
“Mereka sudah datang?”
“Belum, Bos.”
“Kalau mereka sudah datang, ajak mereka ke hotel. Saya harus bertemu dengan klien di hotel sekarang.” perintah Kagendra.
“Siap, Bos.”
Tidak lama setelah Kagendra pergi, Faras dan Faris muncul bersama dengan Tuti.
“Kalian kok datangnya siang sih?” tanya Rudi.
“Soalnya Ibu mau pergi ke Bandung. Jadi kita nungguin Ibu pergi dulu. Perginya 2 hari jadi Aris harus peluk Ibu yang lama dulu.”
“Om gantengnya mana, Om?” tanya Tuti celingukan mencari keberadaan Kagendra.
“Om gantengnya balik ke hotel.” sahut Rudi kesal karena hanya Kagendra yang disebut ganteng padahal dia juga merasa ganteng.
“Yaaaah, jadi kita gak akan ketemu lagi sama Om.” Faris merasa kecewa karena hari ini tidak bisa bertemu juga dengan Om gantengnya.
“Om ganteng menyuruh Om untuk mengajak kalian ke hotel. Kalian mau tidak ikut sama Om?” tanya Rudi.
Tuti teringat dengan peringatan yang diberikan oleh Sadiyah agar tidak sembarangan menerima ajakan orang asing.
“Om bukan orang jahat, kan? Om tidak akan menculik Aras dan Aris kan?” tanya Tuti khawatir.
Rudi terkejut mendengar pertanyaan Tuti.
“Kalau Om jahat, kalian bisa lapor ke polisi.” Rudi sedikit sebal karena dicurigai sebagai penculik.
“Hayu, Om.” ajar Faris tak sabar.
“Tapi kita naik mobil ke hotelnya. Kamu tidak takut diculik?” sindir Rudi pada Tuti.
Rudi menggandeng Faras di tangan kanan dan Faris di tangan kirinya menuju mobil yang akan mengantar mereka menemui Kagendra.
Rudi duduk di kursi penumpang yang di depan sedangkan Faras, Faris dan Tuti duduk di kursi penumpang belakang.
“Om, namanya Om ganteng itu siapa sih?” tanya Faris.
“Loh kalian belum tahu namanya?”
__ADS_1
“Belum.” jawab Faras.
“Nanti kalian tanyakan saja sama dia.”
“Ah Om mah gak asyik.” protes Faris.
Rudi terkikik mendengar nada protes Faris.
Setengah jam kemudian mereka sampai ke hotel tempat Kagendra bertemu dengan klien.
Rudi melihat Kagendra belum selesai dengan meeting bersama kliennya.
“Kalian mau makan dulu tidak?” tanya Rudi pada Faras dan Faris.
“Om gantengnya belum datang ya Om?”
“Om gantengnya masih belum selesai meeting?”
“Meeting itu apa, Om?” tanya Faras
“Pekerjaannya belum selesai.”
“Oooooh….” seru Faras dan Faris kompak.
“Makannya nanti saja sama Om.”
“Baiklah kalau begitu. kalian tunggu saja di kamar. Kalian bisa menonton tivi atau main game.”
Rudi mengajak Faras, Faris dan Tuti ke kamar Kagendra.
“Tunggu di sini ya.” Rudi kemudian keluar kamar dan hendak memberitahu Kagendra kalau Faras dan Faris sudah menunggunya di kamar.
Rudi masuk ke dalam ruang meeting dan melihat Kagendra yang masih mengobrol dengan kliennya. Ia menghampiri Kagendra dan memberitahunya bahwa Faras dan Faris sedang menunggu di kamar dengan berbisik.
Sepertinya yang sudah Rudi duga, Kagendra langsung mengakhiri meeting dan bergegas menuju kamarnya untuk menemui Faras dan Faris.
Sebenarnya Rudi merasa heran dengan sikap Kagendra terhadap Faras dan Faris yang terlihat tidak wajar. Sebelumnya mereka tidak saling mengenal, mereka juga bukan saudara ataupun terikat hubungan darah tetapi hubungan antara mereka terlihat hangat, seperti hubungan ayah dan anak-anaknya. Tidak mungkin kan mereka ayah dan anak. Rudi bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Selama Rudi bisa melihat kebahagian yang terpancar dari wajah Kagendra, maka ia akan sangat berterima kasih kepada Faras dan Faris. Kehadiran anak kembar itu telah membuat hidup Kagendra kembali berwarna, tidak abu-abu seperti enam tahun terakhir ini.
“Aras….Aris…kalian lama tidak menunggunya?” tanya Kagendra ketika ia memasuki kamar dan melihat Faras dan Faris sedang menonton tivi di kamarnya.
__ADS_1
“Om……” Faras dan Faris menghambur ke pelukan Kagendra yang dibalas juga dengan pelukan hangat dari Kagendra.
“Om kemana sajaaa…..?” tanya Faris setelah ia melepaskan pelukannya.
“Maafkan Om ya. Om ada pekerjaan di Jakarta, jadi kemarin Om tidak sempat bertemu dengan kalian. Katanya Aris sempat sakit ya?” Kagendra masih tampak bingung membedakan yang mana Faras dan yang mana Faris. Matanya bolak balik menatap wajah Faras dan Faris.
“Ini Aris, Om.” tunjuk Faris pada dadanya sendiri.
“Maaf, Om belum bisa membedakan yang mana Aras dan yang mana Aris.”
“Gampang kok Om. Kalau kata Ibu matanya Aras lebih dingin dan tajam daripada matanya Aris. Kata Ibu juga, matanya Aris lebih hangat dan bersahabat dibandingkan matanya Aras. Tapi Aris juga tidak mengerti sih apa maksud ibu dengan mata dingin, tajam, mata hangat dan bersahabat.” Faris tertawa cekikikan setelah memberikan penjelasan yang dia rasa aneh kepada Kagendra. Karena penasaran, Faris menanyakan pada Sadiyah tentang perbedaan antara ia dan Faras saudara kembarnya. Apa yang dijelaskan oleh Sadiyah ia ceritakan kembali pada Kagendra.
Kagendra menatap wajah Faras dan Faris bergantian. Lalu ia fokus pada mata Faras yang disebut tajam oleh Ibunya dan mata Aris yang disebut hangat.
Deg….
Kagendra terkesiap ketika memandang tatapan hangat dari Faris. Ia seperti menatap hangatnya tatapan mata Sadiyah.
“Kamu pasti Aris ya?” tebak Kagendra pada Faris setelah menatap kehangatan yang terpancar dari mata Faris.
Faris tersenyum ceria mendengar tebakan Kagendra yang tepat.
“Kamu pasti Aras.” Kagendra yakin dengan tebakannya karena ia melihat tatapan tajam yang menusuk dari Faras.
Faras menyunggingkan bibirnya sedikit.
“Bocah ini selain memiliki tatapan yang tajam dan galak, juga terlihat dingin. Bocah ini mirip sekali dengan diriku. Aku yakin bocah ini kalau tidak punya saudara kembar pasti sulit berteman dengan anak yang lainnya.” batin Kagendra. Ia teringat dengan masa kecilnya yang sulit untuk berbaur dengan anak-anak sebaya karena tatapan galaknya yag mengakibatkan ia tidak memiliki teman banyak, hanya Arfian yang mampu bertahan menjadi temannya hingga sekarang.
“Kenapa Om bisa nebak?” tanya Faris.
“Kan seperti yang Aris bilang kalau matanya Aris itu hangat sedangkan matanya Aras itu tajam.” sahut Kagendra bangga karena tebakannya tepat.
“Yang bilang matanya Aris hangat dan mata Aras tajam itu Ibu bukannya Aris.” koreksi Faras.
“Iya…Ibu kalian yang bilang. Tapi kan Om belum pernah bertemu dengan Ibu kalian jadi Om tidak tahu kalau Ibu kalian yang bilang seperti itu. Om tahunya karena Aris yang cerita sama Om seperti itu.”
“Terserah Om saja deh.”
Mendengar jawaban ketus dari Faras, Kagendra semakin yakin kalau Faras itu seperti miniatur dirinya ketika masih kecil. Ia ingat Ibunya sering menasehati agar tidak terlalu ketus kepada orang lain. Dulu ibu khawatir kalau ia tidak bisa berteman dengan mudah karena sikap ketusnya. Tapi ia selalu membantah dengan mengatakan bahwa ia tidak terlalu memerlukan teman yang banyak. Ia mengatakan pada ibu kalau ia hanya membutuhkan teman yang baik bukan teman yang banyak. Indriani, Ibunya hanya bisa mengelus dada melihat sikap dingin putra sulungnya itu.
*********
__ADS_1
to be continued...