Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
38. Rumah Baru


__ADS_3

Hari ini, Sadiyah menginjakkan kaki di rumah baru Kagendra yang suaminya itu sebut rumah kita. Hal ini sebenarya membuat hati Sadiyah bahagia. Dengan Kagendra menyebut rumah barunya itu rumah kita membuat Sadiyah merasa diakui dan dihargai.


Sadiyah memandang punggung Kagendra yang sedang sibuk membawakan koper milik Sadiyah ke lantai atas. Kembali bibirnya melengkung membentuk senyuman.


“Terima kasih” ucap Sadiyah lirih.


Sadiyah mengikuti Kagendra menaiki tangga dan berjalan menuju kamar tidur mereka.


Kamar tidur mereka di sini lebih luas dibandingkan kamar tidur di aparteman. Ukuran kasurnya pun lebih besar dengan jendela besar sehingga jika jendelanya dibuka mampu menyerap banyak sinar matahari.


Sadiyah membuka gorden di jendela kamarnya dan melihat pemandangan taman indah yang terpampang di hadapannya.


“Pemandangan dari jendela sini indah banget, A.” seru Sadiyah.


“Kamu suka?” tanya Kagendra.


“Suka banget.” jawab Sadiyah.


“Makasih, A.” tanpa sadar Sadiyah memeluk erat tubuh Kagendra untuk meluapkan kebahagiannya.


Kagendra membalas pelukan Sadiyah dan mengecup puncak kepala Sadiyah yang tepat berada di bawah dagunya.


“Ehm…” terdengar deheman yang membuat Kagendra dan Sadiyah kaget dan langsung mengurai pelukan mereka. Orang yang berdehem itu ternyata Rudi, sekretaris Kagendra yang membawa beberapa gantungan baju berisi jas kerja Kagendra.


“Maaf Bos mengganggu. Ini saya simpan di mana ya?” tanya Rudi sedikit canggung setelah menyaksikan adegan romantis di hadapannya.


“Kamu langsung  simpan di walk in closet saja di bagian sebelah kiri. Sebelah kanan bagian istri saya.” jawab Kagendra.


“Baik Bos.”


“Kamu bawa bala bantuan tidak?” tanya Kagendra.


“Iya Bos. Saya bawa Asep dan Sari buat bantu-bantu.” jawab Rudi sigap yang memang sudah bersiap membawa OB dan OG dari kantor.


“Bagus. Bilang sama mereka kalau pekerjaan mereka disini akan dibayar diluar dari kerja utama mereka di kantor.


“Siap Bos.” Rudi menyimpan beberapa set pakaian kerja Kagendra di tempat yang tadi Kagendra sebutkan dan segera memanggil Asep dan Sari untuk membantunya menyusun pakaian-pakaian milik Bos mereka.

__ADS_1


Setelah mendengar panggilan Rudi, Asep dan Sari segera membawa beberapa lagi gantungan baju milik Kagendra beserta beberapa pasang sepatu yang segera mereka susun di walk in closet.


“Sari kamu bereskan pakaian-pakaian milik bu Sadiyah.” perintah Rudi.


“Siap, Pak.” jawab Sari sigap.


”Maaf, Bu. Saya izin untuk membongkar koper milik Bu Bos, biar Sari yang membereskannya.” Rudi menghampiri Sadiyah dan meminta izin untuk membereskan barang-barang miliknya.


“Eh, tidak usah repot-repot Pak Rudi. Biar saya saja yang membereskan pakaian saya.” sahut Sadiyah sopan.


“Tidak apa-apa Bu Bos. Memang Bos yang memerintahkan kita untuk membantu Bu Bos beres-beres.”


“Oh iya terima kasih Pak Rudi.” ucap Sadiyah sambil memberikan kopernya kepada Rudi.


“Ini Sari yang akan bantu-bantu Bu Bos beres-beres.” Rudi mengenalkan Sari pada Sadiyah dan menyerahkan koper Sadiyah pada Sari.


“Saya Sari, Bu. Saya siap bantu Bu Bos sampai beres.” Sari memperkenalkan diri dan menegaskan akan membantu Sadiyah sampai tuntas.


“Terima kasih ya Sari.” ucap Sadiyah.


“Siap Bu Bos!” ujar Sari tegas sambil memberi hormat dan setelahnya segera berlalu dari hadapan Sadiyah dan Rudi untuk memindahkan pakaian Sadiyah dari koper ke lemari.


*************


Karena belum memungkinkan untuk memasak, maka Sadiyah memutuskan untuk memesan makanan secara online saja. Setelah beres memesan makanan, Sadiyah menghampiri Kagendra yang sedang duduk di sofa di ruangan tengah sambil membaca sesuatu dari ponselnya.


“A, kalau tahu kita pindah sekarang, saya gak akan belanja banyak bahan masakan kemarin. Gimana dong nasib mereka di dalam kulkas.” tanya Sadiyah


“Nanti kita angkut ke sini.” jawab Kagendra singkat dan jelas.


“Okay.” sahut Sadiyah sambil mengacungkan jempol tangan dan mengedipkan mata kirinya.


Kagendra tersenyum melihat Sadiyah yang ceria.


“Asep, Sari. Istirahat dan sholat dulu, lalu kita makan siang bareng.” perintah Sadiyah pada Asep dan Sari.


“Siap Bu Bos.” sahut Asep dan Sari kompak.

__ADS_1


“Saya gak disuruh istirahat dan makan juga Bu Bos?” tanya Rudi yang ada di sebelah ASep.


“Pak Rudi juga. Masa saya tega sama Pak Rudi tidak mengizinkan untuk istirahat dan makan siang.” ujar Sadiyah sambil melemparkan senyum manisnya.


Kagendra yang melihat interaksi antara istri dan sekretarisnya mendengus sebal.


“Sadiyah, kamu jangan kegenitan gitu sama sekretaris saya.” ujar Kagendra ketus.


“Siapa yang kegenitan. Dasar cowok bengis menyebalkan.” Sadiyah mengomel dengan suara rendah agar tidak terdengar oleh Kagendra. Rudi yang mendengar perdebatan antara suami istri itu hanya bisa mengulum senyumnya menyadari bahwa Bosnya itu sedang dalam mode cemburu.


Setelah istirahat, sholat dan makan siang, Sari dan Asep melanjutkan pekerjaan mereka karena masih banyak barang-barang yang harus mereka tata. Kagendra dan Rudi pergi ke apartemen untuk mengambil beberapa barang yang masih tertinggal dan juga bahan masakan dan makanan yang masih ada dalam kulkas.


“Sari, saya mau istirahat dulu di kamar. Kamu tidak apa-apa kan kalau bekerja sendiri.” tanya Sadiyah tidak enak karena meninggalkan Sari beres-beres sendiri.


“Tidak apa-apa Bu. Kan saya dibantu sama Kang Asep.” jawab Sari mantap.


“Makasih ya.” ucap Sadiyah dan segera masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang benar-benar kelelahan karena aktivitas hari ini dan juga tadi malam.


“Bos beruntung banget punya istri seperti Bu Bos yang cantik juga baik banget.” gumam Sari sambil meneruskan pekerjaannya.


Menjelang sore, Asep dan Sari sudah tuntas membereskan semuanya. Kagendra dan Rudi juga sudah kembali sambil membawa dua dus besar berisi sisa barang dan bahan masakan dan makanan dari kulkas.


“Rudi, Asep, Sari kalian boleh pulang. Terima kasih untuk hari ini. Honor Asep dan Sari nanti akan diberikan oleh Rudi.” tegas Kagendra pada Rudi, Asep dan Sari.


“Sama-sama Bos. Semoga Bos dan Bu Bos betah tinggal di rumah ini.” ujar Sari.


Kagendra memindai ruangan di lantai bawah rumahnya dan tidak menemukan istrinya. Kemudian ia menaiki tangga menuju kamar tidurnya dan menemukan Sadiyah sedang berbaring di atas kasur.


“Sadiyah, bangun. Sudah jam empat sore.” Kagendra menggoyangkan lengan Sadiyah.


Sadiyah membuka mata dan mengucek-ngucek matanya.


“Jam berapa ini, A?” tanya Sadiyah dengan mata yang masih menyipit.


“Sudah jam empat sore. Cuci muka sana.” perintah Kagendra.


Sadiyah segera terbangun dari berbaringnya dan langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka sekaligus berwudhu.

__ADS_1


**************


to be continued...


__ADS_2