
Sudah lebih dari dua minggu Faras dan Faris tinggal bersama dengan Kagendra. Selama mengurus anak kembarnya, kebiasaan sehari-hari Kagendra berubah 180 derajat.
Seperti pagi hari ini, Kagendra baru saja membasahi tubuh dan rambut di kamar mandi dan tak lama kemudian terdengar teriakan Faras dan Faris yang berebut sesuatu. Alhasil, pagi ini dan juga pagi-pagi sebelumnya, ia hanya bisa mandi selama 3-5 menit saja. Jika dulu ia bisa menghabiskan waktu hingga setengah jam di kamar mandi sampai-sampai diprotes oleh Sadiyah, tapi kali ini bisa mandi dalam waktu 5 menit saja sudah menjadi hal yang luar biasa bagi Kagendra.
Setiap pagi, Kagendra harus menyiapkan sarapan bagi Faras dan Faris sehingga ia harus banyak menonton vidio memasak di youtube agar masakannya bisa bervariasi dan disukai anak-anaknya. Setiap malam, Kagendra harus membacakan buku cerita pengantar tidur karena Faras dan Faris terbiasa dibacakan cerita sebelum tidur.
Karena Sadiyah melarang Kagendra untuk menitipkan Faras dan Faris kepada siapapun, maka setiap hari Kagendra selalu membawa Faras dan Faris ke kantor. Selama dua minggu ini, ruangan kantor Kagendra sudah berubah seperti arena bermain anak-anak.
Setiap 2 atau 3 hari sekali, Faras dan Faris melakukan vidio call dengan Sadiyah sehingga mereka tidak terlalu merasakan ketidakhadiran ibu. Hanya saja pada malam ini, Faris merengek ingin bertemu Sadiyah.
Kagendra mencoba menghubungi Sadiyah dan meminta bertemu.
“Assalamu’alaikum, Iyah.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Ini Aris kangen sama kamu. Sebenarnya Aa juga kangen sama kamu. Besok Aa pergi ke Bandung buat mengantar anak-anak bertemu sama kamu.”
“Tidak usah ke Bandung. Besok Iyah ke Jakarta. Ada Janji bersama teman, jadi kita bisa bertemu sebentar setelah pertemuan Iyah dengan teman.”
“Siapa teman kamu?” tanya Kagendra curiga.
“Aa tidak perlu tahu. Besok Iyah hubungi Aa untuk tempat dan waktunya. Sudah dulu ya.” Sadiyah memutuskan hubungan teleponnya tanpa sempat Kagendra memberikan respon.
“Hallo, Iyah. Jangan ditutup dulu teleponnya. Hallo….halo….”
Tidak terdengar suara apapun dari ujung telepon.
“Cih…kenapa main tutup saja.” Kagendra mendecih kesal.
“Gimana, Yah? Besok kita ke Bandung?” tanya Faris.
“Besok Ibu ke sini. Jadi kita bisa janjian setelah Ibu selesai bertemu dengan temannya.”
“Asyiiik….” Faris melompat-lompat senang di atas kasur.
“Aras, kamu tahu tidak teman-temannya Ibu siapa saja?” tanya Kagendra pada Faras yang sudah bersiap untuk tidur.
“Gak….” setelah memberikan jawaban singkat pada Kagendra, Faras langsung membalikkan tubuh bersiap untuk tidur.
“Aris…kamu tahu tidak teman-temannya Ibu siapa saja?”
__ADS_1
“Gak tau, Yah. Besok saja bertemu sama Ibu jadi tau temannya Ibu siapa” Faris menjawab asal karena ia sudah mengantuk.
******
Keesokan harinya sebelum jam makan siang, Sadiyah memberikan informasi tentang tempat ia berada.
Kagendra mengajak Faras dan Faris untuk bertemu dengan Sadiyah di food court sebuah mall.
“Ayah, kata Ibu Aras dan Aris tinggal sama Ayah satu bulan. Memangnya sekarang sudah satu bulan? Kalau sudah satu bulan, kita berpisah lagi sama Ayah atau kita tinggal juga sama Ibu?” tanya Faras penasaran.
“Sekarang baru dua minggu. Ibu masih banyak pekerjaan, jadi kalian masih tinggal sama Ayah. Kalau ibu sudah menyelesaikan pekerjaannya, kita akan tinggal bersama. Ayah, Ibu, Aras dan Aris tinggal bersama di satu rumah.” Kagendra menjelaskan sedetail mungkin.
“Asyiiik… jadi nanti Ayah tidak akan pergi kerja jauh lagi. Hore…hore…” Faris melonjak-lonjak gembira.
“Sebelum pergi, bereskan dulu mainan kalian dan simpan ditempat semula.” perintah Kagendra pada anak kembarnya.
“Siap, Yah.” seru Faras dan Faris bersemangat.
Mereka bertiga menggunakan mobil yang disupiri oleh Rudi menuju lokasi tempat bertemu dengan Sadiyah.
Kagendra menggandeng Faras di tangan kanan dan Faris di tangan kirinya. Banyak perempuan yang berbisik-bisik melihat Kagendra yang menggandeng dua anak. Perempuan-perempuan itu kagum melihat sosok Kagendra yang gagah dan tampan tapi tak lama kemudian ada raut kecewa di wajah mereka karena pria yang dikagumi ternyata memiliki dua anak.
“Itu Ibu, Yah.” seru Faras.
Setelah mendekat, Kagendra melihat Sadiyah sedang mengobrol bersama dengan Guntur, pria yang pernah dicemburui oleh dirinya. Ia semakin kesal ketika mengetahui bahwa teman yang dimaksud oleh Sadiyah itu Guntur.
“Ibuuu…..” Faras dan Faris menghambur ke dalam pelukan Sadiyah.
“Aris kangen sama Ibu.” seperti biasa Faris memeluk Sadiyah dan menduselkan wajah pada perut Sadiyah.
“Aras juga kangen sama Ibu.” begitupun Faras memeluk Sadiyah dengan erat.
Guntur melihat ke arah Kagendra dan bermaksud menyalaminya.
“Hallo, Pa Kagendra. Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarnya?” tanya Guntur ramah sambil menyodorkan tangan kanannya.
Kagendra menatap Guntur dengan tatapan tajam yang mematikan.
“Baik.” jawab Kagendra singkat tanpa menyambut uluran tangan Guntur.
Melihat sikap Kagendra yang kurang sopan, Sadiyah memberikan perintah dengan pelototan mata pada Kagendra untuk menyambut uluran tangan Guntur.
__ADS_1
Dengan malas-malasan, Kagendra menyalami Guntur.
“Kamu apa kabarnya? Sudah menikah atau masih jomblo?” tanya Kagendra tanpa tedeng aling.
“Aa…..” Sadiyah semakin memelototkan kedua bola matanya.
“Maaf Pak Guntur kalau pertanyaan saya kurang sopan. Saya hanya penasaran saja dengan status anda. Kalau anda sudah menikah, apa pasangan anda tidak akan cemburu melihat anda berduaan dengan perempuan lain.” dengan seenaknya Kagendra berkata.
“Saya masih sendiri Pak Kagendra. Saya sedang menunggu seseorang terlepas dari cinta lamanya.” jawab Guntur bermaksud untuk menggoda Kagendra.
“Maksud anda apa?” tanya Kagendra dengan nada suara yang meninggi.
“Tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya menjawab pertanyaan dari Pak Kagendra dengan jujur.”
“Apa anda hendak merebut istri orang?” Kagendra melontarkan pertanyaan to the point.
“Oooh saya tidak berani seperti itu. Saya hanya menunggu saja dia terlepas dari masa lalunya.”
“Maksud kamu, kamu menunggu istri saya terlepas dari saya?”
“Saya tidak pernah mengatakan hal seperti itu atau menyiratkan hal yang mengarah pada istri Pak Kagendra.”
Wajah Kagendra sudah berubah menjadi merah karena menahan amarah.
“Sudah, A. Jangan terlalu jauh berprasangkanya. Jangan seperti anak kecil.” desis Sadiyah pada Kagendra. Ia merasa malu pada Guntur karena sikap Kagendra yang tidak sopan.
“Maaf ya Mas Guntur.” Sadiyah meminta maaf pada Guntur atas sikap Kagendra.
“Siapa yang berprasangka. Dia yang mulai duluan memancing di air keruh dan kamu…” tunjuk Kagendra pada Sadiyah. “Kenapa kamu harus meminta maaf sama dia. Apa salah kamu sama dia?” protes Kagendra, tidak terima karena Sadiyah meminta maaf pada Guntur bukan pada dirinya.
Sadiyah tidak mengindahkan protes keras dari Kagendra. Ia langsung fokus lagi berbicara pada Guntur.
“Nanti Iyah telepon lagi Mas Guntur untuk masalah penandatanganan kontraknya. Berkasnya akan Gita siapkan dulu.”
“Baik. Saya tunggu secepatnya. Nanti suruh saja Gita langsung yang menghubungi saya.” pinta Guntur.
“Siap, Mas.” Sadiyah tersenyum penuh arti pada Guntur. Ia sudah mengetahui jika Guntur sedang intens mendekati Gita. Selama enam tahun, Guntur memang menunggu seseorang melupakan cinta lamanya, dan perempuan yang ditunggu oleh Guntur itu adalah Gita.
Setelah Guntur berlalu dari hadapan mereka, Kagendra menatap Sadiyah dengan tatapan tajamnya.
“Kenapa kamu senyum-senyum sama si Guntur itu?”
__ADS_1
********
to be continued