Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
74. Menemani


__ADS_3

“Bu, dokternya sudah datang.”


“Tolong antar langsung ke kamarnya Endra, Rud!”


“Baik, Bu.”


Dokter Kurnia telah selesai memeriksa Kagendra dan menuliskan resep untuknya.


“Endra kenapa, dok?”


“Endra kelelahan dan dehidrasi. Luka di tubuh juga sepertinya ada yang infeksi sehingga mengakibatkan demam dan suhunya cukup tinggi. Saya sudah menuliskan resep untuknya. Segera tebus dan berikan obatnya dengan segera. Saya sudah menyuntikkan vitamin dan Endra harus diinfus juga karena dehidrasi. Kalau nanti dia sudah sadar, jaga asupan makan dan minumnya. Besok saya akan kirim perawat ke sini untuk mengecek infus.”


“Baik, dok.”


“Endra tinggal sendiri di sini?” tanya dokter Kurnia.


“Iya, dok.” jawab Indriani.


“Sebaiknya ada yang menemani dia.”


“Baik, dok.”


Rudi segera berangkat menuju apotek terdekat untuk membeli obat yang diresepkan oleh dokter Kurnia.


“Bu, sudah malam. Sebaiknya Ibu pulang saja. Kasihan Aki dan Abah di rumah. Biar Lena yang menemani Aa disini.”


“Besok kan kamu juga harus ke kampus.”


“Besok Lena izin saja sama Prof.  Bunyamin kalau Lena tidak bisa masuk ke kelasnya.”


“Kamu kan baru jadi asistennya beliau, masa kamu seenaknya minta izin.”


“Biar saja, Bu. Buat Lena, Aa lebih penting.”


“Besok, Ibu kembali saja kesini biar kamu bisa ke kampus.”


“Kita lihat besok, Bu. Di kampus juga Lena tidak akan tenang kalau meninggalkan Aa sendirian.”


Alena menyusut air mata yang mengalir di pipinya. Ia tidak tega melihat keadaan kakaknya yang seperti ini. Kakak yang biasanya terlihat kuat, galak dan tegas sekarang terbaring lemah di atas kasurnya.


***********


Keesokan paginya, seorang perawat dikirim oleh dokter Kurnia untuk mengecek kondisi Kagendra.


“Infusnya sudah saya ganti, nanti sore saya kembali lagi untuk mengecek. Atau mungkin dokter Kurnia yang akan datang untuk memeriksa.


“Terima kasih, Sus. Kakak saya sempat bangun tadi malam tapi tertidur lagi hingga sekarang belum bangun lagi.”


“Iya, Bu. Dokter Kurnia memang memberikan obat tidur agar Pak Kagendra bisa beristirahat dengan optimal. Keletihan yang dialami oleh pasien juga dikarenakan kurang tidur.”


“Baik, Sus. Saya hanya khawatir karena kakak saya tidak bangun-bangun.”


“Kalau begitu, saya permisi dulu.” pamit Suster Anna.


*******

__ADS_1


“Len, maaf Ibu belum bisa ke sana. Ibu sedang menjaga Aki kamu yang sedang sakit juga.” Indriani menelepon Alena untuk mengabarkan bahwa dirinya tidak bisa menggantikan Alena menjaga Kagendra.


“Aki sakit apa, Bu?”


“Tensinya naik. Mungkin karena kepikiran masalah Aa dan Iyah.”


“Lena sudah izin sama Prof. Bunyamin. Beliau sudah mengizinkan dan paham dengan kondisi Lena yang harus menjaga Aa.”


“Tidak akan berpengaruh dengan penilaian Prof. Bunyamin pada kamu?” tanya Indriani sedikit khawatir.


“Insya Allah tidak akan, Bu. Kalaupun menjadi masalah, Lena cuekin sajalah.”


“Ya tidak bisa begitu. Nanti Ibu yang menghubungi Prof. Bunyamin.”


“Iiiih jangan, Bu. Lena tidak mau dianak emaskan hanya karena Prof. Bunyamin temannya Ibu. Biar saja Prof. Bunyamin menilai Lena dengan objektif. Pokoknya Ibu gak boleh menghubungi dan minta toleransi ke Prof. Bunyamin. Lena bakal marah kalau Ibu seperti itu.”


“Iya…iya…tidak perlu marah seperti itu. Ibu tidak akan telepon Prof. Bunyamin. Gimana keadaan Aa sekarang?”


“Aa masih tidur, Bu. Tadi malam sempat bangun sebentar minta minum, lalu tidur lagi sampai sekarang belum bangun lagi.”


“Kenapa Aa tidur terus?”


“Diberi obat tidur sama dokter.”


“Kamu sudah makan?”


“Sudah, Bu. Tadi Pak Rudi bawain makan siang. Sekarang juga Pak Rudi yang lagi bikin bubur buat Aa makan.”


“Kalau Aki sudah baikan, Ibu kesitu sambil bawa makanan buat makan malam.”


“Len….” panggil Kagendra dengan suara seraknya.


“Ada apa, A? Aa haus?”


Kagendra menganggukkan kepalanya.


Alena mendekatkan sedotan ke bibir Kagendra.


“Aa mau makan?”


Kagendra menggelengkan kepalanya.


“Dari kemarin Aa belum makan. Mau ya makan? Pak Rudi sudah membuatkan bubur buat Aa.” bujuk Alena.


Bukannya menjawab, Kagendra malah kembali menutup matanya.


Rudi masuk ke kamar sambil membawakan semangkuk bubur.


“Sedikit saja.” Alena mendekatkan sesendok bubur ke mulut Kagendra yang masih tertutup.


Mulut Kagendra masih tertutup begitu pun dengan matanya.


“Aa….makan A! Supaya Aa cepat sembuh dan bisa mencari Teh Iyah. Kalau Aa tidak mau makan bagaimana Aa bisa sembuh, bagaimana Aa punya energi buat mencari Teh Iyah.” Alena membujuk Kagendra untuk makan seperti membujuk anak kecil yang susah makan.


“Bilang sama Lena. Aa mau makan sama apa? Biar Lena beli makanan yang Aa suka.”

__ADS_1


Kagendra membuka matanya yang tampak memerah. "Aa kangen masakan Iyah, Len."


"Iya...iya...nanti kalau Aa sudah sembuh dan kuat, Aa bisa mulai lagi mencari Teh Iyah. Sekarang Aa harus makan dulu supaya cepat sehat. Buka mulutnya, A." perintah Alena sedikit kesal.


Dengan enggan, Kagendra mulai membuka mulutnya dan memakan bubur yang Alena suapkan.


Setelah tiga sendok, Kagendra sudah menutup mulutnya lagi.


“Satu sendok lagi, A.”


Kagendra menggelengkan kepalanya.


“Ya sudah. Nanti habis dzuhur makan lagi ya.”


Kagendra mengangguk dan memejamkan kembali matanya.


*********


Sudah satu minggu Kagendra tergolek lemah di tempat tidurnya. Hari ini, Kagendra sudah bisa bangun dan berjalan tanpa bantuan orang lain.


“Sudah satu minggu kamu di sini. Bagaimana dengan kerja kamu di kampus?”


“Tenang saja, A. Lena sudah minta izin kalau ada urusan keluarga.”


“Sudah kamu pulang saja sana. Aa sudah sembuh dan kuat, gak butuh kamu lagi.” dengus Kagendra.


“Huh, dasar habis manis sepah dibuang. Sekarang saja gak butuh Lena. Kemarin, dikit-dikit panggil Lena.” rutuk Alena kesal dengan kelakuan Kagendra yang manja tapi gengsi mengakuinya.


“Bukannya seperti itu, Len. Kamu kan punya tanggung jawab lain. Kalau kamu disini terus ngurusin Aa, bagaimana dengan kewajiban kamu di kampus?”


“Iya, A. Sekarang kan Aa memang sudah baikan, jadi besok Lena sudah bisa ke kampus. Tapi bener kan Aa gak apa-apa kalau gak ada Lena?” Alena masih mengkhawatirkan Kagendra.


“Biar nanti Aa minta Rudi yang temani Aa.”


“Kasihan Pak Rudi, A. Dia mengerjakan pekerjaan Aa di kantor. Kasihan kalau dia juga harus menjaga Aa. Kalau dirasa Aa masih butuh ditemani, biar Lena yang menemani Aa.”


“Tidak usah, Len. Aa sudah sehat.”


“Tapi Aa jangan kerja yang berat dulu. Jangan mulai mencari Teh Iyah dulu. Lena khawatir kalau nanti Aa sakit lagi. Tunggu sampai Aa benar-benar sehat lagi.”


“Iya, cerewet.” Kagendra menjitak kepala Alena.


“Aww, sakit A.” ringis Alena karena kepalanya terasa sakit terkena jitakan kakaknya. Tapi Alena sedikit merasa senang karena Kagendra sudah mulai bercanda lagi.


Kagendra tertawa melihat Alena yang meringis kesakitan.


******


“Kamu awasi rumah bibinya Sadiyah di Bandung. Jangan sampai lepas lagi. Ikuti kemanapun Bi Ita dan Mang Awan pergi. Tambah jumlah tim kamu biar tidak lepas lagi.”


“Siap, Bos.”


“Jangan mengecewakan saya lagi.”


“Baik, Bos.”

__ADS_1


*******


__ADS_2