Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
40. Belanja di Pasar Tradisional


__ADS_3

Setelah sampai di pasar, Kagendra memarkirkan motornya di tempat parkir dan mengikuti Sadiyah masuk ke dalam pasar.


“Katanya gak mau nganter masuk ke pasar.” tanya Sadiyah yang heran melihat Kagendra yang berjalan di sisinya.


“Siapa yang bilang tidak mau antar?” tanya Kagendra cuek.


“Iyah kira Aa gak suka ikut belanja di pasar.” sahut Sadiyah masih heran.


“Cerewet.”


Sadiyah mengulum senyumnya. Hatinya bahagia hanya karena Kagendra tidak segan untuk mengantarnya berbelanja di pasar tradisional.


Setelah beberapa saat mengitari jongko-jongko di pasar, dua tas besar berisi bahan-bahan masakan sudah berada di kedua tangan Kagendra.


“Mau belanja apa lagi?” protes Kagendra yang tangannya sudah mulai pegal karena menenteng dua tas belanja yang ukurannya besar.


“Sebentar lagi A, Iyah sedang mencari satu bahan lagi yang kurang.” Sadiyah sudah mulai nyaman menyebut dirinya sebagai Iyah ketika berbicara dengan Kagendra, tidak lagi menyebut saya.


“Memangnya kamu mau beli apa lagi?” tanya Kagendra yang sudah mulai kesal.


“Cari ceker ayam.” jawab Sadiyah.


“Saya tidak suka makan ceker.” tegas Kagendra.


“Yey, memangnya Iyah masak ceker buat Aa. Iyah kan suka makan ceker ayam, ya Iyah masak buat Iyah sendiri. Iyah denger Lena juga suka makan ceker ayam. Iyah mau bikin ceker ayam bumbu mercon yang pedas. Kalau Aa coba pasti deh suka.” Sadiyah menjelaskan panjang lebar.


“Saya tidak suka makanan yang menjijikan. Itu ceker kan kotor.” ujar Kagendra bergidik.


“Iiih Aa suka asal ngomong deh. Ceker ayamnya kan dicuci sampai bersih. Pertama-tama direndam air mendidih setelah itu dibersihkan lapisan yang berwarna kuning. Kalau sudah semua lapisan warna kuningnya terkelupas, telapak cekernya dibersihkan juga. Lalu kukunya dibersihkan dan dipotong. Terus ketika merebus cekernya juga rebusan pertamanya dibuang. Jadi ceker yang kita masak benar-benar bersih.”

__ADS_1


Kagendra mendengus kesal mendengar penjelasan Sadiyah, tapi ia juga penasaran untuk mencicipi ceker ayam buatan Sadiyah.


“Ceker ayam juga banyak loh manfaatnya. Pertama, kandungan protein pada ceker ayam itu kolagen yang bagus banget untuk kesehatan kulit. Jadi kalau hobi makan ceker kulitnya bisa kenyal dan kinclong alias bisa bikin awet muda. Kedua, dalam ceker ayam juga banyak kalsiumnya, jadi bisa membantu memelihara kesehatan dan kekuatan sendi-sendi tubuh, menurunkan risiko osteoporosis juga, Jadi bisa bikin awet muda juga karena tulangnya kuat gak reyot kaya kakek-kakek. Makan ceker ayam juga mencegah anemia dan memelihara kesehatan ibu hamil dan janin. Jadi kalau makan ceker ayam, ibu dan janin yang dikandungnya bakalan sehat.” Sadiyah memberikan penjelasan khasiat ceker ayam sambil matanya mencari-cari keberadaan jongko yang menjual ceker ayam dengan kualitas bagus.


“Memangnya kamu lagi hamil?” tanya Kagendra setelah mendengar salah satu khasiat ceker ayam pada kesehatan ibu hamil dan janinnya.


“Eh, hamil? Siapa yang hamil?” tanya Sadiyah gelagapan.


“Kamu.”


“Ih sembarangan. Siapa yang bilang Iyah lagi hamil?” Sadiyah memanyunkan bibirnya kesal.


“Tadi kan kamu bilang manfaat makan ceker ayam itu bagus buat ibu hamil dan janinnya. Lalu kamu bilang kamu mau masak ceker ayam. Saya kira kamu lagi hamil.” ujar Kagendra asal.


“Memangnya kalau kepengen makan ceker ayam itu tandanya hamil. Aa mah aya aya wae (ada-ada aja).” Sadiyah berkata dengan suara manjanya.


“Nah itu, ceker ayamnya bagus-bagus.” tunjuk Sadiyah ke arah jongko penjual ayam potong.


Kagendra mengikuti langkah Sadiyah dari belakang.


“Bang, beli ceker ayamnya dua kilo, ati ampelanya 20 pasang, sama ayamnya 2 ekor utuh tapi minta dipotong-potong jadi empat bagian ya Bang.” pinta Sadiyah ke pedagang ayam potong.


Setelah selesai membeli ceker, ati ampela dan daging ayamnya, Sadiyah segera membayarnya dengan satu lembar uang seratus ribu dan satu lembar uang lima puluh ribu.


“Bang, kembaliannya pas in aja ke cekernya ya.” pinta Sadiyah.


“Siap Neng, saya kasih satu kilo lagi ceker ayamnya ya.” sahut si penjual ayam.


“Okay Bang. Makasih banget.” ucap Sadiyah sambil memberikan senyum manisnya.

__ADS_1


Kagendra yang melihat Sadiyah yang tersenyum pada si abang penjual ayam langsung mendengus sebal.


“Ayo cepat pulang.” perintah Kagendra.


“Okay, Bos.” sahut Sadiyah riang.


Kagendra meletakkan dua kantong besar berisi bahan-bahan masakan itu di depan jok motornya. Lalu Sadiyah naik di jok penumpang sambil menenteng satu keresek besar.


“Lain kali kalau kamu belanja di pasar jangan kegenitan.” ujar Kagendra tiba-tiba sesaat setelah menyalakan mesin motornya.


“Maksud Aa?” tanya Sadiyah heran.


“Kamu dengar kan tadi yang saya bilang. Jangan kegenitan kalau lagi belanja.” tegas Kagendra.


“Iya maksudnya kegenitan itu apa?. Memangnya Iyah genit?” tanya Sadiyah polos.


“Buat apa tadi kamu kasih senyuman ke si penjual ayam?” sepertinya Kagendra cemburu pada si penjual ayam yang diberi senyuman manis oleh Sadiyah.


“Lah, masa kita harus pasang muka cemberut sama orang lain. Apalagi kalau orang itu udah baik sama kita.” sahut Sadiyah yang tidak terima disebut genit oleh Kagendra.


“Pokoknya kamu gak boleh kasih senyuman kamu itu sama laki-laki lain. Kalau kamu tetap ngeyel, saya tidak akan memberikan lagi izin buat kamu berbelanja di pasar.” tegas Kagendra.


“Aa cemburu ya?” tanya sadiyah dengan bibir yang melengkung membentuk senyuman.


Kagendra diam tidak menjawab pertanyaan Sadiyah.


********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2