Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
172. Kewarasan


__ADS_3

“Natasha, sebaiknya kita akhiri semua kekisruhan ini…”


“Tasha… panggil aku Tasha.”


“Baiklah, Tasha. Apa yang pernah terjadi diantara kita adalah masa lalu. Kita hidup di masa sekarang dan masa depan. Aku sudah memiliki keluarga, begitupun juga kamu. Aku mencintai istri dan anak-anakku. Kamu pun harus berusaha untuk mencintai keluargamu.”


Kagendra memang menurunkan senjatanya, tetapi ia memberi kode kepada Badru dan Kamal untuk tetap siaga.


“Tapi, aku mencintaimu. Hanya kamu laki-laki yang kucintai. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Perempuan itu sudah meninggalkanmu dan terbukti bisa hidup baik-baik saja tanpamu, tetapi aku tidak. Aku tidak akan pernah bisa hidup baik-baik saja tanpamu.”


Natasha mulai terisak. Matanya yang masih bengkak mengalirkan air mata penyesalan. Dia sungguh menyesali tindakannya yang dulu meninggalkan Kagendra demi mengejar karir. Dia tidak menyangka Kagendra telah jatuh cinta pada perempuan selain dirinya. Dulu, ia terlalu percaya diri dengan dirinya, yakin kalau hati Kagendra hanya miliknya seorang. Andai ia bisa memutar waktu, ia tidak akan pernah meninggalkan Kagendra demi apapun juga. Ia berharap bisa kembali pada masa itu.


“Yang kau rasakan padaku bukan cinta, tapi obsesi. Kau terobsesi ingin memilikiku…”


“Tidak! Itu tidak benar. Aku benar-benar mencintaimu. Kau tahu, Sayang. Bagaimana sulitnya aku bernapas saat tidak bersama denganmu. Aku hidup, tetapi jiwaku tidak. Jiwaku pergi saat kau pergi dariku. Aku mohon. Cintailah aku lagi, Kagendra. Aku mencintaimu.” Natasha menghiba sambil berurai air mata.


“Aku pernah mencintaimu, Tasha. Dulu, hatiku adalah milikmu, tetapi kau meninggalkanku. Saat itulah, apa yang pernah terjadi pada kita berakhir.”


“Tapi aku kembali. Aku kembali padamu.”


“Saat kau kembali, hatiku sudah menjadi milik Sadiyah dan akan menjadi milik dia selamanya.”

__ADS_1


“Tidak! Tidak bisa! Dia juga meninggalkanmu. Aku tahu dia juga meninggalkanmu. Dia pergi meninggalkanmu lebih lama daripada aku. Kenapa kamu masih mencintainya?”


“Karena dia adalah cinta sejatiku, dan kami dipersatukan oleh ikatan pernikahan. Kami memiliki anak bersama.”


“Aku juga bisa memberikan anak yang cantik untukmu, Kagendra.”


“Jangan bicara yang tidak-tidak, Tasha. Aku tegaskan sekali lagi kalau cerita diantara kita telah berakhir. Tidak ada lagi awal untuk kita.”


“Keluar kamu, perempuan sialan. Aku tahu kamu di sini. Keluar!” Natasha berteriak-teriak histeris. Ia menembakkan senjatanya ke atas beberapa kali. “Kalau kau tidak keluar, aku akan membunuh anakmu,” ancamnya.


Sadiyah sudah bersiap keluar, tapi Atep menahannya. “Jangan, Teh!”


“Kita percayakan semuanya pada A Endra dan tim-nya. Kalau Teteh bertindak, mungkin akan merusak strategi mereka.”


“Tapi…”


“Len!” Atep meminta bantuan Alena.


“Perempuan iblis itu tidak akan berani menyakiti Aras. Teteh, di sini saja.” Alena mencoba menenangkan Sadiyah.


“Tasha, serahkan senjatamu. Seharusnya kau tidak bermain-main dengan benda berbahaya itu.” Kagendra mulai bergerak mendekati Natasha.

__ADS_1


“Ha-ha-ha! Kau takut aku menembakkannya pada perempuan berengsek itu, hah?”


“Aku mohon padamu, Tasha. Sadarlah! Sadarlah, kalau kau tidak bisa memaksakan kehendakmu. Berbahagialah tanpa menyakiti orang lain.”


“Kalian berbahagia di atas penderitaanku. Kau tidak akan mengerti bagaimana menderitanya diriku karena kau tinggalkan. Kau tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana rasanya menikah dengan orang yang tidak kau cintai. Kau tidak bisa membayangkan bagaimana aku harus melayani laki-laki yang tidak aku cintai. Aku muak!”


Kagendra menghela napas. Ia tidak tahu lagi harus dengan cara apa menyadarkan Natasha.


“Kau tahu, Kagendra. Setiap aku harus terpaksa melayani laki-laki itu, aku membayangkan wajahmu. Aku membayangkan diriku memadu cinta bersamamu, dan itu membuatku mampu bertahan.”


“Kau sudah gila, Natasha.”


“Ya, aku memang gila. Aku gila karenamu. Aku gila karena tidak bisa bersamamu.”


“Baiklah. Kita bicara baik-baik. Aku tidak mau bicara dengan todongan senjata. Letakkan dulu.”


“Aha… akhirnya kau keluar juga perempuan ******!” Natasha tertawa terbahak-bahak melihat lima orang anak buahnya berhasil menangkap Sadiyah.


**********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2