
“hai Cantik” ucap seseorang yang berjalan mendekat.
Evita saat itu tengah duduk menunggu Inul dikursi tidak jauh dari kelasnya. Mendengar seseorang mengatakan hal tersebut, Evita tidak mungkin untuk tidak melirik, karena menurutnya hanya dirinya yang berada disini.
“Hmm...iya, apa anda sedang berbicara dengan saya?” Tanya Evita sambil melihat orang yang kini berdiri didepannya.
“Uuh...ternyata dia jelek, ku pikir cantik” sindir seorang gadis dengan rambut yang sudah tercat warna merah. Entah tren apa yang mereka tiru, yang pasti sekarang rambut kalau tidak berwarna tidak seru.
Disisi lain suara ketawa muncul mengelegar dengan kuatnya membuat suaranya sedikit bergema. “kalian....tak boleh gitu kasihan...”ucap wanita yang berdiri dibelakang wanita yang tertawa.
Namun tidak berapa lama, ia melanjutkan lagi “tapi..lanjut aja sih..hahaha” lanjutnya yang kemudian berdiri disamping Evita.
Evita merasa ada yang tidak beres. Sekolah SMPnya ini adalah sekolah yang tidak terlalu elit, namun murid yang ada disini berlagak seperti sekolah elit. Selain itu dirinya masih siswa baru yang baru kemarin menyelesaikan masa PLS(pengenalan lingkungan sekolah).
“Maksudnya?” tanya Evita sambil melirik tiga orang wanita yang kini membuatnya serasa dikerumuni.
Wanita yang berambut merah itu tersenyum. “uuu....kau tidak mengerti cantik” ucapnya sambil memainkan rambutnya.
“hahaha.....dibilang aja cantik tapi sayangnya jelek...”ucap wanita yang berdiri disebelah kanannya.
Evita hanya terdiam mendengar hal itu. Ia berguman “ternyata mereka hanya ingin menghinaku” sambil menunduk.
“Eh...cum pergi....gua gerah nih...panas” ucap Wanita yang berdiri disebelah kirinya. Temannya bertanya “Kenapa?” dengan suara seperti terkejut.
“Karena terlalu cantik aku berada disini” balasnya yang kemudian mereka bertiga pun tertawa, lalu melangkah pergi meninggalkan Evita yang sedari tadi cuma menundukkan kepalanya.
-
Dikantin sekolah, Inul dan Evita duduk sambil menikmati makannya mereka, setelah merasa tenang karena habis dihina, Evita tidak ingin menceritakan masalah itu, ia memilih untuk segera menghabiskan makanan dan kembali kekelas.
Tak berapa lama, suara seseorang terdengar dan lagi ditelinga Evita itu adalah suara yang sama, yang beberapa jam lalu menghinanya.
“ooh...gadis jelek disini rupanya”ucapnya santai. Dan yang dibelakangnya tertawa. Orang-orang yang mendengar itu langsung melirik kearah mereka.
“Hei....masih ingat kami kan” ucap seseorang sambil menuangkan sambal kemakanan Evita. Melihat itu Evita tidak melawan.
“Ya engaklah...orang dia jelek gitu, gak bisa ingat wajah cantik kita” ucapnya yang kemudian menghabiskan minuman Evita.
Mereka sengaja membuat makanan pedas dan tidak memberikan Evita minuman karena mereka ingin melihat Evita keluar masuk kelas hanya untuk absen di toilet sekolah.
“HEI.....KALIAN JANGAN BERANI GANGGU DIA LAGI...APA KALIAN TIDAK TAKUT AMA INI CEWEK” ucap Inul sambil mengambil salah satu minuman botol dan menyerahkannya ke Evita.
Orang yang menghina tadi hanya mendengus kesal, kemudian tidak lama, ia menyiram bakso Inul kemuka Evita yang masih panas tentunya. Untungnya temannnya menyiram lagi mengunakan jus ice yang ia minum kemuka Evita jadi mengurangi panas. Itu niatnya.
Inul melihat hal yang tidak benar, dengan cepat ingin menampar gadis yang lebih tepatnya seangkatan dengannya.
__ADS_1
“Apa!..mau nampar, hei gendut, kau pikir kau itu siapa, lagian nih ya..kalian itu orang miskin ngapain hah..sekolah disini, sana keluar aja dari pada ngotorin halaman disini”ucapnya dengan nada yang angkuh, yeah mungkin nenek moyangnya yang mendirikan sekolah.
Evita masih terdiam, bukan melawan atau melirik orang yang merusak moodnya. Dirinya terbiasa dengan segala hinaan, segala ejekkan. Dan semua itu berakhir dengan dirinya pindah sekolah.
Tidak ingin melawan karena menurut Evita, gadis didepannya ini hanya kurang perhatian orang tua, maka dirinya menjadi strees dengan melampiaskan kedirinya. Itu yang ada diotak Evita, jadi dengan mudah ia menenangkan amarahnya.
Namun tidak berapa lama, Sania, teman sekelasnya ini membantu dirinya.
“apa yang kalian lakukan?..astaga, Evita!..kau tidak apa-apa kan?” tanyanya sambil mengelap semua air yang berada dimuka Evita dengan sapu tangannya. Evita masih terdiam,Sania adalah sahabatnya yang baru ia anggap. Sedikit ada rasa senang.
“kenapa...kau juga gadis baru masuk kan..kalian itu masih bau kencur, jangan sok keras” ucap gadis yang menghina tadi, namun Sania bukannya takut, ia Malah semakin membantu sahabatnya ini “diam!...atau kalian akan ku adukan kepada kepala sekolah” ucapnya dengan serius.
Semua orang tahu, ada beberapa murid yang dekat dengan kepala sekolah, termasuk Sania, dan lagi Sania ini adalah sahabat Evita. Jadi kemungkinan tidak akan ada yang memihak kepada yang menghina.
Dengan ancaman tersebut, mereka pun langsung pergi dengan memasang wajah kesal. Disisi lain Evita memutuskan untuk segera pulang, tidak ingin terlalu berlama-lama disekolah.
Dan karena itu Sania juga ikut pulang bersamanya. Karena tidak ingin sahabatnya menjadi takut untuk kesekolah.
Sebenarnya Sania tidak menyadari bahwa Evita hanya berdiam diri. Jiwa amarah dan pengendalian dirinya masih normal, hanya jiwa kegilaannya yang masih tertidur dengan aman.
-
Beberapa hari kemudian...
Evita sudah kembali akrab dengan semuanya. Dirinya sudah terbiasa namun entah kenapa Sahabatnya yang ia tunggu-tunggu dari jam masuk sampai jam istirahat tidak datang kebasecam mereka yang hanya terletak disalah satu taman sekolah.
Setelah menunggu terlalu lama, entah kenapa dibenaknya ada sesuatu yang tidak beres, benar saja tiba-tiba seseorang mengirim pesan ke ponsel pintarnya.
*ting
Share picture
Evita membuka pesan dan melihat gambar yang diberikan. Matanya langsung menyusut, sambil memendam amarah dengan kertas ulangan ditangannya sudah bergumpal seperti bola. Ia melangkah menuju kemana pesan itu mengarahkannya.
*picture...Sania yang tergeletak tidak berdaya dengan tubuh penuh darah
-
Tiba digudang belakang sekolah, siapa yang tahu. Evita tidak ingin berpikir dua kali, tentang serangan dadakan didalam gudang itu.
Brak...
Evita menendang pintu masuk dan langsung berlari mencari Sania. Dan yang didapatinya adalah pukulan keras dari belakang. Seseorang memukulnya dengan keras sebanyak tiga kali.
Namun Evita tidak langsung terjatuh, ia hanya terhuyung sebentar. Dan melirik kebelakang. Dengan cakap menangkap batang kayu yang dari kaki kursi. Dan kemudiaan mendorong kedepan sampai dua wanita lebih tepatnya orang yang membullynya terluka akibat benturan.
__ADS_1
Agh!
Agh!
Tidak hanya itu, Evita juga menginjak perut mereka masing-masing seakan-akan tidak mengijikan mereka untuk bangun dari kesakitan mereka. Ingin menambahkan lagi dan lagi rasa sakitnya.
Setelah ia puas, dirinya pergi melihat wanita yang berlagak kaya itu. Dengan Sania yang duduk dikursi tidak berdaya. Lebih tepatnya ia pingsan dengan wajah pucat.
“Berani maju, aku bunuh temanmu”ucapnya.
Evita tidak mengerti, dendam apa yang membuat Wanita pembully ini ingin melakukan hal ini. Apa lagi dirinya tidak membalas hal tersebut.
“Kenapa?...apa aku membuatmu merasa terluka?” tanya Evita sambil menatap tenang kearah musuh.
Gadis itu menjawab “gara-gara kalian, ibu dan ayahku mengetahui kelakuanku di sekolah. Asal kau tahu, jika sahabatmu ini tidak mengadu, maka aku mungkin masih mendapat uang jajan”ucapnya yang kemudian terdiam mendapati Evita kini hanya tinggal berjarak beberapa cm didepannya. Menggenggam tangan yang terdapat benda tajam.
Evita menghempas benda itu, lalu mencekik leher wanita didepannya. “Apa kau ingin mati disini?” tanyanya.
Wanita itu tidak menjawab, tentu saja kini tenggorokannya serasa sudah ingin terlepas dari tubuhnya. Dan lagi tangan Evita tiba-tiba menaikkan tubuhnya. Tentu semakin membuatnya kehilangan nafas.
“Ti....ti...dak..”Ucapnya perlahan. Air matanya sudah tidak bisa lagi tersimpan. Kini mengalir dengan derasnya.
Evita merasa itu sudah cukup. Dengan cepat melepaskan apa yang ia genggam. Setelah menjatuhkan Wanita itu. Evita langsung berjongkok dan memberikannya peringatan.
“Niatku tadi ingin membunuh kalian, tapi karena aku masih sekolah dan lagi aku juga tidak ingin tangan ini membunuh orang, jadi akan ku biarkan kalian hidup. hmmm.yeah kalau kalian melaporkan hal ini juga tidak masalah, maka kita akan ketemu dilain waktu dengan cara yang berbeda. Mungkin lebih kejam” ucapnya sambil membebaskan Sania dan pergi dengan langkah yang tenang. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Wanita itu pun sontak menangis dengan kejadian itu.
-
Seperti yang dikatakan, tidak mungkin Wanita itu akan langsung diam. Hari ini hari dimana keputusan dibuat, Evita menerima surat peringatan dan langsung diskor selama tiga bulan. Sedangkan tiga wanita yang menyakiti Sania langsung pindah sekolah. Dan Sania yang menjadi korban tidak mengetahui apa pun.
Setelah kejadian itu, Evita yang sudah mengatakan bahwa ia akan bertemu lagi dengan cara berbeda memang ada benarnya. Tak berapa lama. Kabar meninggalnya tiga Wanita bersamaan sempat ricuh dan tidak ada yang mengetahui siapa dalang pembunuh tersebut. Yang pasti bukti sekecil apapun Malah tidak bisa ditemukan. Sedangkan tempat kematian korban ditempat yang ramai.
Beberapa bulan kemudian..
Jarak hubungan Evita dengan Sania mulai mengendur. Dirinya tidak ingin Sania menjadi seperti dulu, ikut disakiti hanya karena membela. Bukan hanya itu, ini juga bermasalah tentang hati mereka. Yang dimana Sania juga mencintai pria yang disukai Evita. Karena mengetahui hal itu Evita memutuskan untuk membuang cintanya dan sedikit memberi jarak agar pria yang disukai itu tidak melirik yang lain selain Sania.
Flashback ends-
Evita mengingat masa mudanya yang terbilang tidak benar. Dirinya seorang gadis, namun dengan mudahnya membunuh dan masih bersantai sekarang. Memang benar dirinya sudah mengakui kesalahannya saat masuk SMK dan siap menerima hukuman, namun pihak kepolisian Malah tidak menghiraukannya. Itu hal yang tidak aneh, karena ayah Evita yang merupakan seorang Juragan Wallet tidak akan mudah memberikan putrinya. Jadi hal itu pun diganti dengan uang yang berlimpah.
Mengingat semuanya, membuat diri sendiri sedikit menyesal, namun penyesalan sudah tidak berguna, karena orang yang dibunuh sudah tidak bisa kembali lagi. Mungkin mereka akan berrenkarnasi. Harapan Evita, mereka tidak akan membully lagi.
“huh....” menghela nafasnya. Ia kembali memeriksa Surat yang dikirim oleh seseorang tanpa nama, alamat, bahkan pranko.yang ada hanya isi Surat itu.
__ADS_1
...*********Bersambung*******...
Jangan Lupa Like adn Comment😊