
“Mak, Iyah lapar. Mak sudah selesai masaknya?” Sadiyah masuk ke dapur dan melihat Mak Isah sedang mencuci piring.
“Sudah, Neng. Neng mau makan sekarang?”
“Ya iyalah Mak, perut Iyah sudah bunyi meminta makan dari tadi.”
“Perasaan, belum satu jam Neng menghabiskan satu mangkuk bakso. Sekarang sudah lapar lagi.”
“Gak tau nih Mak. Setiap harinya, selera makan Iyah makin meningkat. Berasa lapar terus. Mungkin Iyah lagi stress jadi lapar terus." Sadiyah tertawa ketika mengatakannya.
Mak Isah merasa curiga dengan selera makan Sadiyah yang semakin hari semakin meningkat.
“Neng sudah datang bulan belum sejak pergi dari rumah suami Neng?” tanya Mak Isah hati-hati karena tidak ingin membuat Sadiyah sedih dengan menyebut nama Kagendra.
“Iyah lupa, Mak. Sejak saat itu sampai saat ini, pikiran Iyah disibukkan dengan berbagai hal hingga Iyah melupakan tentang waktu datang bulannya Iyah. Tapi sepertinya belum pernah lagi sih. Memangnya kenapa, Mak?” tanya Sadiyah heran.
“Sebaiknya Neng periksa ke dokter. Mak curiganya Neng sedang hamil.”
“Ah masa sih Mak. Iyah tidak merasakan tanda-tanda perempuan yang hamil. Iyah tidak pernah muntah-muntah tiap pagi. Biasanya kan orang hamil itu suka muntah di pagi hari, terus badannya tidak enak. Kalau Iyah sih merasa Iyah baik-baik saja.”
“Tapi ini Neng makannya banyak sekali seperti makan untuk jatah dua orang. Pipi dan dada Neng Iyah juga terlihat makin berisi”
“Mungkin karena Iyah stress banyak pikiran. Sekarang ini kan Iyah sedang mencoba untuk memulai bisnis baru di kota ini. Walaupun kota kecil, tapi Iyah yakin dengan potensi kuliner yang dimiliki kota ini. Iyah sudah mulai menyusun konsepnya. Iyah juga ingin membuka lapangan kerja baru untuk para penduduk desa ini. Tidak hanya mengandalkan sawah pemberian Ayah.”
“Tapi ada baiknya Neng Iyah periksa ke dokter. Untuk memastikan saja. Nanti sore Mak Isah antar Neng Iyah ke rumah Bu Bidan yang ada ujung jalan sana. Biasanya Bu Bidannya ada di rumah setelah bekerja di Puskesmas. Sementara ke bidan dulu saja. Kalau sudah mengetahui Neng hamil atau tidaknya, nanti Mak Isah antar Neng ke dokter kandungan yang ada di kota.”
“Iya deh. Terserah Mak saja. Iyah mah ngikut saja.” kata Sadiyah sambil berlalu membawa satu piring nasi lengkap dengan lauk pauk dan satu gelas air mineral.
"Mak, tolong buatkan juga es jeruk tapi gulanya jangan terlalu banyak. Iyah kepengin minum yang segar."
Mak Isah semakin yakin jika Sadiyah sedang mengandung. Masalah Sadiyah yang tidak merasa mual atau pusing mungkin Kagendra yang merasakannya.
__ADS_1
********
“Alhamdulillah…selamat ya Neng Sadiyah. Kandungan Neng Sadiyah diprediksi sudah masuk minggu ke delapan. Kondisi janinnya sehat. Ibu periksa sepertinya ada dua detak jantung, artinya ada dua janin di rahimnya.”
“Alhamdulillah….” Mak Isah mengucapakan syukur.
Berbeda dengan Mak Isah yang langsung mengucap syukur, ketika mendengar kabar baik ini, Sadiyah hanya bisa diam mematung.
“Mak, bagaimana ini? Iyah hamil? Tapi Iyah tidak punya suami.”
Bu Bidan yang mendengar pernyataan Sadiyah terkaget-kaget. Ia melihat ke arah Mak Isah dan menatap Mak Isah seakan bertanya apakah Sadiyah hamil di luar nikah.
“Jangan bicara seperti itu Neng. Neng masih punya suami. Anak-anaknya Neng mempunyai Ayah.” Mak Isah mencoba menenangkan Sadiyah.
“Tapi A Endra akan menceraikan Iyah, Mak. Pasti A Endra akan menceraikan Iyah karena Iyah sudah pergi dari rumah.” Sadiyah mulai terisak.
“Jangan menangis, Neng. Belum tentu den Endra menceraikan Neng Iyah. Putusan pengadilannya saja belum ada.”
“Jangan berkata seperti itu Neng. Anak-anaknya Neng punya ayah. Ayahnya kan suami Neng.”
Sadiyah terdiam. Banyak hal yang ada di pikirannya sekarang. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia sedang hamil ketika pergi dari rumah suaminya.
“Bu Bidan, saya permisi pulang dulu. Apakah ada resep yang harus dibeli?”
“Untuk sementara tidak ada, Mak. Karena tidak ada keluhan dari Neng Iyah, sepertinya belum perlu untuk diberikan resep. Hanya saja perhatikan asupan nutrisi yang dikonsumsi.”
“Baik, Bu Bidan. Kami permisi dulu. Terima kasih.”
“Sama-sama, Mak Isah.”
************
__ADS_1
Di dalam kamarnya, Sadiyah kembali menangis.
“Neng, apa Neng mau pulang saja ke rumah suaminya Neng?”
Sadiyah menggelengkan kepalanya.
“Jadi bagaimana rencana Neng Iyah selanjutnya?” tanya Mak Isah.
“Biar saja seperti ini dulu, Mak. Iyah akan memulai hidup yang baru di kota ini. Iyah akan berusaha untuk melupakan A Endra. Iyah bahagia karena ada bagian dari A Endra yang sedang berkembang di rahimnya Iyah. Iyah akan besarkan anak-anak Iyah sendiri.” tekad Sadiyah sudah kuat untuk menjalani semuanya sendiri.
“Menurut Mak Isah, sebaiknya Neng memberikan kabar kehamilan Neng ini pada den Endra. Mak rasa den Endra berhak untuk mengetahui bahwa ada anak-anaknya di dalam rahim Neng.”
“Tidak usah, Mak. A Endra juga tidak akan peduli dengan anak-anak Iyah karena dia kan punya anak bersama dengan kekasih yang dicintainya itu. Biar saja Iyah yang membesarkan mereka sendiri. Nanti kalau mereka sudah dewasa baru Iyah kasih tahu A Endra. Iyah khawatir kalau kabar kehamilan Iyah akan membuat A Endra jadi sedih lagi dan terpaksa kembali pada Iyah. Kalau Aki, Abah dan Ibu tahu juga, mereka akan memaksa A Endra kembali pada Iyah. Iyah sudah ikhlas kalau memang harus melepaskan A Endra demi kebahagiaan kami berdua. A Endra tidak akan bahagia jika harus bersama Iyah. Iyah juga tidak akan bahagia jika bersama dengan A Endra tapi hati A Endra untuk perempuan lain”
Mak Isah hanya menghela nafasnya dengan berat menghadapi Sadiyah yang keras kepala. Andai saja Sadiyah mau menuruti nasehat Mak Isah, mungkin ia tidak akan terlalu bersedih seperti ini.
“Ya sudah mulai sekarang Neng Iyah harus menjaga kandungan Neng dengan baik. Jangan makan sembarangan lagi. Semua yang dimakan oleh Neng Iyah harus bernustrisi baik karena apa yang dimakan sama Neng Iyah akan dimakan juga oleh anak-anak Neng Iyah.”
“Siap, Mak. Tapi masih boleh kan kalau Iyah makan seblak sama rujak?.”
“Boleh, tapi jangan sering. Sekali-kali saja. Satu kali saja dalam satu bulan.”
“Jangan dong Mak. Masa makan seblaknya cuma satu kali sebulan. Sekarang saja Iyah pengen makan seblak. Buatin dong, Mak. Seblaknya Mak Isah kan paling top. Iyah juga mau makan rujak serut buatan Mak. Mau yaa....” rajuk Sadiyah.
“Jangan sekarang Neng. Dari tadi Neng makan yang pedas-pedas terus. Sekarang makan buah saja. Mak akan kupaskan buah mangga buat Neng.”
“Boleh deh Mak. Sepertinya seger kalau makan rujak mangga.”
“Mak akan kupaskan buah mangga yang sudah matang saja.” Mak Isah berlalu menuju dapur untuk mengambil buah mangga dan mengupasnya buat Sadiyah.
**************
__ADS_1
to be continued...