Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
170. Wanitaku


__ADS_3

Kagendra dan tim-nya merangsek menyerang dari depan, sedangkan Kiran beserta tim-nya menyebar dengan menyelinap dari berbagai arah sebagai back-up tim inti Kagendra.


Entah darimana asalnya, sebuah tembakan mengagetkan tim Kagendra dan Kiran. Beruntung bagi Kagendra, tembakannya meleset dan hanya melesat tidak lebih dari dua puluh sentimeter dari pelipis Kagendra.


“Lindungi, Bos!” seru Kamal. Serentak empat orang anak buah Kagendra menjadi tameng bagi Kagendra.


“Cukup dua orang bersamaku, sisanya menyebar!” perintah Kagendra.


Kamal dan Badru tinggal bersama Kagendra, tiga orang lainnya menyebar seperti yang diperintahkan Kagendra.


Satu tembakan kembali menggema.


“Tahan! Jangan sampai mereka mengetahui kekuatan kita. Kita tunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Temukan dulu posisi Aras disekap.” Kagendra memberikan perintah lewat sambungan satelit.


“Tahan!” Kiran pun memberikan arahan yang sama pada tim-nya. “Tunggu intruksi dariku.”


“Kenapa kita harus menunggu intruksi dari Kagendra?” tanya salah satu anggota tim Kiran. “Aku kira kita lebih berkompeten dibandingkan mereka.”


“Jangan meremehkan Kagendra dan tim-nya. Kemampuan mereka sama dengan kita, bahkan lebih karena sering berurusan dengan mafia internasional,” ungkap Kiran.


“Sehebat itukah Kagendra? Kenapa dia masih membutuhkan bantuan kita?”


“Aku yang menawarinya. Lumayan lah, ajang untuk kita latihan di medan perang.”

__ADS_1


Laki-laki itu hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Kiran yang asal.


“Bos, kami sudah menemukan lokasi Aras.” Salah seorang anggota tim Kagendra mengirimkan pesan.


“Semuanya siaga. Amankan Aras terlebih dahulu! Siapa yang menjaga Aras?”


“Tidak ada pihak musuh yang mengawasi Aras, Bos.”


“Jangan sampai lengah. Hati-hati, Aras dijadikan umpan agar kita keluar.”


“Baik, Bos!” seru seluruh anak buah Kagendra kompak.


“Sialan, mereka menjadikan Aras sebagai umpan. Aku akan menghabisi mereka semua kalau terjadi hal yang buruk pada Aras.” Kagendra mengerang geram.


“Kiran, perintahkan pada tim-mu untuk mengawasi Aras.” Kagendra menghubungi Kiran dan meminta tim-nya untuk bergerak bersama.


Kiran dan tim-nya segera bergerak menyebar dan menyelinap untuk mengawasi Faras. Kiran menunggu perintah selanjutnya dari Kagendra. Ia memang kepala dari tim-nya, tetapi khusus dalam misi ini, Kiran bergerak sesuai perintah Kagendra.


“A, Aras sudah terpantau. Dia diikat tapi tidak ada yang mengawasi,” lapor Kiran.


“Tahan! Jangan bergerak dulu. Kita tunggu pergerakkan mereka.”


Kagendra memutuskan untuk mendatangi kubu musuh sendirian. “Aku akan masuk sendirian, tetapi kalian harus tetap waspada.”

__ADS_1


“Tapi, Bos…”


“Aku masuk sendirian, tapi kalian tetap harus memantau. Kalau ada pergerakan yang mencurigakan langsung tembak.”


Kagendra yakin, Natasha tidak akan membiarkan anak buahnya atau anak buah Marco untuk mencelakakannya. Lagipula, Kagendra sudah melindungi dirinya dengan rompi anti peluru.


“Natasha! Marco! Aku ingin bicara dengan kalian. Keluar!” Kagendra berteriak agar suaranya sampai ke telinga Natasha dan Marco.


Setelah menunggu tidak lebih dari lima menit, Marco muncul dengan senjata di tangan kanannya. “Hai, Kagendra! Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? Dan bagaimana kabar wanitaku yang cantik?”


Kagendra meludah jijik. “Dia bukan wanitamu, sialan!”


“Sebentar lagi dia akan menjadi wanitaku. Kalau kau mati, tidak ada lagi penghalang bagiku untuk memilikinya.”


“Ha-ha-ha… Jangan bermimpi di siang bolong, Mr. Romagnoli! Kau tidak akan bisa memilikinya karena kau akan mati duluan.” Kagendra mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan langsung mengarahkan moncong pistolnya ke arah Marco. Jaraknya mereka tidak terlalu jauh tapi tidak juga dekat, mungkin hanya sekitar sepuluh meter. Jarak yang cukup bagi Kagendra untuk menembak tepat di dada kiri Marco.


Kagendra mendengar suara senjata yang diarahkan kepadanya. Mungkin ada sepuluh pucuk senjata siap ditarik pelatuknya.


Dengan ujung matanya, Kagendra melihat semua anggotanya bersiap juga menarik pelatuk senjata mereka.


“Serahkan anakku!”


“Serahkan dulu wanitaku!” balas Marco.

__ADS_1


**********


to be continued...


__ADS_2