
Setelah beberapa saat dalam pelukan Kagendra, tangis Sadiyah mereda. Bagian depan kameja Kagendra sudah basah oleh air mata Sadiyah.
“Sudah puas nangisnya, Sayang?” tanya Kagendra lembut.
Sadiyah mengangguk masih dalam pelukan Kagendra. Ia kembali mendusel-duselkan wajahnya pada dada Kagendra. Kameja putih Kagendra sudah basah oleh air mata dan ingus Sadiyah.
Dulu, Kagendra akan merasa tidak nyaman jika memakai baju basah dan kotor tetapi sekarang semuanya mulai berubah. Ia tidak keberatan memakai baju kotor dan basah jika yang mengakibatkannya Sadiyah tapi Ia masih sedikit marah jika Aras atau Aris yang menyebabkan baju atau barang miliknya kotor atau rusak. Jangan tanya jika orang lain yang membuat barang-barangnya kotor atau rusak, ia akan marah besar.
“Aa bantu buat pompa ASInya, ya? Tadi perawat bilang kalau suami harus bantu untuk pompa ASI biar lancar keluarnya.”
“Oh, jadi karena disuruh perawat Aa mau bantu pompa ASI?” tanya Sadiyah ketus.
“Bukan begitu, Sayang. Tanpa disuruh pun Aa pasti dengan rela membantu kamu memompa ASI,” ucap Kagendra yakin. Tentu saja ia rela membantu istrinya memompa ASI dan bisa jadi kegiatan ini akan menjadi hobi barunya. Sebelumnya, ia banyak mencari tahu cara agar ASI keluar dengan lancar selain mengkonsumsi vitamin dan makanan bernutrisi.
“Tadi ASInya baru sedikit yang keluar tapi payudara Iyah sudah terasa keras dan sakit,” keluh Sadiyah.
“Aa tahu cara supaya ASI yang keluar lancar dan payudara kamu tidak sakit lagi.”
“Apa?”
“Pijat Oksitosin. Menurut artikel yang Aa baca, pijat ini salah satu cara untuk meningkatkan produksi ASI.”
“Baca artikel di mana? Kredibel tidak? Jangan asal baca artikel. Banyak artikel hoaks.”
“Aa bacanya dari website yang terpercaya.” Kagendra menggeser duduknya menghadap punggung Sadiyah. “Pijat oktitosin ini pijatan yang dilakukan di sepanjang tulang belakang. Katanya pijat oksitosin ini mampu memicu pengeluaran oksitosin yang merupakan hormon yang membuat ASI lebih lancar.” Kagendra mulai memijit tulang belakang Sadiyah dengan lembut.
Sadiyah menikmati pijatan yang diberikan Kagendra di punggung dan tulang belakangnya.
“Enak?”
“Hm…”
“Nah selain pijat oktitosin ada juga pijatan lain yang mampu memperlancar keluarnya ASI dan membuat tubuh rileks dan nyaman.”
“Boleh, A. Pijatan Aa enak banget nih.” Sadiyah mulai merasa rileks setelah ketegangan yang dialaminya sejak siang tadi.
“Tapi harus ada massage oil. Di sini tidak ada. Nanti Aa beli dulu di apotek, ya.”
“Kenapa harus pakai massage oil segala, A? dipijat seperti ini juga sudah enak,” ungkap Sadiyah.
“Kata artikelnya harus pakai massage oil supaya kulitnya tidak iritasi.”
“Memang mau pijat apa sih, A?’
“Pijat laktasi.”
“Bagaimana dipijatnya?” tanya Sadiyah penasaran.
“Pijatnya di sini.” Kagendra menunjuk dada Sadiyah.
“Tidak mau.”
“Kenapa tidak mau?”
“Malu. Masa pijat seperti itu di sini?”
“Tidak perlu malu. Kan hanya kita berdua di sini. Tidak akan ada orang lain yang masuk,” bujuk Kagendra.
“Bagaimana bisa yakin kalau tidak akan ada yang masuk ke ruangan ini. Bagaimana kalau tiba-tiba dokter atau perawat yang masuk atau keluarga kita. Tidak! Iyah tidak mau!” kata Sadiyah tegas.
“Kan kita bisa atur waktunya. Aa juga akan mengunci pintu.”
__ADS_1
“Tidak mau, A. Pijitin saja punggung Iyah. Begitu juga sudah enak.”
“Pijat laktasi itu banyak manfaatnya, Sayang. Nih, kamu baca sendiri saja artikelnya.” Kagendra menyerahkan ponselnya.
Sadiyah mulai membaca artikel yang menyebutkan manfaat dari pijat laktasi. Artikelnya memang bukan artikel berisi hoaks karena isinya berdasarkan beberapa penelitian. Berdasarkan artikel yang sedang dibacanya, penelitiannya diterbitkan dalam Journal of Korean Academy of Nursing.
Dikatakan bahwa pijat laktasi dengan cara yang benar selama 30 menit selama 10 hari pasca melahirkan bisa membantu agar ASI lancar. Pijat ini juga ampuh untuk mencegah sekaligus meredakan nyeri, pembengkakan, mastitis, dan infeksi pada payudara. Bahkan berdasarkan American Pregnancy Association, pijat laktasi mampu membantu tubuh merasa rileks dan nyaman sehingga membantu pikiran menjadi lebih tenang dan membantu ibu yang baru melahirkan beristirahat dengan baik.
“Iya, A. pijat laktasi memang bagus,” ucap Sadiyah.
“Nah, percaya kan?”
Sadiyah mengangguk.
“Mau coba?”
“Memang Aa bisa?”
“Aa sudah baca caranya dan sudah hapal juga teorinya. Tinggal praktek saja sekarang.”
“Oh, ternyata Aa ayah siaga juga.”
“Iya dong. Aa pergi ke apotek dulu buat beli massage oilnya. Sambil nunggu, kamu baca-baca saja dulu cara pijat laktasi biar nanti kamu bisa juga melakukan sendiri.”
“Iya, A.” Sadiyah mengambil kembali ponsel Kagendra dan mulai membaca cara dan langkah-langkah pijat laktasi.
1. Siapkan minyak sesuai dengan selera agar kulit tidak iritasi saat ibu sedang memijat.
Sadiyah menangguk-anggukkan kepalanya, pantas saja suaminya bersikeras untuk membeli massage oil. Ia melanjutkan membaca sambil berusaha memijit-mijit bagian tubuh yang dintruksikan.
2. Lakukan pijat laktasi dengan duduk di atas kursi agar lebih nyaman.
Sadiyah membutulkan posisi duduknya. Ia geser pantatnya dan berusaha untuk duduk dengan nyaman.
4. Masih dengan posisi yang sama\, pijat bahu dengan gerakan melingkar dari leher ke belakang bahu. Ulangi gerakan ini 5—10 kali.
Sesuai dengan intruksi yang dibacanya, Sadiyah mulai memijit-mijit tulang selangka dan bahunya walau sedikit kesulitan.
5. Letakkan satu tangan pada belakang kepala dan gunakan ujung jari tangan lain untuk memijat samping payudara bagian bawah ketiak.
Sadiyah meletakkan ponsel di atas kasur dan melakukan apa yang dintrusikan.
“Lho, ini yang dipijat payudara?” tanya Sadiyah pada dirinya sendiri.
6. Masih pada payudara yang sama\, letakkan satu tangan di atas dan bawah payudara.
7. Pijat payudara dengan tekanan kuat tetapi lembut dengan arah berlawanan\, lakukan 5-10 kali.
8. Ulangi gerakan pijat laktasi nomor 5\, 6\, dan 7 untuk payudara sebelahnya.
“Oh, ternyata pijat laktasi ini memijat payudara kita sendiri. Dasar si Aa mesum,” rutuk Sadiyah. Setelah puas mengomel sendiri, Sadiyah tetap meneruskan intruksi selanjutnya.
9. Bungkukkan pinggang dan tekuk kepala ibu seperti gerakan rukuk.
Untuk posisi ini, Sadiyah belum berani untuk turun sendiri. Mungkin nanti setelah tubuhnya membaik, ia akan minta bantuan untuk melakukan pijatan dengan posisi rukuk. Sadiyah meneruskan membaca.
10. Pada posisi nomor 9\, pijat payudara dengan posisi satu tangan di atas dan satu di bawah payudara.
11. Lakukan pemijatan dengan posisi melingkar ke atas payudara dekat ketiak\, kemudian melingkar ke seluruh bagian payudara selama 10 hitungan.
12. Ulangi gerakan nomor 10 dan 11 untuk payudara sebelahnya.
__ADS_1
13. Regangkan pinggang\, tengkuk\, leher\, dan tangan. Lalu kembali ke posisi duduk.
14. Putar bahu ke kanan dan kiri selama 10 hitungan sebagai gerakan peregangan.
15. Angkat kedua lengan sampai tangan bertemu di atas kepala dan berpegangan tangan.
16. Tarik tangan ke atas agar otot dan tulang lebih rileks.
Sadiyah selesai mempraktekkan semua intruksi yang ada dalam artikel walaupun hanya dua atau tiga kali mencoba pijatannya. Nanti, ia akan mencoba melakukan pijatan dengan intensitas sesuai yang diintruksikan.
Tidak lama kemudian, Kagendra masuk ke dalam ruangan sambil membaca massage oil. “Sudah selesai baca artikelnya?”
“Sudah.” Sadiyah mendelikkan mata.
“Kenapa marah?”
“Dasar mesum!”
“Lho, kenapa nuduh Aa mesum?”
“Itu sih maunya Aa pegang-pegang dadanya Iyah.”
“Bukan begitu, Sayang. Aa hanya mau membantu kamu supaya kamu lebih rileks dan nyaman plus ASInya melimpah. Kan disebutkan di artikelnya kalau pijat ini bisa dilakukan sendiri atau dibantu pasangan atau keluarga. Kenapa Aa jadi dituduh mesum?”
“Terus apa dong sebutannya kalau bukan mesum?”
“Mau mesum ataupun tidak, mau ambil keuntungan dari kamu atau tidak, tetap saja Aa harus menahan diri, kan?”
“Iya sih.”
“Masih mau tidak coba pijat laktasinya?”
Setelah terdiam cukup lama, Sadiyah mengangguk.
“Tapi malu kalau ada yang lihat.”
“Siapa yang mau lihat. Kunjungan dokter dan perawat juga sepertinya masih lama. Baru saja kan perawat mengambil ASI kamu.”
“Kalau Lena atau Atep yang masuk ke sini?”
“Tidak akan. Mereka tadi izin ke kantin terus mau lihat si kembar di ruangannya. Tenang saja, Aa kunci dulu pintunya.”
Kagendra mengunci ruangan VIP yang ditempati Sadiyah.
“Sudah dikunci. Sekarang, buka pakaian kamu.”
Malu-malu Sadiyah membuka baju atasnya.
Kagendra membuka massage oil dan menuangkannya ke atas telapak tangannya lalu mulai melakukan langkah-langkah pemijatan laktasi yang sudah dihapalnya di luar kepala.
Sepanjang proses pemijatan, wajah Sadiyah sudah memerah seperti kepiting rebus. Walaupun kegiatan yang mirip seperti ini bukan pertama kali buat Sadiyah dan Kagendra tetapi tetap saja membuat Sadiyah tersipu.
Jangan tanya dengan keadaan Kagendra. Ia harus fokus dan berkonsentrasi penuh pada proses pemijatannya agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkannya.
“Bagaimana? Sudah rileks?” tanya Kagendr setelah menyelesaikan seluruh intruksi pemijatan laktasi.
“Enak, A. Tubuh Iyah jadi terasa ringan. Kalau Aa tidak keberatan, Iyah juga pengen dipijit kakinya.”
Kagendra menggeser duduknya hingga ujung kasur, lalu mulai memijit kaki istrinya.
********
__ADS_1
to be continued...