
Satu minggu kemudian, Kagendra berhasil menyelesaikan segala permasalahan yang mendera perusahaannya. Sore ini ia akan menjemput Sadiyah di Bandung dan langsung berangkat ke Maldives Island keesokan harinya.
Kagendra sampai di Bandung pukul delapan malam.
“Aa mau mandi dulu, setelah mandi kita langsung balik ke Jakarta,” ucap Kagendra sesaat setelah ia mandaratkan bokongnya di sofa.
“Jam berapa pesawatnya?” tanya Sadiyah.
“Besok siang, jam 2.”
“Aa tidak capek? Baru saja sampai sudah mau pergi lagi. Iyah tidak mau ya di sana Aa malah sakit. Jangan menzalimi tubuh, A. Berilah waktu untuk istirahat barang sejenak,” kata Sadiyah khawatir.
“Biar sekalian saja capeknya. Lagian yang bawa mobil juga supir, jadi Aa bisa istirahat di perjalanan.”
“Tahu begini, Iyah pakai kereta atau bis saja pergi ke Jakartanya. Tidak usah Aa yang menjemput ke sini,” sesal Sadiyah.
“Aa yang ingin jemput kamu.”
“Istri khawatir malah cuek. Dasar tidak peka.”
Kagendra tidak mengindahkan gerutuan istrinya. Ia lebih memilih untuk masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Ia memang paling tidak betah jika tubuhnya sudah mulai terasa lengket akibat keringat. Kegiatannya sejak pagi hingga sekarang membuat tubuhnya letih dan mengeluarkan keringat yang tidak sedikit.
“Mau kemana?” tanya Sadiyah ketika melihat Kagendra yang hendak masuk ke kamar.
“Mau mandi.”
“Jangan langsung mandi. Istirahat sebentar sambil mengeringkan tubuh dari keringat. Aa tahu tidak bahaya mandi ketika tubuh masih terasa capek dan berkeringat? Kalau tubuh yang masih bersuhu tinggi terkena air yang dingin, maka akan menyebabkan tubuh menjadi menggigil bukannya malah segar. Selain itu, mandi saat tubuh masih berkeringat akan membuat pembuluh darah menyempit dan membuat suhu tubuh terus naik. Akibatnya tubuh kita bakal mengalami gangguan. Jadi, nurut sama Iyah. Jangan langsung mandi.”
“Tapi tubuh Aa sudah lengket ini.”
“Dibilangin ngeyel.”
“Water heaternya juga lagi rusak. Iyah mau masak air dulu buat Aa mandi.”
“Tidak usah. Lama lagi nunggu air mendidih.”
“Bisa sabar tidak sih? Cuma nunggu setengah jam saja sambil nunggu keringat kering.”
“Ya sudah sambil nunggu air mendidih, kita main saja dulu. Tamu kamu sudah pulang, kan?”
“Eh … tamu? Iyah tidak terima tamu hari ini,” ucap Sadiyah bingung.
__ADS_1
“Tamu bulanan kamu.”
“Ohh… eh, maksudnya apa main?”
Kagendra mengecup bibir Sadiyah sekilas. “Suka pura-pura gak paham.”
“Iyah mau kirim e-mail dulu.” Sadiyang langsung berlari menuju ruangan kerjanya menghindari serangan Kagendra.
********
1 jam kemudian…
“Astaghfirullah… Iyah lupa lagi masak air.”
Sadiyah langsung bergegas menuju dapur untuk mematikan kompor. Sesampainya di dapur, kompor sudah mati dan panci untuk memasak air pun sudah tidak ada. Sepertinya Kagendra sudah mematikan kompor dan membawa air panasnya sendiri untuk mandi.
Tiba di kamar, Sadiyah melihat Kagendra terlelap di atas kasur dengan rambut yang masih basah. Ia membiarkan Kagendra tidur agar mendapatkan istirahat yang cukup. Kemudian ia memberitahu supir untuk beristirahat saja karena mereka akan pergi ke Jakarta besok pagi.
Sadiyah melihat Kagendra tidur dengan sarung dan peci yang masih dikenakannya. Melihat hal itu Sadiyah yakin Kagendra sudah mengerjakan salat isya sehingga ia tidak membangunkannya untuk salat.
Ia sudah pasrah kalau besok subuh Kagendra akan marah padanya karena ia tidak membangunkan. Sadiyah melihat kelelahan di wajah tampan suaminya sehingga ia tidak tega untuk mengganggu tidurnya. Biarlah besok ia tanggung kemarahan Kagendra. Ia juga yakin Kagendra tidak akan terlalu marah padanya.
*****
Sadiyah membangunkan Kagendra dengan menepuk-nepuk pipi Kagendra sama seperti ketika ia membangunkan anak-anaknya. Berkali-kali menepuk pipi, Kagendra tidak terbangun juga. Sadiyah berinisiatif untuk membangunkan Kagendra dengan cara baru. Ia mengecup pipi Kagendra berulang-ulang. Namun hal itu juga tidak membuat Kagendra terbangun.
“Iiih susah sekali bangunnya. Semalem saja sok-sok an mau langsung balik ke Jakarta. Makanya jangan sok jagoan. Buktinya sekarang saja susah dibangunkan mirip seperti Aras dan Aris.”
Cup…
“Harusnya membangunkannya seperti ini.” Kagendra mengecup kilat bibir Sadiyah.
Plak…
Sadiyah memukul pelan lengan Kagendra. “Iseng banget sih pakai pura-pura masih tidur segala.”
“Kita salat berjamaah,”
Sadiyah beranjak untuk menyiapkan perlengkapan salat untuk mengerjakan salat subuh berjamaah.
Setelah selesai salat, Sadiyah mencium tangan Kagendra dan dibalas oleh Kagendra dengan mencium kening dan puncak kepalanya.
__ADS_1
“Aa tidak marah?” tanya Sadiyah sambil melipat mukena.
“Marah kenapa?”
“Tidak Iyah bangunkan tadi malam.”
“Kenapa harus marah? Aa yakin kamu tidak membangunkan Aa karena melihat Aa tidur pulas. Iya, kan?”
“Hm…”
“Ya sudah, kita siap-siap untuk berangkat. Sarapan di sini atau di jalan saja?”
“Di sini saja. Iyah akan buatkan nasi goreng spesial untuk Aa.”
Setelah selesai mandi dan sarapan, mereka langsung pergi menuju Jakarta. Barang-barang keperluan untuk liburan mereka sudah dipersiapkan satu minggu sebelumnya sehingga hari ini hanya menyiapkan sisanya saja.
Jadwal pesawat yang akan mengangkut mereka ke pulau Maldives pukul dua siang dan akan sampai ke tujuan sekitar pukul delapan malam. Kagendra sengaja mengambil penerbangan siang agar sampai di tujuan malam hari sehingga bisa langsung istirahat. Rencana untuk mengeksplorasi pulau Maldives akan mereka lakukan keesokan paginya.
Namun rencana tidak berjalan dengan semestinya. Rencana untuk mengeksplorasi pulau Maldives di pagi hari gagal total. Selama satu hari penuh mereka tinggal di kamar hotel. Bukan karena terjadi badai di luar, tetapi badai di kamar mereka. Kagendra tidak membiarkan Sadiyah untuk beranjak dari kasur barang semenit pun kecuali untuk melaksanakan ibadah salat. Sepertinya Kagendra menepati janji pada dirinya sendiri untuk makan sepuasnya.
Keesokan harinya…
“Pokoknya, hari ini Iyah ingin main di luar. Masa sudah jauh-jauh ke sini mainnya di kamar saja. Sepanjang hari di kamar mah bisa di rumah saja.”
“Kita duduk-duduk saja di beranda villa sudah cukup. Pemandangannya indah tidak kalah dengan yang lainnya.”
Pernyataan Kagendra mengenai pemandangan indah yang terlihat dari beranda villa memang tepat adanya. Keindahan Pulau Veligandu dengan pasir putih dan air laut berwarna biru cerah sangat cocok untuk berenang ataupun hanya sekadar menikmati alam sambil berbaring nyaman di atas kursi couple yang tersedia di setiap beranda villa sepanjang pulau.
“Tidak mau. Iyah mau jalan-jalan jauh.”
“Di sini kita bisa berenang, naik perahu, foto-foto, menyelam, dan banyak lagi yang bisa kita nikmati terutama kegiatan ranjang kita. Mau apa lagi?”
“Iyah mau jalan-jalan dan belanja di kota Male.”
“Mau belanja apa? Tidak usah belanja terlalu banyak.”
“Kenapa? Khawatir uangnya habis?”
“Bukan begitu. Uang Aa tidak akan habis kalau cuma belanja di sini. Hanya saja, kalau belanja banyak nanti kita kerepotan.”
“Iyah bakal bawa sendiri belanjaannya. Tidak akan minta Aa buat bawain belanjaan Iyah,” ucap Sadiyah dengan sedikit ketus. Sadiyah merasa kesal karena Kagendra selalu melarang ketika ia meminta untuk jalan-jalan ke luar pulau.”
__ADS_1
*****
to be continued...