
“Sudah Aa bilang tunggu. Jangan masuk ruangan ini dulu. Keluar dulu, nanti kamu menghisap asap rokok.” Kagendra mendorong tubuh Sadiyah agar keluar dari ruangan.
Sadiyah merebut sapu dari tangan Kagendra, lalu mulai membersihkan puntung rokok yang berserakan.
“Sudah Sayang. Biar besok saja dibersihkannya.” Kagendra berusaha merebut sapu yang sedang digunakan Sadiyah.
“Sekarang saja. Iyah yakin Aa gak akan bisa tidur kalau ingat masih ada yang kotor di ruangan Aa.” Sadiyah sangat paham dengan kebiasaan Kagendra yang serba bersih.
“Kamu tunggu di luar saja, biar Aa yang bersihkan. Jangan berada di ruangan ini terlalu lama. Udaranya penuh asap rokok. Kamu kan sedang menyusui.” Kagendra merebut sapu dari tangan Sadiyah.
“Kalau tahu merokok itu tidak sehat, kenapa Aa merokok? Lihat itu bekas puntungnya sampai berserakan seperti itu. Habis berapa bungkus, hah?”
“Cepat keluar! Tunggu di kamar saja?” Kagendra mendorong tubuh Sadiyah hingga keluar dari ruangannya.
Setelah menutup rapat pintu ruangannya, Kagendra cepat-cepat menyapu sampah puntung rokok hingga bersih lalu menutup pintu rapat-rapat sebelum keluar. Ia menyerahkan pembersihan udara ruangannya pada air purifier.
Saat masuk ke kamar, Kagendra melihat Sadiyah duduk di sisi tempat tidur sambil bersedekap. Tentu saja tatapan tajam Sadiyah menyambut kedatangan Kagendra.
Tunggu! Aa mandi dulu.” Kagendra bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari residu asap rokok yang mungkin masih menempel baik di tubuh maupun pakaiannya.
30 menit kemudian, Kagendra keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya.
“Maaf!” Kagendra menyentuh pundak Sadiyah yang berbaring membelakanginya. “Sudah tidur?”
“Kenapa mandinya lama sekali?” tanya Sadiyah kesal. Lebih dari setengah jam, Sadiyah menunggu Kagendra keluar dari kamar mandi. “Ngapain saja di kamar mandi? Luluran?” tanyanya sinis.
“Aa tambah durasi mandinya supaya bersih.”
“Kenapa?”
“Ya… karena… hm… biar bersih dan tidak ada sisa asap rokok,” jawab Kagendra canggung. Ia merasa seperti murid yang kedapatan merokok oleh gurunya.
“Bukan itu pertanyaan Iyah.”
“Lalu apa pertanyaannya? Tadi kamu tanya alasan kenapa Aa mandinya lama. Kamu kan tahu sendiri kalau Aa mandinya lama,” jelas Kagendra.
__ADS_1
“Yang Iyah tanyakan bukan itu. Iyah gak masalah Aa mau mandi satu atau dua jam juga. Yang Iyah mau tanyakan kenapa Aa merokok?”
“Tadi kamu tidak bertanya itu. Mana Aa tahu kamu bertanya hal itu.”
“Ya sudah. Sekarang jawab saja pertanyaan Iyah!”ucap Sadiyah sedikit membentak. Ah, baru saja ia hendak meminta maaf kepada suaminya, tetapi kekesalannya kembali muncul karena masalah rokok. Sadiyah tidak pernah tahu kalau Kagendra merokok. Selama menikah dengan Kagendra, ia tidak pernah sekalipun melihat Kagendra memegang rokok pun mencium aroma asap tembakau dari pakaiannya.
“Itu…karena…” Kagendra terbatuk untuk melancarkan tenggorokannya yang tercekat.
“Tuh kan batuk. Sudah tahu merokok itu tidak sehat tapi masih dilakukan,” tuduh Sadiyah.
“Bukan begitu… maaf,”
“Untuk apa minta maaf?”
“Karena Aa merokok,” jawab Kagendra canggung. Ia benar-benar tidak mampu menjawab pertanyaan Sadiyah tentang alasannya merokok. Ia memang sudah sangat lama tidak merokok. Dulu ia perokok berat di masa usia sekolah menengah dan kuliah. Ia berusaha berhenti dan akhirnya benar-benar berhenti beberapa tahun sebelum bertemu Sadiyah.
Sadiyah menarik tangan Kagendra untuk duduk di sampingnya. Tangan Sadiyah membelai wajah Kagendra.
“Iyah minta maaf.”
“Eh? Kenapa?”
“Kamu tidak salah. Wajar kalau kamu sedih sekaligus marah sama Aa. Andai saja Aa tidak pernah kenal dengan Natasha…”
“Sttt… jangan sebut nama Perempuan itu di hadapan Iyah! Iyah tidak suka. Lagian kalau bukan gara-gara kelakuan perempuan itu, mungkin Aa gak akan patah hati terus mau menerima perempuan yang ditawarkan Aki untuk jadi istri Aa. Iya, kan?”
“Betul. Aa sangat bersyukur menerima perjodohan yang ditawarkan Aki. Mungkin kalau dia tidak meninggalkan Aa, kami sudah menikah, tetapi pernikahan yang tidak bahagia.”
“Kok bilang begitu?”
“Kalau perempuannya bukan kamu, mungkin Aa tidak akan bahagia,” ucap Kagendra sedikit menggombal.
“Halah, sekarang aja bisa bilang begini. Awal kita menikah, Aa benci banget sama Iyah, kan?”
“Gak. Aa gak pernah membenci orang tanpa alasan.”
__ADS_1
“Buktinya dulu Aa selalu bersikap kasar sama Iyah,” ucap Sadiyah kesal saat mengingat masa lalunya yang kelam di awal pernikahan mereka.
“Itu karena Aa tidak suka dijodohkan, terlebih Aa pun masih mengharapkan Nata… eh perempuan itu untuk kembali.”
“Awas saja kalau Aa masih mengharapkan perempuan itu!” ancam Sadiyah.
“Untuk apa mengharapkan perempuan lain di saat ada bidadari dari surga ada dalam dekapan.” Kagendra semakin melancarkan gombalannya.
“Kenapa Aa jadi suka gombal begini sih? Aneh.”
“Gak suka digombalin suami sendiri, huh?”
“Seperti bukan diri Aa saja.”
“Laki-laki bisa saja berubah demi perempuan yang dicintainya.”
“Tuh kan gombal lagi,” seru Sadiyah sambil mencubit lengan Kagendra.
“Yang baru saja Aa katakan bukan gombalan tapi kenyataannya. Kamu bisa merasakannya kan? Bagaimana Aa berubah setelah mencintai kamu.”
“Hm… iya sih. Dulu Aa galak sekarang gak terlalu galak lagi. Dulu Aa dingin ngalahin dinginnya kulkas, tapi sekarang sangat hangat sehangat setrikaan.”
Mendengar Sadiyah yang sudah bisa melempar candaan membuat hati Kagendra lega. Ia yakin Sadiyah sudah mampu lepas dari emosi yang membelenggunya.
“Terimakasih,” ucap Kagendra sambil mencium kening Sadiyah. “Karena sudah kembali menjadi Sadiyah yang Aa cintai.”
“Oh, jadi Aa tidak cinta sama Sadiyah yang kemarin-kemarin, hah?”
Sepertinya Sadiyah salah menanggapi pernyataan Kagendra.
“Kagendra mencintai Sadiyah dalam berbagai bentuk, ukuran, dan sifat.”
“Sadiyah juga mencintai Kagendra yang sekarang dan nanti.”
Malam itu menjadi malam yang syahdu bagi mereka untuk memulihkan hubungan mereka setelah beberapa saat memburuk.
__ADS_1
***************
to be continued...