Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
90. Om Kagendra


__ADS_3

“Hari ini, Aras dan Aris tidak datang ya Rud?”


“Sepertinya mereka tidak datang Bos. Ini sudah siang dan syuting hari ini sudah beres.”


“Besok kita balik dulu ke Jakarta. Sutradaranya berencana untuk mengadakan audisi besok.”


“Audisi untuk peran yang mana Bos?.”


“Untuk peran anak-anak?”


“Yakin tidak akan mengajak Aras dan Aris?”


Kagendra memberikan tatapan tajamnya pada Rudi.


“Iya…iya…Bos. Saya tidak akan membicarakan lagi hal ini.”


“Berapa lama lagi proses syutingnya?”


“Karena kita syuting untuk 3 seri iklan. Jadi memang waktunya agak lama. Sebenarnya Bos tidak perlu mengawasi semua proses syuting ini. Saya heran Bos bisa bertahan mengawasi proses syuting sampai hampir akhir.” goda Rudi. Ia tahu kalau alasan Kagendra tetap berada di desa ini bukanlah untuk mengawasi proses syuting hingga akhir tapi karena kehadiran Aras dan Aris yang telah merebut hatinya.


“Tapi kalau besok saya tidak ada di sini, bagaimana kalau Aras dan Aris mencari saya?”


Rudi tersenyum mendengar apa yang Kagendra katakan. Ia yakin kalau Kagendra sulit untuk berpisah dengan dua bocah itu.


“Seharusnya saya menanyakan nomor kontak pengasuhnya itu. Besok kamu saja yang balik ke Jakarta sendirian. Ah, jangan…kalau besok kamu pergi nanti saya repot. Saya akan menghubungi si Riri untuk mengaudisi sendiri saja.”


“Kalau nanti pilihan Riri tidak sesuai dengan ekspektasi Bos bagaimana?” tanya Rudi.


“Saya suruh audisi ulang.”


“Terserah Bos saja deh. Bos kan yang punya duitnya.”


“Memang.” jawab Kagendra mengesalkan.


“Jadi sekarang kita mau kemana?”


“Balik ke hotel.”


“Tidak akan mendatangi rumah Aras dan Aris? Kita kan sudah tahu di mana rumah mereka.” tawar Rudi.


“Tidak perlu. Nanti orangtuanya curiga sama kita lalu tidak mengizinkan mereka untuk bertemu dengan saya lagi.”


“Bos, saya rasa ibunya Aras dan Aris itu orangtua single.”


“Kenapa kamu berpikir seperti itu?”


“Soalnya Aras dan Aris pernah cerita kalau ayah mereka kerjanya ngasih makan ikan piranha dan anaconda di hutan amazon. Kemungkinannya ayah dari Aras dan Aris meninggalkan mereka atau ayah dan ibu mereka sudah bercerai. Kalau ayahnya ada, tidak mungkin kan Aras dan Aris cerita kalau ayahnya kerja di hutan Amazon.”


“Sepertinya begitu.” Kagendra menyetujui pemikiran Rudi.

__ADS_1


“Kalau begitu Bos lamar saja Ibunya Aras dan Aris. Bos kan duda, Ibunya Aras dan Aris juga kemungkinan sudah janda. Kalian sama-sama sendirian, Bos juga sayang sama Aras dan Aris. Saya rasa kalian akan cocok kalau menikah. Aras dan Aris ganteng pasti Ibu mereka juga cantik.”


Kagendra melemparkan botol minuman ringan yang masih ada isinya ke arah Rudi.


Beruntung Rudi bisa menangkapnya karena kalau tidak mungkin kepalanya sudah benjol terkena lemparan botol minuman.


“Sialan. Saya tegaskan kalau saya bukan duda, saya tidak pernah bercerai ataupun menceraikan Sadiyah. Jangan kurang ajar kamu.” bentak Kagendra.


“Becanda, Bos. Saya kan cuma becanda. Jangan marah, Bos.” Rudi terkekeh yang dibalas dengan dengusan bosnya.


***********


“Om……..” Kagendra mendengar suara anak-anak memanggil-manggil. Ketika Kagendra berbalik, ia melihat Aris yang sedang berlari menghampirinya. Dibelakangnya ada Aras yang juga berlari-lari.


“Aras….Aris…jangan lari…tungguin Teteh.” Tuti juga berlari-lari mengikuti Faras dan Faris.


Kagendra berjongkok dan merentangkan tangannya bersiap untuk menerima pelukan dari Faras dan Faris.


Faras dan Faris menghambur ke dalam pelukan Kagendra.


“Om kira kalian tidak akan datang hari ini.”


“Teh Tutinya ke pasar dulu nganter Mak Nene jadi Aris nunggu Mak Nene dulu pulang dari pasar.”


“Aras…Aris…jangan lari-lari! Teteh capek ngejarnya.”


“Iiiiih…Aras mah suka begitu sama Teteh.” Tuti kesal dengan pertanyaan Faras yang ketus.


“Aras tidak boleh begitu sama Teh Tuti. Itu tidak sopan.” Kagendra memberikan teguran pertamanya pada Faras. Setelahnya Kagendra menyesal karena takut Faras tidak menyukai tegurannya.


“Maaf, Teh.” ucap Faras.


Tuti terkejut mendengar permintaan maaf dari Faras karena selama ini Faras jarang meminta maaf kepada siapapun kecuali kepada Ibunya. Dan hari ini, ia mendengar Faras meminta maaf kepadanya karena ditegur oleh orang yang baru saja dikenalnya.


Kagendra juga terkejut dengan ucapan Faras. Awalnya ia berpikir bahwa Faras tidak akan menyukai teguran dari orang yang baru dikenal. Ia bersyukur Faras mengindahkan tegurannya dan mau meminta maaf atas kesalahannya.


Kagendra mengelus kepala Faras dan memeluknya.


“Terima kasih.” ucap Kagendra. Kemudian secara reflek Kagendra mencium puncak kepala Faras dan melakukan hal yang sama pada Faris.


Tuti semakin terpesona melihat ketampanan wajah Kagendra yang dihiasi senyuman.


Rudi juga terharu melihat adegan yang tersaji di depan matanya. Tanpa ia sadari air mata sedikit menetes dari sudut matanya yang segera ia usap dengan punggung tangannya.


“Kalian sudah makan?” tanya Kagendra.


“Sudah tadi di rumah.” jawab Faras.


“Om…” panggil Faris.

__ADS_1


Kagendra berbalik menghadap Faris.


“Nama Om siapa? Om kan sudah tau nama Aras dan Aris tapi Aras dan Aris tidak tahu nama Om.”


“Oh iya ya. Om lupa tidak memberitahu nama Om pada kalian. Nama Om adalah Kagendra. Kalian bisa panggil Om dengan panggilan Om Endra.”


“Om Endra.” seru Faras dan Faris bersamaan.


“Kalau nama Om itu siapa?”


“Namanya Om Rudi.” jawab Kagendra.


“Haiii Om Rudi….” seru Faris


“Hai juga…Aris…dan juga Aras.” sekarang Rudi juga sudah bisa membedakan Faras dan Faris dari sikap mereka.


“Kalian mau main kemana sekarang? Mau ikut Om ke hotel lagi?”


“Gak ah….tidak seru main di hotel mah.” kata Faris.


“Jadi mau main ke mana? Om temani.” tawar Kagendra.


“Kita main ke tempat seluncuran.” Seru Faras.


“Tempat apa itu?” tanya Kagendra.


“Kita bisa main seluncuran dari atas. Tapi karena kita masih kecil, kata Ibu itu bahaya jadi kita belum boleh main seluncur sendiri.” jelas Faras


“Tapi kalau seluncurnya sama Om tidak akan bahaya. Om mau kan main seluncur sama Aras dan Aris?”


“Boleh. Tapi Om mau makan dulu ya.”


“Asyiiik….” Faras dan Faris melompat-lompat kegirangan.


“Rud, nasi kotaknya masih ada?”


“Sepertinya masih banyak, Bos. Tuh tumpukannya masih ada.” Rudi menunjuk kea rah meja yang penuh dengan tumpukan nasi kota dengan dagunya.


“Ambilkan satu buat saya!” perintah Kagendra.


“Bos serius mau makan nasi kotak?” tanya Rudi heran karena Kagendra sangat anti makan nasi kotak di lokasi syuting. Sepanjang Rudi bekerja pada Kagendra, ini pertama kalinya Kagendra meminta nasi kotak untuk makan siang.


“Kalau saya makan di restoran, kasihan Aras dan Aris harus menunggu. Cepat ambilkan saja nasi kotaknya. Jangan cerewet.”


Rudi pun beranjak dari duduknya dan mengambilkan nasi kotak untuk Kagendra dan juga untuk dirinya sendiri.


********


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2