Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
98. Pergi Lagi?


__ADS_3

“Tidak bisa. Iyah tidak akan ikut.”


“Kenapa?”


“Pokoknya Iyah tidak ikut. Anak-anak juga tidak akan ikut Aa.”


“Tidak bisa begitu. Mereka harus tahu keberadaan Aras dan Aris. Kamu tidak berhak untuk melarangnya.”


“Iyah adalah Ibu mereka. Iyah berhak.” suara Sadiyah semakin meninggi.


“Tapi Aa juga berhak karena Aa adalah Ayah mereka.”


“Pokoknya Iyah tidak akan membiarkan Aa membawa mereka.” teriak Sadiyah.


“Iyah….”


“Ayo Aras…Aris….” Sadiyah menarik tangan Faras dan Faris masuk ke dalam kamar mereka.


“Iyah….” Kagendra memanggil-manggil Sadiyah yang tergesa masuk ke dalam kamar Faras dan Faris lalu mengunci pintu.


Setelah di dalam kamar. Sadiyah mendudukkan Faras dan Faris di sofa yang ada di sudut ruangan.


“Dengarkan Ibu! Aras dan Aris tidak boleh keluar dari kamar. Kalau Aras dan Aris tidak menurut pada Ibu dan ikut sama Ayah, kalian tidak akan pernah bertemu lagi dengan Ibu.”


“Kenapa begitu, Bu?” tanya Faras.


“Pokoknya Aras dan Aris harus menurut sama Ibu. Kalian tidak ingin kan kalau nanti tidak bisa lagi bertemu dengan Ibu.” sebenarnya Sadiyah tidak ingin menakut-nakuti dan mengancam Faras dan Faris, tapi pikirannya sekarang sedang kalut sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih.


Tok…tok…tok…


Kagendra mengetuk pintu kamar.


“Iyah…jangan begini.” Kagendra mencoba membujuk Sadiyah.


“Pergi….! Iyah tidak mau bicara sama Aa dan jangan pernah datang lagi kesini. Iyah tidak mau bertemu lagi dengan Aa. Kita sudah selesai. Jangan temui Iyah lagi.” Sadiyah memeluk Faras dan Faris dengan erat.


Rostita menepuk pundak Kagendra.


“Ndra…biarkan saja dulu Iyah menenangkan pikirannya. Mungkin apa yang terjadi hari ini dan kemarin terlalu tiba-tiba sehingga Iyah belum siap untuk menghadapinya. Bi Ita akan bicara pada Iyah kalau dia sudah tenang nanti. Sekarang kamu pulang saja dulu.” bujuk Rostita menenangkan.


Dengan enggan, Kagendra berusaha untuk menekan rasa rindunya pada Sadiyah. Ia  melangkah dengan gontai pergi meninggalkan rumah Sadiyah.


“Besok kita kesini lagi Bos. Sekarang Bos mundur saja dulu. Beri waktu Bu Bos untuk menenangkan dirinya.” Rudi menepuk bahu Kagendra. Ia melihat semua adegan yang terjadi antara Kagendra dan Sadiyah dalam diam.


“Tapi saya takut dia pergi lagi, Rud. Saya takut kalau dia pergi kali ini, saya tidak akan bisa menemukannya lagi.” Kagendra berkata dengan lirih.


“Kalau memang Bos dan Bu Bos berjodoh, pasti kalian akan dipertemukan dan bersama lagi. Bos berdo’a saja kalau Bos dan Bu Bos memang berjodoh.”


“Saya dan Sadiyah sudah memiliki anak bersama. Masa kami tidak berjodoh.”

__ADS_1


“Eeeeh si Bos. Walaupun punya anak 10 orang juga kalau tidak berjodoh mah bakal berpisah juga.”


“Tapi saya dan Sadiyah itu berjodoh kan Rud?”


“Saya juga tidak tahu Bos.”


“Kami sudah berpisah selama 6 tahun, tapi akhirnya kami bertemu lagi. Itu tandanya saya dan Sadiyah berjodoh kan?” Kagendra memaksakan pertanyaannya agar tidak mendapatkan jawaban tidak dari Rudi.


“Mungkin.” jawab Rudi asal.


***********


Sudah tiga hari Kagendra menahan diri untuk tidak menemui Sadiyah walaupun sebenarnya ia ingin sekali bertemu dengan Sadiyah, Faras dan Faris. Kagendra menyibukkan diri dengan pekerjaan agar bisa mengalihkan rasa rindunya.


Setelah tiga hari menahan rasa rindu, ia sudah tidak bisa menahan lagi. Maka sekarang di sini lah Kagendra berdiri di depan rumah Sadiyah sambil membawa dua kantong keresek besar berisi mainan dan makanan untuk Faras dan Faris.


“Assalamu’alaikum….” Kagendra mengucapkan salam.


“Wa’alaikumsalam….” jawab dari dalam rumah.


Mak Isah membukakan pintu dan melihat Kagendra yang berdiri di depan pintu sambil membawa dua keresek besar.


“Den Endra….”


“Mak Isah… saya mau bertemu dengan Iyah. Bisa?”


“Neng Iyah sedang di Bandung, Den.” jawab Mak Isah.


“Bersama dengan Aras dan Aris.” jawab Mak Isah.


“Sejak kapan mereka di Bandung?”


“Mereka berangkat habis subuh.”


“Bandungnya di mana?”


“Mak Isah juga kurang yakin mereka ada di mana tapi sepertinya Neng Iyah ada di butiknya. Tadi pagi, Neng Iyah bilang kalau mau bertemu dengan desainer yang akan membantu di butik.”


“Alamat butiknya di mana, Mak?”


“Mak juga tidak tahu. Mak Isah belum pernah diajak ke sana. Mungkin Tuti tahu, soalnya dia sudah beberapa kali ke sana.”


“Tutinya mana, Mak?”


“Tuti…” Mak Isah memanggil Tuti yang sedang menyapu di halaman belakang.


“Ada apa, Mak?” teriak Tuti dari halaman belakang.


“Capat ke sini dulu.” perintah Mak Isah.

__ADS_1


“Ada apa, Mak?” Tuti tampak datang tergesa-gesa menghampiri Mak Isah.


“Eh, ada Om Endra.” sapa Tuti ketika melihat Kagendra berdiri di hadapannya.


“Tuti, kamu tahu dimana alamat butiknya Neng Iyah?”


“Alamatnya sih Tuti tidak tau. Tapi kalau jalannya sih Tuti tau.”


“Maksud kamu apa sih, Tut? Mak bingung sama omongan kamu.” protes Mak Isah setelah mendengarkan jawaban Tuti.


“Maksudnya, Tuti tahu tempat dan jalan ke sana tapi Tuti tidak tau alamat jelasnya di jalan apa dan nomer berapa.”


“Ya sudah, kalau begitu kamu antar saya ke sana Tut.” perintah Kagendra.


“Kapan, Om?” tanya Tuti.


“Sekarang juga. Cepat kamu siap-siap!”


“Bagaimana ini, Mak?” Tuti menatap Mak Isah meminta pertolongan.


“Kamu antar Den Endra ke butiknya Neng Iyah.”


“Tapi, Mak….”


“Jangan membantah! Kamu antar Den Endra.” perintah Mak Isah tegas.


“Tuti takut dimarahin sama Teh Iyah.” Tuti memohon Mak Isah untuk memberikan alasan supaya ia tidak harus mengantar Kagendra.


“Kalau kamu tidak mengantar Den Endra sekarang, kita yang akan diamuk sama Den Endra.” bisik Mak Isah.


“Tuti takut ah sama Teh Iyah….”


“Kamu tidak takut itu sama Den Endra? Lihat raut wajahnya lebih menakutkan daripada Neng Iyah. Kalau kamu tidak mau mengantar, dia pasti ngamuk. Kamu berani menghadapi amukan ayahnya Aras dan Aris?” ujar Mak Isah menakut-nakuti Tuti.


“Ya sudah deh, Tuti siap-siap dulu. Nanti kalau Teh Iyah marah sama Tuti, Mak Isah harus tanggung jawab, Mak harus bela Tuti.”


“Iya sudah sana, nanti Mak yang tanggung jawab.” Mak Isah berani menanggung kemarahan Sadiyah nanti. Ia hanya ingin Sadiyah mendapatkan kebahagiaan dan ia yakin jika kebahagian Sadiyah itu salah satunya dan yang paling besar itu bersumber dari Kagendra.


“Mak, Tuti berangkat dulu. Do’akan Tuti supaya Tuti selamat.” Tuti mencium tangan Mak Isah dan meminta do’a agar dia selamat dari amukan Sadiyah.


“Mak, saya berangkat dulu. Do’akan saya dan Sadiyah supaya bisa bersatu lagi.” pamit Kagendra.


“Iya Den, Mak selalu mendo’akan yang terbaik buat Neng Iyah dan Den Endra.


“Assalamu’alaikum….”


“Wa’alaikumsalam…”


**********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2