Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
117. Akhirnya Datang Juga


__ADS_3

Keesokan paginya, Kagendra bangun dengan mood yang cukup buruk. Dokter yang menanganinya belum memperbolehkan ia pulang padahal ia sudah bosan hanya berbaring saja di tempat tidur. Terlebih lagi Sadiyah belum tampak batang hidungnya hingga jam sudah menunjuk ke angka sepuluh.


“Bu…Iyah kok belum kesini lagi sih?” tanya Kagendra manja pada Ibunya.


“Biarkan istri kamu istirahat dulu  dengan benar. Kamu tahu tidak selama kamu koma empat hari, istri kamu itu tidak pernah beranjak dari samping kamu. Istri kamu cuma beranjak dari duduknya itu untuk ke air atau sholat. Bahkan dia tidur di samping tempat tidur kamu dengan posisi duduk. Jadi sekarang jangan mengeluh kalau Iyah belum kesini lagi. Biarkan istri kamu itu istirahat dengan benar di rumah.” omel Indriani.


“Ya sudah kalau begitu, Aa mau jalan-jalan saja ke taman.”


“Eeeeh, tadi tidak dengar apa kata dokter? Aa tidak boleh banyak bergerak dulu karena lukanya masih belum kering dan rentan terbuka kembali. Sudah jangan ngeyel.” bentak Indriani kesal.


“Aa bosan berbaring terus, Bu.” protes Kagendra.


“Siapa suruh sok jadi pahlawan kesiangan. Aa pikir tubuh Aa terbuat dari baja yang tahan terkena tusukan senjata tajam? Makanya jadi orang itu jangan sok. Tubuh terbuat dari daging saja masih berani-beraninya menahan tusukan senjata tajam.”


“Itu kan bukan maunya Aa, Ibuuu….. penjahat itu saja yang tidak sopan sampai berani-beraninya nusuk orang.”


“Mana ada penjahat yang sopan, Aa…… yang ada mereka akan melakukan apapun untuk melumpuhkan lawan mereka. Aa ini kalau bicara suka ngasal.” sungut Indriani.


“Hehehe….” Kagendra terkekeh mendengar omelan ibunya.


Menjelang magrib, Sadiyah pun belum tampak mengunjungi Kagendra. Sepertinya Sadiyah benar-benar terkapar di rumah.


Indriani menghubungi Mak Isah untuk mencari tahu keadaan Sadiyah. Indriani merasa khawatir karena tidak mendapatkan kabar dari menantunya itu sepanjang hari.


“Mak Isah, bagaimana kabar Iyah?” tanya Indriani lewat sambungan telepon.


“Neng Iyah baik-baik saja, Bu. Tadi sempat bangun untuk makan dan sholat, kemudian tidur lagi. Ini saya mau membangunkan Neng Iyah untuk sholat mangrib.” jelas Mak Isah.


“Ya sudah. Biarkan saja Iyah istirahat yang cukup. Selama satu minggu ini dia tidak tidur dengan benar. Saya hanya khawatir karena belum mendengar kabar dari Iyah. Takutnya Iyah kenapa-kenapa.”


“Neng Iyah baik-baik saja kok Bu. Sepertinya Neng Iyah sangat lelah sampai tidur terus.” sahut Mak Isah.


“Tolong jaga menantu saya ya Mak. Terima kasih.” setelah mengucapkan terima kasih, Indriani menutup sambungan teleponnya.


********


Keesokan paginya, Sadiyah masih belum menampakkan batang hidungnya di rumah sakit. Kagendra semakin uring-uringan karena seharian kemarin Sadiyah tidak menemaninya ditambah lagi pagi ini, Sadiyah belum datang juga.


Kagendra sudah tidak sabar lagi. Ia mencari ponselnya dan berniat untuk menghubungi Sadiyah dan meminta istrinya itu untuk segera datang ke rumah sakit untuk menemani dirinya.


Kagendra mencoba untuk menghubungi ponsel Sadiyah tapi tidak mendapatkan respon yang diinginkannya. Sadiyah tidak mengangkat panggilannya. Kagendra mencoba beberapa kali lagi tetapi masih tetap tidak mendapatkan jawaban dari Sadiyah.


Kagendra melemparkan ponselnya ke sembarang tempat karena kesal. Beruntung ponselnya jatuh di atas sofa yang empuk sehingga nyawa ponselnya masih selamat. Setelah ponselnya teronggok tak berdaya di atas sofa dekat jendela, pintu kamarnya terbuka dan terlihatlah sosok yang sejak kemarin dirindukannya.


“Iyah…!” teriak Kagendra kesal.

__ADS_1


“Apa sih, A. orang sakit kok teriak-teriak seperti itu.”


“Darimana saja kamu? Kenapa kemarin kamu tidak ke sini? Lalu kenapa kamu tidak menjawab telepon dari Aa?”


“Satu-satu dong A pertanyaannya.” protes Sadiyah.


“Jawab saja apa yang Aa tanyakan.” dengus Kagendra masih kesal.


“Kalau Aa marah-marah seperti ini, Iyah mau pulang saja lagi.” Sadiyah sudah beranjak dari kursi di samping ranjang.


Namun sebelum Sadiyah berdiri dengan sempurna, Kagendra mencekal pergelangan tangannya.


“Eeeeeh….mau kemana lagi?”


“Iyah mau pulang saja.”


“Kenapa mau pulang?” desis Kagendra.


“Habisnya Aa marah-marah. Iyah gak mau dimarahin terus sama Aa. Daripada dengerin orang yang marah-marah, mendingan Iyah pulang.” ancam Sadiyah.


“Maaf… habisnya Aa kesal karena dari kemarin Aa tidak bisa lihat wajah istri Aa yang cantik jelita ini, ditambah lagi istri Aa yang ngegemesin ini tidak menjawab panggilan telepon Aa dari tadi. Aa kan khawatir sama istri Aa yang manis ini.” rayu Kagendra sambil menjawil dagu Sadiyah.


“Apaan sih.” Sadiyah menepis tangan Kagendra yang mencoba untuk menjawil dagunya lagi.


“Sini deh.” Kagendra memberikan isyarat dengan jarinya agar Sadiyah mendekat padanya.


“Sini dulu.”


Sadiyah mendekatkan dirinya hingga wajahnya hanya berjarak 20 cm saja dari wajah Kagendra.


Cup


Kagendra mengecup bibir Sadiyah cepat.


Karena kaget, Sadiyah memukul pundak Kagendra.


“Aww….”


Kagendra meringis kesakitan karena pukulan Sadiyah mengenai luka lebam yang ada di pundaknya akibat pukulan benda tumpul yang dilayangkan para preman itu.


“Eh..eh…maaf A. Kena lukanya ya?” Sadiyah meraba-raba pundak Kagendra yang tadi kena pukulannya.


Kagendra menjawab dengan ringisan kesakitannya.


“Iyah panggilkan dokter ya.” Sadiyah hendak beranjak keluar dari kamar untuk mencari dokter.

__ADS_1


“Tidak usah. Lukanya akan sembuh karena obatnya ada di sini.”


“Eh….” Sadiyah menatap Kagendra bingung.


“Aa tidak akan kesakitan lagi kalau diberi obatnya sama kamu.”


“Memang sudah waktunya minum obat?” tanya Sadiyah bingung karena biasanya suster akan memberikan obat sesuai jadwal yang sudah ditentukan.


“Bukan obat itu. Ini obatnya lebih mujarab.”


“Maksudnya apa sih, A? Iyah gak ngerti.”


“Obatnya ini.” jari-jari Kagendra menyentuh bibir Sadiyah dengan lembut.


Wajah Sadiyah tiba-tiba menjadi berubah warna. Ia menundukkan kepala dan tidak berani menatap langsung wajah Kagendra.


“Kenapa menundukkan kepala? Aa kan jadi tidak bisa melihat wajah kamu dengan jelas.”


“Iyah malu.” Sadiyah mencubiti lengan Kagendra yang sudah ia yakini tidak terdapat luka yang dihasilkan para preman itu.


“Kenapa malu?” goda Kagendra.


“Aa jangan ngomongin itu.” wajah Sadiyah semakin merona.


Kagendra menangkup wajah Sadiyah dengan kedua tangannya dan menatap wajah Sadiyah dengan lekat.


“Aa sangat mencintai kamu. I love you so much. I love you to the moon and back.”


Ada sebulir air mata yang lolos dari pelupuk mata Sadiyah.


“Hei…kenapa menangis? Maafkan Aa. Maafkan jika selama ini Aa telah menyakiti kamu. Mulai sekarang, Aa akan berusaha untuk tidak membuat kamu menangis lagi. Tapi kenapa ini ada air matanya sih?” Kagendra menghapus jejak air mata Sadiyah dengan jempol tangannya.


Bukannya berhenti, Sadiyah malah semakin terisak.


“Eh…eh… kenapa menangisnya semakin kencang. Maaf kalau Aa ada salah lagi sama kamu. Jangan menangis lagi dong.” Kagendra mengambil tisu yang ada di nakas dan menyusut air mata yang keluar mengaliri pipi Sadiyah.


Kagendra juga menciumi kelopak mata dan pipi Sadiyah untuk menghentikan tangisan Sadiyah.


“Maaf, sayang. Maafkan Aa. Jangan menangis lagi ya.” bujuk Kagendra.


Tiba-tiba Sadiyah memeluk Kagendra dan membenamkan wajahnya di dada Kagendra.


“Aa harus janji tidak akan lagi meninggalkan Iyah. Aa harus janji kalau Aa tidak akan lagi mencintai perempuan lain. Aa harus janji kalau Aa akan bersama dengan Iyah selamanya.”


“Maaf, Aa tidak bisa janji kalau Aa tidak akan mencintai perempuan lain.”

__ADS_1


************


to be continued...


__ADS_2