
Empat tahun kemudian…..
“Aras…Aris….disuruh pulang sama Ibu.”seorang perempuan muda menjemput dua anak laki-laki yang sedang asyik bermain di pinggir kali.
“Sebentar, Teh. Aras sedang menunggu ikannya masuk ke dalam jaringnya.”
“Sudah sore, A. Ibu nanti marah kalau Aras dan Aris gak pulang sekarang. Disuruh mandi sama Ibu.”
“Bilangin sama Ibu, Aras dan Aris mandinya di sungai saja.” jawab Faras, salah satu dari dua orang anak dengan wajah yang serupa.
“Teteh sini Teh. Main sama kita. Nanti kalau kita dapat ikan, ikannya bisa digoreng. Kan Teteh suka makan ikan goreng.” seru Faris, sang adik.
“Aris…jangan dilepas jaringnya! Nanti ikannya lepas.” seru Faras.
Perempuan muda yang tadinya berniat untuk menjemput kedua anak kembar itu malah ikut mencari ikan bersama.
“Teh, itu ikannya. Tangkap Teh!” jerit Faris ketika ia melihat ikan yang berenang menari-nari di dekat kaki si perempuan muda yang dipanggil teteh oleh Faras dan Faris.
Perempuan muda dan dua anak kembar itu asyik bermain di sungai yang dangkal tapi banyak ikannya itu.
“Aa Aras….Ade Aris….pulang dulu bageur, nanti Ibu marah kalau kalian masih main disini. Sebentar lagi magrib. Kalian kan harus siap-siap pergi ngaji ke masjid.” seorang perempuan paruh baya menyusul si perempuan muda yang tak kunjung kembali.
“Jangan teriak-teriak Mak Nene! Nantiikannya pergi.” teriak Faras mencoba untuk menghalangi agar sang nenek tidak berteriak-teriak.
“Sebentar lagi magrib. Pamali kalau sudah mau magrib kalian masih main di sini. Kalau main terus nanti kalian terlambat pergi ke masjid. Ibu kalian sudah pulang dan mencari kalian.” jelas Mak Isah, sang nenek.
“Tuti, kamu itu disuruh menjemput Aras sama Aris malah ikut main sama mereka.” omel Mak Isah pada Tuti, sang keponakan.
Tuti hanya menyengir menyadari kesalahannya.
“Memangnya Ibu sudah pulang, Teh?” tanya Faras, anak tertua dari dua anak kembar Sadiyah.
“Teteh kan sudah bilang dari tadi kalau Ibu sudah pulang.” Tuti memanyunkan bibirnya dua senti karena kesal.
“Aras tidak dengar kalau Teteh bilang Ibu sudah pulang.” sahut Faras membela diri.
“Teteh kan bilang kalau kalian tidak cepat pulang nanti Ibu marah, itu artinya Ibu sudah pulang.”
“Ah Teteh, itu sih Teteh bilangnya Ibu marah bukan Ibu sudah pulang.” protes Faras lagi.
“Sama saja atuh Aras.” Tuti semakin memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
“Aris….cepat kita pulang. Ibu sudah pulang.” ajak Faras pada Faris adik kembarnya mengabaikan Tuti yang sedang merajuk karena tidak diperhatikan oleh mereka.
“Ibu sudah pulang?” tanya Faris.
“Kata Mak Nene, Ibu sudah pulang. Ayo cepat kita pulang nanti Ibu marah.” Faras sudah berlari menuju rumahnya.
“Tunggu Aras…..” teriak Faris sambil berlari menyusul Faras.
Mak Isah dan keponakannya, Tuti segera menyusul kedua anak kembar itu sambil berjalan saja.
“Ibu…….” Faris menghambur ke dalam rumah mencari Sadiyah yang baru saja pulang setelah tiga hari pergi ke Bandung untuk mengurus usahanya di sana.
“Aras sama Aris main dimana? Kenapa baru pulang sekarang? Sebentar lagi magrib dan kalian belum mandi. Nanti kalian terlambat pergi mengaji ke masjid.” omel Sadiyah.
“Aris sama Aras main di sungai, Bu. Mencari ikan untuk makan nanti. Kan Teh Tuti suka makan ikan goreng, makanya Aris sama Aras mencarikan ikan untuk Teh Tuti.” jelas Faris.
“Ah itu mah alasannya Aris saja, Teh. Waktu Tuti nyusul, mereka sedang asyik menangkap ikan. Itu mah mereka saja memang senangnya main air.” Tuti tidak terima kalau ia dijadikan tumbal supaya Sadiyah tidak memarahi kedua anaknya.
“Sudah! Jangan ribut terus. Cepat kalian mandi.” seru Sadiyah.
“Siap, Bu.” sahut Faras dan Faris kompak.
*************
Biasanya jika Sadiyah sedang tidak keluar kota, setiap malam menjelang anak-anaknya tidur, ia akan membacakan cerita.
“Apa A?”
“Ayah kapan pulangnya sih Bu?” tanya Faras tiba-tiba.
Sadiyah terdiam tidak mampu menjawab pertanyaan putra sulungnya.
“Iya, Bu. Ayah kok kerjanya tidak pulang-pulang sih. Teman-teman Aris yang ayahnya kerja di Bandung suka pulang kalau hari Sabtu atau Minggu.” Faris menyambung pertanyaan dari saudara kembarnya.
Sadiyah memutar akalnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Faras dan Faris.
“Ayah kan kerjanya jauuuuuh, bukan di Bandung. Kalau Bandung kan masih dekat. Kalian saja kan sering ikut Ibu kalau Ibu sedang pergi ke Bandung.” jawab Sadiyah sekenanya. Ia berharap jawaban yang diberikannya bisa memuaskan rasa ingin tahu Faras dan Faris walaupun ia yakin kalau anak kembarnya itu tidak akan pernah puas dengan jawabannya.
“Iya sih, Bu. Memangnya Ayah kerjanya di mana, Bu?. Ayahnya Teh Indah kerjanya di Kalimantan, Bu. Kalimantan itu jauh kan Bu? Perginya pakai pesawat terbang, tapi Ayahnya Teh Indah juga suka pulang Bu. Kemarin Ayahnya Teh Indah pulang bawa banyak makanan dari Kalimantan. Aras dan Aris juga diberi.” Faras menceritakan tentang ayah teman bermainnya itu dengan semangat.
Seperti yang sudah diduga oleh Sadiyah kalau Faras dan Faris tidak akan cukup puas dengan setiap jawabannya. Si kembar akan terus mencecar Sadiyah dengan pertanyan-pertanyaan lanjutan.
__ADS_1
“Ayah kerjanya lebih jauh dari Kalimantan ya Bu? Kerjanya di Arab ya Bu? Bapaknya Usep kerja di Arab, katanya sih jarang pulang. Pulangnya 5 tahun sekali. Mungkin Ayah kerjanya di Arab ya Bu? Tapi Bapaknya Usep suka vidio call an Bu. Kemarin Usep cerita kalau Bapaknya vidio call an dari Arab. Hebat ya Bu, walaupun jauh bisa saling melihat. Aris juga ingin bisa video call sama Ayah.” Faris menceritakan kisah teman bermainnya yang suka melakukan video call dengan ayahnya yang kerja di Arab.
Sadiyah memeras otaknya untuk memberikan jawaban yang masuk akal bagi otak Faras dan Faris yang cerdas.
“Ayah kalian kerjanya lebih jauh dari Arab. Di sana tidak ada sinyal telepon jadi tidak bisa vidio call an sama kalian. Kalau Bapaknya Usep pulang 5 tahun sekali. Ayah kalian pulangnya 10 tahun sekali. Nanti kalau kalian sudah ulang tahun yang ke sepuluh, Ayah pulang.”
“Memangnya Ayah kerjanya di mana Bu? Lebih jauh dari Arab ya Bu? Tanya Faris semakin penasaran.
Nah benarkan dugaan Sadiyah. Akan selalu ada pertanyaan lanjutan baik dari Faras maupun Faris. Sepertinya Faras dan Faris memang benar-benar merindukan ayah mereka. Sadiyah memang tidak pernah sekalipun memperlihatkan wajah dari ayah mereka tetapi ia tidak menutupi nama dari ayah mereka. Faras dan Faris mengetahui dengan jelas nama dari ayah mereka.
“Ayah kerjanya di hutan Amazon. Kalian tahu tidak di mana hutan Amazon?”
“Aras tau, Bu. Ibu kan pernah membacakan cerita tentang hutan Amazon. Yang ada ikan piranha sama anaconda kan, Bu?”
“Iya, betul.” Jawab Sadiyah dengan girang. Sadiyah akan membiarkan imajinasi anak kembarnya bermain.
“Ayah kerjanya apa di hutan Amazon, Bu?” tanya Faris
“Kerjanya ngasih makan ikan piranha sama anaconda ya, Bu?” sambar Faras.
Sadiyah tidak kaget mendengar pernyataan anak-anaknya tetapi dia tidak menyangka jika kebohongan tentang pekerjaan Kagendra mendapatkan respon yang baik dari kedua anaknya. Dugaan Sadiyah tepat pada sasaran. Anak-anaknya memang memiliki daya imajinasi yang tinggi. Ia biarkan imajinasi Faras dan Faris menjadi kenyataan yang diyakini mereka.
“Di hutan Amazon juga susah sinyal ya, Bu. Soalnya hutannya sangat lebat. Pasti susah dapat sinyal jadi tidak bisa vidio call sama Ibu dan kita ya, Bu? Ibu tidak kangen sama Ayah?” tanya Faras.
Sadiyah diam tak mampu menjawab pertanyaan dari Faras. Ia tidak menyangka dengan pertanyaan dari Faras.
“Ibu kangen sama ayah kalian. Kangen sekali. Tapi ibu tidak bisa mengobati rasa kangen ini.” Batin Sadiyah menangis tatkala merasakan dadanya yang sesak karena rasa rindu yang begitu membuncah. Enam tahun
tidak bertemu dengan Kagendra tidak membuat Sadiyah melupakan suaminya itu.
“Kalau Aras kangen sama Ayah, Bu. Aras pengen ketemu banget sama Ayah. Apalagi sebentar lagi Aras dan Aris masuk TK. Aras pengen sekolahnya diantar sama Ayah.”
“Aris juga pengen ketemu sama Ayah. Gak bisa ya kalau Ayah pulangnya sekarang aja?”
“Kan Ibu sudah bilang kalau Ayah pulangnya kalau kalian sudah berumur 10 tahun.”
“Masih lama ya Bu? Sekarang kita baru lima tahun. Berarti masih lama dong Bu? Bisa tidak kalau besok saja ulang tahun yang ke sepuluhnya?” tanya Faris.
Sadiyah tertawa mendengar pemintaan Faris.
“Sudah malam. Cepat tidur. Kalian berdo’a sama Allah supaya Ayah cepat pulang dan bisa bertemu dengan kalian.”
__ADS_1
“Iya Bu.” Faras dan Faris bersemangat membaca do’a sebelum tidur dan berdo’a supaya Ayah mereka cepat pulang.
“Iyah kangen sama Aa. Apakah Aa juga kangen sama Iyah? Ah, pasti Aa sudah melupakan Iyah karena Aa sudah hidup bahagia sama Natasha dan anak kalian.” Sadiyah mengusap air mata yang tiba-tiba menetes. “Walau Aa sudah lupa sama Iyah, masih boleh kan kalau Iyah merasa kangen sama Aa?” beruntung Faras dan Faris sudah terlelap sehingga mereka tidak mendengar isak tangis dari Sadiyah.