
“Besok mau jalan-jalan?” tanya Kagendra santai.
“Boleh?”
“Hm…”
“Kok bisa?” tanya Sadiyah heran. Ia bertanya-tanya apa Kagendra sudah tidak merasa khawatir dengan laki-laki hidung belang yang pernah diceritakannya.
“Bisa.”
“Kenapa bisa? Memang Aa tidak takut? Kalau Iyah sih masih khawatir ah. Takut ketemu laki-laki berengsek yang Aa bilang.”
“Aa sudah menyewa pengawal.”
“Sampai segitunya?”
“Aa juga takut dan khawatir tapi Aa kasihan juga sama kamu kalau tidak main kemana-mana. Sudah jauh-jauh liburan ke sini tapi tidak main kemana-mana.”
“Aa memang ter the best!” Sadiyah mengecupi wajah Kagendra berkali-kali meluapkan kegembiraannya.
“Kamu senang?”
“Iiih gak usah ditanya segala. Iyah bahagia sekali. Besok kita ke fish market lalu di sana kita makan seafood sepuasnya ya, A. Terus kita salat di Masjid Old Friday. Iyah juga mau makan di restoran yang di bawah laut itu. Bisa tidak ya? Katanya harus reservasi dulu.”
“Kita lihat besok. Kalau memang kita dapat tempat di restoran Ithaa, kita makan siang di sana. Tapi kalau tidak dapat, kita makan saja di restoran lain.”
“Iya..iya…” Sadiyah melompat-lompat seperti anak kecil saking senangnya.
“Jangan senang dulu. Kamu harus pilih mau jalan-jalan di pusat kota Male atau ke Undersea Restaurant. Kita tidak bisa mendatangi dua tempat yang berjauhan sekaligus. Kalau kamu mau makan di Undersea Restaurant, kita pergi ke sana pakai pesawat. Di sana kita bisa menikmati pemandangan Rangali Island. Bagaimana kalau kita packing sekarang dan lanjutkan menginap di Rangali Island dua atau tiga malam?”
“Pemandangannya sama seperti di sini? Mahal tidak biaya hotelnya? Memangnya dari sini jaraknya jauh?” tanya Sadiyah.
“Ya lumayan jauh, sekitar 150 km. Kalau biaya hotelnya sih relatif, ada yang tidak terlalu mahal ada juga yang mahal sekali. Kalau kamu mau menginap di tempat yang sekalian dengan undersea restaurant harganya sekitar 15 sampai 30 juta,” jelas Kagendra.
__ADS_1
“Mahal sekali. Tidak jadi deh makan di restoran bawah lautnya. Sayang uangnya.”
“Aa cari uang kan buat dihabiskan sama kamu,” kekeh Kagendra.
“Jangan ah, mending uangnya dipakai buat yang lebih bermanfaat.”
“Bagi Aa, kebahagiaan kamu adalah sesuatu yang bermanfaat. Jadi, kalau kamu ingin mencoba makan di bawah laut, tidak masalah berapapun biaya yang harus Aa keluarkan.”
“Tapi… Iyah – “
“Sudah Aa booking hotelnya. Kita bersiap bereskan barang-barang untuk menginap dua malam di Rangali Island.”
“Serius, A? Aa sudah pesan dan bayar hotelnya?” tanya Sadiyah tidak percaya.
“Nih…” Kagendra memperlihatkan bukti pemesanan hotel yang sudah ia lakukan lewat aplikasi.
“Iiih, Aa… kenapa tidak bilang dulu sama Iyah kalau mau pesan hotel?”
“Ya iyalah… uang itu tidak mudah didapat dan sebaliknya mudah untuk dikeluarkan.”
“Aa mengeluarkan uang untuk istri sendiri, bukan untuk perempuan lain yang tidak berhak mendapatkan harta Aa.”
“Iya deh, daripada uangnya dikasiin sama pelakor. Ih… amit-amit deh. Ya Allah jauhkan suami hamba dari para wanita penggoda.”
Kagendra tertawa mendengar do’a dan kekhawatiran Sadiyah.
Setelah sampai di Rangali Island, Kagendra dan Sadiyah langsung mengeksplorasi keindahan pantainya. Baik Pulau Veligandu maupun Pulau Rangali memiliki keindahan yang sama dengan cirinya masing-masing. Jika di Veligandu Island Sadiyah dan Kagendra menikmati keindahan laut dengan kegiatan snorkeling dan scuba diving, maka di Rangali Island mereka akan menikmati keindahan laut dari restoran bawah lautnya.
Jam dua siang, Kagendra dan Sadiyah sudah berada di Ithaa Undersea Restaurant. Mereka beruntung mendapatkan tempat untuk jam makan siang karena restoran ini tidak menerima banyak pengunjung. Restoran ini sangat eksklusif dan hanya tersedia 14 kursi di dalamnya. Harga dari setiap menunya pun terbilang sangat mahal karena mereka tidak hanya menawarkan makanan yang lezat tetapi juga pemandangan yang luar biasa untuk dinikmati.
“Good afternoon, Mr. Nataprawira!” sapa seorang pria asing.
Deg…
__ADS_1
Kagendra terhenyak saat melihat wajah pria yang menyapanya. Pria berengsek yang menawarinya sejumlah materi untuk ditukar dengan Sadiyah.
“You must be Sadiyah, Gorgeous. My name is Marco. Nice to meet you here,” ucap pria berengsek itu sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Sadiyah.
Sadiyah ingat cerita Kagendra tentang pria yang ingin menukar dirinya dengan sejumlah materi. Ia tidak ingin bersalaman dengan pria tersebut saking takutnya. Ia hanya menempelkan kedua tangannya di depan dada sambil menunduk.
“Did you enjoy the meal here? If you want to enjoy the meal or the view here, you can call me or just mention my name, then you can enjoy all the luxurious.”
Kagendra menahan emosi dengan mengatupkan rahangnya. Ia sangat kesal dengan sikap laki-laki di hadapannya tetapi ia belum berani untuk bertindak lebih jauh. Ia tidak ingin memprovokasi laki-laki itu dengan tindakannya. Kagendra mengetahui bahwa Marco bukanlah laki-laki biasa. Kekuasaan Marco di negara ini cukup besar. Kagendra tidak ingin mengambil risiko melawan Marco dengan emosi semata tanpa perencanaan yang matang.
“Thank you for your kindness, Mr. Romagnoli,” ucap Kagendra dengan menyebutkan nama belakang Marco. Ia ingin menunjukkan pada Marco bahwa ia bukanlah pria biasa.
Marco sedikit terkejut ketika Kagendra menyebut nama belakangnya. Sepertinya ia tidak bisa meremehkan pria pemilik sementara wanita idamannya. Tentu saja ia bertekad untuk mendapatkan Sadiyah bagaimanapun caranya. Ia yakin bisa merebut perempuan yang ia inginkan walaupun harus merusak kebahagian pengantin baru di hadapannya. Sejak kecil Marco tidak bahagia karena ketidakberdayaannya. Itulah sebabnya ketika ia memiliki kekuasaan, ia menggunakan kekuasaannya untuk menciptakan kebahagiaan untuk dirinya.
Marco telah menemui dan mencicipi berbagai macam wanita dari berbagai bangsa tetapi tidak ada satupun dari mereka yang mampu menggetarkan hatinya. Namun, saat ia melihat Sadiyah, hatinya langsung berdegup tidak normal. Ia yakin telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Rasa yang ia rasakan saat menatap Sadiyah tidak pernah ia rasakan ketika menatap wanita lain.
Marco menyadari bahwa banyak pasangan yang datang ke negara ini untuk berbulan madu. Ia sendiri datang ke negara ini bersama dengan wanita yang hanya menemaninya untuk bersenang-senang dalam menyalurkan nafsunya semata.
Tidak ingin Marco menyadari bahwa ada beberapa pengawal yang berjaga-jaga, Kagendra memberikan sinyal kepada tiga orang pengawal yang disewanya untuk tidak bertindak berlebihan. Ia hanya meminta para pengawal itu untuk siaga sebelum ia memberikan kode untuk bergerak.
“We’ve got to get going right now. Goodbye, Mr. Romagnoli!”
Kagendra menggenggam erat tangan kanan Sadiyah.
“Wait…!” Marco menarik tangan kiri Sadiyah. Ia tidak akan melepaskan Sadiyah dengan mudah.
Sadiyah berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Marco tetapi tenaga Marco terlalu kuat.
“Don’t touch my wife!” Kagendra mencengkram tangan kanan Marco.
********
to be continued...
__ADS_1