
Saat ini, Sadiyah sedang menemani Rika kontrol ke dokter kandungan. Sadiyah sedang menggendong Zahra, anak Rika yang masih berumur 2 tahun di pangkuannya. Zahra sedikit rewel, oleh sebab itu Sadiyah membawanya berjalan-jalan di dekat taman.
Ketika sedang asyik bercengkrama dengan Zahra yang sudah tidak rewel lagi karena diajak jalan-jalan, Sadiyah seperti melihat wajah yang familier.
“Sepertinya Iyah pernah melihat perempuan itu, tapi di mana ya.” Sadiyah mencoba mengingat-ngingat dimana ia pernah melihat perempuan tersebut.
Tidak lama setelah itu ada seorang laki-laki yang menggandeng tangannya. Tiba-tiba jantung Sadiyah berdetak dengan sangat kencang. Pria yang berada di samping perempuan itu dan yang sedang menggandeng tangannya adalah Kagendra, suaminya sendiri.
“Sedang apa A Endra di rumah sakit Ibu dan Anak ini?” Sadiyah bertanya-tanya terlebih suaminya itu sedang bersama seorang perempuan dan berada di bagian dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi.
Sadiyah merasakan dadanya begitu sesak, apalagi ketika teringat perempuan yang sedang bergandengan tangan dengan suaminya itu adalah perempuan yang dicintai oleh suaminya.
Sadiyah segera menggendong Zahra yang sedang bermain di taman dan segera mengikuti Kagendra dan kekasihnya yang berjalan sambil bergandengan tangan, tepatnya Natasha yang sedang mengalengkan tangannya pada lengan kagendra.
Sadiyah mengikuti mereka dari jarak yang cukup aman sehingga keduanya tidak menyadari jika sedang diikuti oleh Sadiyah.
Sadiyah melihat Kagendra dan kekasihnya masuk ke dalam ruangan dokter. Dokter Spesialis Kandungan dan Ginekolog. Pikiran Sadiyah dipenuhi oleh berbagai macam spekulasi mengenai keberadaan suami dan kekasihnya di tempat ini.
“A Endra mengantar pacarnya ke dokter kandungan. Apakah perempuan itu hamil? Apa itu bayinya A Endra. Kenapa A Endra berbuat sampai sejauh itu. Iyah saja yang jadi istrinya belum hamil tapi perempuan itu sudah hamil. Bagaimana ini? Apa A Endra bakal minta cerai sama Iyah. Apa A Endra sebenarnya sudah menikah dengan perempuan itu. Atau apakah mereka berdua memiliki anak tanpa pernikahan?” tiba-tiba Sadiyah merasakan sakit yang teramat di kepalanya. Perutnya mual memikirkan semua kemungkinan yang bisa tejadi.
“Zahra, sayangnya Tante. Zahra ikut dulu Tante ke toilet ya. Jangan rewel ya.” Zahra yang tidak mengerti apa yang terjadi dengan Sadiyah hanya menatap Sadiyah dengan tatapan polosnya dan mengangguk tanda mengiyakan apa yang Sadiyah minta.
Sadiyah dengan tergesa mencari-cari toilet. Setelah menemukannya Sadiyah langsung masuk dan mendudukkan Zahra di pinggir wastafel.
“Zahra tunggu di sini ya. Tante masuk dulu ke dalam bilik toilet. Zahra jangan takut. Pintunya tidak akan Tante tutup.” setelah memastikan keamanan dan kenyamanan Zahra, Sadiyah segera membuka bilik toilet dan memuntahkan cairan asam dan pahit dari lambungnya. Setelah dirasa tidak ada lagi yang dimuntahkan, Sadiyah keluar dari bilik dan berkumur dan membasuh wajahnya dengan air dari keran wastafel.
“Nte….” Zahra memanggil Sadiyah. Wajahnya seperti yang hendak menangis.
“Tante gak kenapa-napa. Zahra jangan nangis.” Sadiyah segera memeluk Zahra dan menggendongnya untuk keluar dari toilet.
Ketika kembali ke ruang tunggu, Sadiyah melihat Rika sudah beres mengontrol kandungannya dan sekarang sedang berada di apotek untuk menebus resep yang diberikan oleh dokter.
“Sudah beres, Ka?” tanya Sadiyah pada Rika yang sedang duduk di ruang tunggu apotek.
“Sudah, tinggal tunggu vitaminnya.” sahut Rika.
Sadiyah duduk di samping Rika sambil memangku Zahra.
“Zahra tadi main sama Tante Iyah kemana?” tanya Rika pada anaknya.
__ADS_1
“Tadi Zahra main sama Tante Iyah ke taman, Bunda.” Sadiyah menjawab pertanyaan Rika dengan suara khas anak-anak.
“Zahra senang ya main sama Tante Iyah?” tanya Rika lagi pada anaknya.
Sadiyah tersenyum melihat anggukkan kepala Zahra.
Rika melihat ke arah wajah Sadiyah dan melihat wajah Sadiyah yang pucat.
“Teteh kenapa? Wajahnya pucat sekali?” tanya Rika cemas.
“Gak apa-apa, Ka. Tadi agak pusing sedikit.” jawab Sadiyah tidak ingin membuat Rika menjadi cemas.
“Mumpung kita masih di rumah sakit. Teteh periksa saja ke dokter sekalian.” tawar Rika.
“Gak usah, Ka. Ini cuma pusing sedikit. Tadi tidak sempat sarapan. Mungkin masuk angin.” Sadiyah memberikan alasan.
“Kalau begitu, habis dari sini kita makan di restoran dekat sini ya Teh. Kebetulan restonya Mas Tegar dekat sini, jadi kita ke sana saja ya Teh.” tawar Rika.
“Oke deh.” Sadiyah menguatkan dirinya untuk memberikan senyuman dengan wajah yang ceria. Ia tidak ingin Rika tahu bahwa saat ini perasaannya sedang tidak karuan.
*********
Tanpa semangat Sadiyah menyiapkan makan malam untuk Kagendra. Ia sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak kwetiaw goreng seafood, salah satu makanan favorit Kagendra.
Kagendra sampai di rumah jam 8 malam.
“Kenapa baru pulang A? sibuk di kantor?” tanya Sadiyah ketika ia mencium punggung tangan suaminya dan membantu membawakan tas kerja untuk disimpan di ruang kerja Kagendra.
“Ya.” jawab Kagendra singkat.
Kagendra segera masuk ke kamar tidur dan segera mandi serta berganti pakaian. Setelah selesai sholat Isya, Kagendra turun untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tadi tidak sempat ia selesaikan karena harus mengantar Natasha ke rumah sakit.
Melihat Kagendra yang langsung masuk ke perpustakaan sekaligus ruang kerjanya, Sadiyah memanggilnya untuk menawarkan makan malam.
“Aa sudah makan malam belum? Kalau belum, Iyah mau masakin kwetiaw goreng. Aa mau??
“Saya sudah makan.” jawab Kagendra.
Tangan kiri Sadiyah meremas piyamanya, sedang kan tangan kanannya menekan dada* kirinya karena terasa sangat sesak dan sakit.
__ADS_1
Sekuat tenaga menahan tangisnya, Sadiyah menawarkan Kagendra segelas coklat.
“Aa mau dibikinkan segelas coklat?”
“Tolong buatkan saja kopi.” pinta Kagendra.
“Baik, A.” Sadiyah pergi ke dapur untuk membuatkan Kagendra secangkir kopi. Tak terasa bulir air mata jatuh meluncur melewati pipinya. Dengan segera ia hapus air matanya dengan punggung tangan.
Setelah selesai membuatkan secangkir kopi. Sadiyah mengantarkannya ke ruangan kerja sekaligus perpustakaan itu.
“Ini A kopinya.” Sadiyah meletakkan cangir kopinya di atas meja kerja Kagendra.
“Terima kasih.” ucap Kagendra.
“Sedang sibuk sekali, A? sampai pekerjaannya di bawa ke rumah.” tanya Sadiyah.
“Ya.” jawab Kagendra singkat sambil fokus untuk membaca laporan-laporan yang tidak sempat ia periksa siang tadi.
“Iyah pamit tidur duluan.” pamit Sadiyah.
“Ya.” Kagendra masih fokus pada pekerjaannya tanpa melihat ke arah Sadiyah.
Setelah Sadiyah menutup pintu, Kagendra mendongakkan kepalanya dan menatap pintu yang sudah tertutup itu.
“Maaf.” ucap Kagendra lirih. Ia merasa sangat menyesal sekali telah berbohong pada Sadiyah. Namun ia bertekad untuk segera membereskan urusannya dengan Natasha. Ia akan memutuskan hubungannya dengan Natasha setelah Natasha sembuh dari penyakitnya. Kagendra tidak tega jika harus meninggalkan Natasha dalam keadaan sakit.
Di dalam kamar, Sadiyah berbaring menyamping ke arah kanan. Ia tutupi wajahnya dengan bantal untuk menahan tangisannya agar tidak terdengar sedu sedannya.
Sadiyah tidak habis pikir kenapa ia sangat sensitif sekali akhir-akhir ini. Apakah karena sekarang ia sudah sangat mencintai suaminya sehingga ia merasa sangat sedih ketika ia melihat Kagendra bersama dengan wanita lain.
Dulu ketika Sadiyah memergoki Kagendra yang sedang ber-cumbu di ruangan kantornya saja tidak mengakibatkan efek pada dirinya. Tapi sekarang ketika tadi siang melihat Kagendra yang bergandengan tangan dengan perempuan lain, hati Sadiyah seperti terbakar api yang panas, dadanya sesak seperti terhimpit oleh batu yang besar.
Selama hampir satu jam, Sadiyah menangis mengeluarkan segala kepedihannya melalui air mata. Hingga akhirnya ia tertidur dengan air mata yang masih merembes dari pelupuk matanya.
Jam 12 malam, Kagendra baru beres menyelesaikan semua pekerjaannya yang tertunda sehari ini. Ia masuk ke kamar dan melihat Sadiyah yang sudah tidur dengan bantal yang menutupi wajahnya.
Kemudian Kagendra mengambil bantal yang menutupi wajah Sadiyah dan melihat jejak sisa air mata yang masih terlihat di pipi Sadiyah. Kagendra menyentuh wajah Sadiyah dan menghapus air matanya.
“I’m sorry. Aku harap kamu bertahan disisiku sampai akhir. Maafkan jika saat ini hatiku masih bimbang.” Kagendra menatap wajah Sadiyah lalu mengecup keningnya. Tak cukup hanya mengecup kening Sadiyah, Kagendra juga mengecup bibir Sadiyah.
__ADS_1
*************
to be continued...