
“Teh Iyah…” Atep terkejut melihat Sadiyah yang sudah berada di ambang pintu ruangan.
Kemudian…
“Lena…” Atep memanggilnya lirih.
“Lena….”
Atep menatap wajah Alena. Matanya menyorot tajam. Tidak lebih dari lima detik, Alena langsung membalikkan badan dan langsung berlari.
“Teh… ini tidak seperti yang kalian lihat”
“Kalau begitu jelaskan dengan benar!” teriak Sadiyah marah.
Perempuan yang bersama Atep di ruangannya masih belum melepaskan pelukannya.
“Lepaskan!” Atep menghentakkan tangan perempuan itu.
“Atep mau kejar Lena dulu. Teteh tunggu di sini jangan kemana-mana.”
Atep langsung melesat keluar dari ruangan untuk mengejar Alena.
“Siapa kamu?” tanya Sadiyah tajam.
“Kamu siapa?” balas perempuan itu.
“Saya adalah kakak dari laki-laki yang tadi kamu peluk-peluk dengan seenaknya dan perempuan yang datang bersamasaya tadi adalah calon istrinya.”
“Oh,”
“Jadi jangan berharap pada Atep. Jauhi dia atau …”
“Atau apa? Kalau aku suka dengan Atep, kamu mau apa?” tantang perempuan itu.
“Sebaiknya kamu tidak usah tahu apa yang bisa saya lakukan untuk mengenyahkan perempuan ****** seperti kamu,” ucap Sadiyah tanpa mampu menahan lagi gejolak emosi di dalam dadanya.
“Aku bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang kuinginkan termasuk mendapatkan laki-laki yang aku inginkan.”
“Saya peringatkan sekali lagi. Jangan sampai saya melakukan hal yang tidak kamu harapkan untuk mengeyahkan kamu.”
“Aku tidak takut dengan ancaman kamu.”
“Ini bukan ancaman tapi peringatan. saya tidak perlu mengancam. Ancaman hanya dilakukan oleh para pengecut. Kamu akan lihat apa yang bisa saya lakukan.”
“Silahkan. Aku tidak takut. Aku yakin Atep akan menjadi milikku.” Perempuan itu tertawa mengejek.
Tidak lama kemudian, Atep dan Alena masuk ke dalam ruangan.
“Bu Evangeline, perkenalkan ini Alena, calon istri saya.”
“Aku sudah tahu siapa dia, dan dia,” kata perempuan itu sambil menunjuk Sadiyah.
“Heh, kamu perempuan ******. Jangan coba-coba untuk merusak hubungan orang lain.” teriak Sadiyah.
Tiba-tiba perempuan bernama Evangeline itu tertawa terbahak-bahak.
“Hah, siapa yang merusak hubungan orang lain? Ngaca!” teriak Evangeline pada Sadiyah.
“Terserah. Kamu tidak tahu hal yang sebenarnya tapi sok tahu,” balas Sadiyahh tak kalah ketus.
“Gara-gara kehadiran kamu, kehidupan seseorang menjadi hancur,” teriak Evangeline.
“Teteh mengenal Bu Evangeline?” tanya Atep pada Sadiyah.
Sadiyah menggeleng.
__ADS_1
“Perempuan ****** itu tidak mengenalku. Tapi aku tahu dia yang sudah menghancurkan hidup sepupuku.”
“Siapa kamu? Sepupu yang kamu maksud itu Natasha?” selidik Sadiyah
“Kamu pasti adik dari Kagendra. Sepertinya kamu juga harus merasakan penderitaan yang sudah dialami oleh sepupuku. Aku akan merebut laki-laki yang kamu cintai seperti dia yang sudah merebut laki-laki yang dicintai oleh Natasha,” tunjuk Evangeline pada Sadiyah.
“Siapa yang merebut siapa? Sepupu kamu yang sudah merusak hidup kakak dan kakak iparku. Dia yang sudah memberikan penderitaan pada kakakku dan istrinya. Enak sekali kamu memutarbalikkan fakta.” Alena mulai memahami kejadian yang terpampang di hadapannya.
“Kakak kamu adalah laki-laki berengsek. Meninggalkan perempuan yang sudah terpuruk begitu saja seperti habis manis sepah dibuang. Dasar laki-laki berengsek,” kata Evangeline sinis.
Tiba-tiba Evangeline mendekati Alena dan melayangkan tamparan keras di pipi Alena.
Plak…
“Dasar perempuan laknat!” teriak Alena.
Alena bersiap untuk melayangkan pukulan ke arah wajah Evangeline. Dengan sigap Atep menahan tangan Alena.
“Jangan bersikap gegabah, Len.”
“Lepaskan!”
Atep memegang erat pergelangan tangan Alena.
“Jadi kamu membela dan melindungi dia, hah?” Alena berteriak.
“Tidak. Aku melindungi kamu. Jangan sampai dia melapor ke polisi atas pemukulan yang kamu lakukan. Mengerti?” balas Atep tajam.
Kobaran emosi di mata Alena mulai meredup. Sepertinya dia paham dengan ucapan Atep.
“Kalau kamu mau, kita bisa melaporkan pemukulan yang dia lakukan terhadap kamu,” tawar Atep.
“Hah, tidak usah. Perempuan seperti dia tidak usah kita acuhkan.” Alena membalikkan tubuh dan duduk santai di atas sofa.
“Kamu tidak mengusir perempuan itu?” bentak Alena hampir berteriak.
“In your dreams. Aku akan tetap meneruskan kerja sama di antara kita,” seru Evangeline tidak terima dengan perkataan Atep.
Tiba-tiba Evangeline menarik tengkuk Atep dan melabuhkan ciuman di sudut bibir Atep.
Satu detik yang menegangkan. Wajah Alena merah padam setelah melihat apa yang telah dilakukan oleh Evangeline.
Sebuah vas bunga melayang ke arah Atep. Beruntung ia berhasil menghindari lemparan yang diarahkan padanya.
Terdengar suara tawa Evangeline bergema sebelum dia meninggalkan ruangan.
“Len…”
“Bibir kamu sudah tidak suci lagi!” bentak Alena.
“Teh…Teteh…Teh Iyah…”
Atep terkejut melihat wajah Sadiyah yang sangat pucat.
“Teh…Teteh kenapa?” Alena menghambur memeluk Sadiyah.
Atep mengambil segelas air dan menyodorkannya pada Sadiyah tetapi tidak ada reaksi apapun. Kemudian ia dekatkan gelas ke bibir Sadiyah. “Minum dulu, Teh.”
“Tep,” panggil Sadiyah.
“Iya, Teh.”
“Teteh takut. Dia datang lagi untuk mengganggu kami. Menggoda lagi A Endra.”
Air mata bercucuran mengaliri pipi Sadiyah. Sosok Sadiyah yang tangguh dan pemberani tiba-tiba menghilang digantikan sosok Sadiyah yang lemah dan penakut.
__ADS_1
“Jangan takut, Teh. Selain ada Atep, sekarang suami Teteh ada bersama Teteh, dan Atep yakin A Endra tidak akan pernah meninggalkan Teteh lagi.” Atep memeluk tubuh Sadiyah untuk menenangkannya. Atep bisa merasakan tubuh Sadiyah yang gemetaran.
“Lena akan menelepon Aa. Dia harus tahu kalau Natasha mungkin akan muncul kembali untuk mengganggu kalian. Ini tidak bisa didiamkan. Lena khawatir nenek lampir itu akan bekerja sama dengan sepupunya untuk menghancurkan keluarga kita.”
Sadiyah mengangguk mendegar perkataan Alena.
“A…lagi dimana? Iya iya…assalamu’alaikum. Aa di mana? Bisa pulang sekarang? Teh Iyah sakit. Pokoknya cepat pulang. Teh Iyah belum bisa bicara sama Aa. Dia masih syok….ceritanya nanti saja kalau Aa sudah di sini…. iya iya…hati-hati di jalan. Tidak usah ngebut. Iya…iya…Lena pasti temani. Ada Atep juga.”
“Bagaimana?” tanya Atep.
“Aa segera pulang.”
“Kamu pending dulu amarah kamu ya,” Atep berbisik karena khawatir terdengar oleh Sadiyah.
“Ih, mana ada marah dipending?”
“Kamu sudah tidak marah lagi sama aku, kan?” tanya Atep sedikit khawatir.
“Masih… apalagi tadi kamu sudah dicium sama dia. Aku saja belum merasakannya tapi perempuan ****** itu sudah merebut ciuman pertama kamu.”
“Memangnya kamu yakin itu ciuman pertamaku?” goda Atep.
“Hah? Jadi…”
“Stttt…jangan marah. Aku belum pernah mencium perempuan manapun. Yang tadi tidak termasuk ciuman karena terjadi diluar kehendakku,” ucap Atep menenangkan Alena. Ia berharap Alena bisa berpikir logis setelah kejadian ciuman yang tidak diinginkan itu.
“Nanti saja bicarakan masalah kita. Yang terpenting sekarang adalah Teh Iyah. Sebaiknya aku dan Teh Iyah pulang saja.”
“Kalian sudah makan?”
“Belum. Rencananya kami mau makan di sini. Tetapi bukannya disuguhi makanan lezat malah disuguhi pertunjukkan murahan.”
“Makan dulu. Kasihan Teh Iyah.”
“Hm…”
“Teh, kita makan dulu ya,” bujuk Atep.
Sadiyah menggeleng.
“Teteh harus makan, kasihan keponakan-keponakan Lena yang ada di sini.” Alena mencoba membujuk sambil mengelus lembut perut Sadiyah yang besar karena mengandung dua bayi.
Atep memerintahkan staf di bagian dapur agar segera menyiapkan makanan dan minuman untuk Sadiyah dan Alena.
“Minum dulu air jahe hangatnya, Teh.” Atep menyodorkan gelas pada Alena agar membantu Sadiyah minum.
“Sebentar lagi makanannya siap.”
“Jangan khawatir, Teh. Sekarang Teteh tidak sendirian. Selain ada Atep, ada banyak orang yang akan mendukung Teteh. Atep yakin suami Teteh tidak akan tergoda oleh perempuan lain. Atep yang menjadi saksi bagaimana besarnya cinta A Endra pada Teteh.”
“Hm…”
“Sekarang Teteh fokus saja pada keluarga Teteh. Jangan pikirkan yang lain, apalagi sebentar lagi keponakan-keponakan Atep akan lahir. Teteh harus tetap kuat dan sehat.”
Tak lama kemudian beberapa piring berisi makanan sudah tersaji di atas meja.
“Makan, Teh. Pelan-pelan saja kalau masih enggan untuk makan.”
“Aku antar kalian pulang.” Atep menawarkan diri untuk menjadi supir mengantarkan Sadiyah dan Alena pulang.
“Hm…” Alena mengangguk.
Baru saja Alena menutup pintu mobil saat terdengar teriak kesakitan Sadiyah.
“Aaaaargh….sakit….”
__ADS_1
**********
to be continued...