
Sepanjang malam, Kagendra tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya kacau dan hatinya bimbang. Di satu sisi ia mulai menyayangi Sadiyah dan tak ingin kehilangannya tapi di sisi lain ia juga tidak bisa meninggalkan Natasha yang sedang sakit. Andaikan Natasha tidak sakit, ia berencana untuk memutuskan hubungannya dengan Natasha setelah kepulangan Natasha dari Italia. Tapi apa daya, ketika Kagendra sudah mantap untuk memutuskan hubungannya dengan Natasha, ia mendapatkan kabar jika Natasha sakit dan membutuhkan dirinya.
Sadiyah terbangun ketika ia mendengar suara adzan subuh. Ketika ia turun dari tempat tidurnya ia melihat Kagendra yang sudah lengkap dengan baju koko dan sarungnya bersiap untuk pergi ke masjid.
“Aa sudah bangun?” tanya Sadiyah sambil mengucek matanya. Kepalanya terasa sakit mungkin karena terlalu lama menangis semalam.
“Saya pergi dulu ke masjid.” pamit Kagendra.
“Iya A.”
Sadiyah memasuki kamar mandi untuk menyikat gigi dan berwudhu. Ketika menyikat giginya, perutnya terasa tidak nyaman. Ia merasa mual dan tanpa bisa ditahan ia memuntahkan cairan pahit dari perutnya.
Setelah selesai memuntahkan semua cairan pahit dari perutnya, Sadiyah kembali menggosok giginya dan berkumur-kumur.
Setelah subuh, Sadiyah tidak sanggup untuk membuatkan sarapan bagi Kagendra. Tubuhnya terasa lemas, rasa mual terus menderanya. Sadiyah berpikir bahwa rasa mual itu karena ia banyak pikiran. Jika sedang stress dan banyak pikiran, Sadiyah memang kerap pusing dan mual-mual. Hal ini juga terjadi ketika ia sibuk membereskan skripsinya dan juga disibukkan oleh usahanya yang sedang berkembang kala itu.
Kagendra yang baru pulang dari masjid melihat Sadiyah yang masih berbaring di tempat tidur. Setelah mengganti baju kokonya, ia memakai baju olahraganya untuk melakukan kebiasaaan lari paginya.
Satu jam kemudian, Kagendra telah selesai dengan aktivitas lari paginya. Ia membeli nasi uduk dan susu murni dari penjual yang ada di depan komplek. Ia membeli sarapan sendiri karena tadi sebelum pergi, ia melihat Sadiyah yang masih tertidur dan sepertinya kurang sehat.
Kagendra masuk ke dalam kamar dan mencoba untuk membangunkan Sadiyah yang masih berselimut.
“Bangun Iyah. Sarapan dulu.” Kagendra menggoyangkan tubuh Sadiyah dengan lembut.
Setelah beberapa kali Kagendra mencoba membangunkan, Sadiyah baru terbangun dengan mata menyipit karena silau dengan cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar.
“Apa A? Iyah gak enak badan. Gak sanggup bikin sarapan buat Aa. Maaf.” Ujar Sadiyah lemah.
“Siapa yang suruh bikin sarapan. Saya sudah beli buat sarapan. Kamu bangun, sarapan dulu.” perintah Kagendra.
“Kepala Iyah pusing, mual, lemes.” Sadiyah masih memejamkan matanya karena silau.
“Mau saya gendong?” tawar Kagendra.
“Memangnya Aa mau gendong Iyah?” tanya Sadiyah.
“Cerewet.” Kagendra langsung menggendong Sadiyah dan membawanya keluar dari kamar menuju dapur.
Sadiyah yang kaget karena digendong dengan tiba-tiba mengalungkan tangannya pada leher Kagendra karena takut terjatuh.
“Makan!” perintah Kagendra. Ia sudah menyiapkan sepiring nasi uduk dan segelas susu murni.
“Kepala Iyah pusing A. Gak mau makan. Mual.” rajuk Sadiyah.
“Kalau tidak makan nanti kepala kamu makin pusing, badan kamu makin lemas. Mau saya suapi?” Kagendra menyendokkan nasi dan mendekatkannya ke mulut Sadiyah.
__ADS_1
Sadiyah menutup rapat mulutnya dan menggelengkan kepalanya.
“Dasar keras kepala. Cepat buka mulutnya!” tangan Kagendra masih memegang sendok berisi nasi uduk.
“Nasinya bau. Iyah gak suka.” Sadiyah masih tetap menutup rapat mulutnya.
“Ya sudah. Kamu minum susunya saja ya.” akhirnya Kagendra menyerah memaksa Sadiyah makan.
Sadiyah meminum susunya sedikit.
“Habiskan!” perintah Kagendra.
“Cukup, A. Susunya juga gak enak.” Sadiyah menutup mulutnya seperti yang mau muntah.
“Kamu kenapa?” tanya Kagendra khawatir.
“Sepertinya Iyah masuk angin. Kemarin di luar seharian terus telat makan juga sama banyak pikiran juga. Biasanya kalau Iyah stress suka mual.” jelas Sadiyah.
“Kamu stress kenapa?” selidik Kagendra.
“Banyak customer baru jadi banyak juga yang harus Iyah pikirkan.” Sadiyah memberikan alasan.
“Makanya kamu jangan terlalu sibuk. Apa yang kamu cari? Kalau kamu cari uang banyak, buat apa? Memangnya uang yang saya kasih masih kurang?” cecar Kagendra.
“Iya maaf. Sekarang kamu mau makan apa? Atau kamu mau minum apa? Saya buatkan.” tawar Kagendra.
“Iyah mau tidur saja A. Aa siapkan baju sendiri saja ya.” Sadiyah beranjak dari duduknya untuk menuju ke dalam kamar.
“Mau saya pijit?” tawar Kagendra yang mengikuti Sadiyah masuk ke kamar.
“Biasanya kalau Iyah seperti ini, punggung Iyah suka dikerik sama Mak Isah. Aa bisa ngerikin gak?” Sadiyah merebahkan tubuhnya di atas kasur.
“Saya belum pernah ngerikin sih. Tapi saya bisa coba. Gimana caranya?” Kagendra duduk di pinggir kasur.
“Ah susah kalau harus ngasih tahu caranya. Iyah kan lagi pusing dan tidak enak badan.” sahut Sadiyah.
Kagendra membuka ponselnya dan menggoogling cara untuk mengerik. Setelah selesai membaca tutorial cara mengerik punggung. Kagendra segera mencari uang koin dan minyak kayu putih.
“Buka baju kamu.” perintah Kagendra.
“Apaan sih A. Iyah lagi sakit, Aa malah nyuruh buka baju. Aa tega.” Sadiyah mulai terisak.
“Kamu mikir apa sih. Saya mau ngerikin punggung kamu. Saya sudah baca tuturial cara mengerik. Cepat buka baju kamu. Kalau kamu pakai baju kan saya tidak bisa kerik punggung kamu. Apa mau saya paksa buka baju?”
Sadiyah segera terduduk dari terbaringnya.
__ADS_1
“Memangnya Aa bisa ngerikin?” Sadiyah menatap Kagendra seperti tidak percaya.
“Cerewet. Mau tidak saya kerikin?” tanya Kagendra tidak sabaran.
“Mau, A.” Sadiyah membuka piyama atasannya.
“Kalau begitu cepat buka baju kamu.” perintah Kagendra tidak sabar.
“Malu atuh A.” ucap Sadiyah lirih.
“Malu bagaimana maksud kamu?”
“Ya malu atuh kalau buka baju di depan Aa.” suara Sadiyah semakin pelan.
“Ya ampun. Saya itu sudah melihat semuanya. Kamu itu seperti anak gadis saja pakai malu-malu segala. Mau tidak saya kerikin?”
“Mau A.” cicit Sadiyah.
“Kalau begitu cepat buka bajunya.!”
Sadiyah membuka bajunya perlahan.
Kagendra melihat punggung putih Sadiyah. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Kagendra membuka kaitan bra Sadiyah.
Sebelum mulai mengerik dengan koin, Kagendra membalurkan minyak kayu putih ke atas punggung Sadiyah. Tangannya sedikit gemetar dan jantungnya berdetak dengan tidak normal.
Kagendra mulai mengerik punggung Sadiyah dengan koin. Setelah beberapa saat tampak bagian punggung Sadiyah yang dikerik berubah warna menjadi merah pekat.
“Kamu tidak kesakitan?” tanya Kagendra yang merasa heran karena Sadiyah santai saja tidak merasa kesakitan.
“Iyah sudah biasa dikerik A. Jadi tidak terasa sakit banget. Sakit sih, tapi tidak terlalu. Malah enak A.” ujar Sadiyah sambil memejamkan matanya merasakan nikmat.
Setelah selesai mengerik, Kagendra melihat hasil kerikannya yang berwarna merah tua. Kemudian ia membalurkan minyak kayu putih ke seluruh punggung Sadiyah dan memijit pelan punggung dan tengkuk Sadiyah.
“Sudah merasa enakan?”
“Sudah A. Terima kasih. Sekarang Iyah mau tidur lagi. Maaf Iyah tidak bisa bantu Aa menyiapkan pakaian untuk kerja.” Sadiyah kembali memasangkan bra dan pakaiannya kemudian kembali berbaring tanpa selimut.
Kagendra membetulkan letak selimut untuk menutupi tubuh Sadiyah hingga batas pundaknya.
Kagendra bukannya tidak tahu kalau banyaknya pikiran yang Sadiyah sebutkan sebagai alasan ia sakit adalah bukanlah alasan yang sebenarnya. Hanya saja Kagendra tidak tahu alasan apa yang menjadi Sadiyah banyak pikiran sehingga menjadi tertekan.
**********
to be continued...
__ADS_1