Isah menginap di rumah saya?”
“Hanya satu malam, Bos.”
“Terima kasih atas infonya, Fai.”
Hari ini, hari terakhir Kagendra berada di Thailand. Nanti sore ia akan mengambil penerbangan pulang ke Indonesia.
************
__ADS_1