Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
51. Rencana Natasha


__ADS_3

***********


Kamu sedang apa?


Kagendra mengirimkan pesan teks pada Sadiyah.


Sedang tiduran saja.


Masih sakit kepala?


Masih…


Sudah makan?


Belum…


Kenapa tidak makan?


Gak mau. Tidak selera…


Mau saya pesankan makan?


Memangnya Aa bisa pulang dulu?


Kamu mau saya pulang?


Memangnya bisa?


Bisa, kalau kamu mau.


Tidak usah, nanti mengganggu pekerjaan Aa. Aa sedang sibuk?


Kagendra mengirimkan foto tumpukan berkas yang menggunung di atas mejanya.


Aa sudah makan?


Kagendra mengirimkan swafoto dirinya yang sedang makan.


Aa ganteng kalau lagi makan….


Kagendra mengirim lagi swafotonya


Aa narsis ih


Mana foto kamu?


Gak ah, malu….. kucel belum mandi.


Je-lek banget sih nasib saya punya istri yang jarang mandi.

__ADS_1


Enak saja. Iyah kan belum mandi karena masih sakit.


Mandi air hangat. Cuci wajahnya biar cantik.


Tadi sudah wudhu. Kalau sering wudhu itu walaupun tidak pakai make up pasti terlihat cantik. Cantiknya dari dalam.


Mana? No picture. Hoax.


Sadiyah mengirimkan swafotonya dengan lidah yang melelet dan masih menggunakan mukena.


Jelek…


Sadiyah mengirimkan fotonya yang sedang tersenyum.


Cantik kan?


Iya cantik seperti monyet pake bedak.


Sebel….Aa jelek…


Kagendra mengirimkan fotonya yang sedang berdiri gagah di depan sebuah landmark yang terkenal.


Masa ganteng seperti ini disebut jelek…


Aa duluan yang bilang Iyah je-lek. Padahal kecantikan Iyah tiada terkira.


Sadiyah mengirimkan fotonya yang sedang bergaya di perkebunan keluarganya yang luas.


Iya cantik…


Kengendra tersenyum memandang foto Sadiyah yang memenuhi layar ponselnya.


“Sayang, kenapa kamu tidak membalas pesanku?” tiba-tiba Natasha sudah berada di hadapan Kagendra sambil bertolak pinggang.


Kagendra yang terkejut langsung menutup aplikasi chatting di ponselnya. Tapi Natasha masih sempat melihat apa yang dilakukan oleh Kagendra yang saling berkirim pesan dan swafoto dengan Sadiyah.


“Maaf, aku sibuk dengan pekerjaanku.”


Natasha tahu jika Kagendra sedang berbohong padanya.


“Sibuk apa?”


“Lihat saja tumpukan berkas di mejaku.” Kagendra menunjuk tumpukan berkas yang menggunung di atas meja kerjanya.


“Aku mau sholat dulu di mushola kantor. Kamu tunggu saja di sini. Kalau kamu haus, kamu bisa minta ke OB atau ambil saja minuman dingin di kulkas. Aku pergi sholat dulu.” Kagendra berlalu keluar dari ruangannya menuju ke mushola kantor.


Kagendra meninggalkan ponselnya di atas meja kerjanya. Setelah dirasa aman, Natasha langsung mencoba untuk membuka ponsel Kagendra.


Beruntung bagi Natasha karena ponsel Kagendra belum terkunci. Ia langsung mencari nomer kontak Sadiyah dari ponsel Kagendra dan menuliskannya di secarik kertas.

__ADS_1


Penasaran dengan isi percakapan antara Kagendra dan Sadiyah, Natasha membuka dan membaca pesan-pesan antara Kagendra dan Sadiyah. Amarah dan emosi Natasha memuncak kala membaca isi percakapan Sadiyah dan Kagendra ditambah dengan saling balas berkirim foto diantara mereka.


“Dasar perempuan sial*n. Perusak hubungan orang, dasar pelakor.” umpat Natasha.


Kemudian Natasha membuka galeri foto dalam ponsel Kagendra. Di dalamnya ada folder dengan nama My Lovely Wife. Karena penasaran dengan isi foldernya, Natasha mengklik folder tersebut dan melihat ratusan foto Sadiyah yang diambil secara candid oleh Kagendra.


“Dasar wanita ******* tidak tahu diri. Apa sih bagusnya perempuan itu. Gayanya saja kampungan seperti itu. Aku tidak akan membiarkan kamu merebut milikku. Kagendra adalah milikku dan selamanya akan menjadi milikku. Tidak ada yang bisa merebutnya. Tidak kamu dan tidak siapapun juga.”


Natasha ingin menghapus foto-foto Sadiyah yang memenuhi ponsel Kagendra, tapi ia masih bisa menahan diri. Ia tidak mau bertindak gegabah yang mengakibatkan Kagendra meninggalkan dirinya. Ia tidak mau hal itu terjadi.


“Aku harus segera bertindak. Aku tidak bisa diam saja menunggu Kagendra menceraikan istrinya. Bisa-bisa dia tidak akan menceraikan istrinya jika aku tidak segera bertindak untuk mengamankan milikku.” tekad Natasha kuat.


Sambil menunggu Kagendra selesai sholat, Natasha duduk di sofa yang ada di ruangan Kagendra. Ia mengirimkan pesan teks pada Sadiyah.


Aku ingin bertemu dengan kamu. Kamu pasti sudah tahu kan siapa aku. Besok aku tunggu jam 12 siang di Cafe X.


Maaf, anda siapa? Saya tidak mengenal anda.


Sadiyah membaca sebuah pesan dari nomer yang tidak dikenal yang menyuruhnya untuk bertemu dengan si pengirim pesan teks tersebut.


“Dasar manusia tidak ada akhlak. Seharusnya ia memperkenalkan diri dulu bukannya langsung main perintah. Memangnya siapa dia berani-beraninya nyuruh Iyah buat datang ke Cafe X” Sadiyah mengomel-ngomel setelah membaca isi dari pesan yang dikirimkan oleh nomer yang tidak dikenalnya.


Aku adalah wanita yang suami kamu cintai. Dan kamu harus tahu jika hati dan raga suami kamu itu adalah milik aku sepenuhnya.


Natasha semakin geram mendapatkan balasan pesan dari Sadiyah yang seolah tidak menghargainya. Padahal sikap Sadiyah itu bisa dikatakan tepat untuk menghadapi wanita seperti Natasha.


Kamu Natasha?


Sadiyah mengirimkan pesan mengkonfirmasi apakah benar yang sedang mengirim teks padanya  itu adalah kekasih sekaligus cinta pertamanya Kagendra.


Memangnya siapa lagi wanita yang dicintai oleh  Kagendra selain aku?


Sadiyah tidak membalas pesan teks dari Natasha.


“Perempuan yang seharusnya dicintai oleh Aa adalah Iyah. Iyah adalah pasangan halalnya yang sudah terikat oleh akad yang diikrarkan oleh Aa. Seharusnya hanya Iyah, perempuan yang dicintai oleh Aa, bukan wanita itu ataupun wanita yang lainnya. Eh, sebenarnya wanita yang seharusnya paling dicintai oleh Aa itu Ibu. Baru setelah Ibu, aku.” Sadiyah berbicara sendiri.


Mendapatkan pesan tidak mengenakkan dari Natasha membuat perut Sadiyah kembali mual. Ia mengeluarkan semua makanan yang tadi dengan susah payah masuk ke mulutnya.


Setelah mengeluarkan semua makanan dalam perutnya, barulah Sadiyah merasa sedikit enakan. Ia pergi ke dapur dan membuat jeruk peras agar perutnya tidak terasa mual lagi.


Sadiyah menjadi teringat dengan wanita yang bergandengan tangan dengan Kagendra di rumah sakit.


“Jangan-jangan wanita yang bergandengan tangan dengan Aa di rumah sakit waktu itu Natasha. Apa Natasha sedang hamil anaknya Aa?. Apa Aa akan menceraikan Iyah karena Natasha sudah hamil sedangkan Iyah sampai sekarang belum hamil. Kasihan jika anaknya Aa tidak bisa diakui oleh ayahnya sendiri. Apakah Iyah harus mundur. A Endra juga tidak mencintai Iyah. Tapi Iyah sayang sama Aki, Abah dan Ibu. Bagaimana kalau mereka tahu Aa akan punya anak dari wanita lain. Atau jangan-jangan Aa sudah menikah siri dengan Natasha karena Iyah yakin sih kalau Aa tidak akan berbuat seperti itu jika mereka belum menikah. Duh, Iyah jadi pusing kalau memikirkannya.”


Sadiyah merasakan sakit kepala yang sangat. Ia ingin minum obat sakit kepala tapi tidak menemukan aspirin atau obat sakit kepala yang lainnya di rumah.


“Lebih baik Iyah tidur saja lagi.” Sadiyah berbaring di atas tempat tidur dan mencoba untuk memejamkan matanya tapi pikirannya terus dipenuhi oleh berbagai macam prasangka.


************

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2