Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
112. Pulang


__ADS_3

“Aa… Aa harus bertahan! Aa tidak boleh meninggalkan Iyah. Aa harus bertahan!” Sadiyah terus menerus melafalkan kalimat-kalimat itu di sepanjang perjalanan dari mobil menuju ruang gawat darurat.


Kagendra langsung dibawa ke ruang operasi untuk dilakukan tindakan.


Sadiyah menunggu di depan ruang operasi dengan pikiran yang kalut. Ia sangat luar biasa ketakutan. Ia takut jika Kagendra tidak mampu bertahan dan meninggalkan dirinya.


“Aa tidak boleh menghukum Iyah seperti ini. Iyah memang salah sudah pergi meninggalkan Aa. Iyah mohon jangan balas perlakuan buruk Iyah pada Aa dengan pergi meninggalkan Iyah dan anak-anak.” batin Sadiyah menjerit memikirkan Kagednra yang sedang berjuang agar mampu bertahan.


Sadiyah mulai menyuarakan kesedihan hatinya dengan suara lirih. “Iyah cinta sama Aa. Dari dulu, sekarang dan mungkin seterusnya akan mencintai Aa. Jadi Aa harus mampu bertahan.”


Bagaimana Iyah harus memberitahu Aras dan Aris kalau Aa sampai pergi meninggalkan kami. Aa harus bertahan. Iyah mohon, A. Maafkan Iyah.” Sadiyah menangkupkan tangan ke wajah. Aliran air matanya sudah tidak terbendung lagi.


Bagi Sadiyah, waktu berjalan sangat lambat. Sejak Kagendra masuk ke ruang operasi, tak putus-putus Sadiyah berdo’a untuk keselamatan Kagendra. Tangannya masih belum dibersihkan dari darah tapi Sadiyah sudah tidak peduli dengan keadaan dirinya. Jilbab warna abu-abu dan baju berwarna putih yang dipakainya sudah penuh dengan darah Kagendra.


Setelah waktu berlalu 30 menit, seorang dokter keluar dari ruang operasi.


“Bagaimana, Dok?” Sadiyah bergegas mendekati dokter untuk menanyakan keadaan Kagendra.


“Alhamdulillah, operasinya berhasil. Pasien kehilangan banyak darah. Alhamdulillah persediaan darah cukup sehingga kami tidak mengalami kendala apapun.” ujar dokter memberikan keterangan singkat tentang kondisi Kagendra.


“Apa suami saya selamat, Dok?”


“Insya Allah. Hanya saja sekarang suami Ibu belum sadar. Mudah-mudahan bisa segera sadar.” sahut dokter tersebut dengan tersenyum.


“Alhamdulillah…” Sadiyah mengucapkan syukur mendengar bahwa Kagendra berhasil melewati masa kritisnya. Tapi ia belum bisa bernafas lega karena Kagendra belum sadar.


Sadiyah menempatkan Kagendra di ruang rawat VVIP. Hanya saja ruang VVIP di rumah sakit daerah tidaklah sama dengan ruang VVIP di rumah sakit besar di kota tetapi ruang rawat yang ditempati oleh Kagendra cukup nyaman.


Segera setelah Sadiyah merasa agak tenang, ia menghubungi Rudi agar segera datang. Beruntung Rudi memang dalam perjalanan menuju desa Cibeber untuk menyusul Kagendra.


Sadiyah meminta Rudi untuk memberi kabar tentang Kagendra kepada abah dan ibu karena ia tidak sanggup mengabarkan kondisi Kagendra kepada abah dan ibunya. Sadiyah merasa sangat bersalah karena Kagendra terluka untuk menyelamatkan dirinya.


Tidak lama setelah Kagendra dipindahkan ke ruang perawatan, Rudi tiba di rumah sakit. Setelah mendapatkan kabar dari Sadiyah mengenai keadaan Kagendra, Rudi langsung menelefon Yusuf dan Indriani yang sedang berliburan.


Mendengar kondisi Kagendra, Yusuf dan Indriani langsung memutuskan untuk langsung pulang dengan penerbangan pertama yang dapat mereka ambil hari itu juga.


“Makanya, Bah. Punya pesawat pribadi itu penting supaya kita bisa cepat sampai tujuan tanpa harus menunggu jadwal pesawat komersil.” isak Indriani sambil membereskan barang mereka dan anak-anak.


“Kita mau pulang, Nek?” tanya Faras yang melihat Indriani membereskan barang-barang mereka dengan terburu-buru.

__ADS_1


“Iya. Maafkan Nenek karena kita harus pulang sebelum waktunya.” ujar Indriani sambil menghapus air mata yang mengalir dengan punggung tangannya.


“Nenek kenapa menangis?” tanya Faris sambil memeluk Indriani.


Indriani tidak dapat lagi menahan tangisnya, ia memeluk Faris dan Faras dengan erat.


“Sudah, Bu. Kasihan anak-anak kalau melihat Ibu menangis seperti ini.” ujar Yusuf berusaha untuk menenangkan istrinya.


“Sudah dapat pesawatnya belum?” tanya Indriani disela-sela isak tangisnya.


“Sudah. Pesawat jam sepuluh. Kita berangkat satu jam lagi. Sarapan di bandara saja.”


“Pesawatnya ke Jakarta atau langsung ke Bandung? Kalau dari Bandung kan lebih dekat.”


“Kita dapat jadwal pesawat yang cepat ke Jakarta. Tidak apa-apa, yang penting kita bisa dapat penerbangan secepatnya.”


Bersyukur, jadwal penerbangan tidak ditunda sehingga pesawat mendarat dengan selamat dan tepat waktu di bandara Soeta. Di Bandara, supir pribadi mereka sudah menunggu sehingga mereka bisa langsung pergi menuju rumah sakit dimana Kagendra dirawat.


Rudi mengabarkan jika Kagendra sudah berhasil dioperasi dan sekarang sudah dalam ruang perawatan.


“Kita mau kemana lagi, Ki?’ tanya Faras pada Yusuf.


“Kita mau ke rumah sakit. Ayah kalian sedang dirawat di rumah sakit.”


“Aki juga belum tahu Ayah kalian sakit apa.” jawab Yusuf.


“Ibu sudah tahu belum? Ibu kan sedang ada di Jogja.” tanya Faras.


“Ibu kalian sudah tahu. Sekarang sedang menemani ayah di rumah sakit.”


“Ayah tidak apa-apa kan?” Faris sudah mulai terisak.


“Kita berdo’a saja supaya Ayah cepat sehat lagi.” ujar Indriani sambil memeluk Faras dan Faris.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, mereka sampai di rumah sakit dan langsung bergegas menuju kamar tempat perawatan Kagendra.


Tampak Rudi sedang duduk di depan kamar perawatan Kagendra.


“Rud, bagaimana kondisi Endra?’ tanya Yusuf pada Rudi.

__ADS_1


“Bos belum siuman sejak selesai dioperasi tadi.” jawab Rudi tampak lelah karena tadi ada petugas kepolisian yang meminta keterangan tentang kejadian yang dialami oleh Kagendra.


Karena musibah yang dialami oleh Kagendra sudah masuk ranah kejahatan, jadi polisi turun tangan untuk menyelesaikan masalahnya. Para petugas itu meminta keterangan tentang siapa yang menyerang dan bagaimana Kagendra sampai tertusuk oleh pisau.


Rudi mendampingi Pak Yaya memberikan kesaksian kepada para petugas dari kepolisian.


“Iyah dimana?” tanya Indriani.


“Ada di dalam, Bu.”


“Titip anak-anak dulu, Rud.”


“Baik, Bu.”


“Aras mau lihat Ayah.”


“Aris juga.”


“Nanti saja. Anak-anak tidak boleh masuk ke dalam kamar perawatan. Rudi, tolong antar anak-anak pulang dulu. Sebaiknya mereka tidak berada di rumah sakit.” Yusuf memerintahkan Rudi untuk mengantarkan Faras dan Faris pulang.


“Tapi Aras ingin lihat Ayah.” Faras bersikeras untuk melihat Kagendra.


“Aris juga.” Faris sudah berlinang air mata.


Yusuf masuk ke dalam kamar perawatan Kagendra untuk meminta Sadiyah agar membujuk Faras dan Faris untuk pulang bersama Rudi.


Sadiyah keluar dari kamar perawatan Kagendra dengan mata yang sembab karena menangis terus menerus.


“Ibu…..” Faras dan Faris menghambur ke dalam pelukan Sadiyah.


“Ayah kenapa, Bu?” tanya Faras.


“Ayah sedang sakit. Aras dan Aris pulang dulu sama Om Rudi. Nanti kalau Ayah sudah sedikit sehat, kalian boleh datang melihat Ayah. Sekarang Ayah sedang tidur. Aras dan Aris nurut sama Ibu ya.” bujuk Sadiyah.


“Iya, Bu.” Faras dan Faris menganggukan kepala mereka bersamaan.


“Pak Rudi, tolong antarkan Aras dan Aris pulang. Nanti saya minta Atep buat menjaga mereka.”


“Siap, Bu Bos.”

__ADS_1


*******


to be continued...


__ADS_2