MANTIV

MANTIV
● Mantiv(66)


__ADS_3

“Kami...Kami berdua orang tua Evita”ucap Papah Evita yang membuat Kepala sekolah langsung kaget.


“Bagaimana bisa ada dua orang tua?”Guman Kepala Sekolah. Data Keluarga Evita Cuma satu orang tua. Tapi kenapa malah jadi dua.


“Ceritanya panjang..kita lebih baik membahas masalah yang penting dulu”ucap Ayah Evita yang membuat Kepala Sekolah mengangguk. Ia menyuruh dua pasangan itu masuk.


Mamah Evita dan Ibu Evita, atau ibu barunya masuk kedalam tidak ikut berbicara, hanya menikmati waktu jalan mereka.


“Jadi apa yang terjadi kepada Putri kami pak?”tanya Papah Evita yang membuat Kepala sekolah gelagapan menjelaskan .


-


Sekolah yang seharusnya sampai sore, kini hanya bisa sampai siang hari. Yeah itu semua karena kedatangan orang tua Evita.


Evita yang tengah bermain gunting kertas batu dengan Indah, diberi banyak pertanyaan oleh para siswa.


“Evita itu Orang tua loh?”tanya Mereka. Evita mengangguk.


“Wess.....enak ya jadi anak bermarga dua?”ucap yang lain. Evita mengangguk.


“kalau begitu kapan-kapan kita jalan Evita...sekali-kali kan kumpul bareng elu”Evita hanya mendengus.


Indah yang mendengar pertanyaan itu menjawab “kalian ini..sudah sana pergi, gimana mau serius main, kalau kalian banyak tanya..sudah pulang saja bel pulang udah berbunyi tuh”ucap Indah.


“Eleh...Eh Indah...lu juga kan teman Evita..ayuk ikut kumpul bareng..kita ke bar”ucap salah satu orang.


Indah yang mendengarnya mendengus “Bar....tidak mungkin, jangan ajak kami, entar aku dimarahi sama Reza atau seketaris barunya”ucap Indah.


Mendengar hal itu menarik perhatian Siswa lagi. karena yang disebut itu tengah ada dipintu depan kelas. Mereka berdua berdiri layaknya bodyguard.


“Eh dua orang didepan kelas itu Seketaris pribadi dan siapa tadi..intinya mereka orang mu?” Evita mengangguk. Ia melanjutkan jentikannya karena Indah kalah.


“Besss...kalau begitu kenalkan kepada kami dong”ucap Cewek lain. Evita menatapnya “Kalau mau silahkan saja....”


Mendengar hal itu membuat para wanita langsung melesat keluar. Mereka mencoba mengajak dua pria itu berbicara. Tapi tak ada satu pun yang menjawab. Masing-masing diam mematung.


Indah yang melihatnya hanya bisa tertawa sambil meringit. Karena tangannya sudah sakit. Tak berapa lama, dua pasangan datang. Dan lagi-lagi menarik perhatian.


Amelya yang duduk dikursi yang jauh hanya bisa memandang dalam diam. Ia berharap Evita tidak dikeluarkan dari sekolah. Seharusnya ia saja yang dikeluarkan.


“Ah...Ayah...Papah dan Mamah”sapa Evita. ia tak menyapa wanita yang bersama Ayah Angkatnya.


Indah yang melihatnya sedikit merasa aneh. Bukan hanya dia, Amelya juga begitu. “Apa yang terjadi dengan orang tua angkat Evita”benak Mereka.


“Lain kali sekolah yang benar”ucap Papahnya yang mengusap kepala Evita. Evita tersenyum. “Tentu saja...maafkan aku Pah..ini salahku”ucap Evita yang membuat Ayah Angkat dan Ayah Kandung langsung memeluknya bersama-sama.


“Orang tua nya ada dua..”


“kau saja yang baru tahu”


“jelas lah..orang aku baru saja menyadarinya..katanya Evita tetap lanjut sekolah, dan kejadian ini akan dirahasiakan”


“eh benarkah”


“Iya..karena lebih baik dirahasiakan atau tidak sekolah ini yang tambah bermasalah. Bahkan semua siswa akan terkena”


“eeh...polisi yang datang tadi ngapain”


“engak ngapa-ngapain...siapa yang berani menyentuh salah satu temannya jendral keluarga Zhan hah?..keluarga Alex berteman baik dengan keluarga Zhan. Ditambah ada keluarga lain yang menahan Evita”


“gila...Evita nih mah kayak emas..kita culik yuk, siapa tahu dapat uang”


“pikiran di kontrol...kau mau kepalamu hilang hah?..Evita itu tidak lemah bodoh, ngapain ia bawa pistol jika mudah diculik”


“eh benar juga..aku melupakan hal itu hehehe”


“dasar tolol”


Evita dan dua orang tuanya melangkah keluar kelas. Sebastian dan Reza juga ikut pergi. Indah tentu saja ditarik Evita untuk ikut.


Sedangkan Amelya tetap dengan tenang memandang kepergian itu. “Apa aku masih bisa menganggap kalian tempatku untuk beristirahat”benaknya.


Tiba dipakiran, Evita memberikan salam perpisahan untuk kedua orang tuanya. Ayah Angkatnya menciumnya.


“Nak Ayah akan pergi beberapa hari lagi, jadi jaga dirimu, ada Reza..dan ada seseorang yang menemanimu”ucap Ayah Angkatnya. Evita mengangguk. Ibu angkat atau ibu barunya itu juga memberikan pelukkan lembut. “Aku bosan tidak bermain denganmu, kapan kau akan bermain denganku”bisiknya. Evita hanya mendengus. Ia membalas “Kita tunggu saja tante..sepertinya setelah masalah seseorang, aku akan membereskanmu”


Ibu baru yang mendengarnya tersenyum. “Kalau begitu kami permisi...Tuan Muchen dan Nyonya Muchen..kami pamit”ucap Ayah Evita.


Papah dan Mamahnya mengangguk. Mereka pun menatap Evita putri kesayangan mereka.


“Pah apa Aku pindah sekolah?”tanya Evita yang membuat Indah langsung memukulkan. Hal itu menarik perhatian Reza dan Sebastian. Tapi juga tidak luput dari pandangan para siswa.

__ADS_1


“Gila berani betul Indah”


“dia kan sahabat Evita”


“kalau aku digituin, udah pasti ia tak memiliki tangan”


“kalau kan..hanya kalau”


Sebastian tidak habis pikir ternyata Indah seperti ini orangnya. “Paman..lihat Putrimu ini, ia hampir saja membunuh orang”adu Indah yang membuat Ibu Evita tertawa.


“iya....memang nakal dia”


“Mah”Evita mendengus.


“Sudah..Evita lain kali jangan seperti ini woke..sekarang Papah dan Mamahmu akan kembali. Satu pesan kami jaga diri, dan selalu kenakan apa yang kami berikan kepadamu”Evita mengangguk mendengar Papahnya berbicara.


Setelahnya semua mobil pun pergi, jalanan yang padat itu akhirnya bisa tenang kembali. Evita yang melihatnya hanya bisa mengeleng. Tak habis pikir ternyata dua orang tuanya langsung turun tangan. Padahal ia tidak membunuh seseorang.


Karena kejadian itu, tidak ada yang berani membeberkannya. Kenapa karena seluruh siswa sudah diberi uang suap untuk menutup mulut. Jika terbocor rahasia Evita. seluruh sekolah dan siswanya akan menangung akibatnya.


Indah dan Evita yang mendengar hal itu hanya bisa mengeleng. Tidak habis pikir sih memang. Sampai mengancam seperti itu. tapi mau gimana lagi, Evita sudah diketahui keberadaannya oleh musuh orang tuanya. Sekarang ia hanya bisa bermain diarea yang sudah katakan aman oleh orang tuanya.


Selain itu Evita akan sangat dibatasi. Untungnya Ia seorang Detektif. Jadi kalau urusan kasus, Evita bisa menyamar. Semua yang terjadi sangat membuat lelah hati. Tapi inilah takdir tak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Seperti saat ini, Indah dan Evita tengah menikmati secangkir coffee dicafe Evita sendiri.


“Evita bagaimana tentang penyelidikanmu terhadap Amelya?”tanya Indah. Ia tahu Evita tengah mencari tahu apa yang terjadi kepada keluarga Amelya.


“Aku mendapat kabar, perusahaan Ayahnya tengah diujung tanduk, perusahaan itu akan mengalami kebangkrutan..dan satu-satunya yang bisa membantu mereka adalah Pamannya”jawab Evita. ia menghabiskan coffee yang dipesan olehnya.


“Jadi apa selanjutnya?”tanya Indah lagi. ia juga tahu, karena kantor detektif telah mengetahui hal ini. Alasan Amelya tidak bisa datang karena mengurus perusahaan.


Evita menunjukan sebuah kartu yang sangat cantik. Membuat Indah yang melihatnya langsung menatap tak percaya.


“Kapan ini datang kerumahmu?”tanya Indah. Evita menjawab “Tepat saat aku berangkat sekolah tadi..”


Seketika Indah merasakan plotwich yang luar biasa liar. Baru saja masalah Evita, sekarang masalah Amelya.


“jadi dia akan menikah”ucap Indah yang membuat Evita menghela nafas kasar.


“Apa yang harus kita lakukan Evita...aku tidak setuju ia menikah dengan pria yang menyakitinya”ucap Indah yang menyampaikan penolakkannya.


“Kau pikir aku setuju. Aku juga engak..sudah, sekarang kita harus cari tahu, kenapa bisa perusahaan itu malah bermasalah..aku sudah menyuruh Reza untuk menyelidikinya”


“Tak tahu...lagian aku tidak perduli siapa dia”Evita dan Indah kembali memikirkan kejadian Amelya .


-


Hari yang ditunggu tiba. Semua tengah bahagia menghadiri salah satu gedung. Dimana telah terdekorasi oleh hiasan-hiasan yang menakjubkan mata.


Para tamu undangan datang silih berganti. Semua mengenakan pakaian mahal mereka untuk menunjukkan mereka juga memiliki kekuasaan.


Selain itu para pelayan dibuat sibuk, ada yang harus mengurus makanan, ada yang harus mengurus tamu dan ada yang harus mengatur semuanya.


Saat diluar tengah bahagia, berbeda dengan Amelya, didalam kamar. Ia telah mengenakan gaun pengantinnya. Harinya benar-benar kelam.


Sekolah tentu saja pihak sekolah tahu, tapi anehnya sekolah hanya biasa saja. Amelya hanya bisa mengeleng mengetahui hal ini. Biasanya sekolah akan melindungi siswanya. Mungkin ini juga yang mengancam sekolah, hingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


Tapi dari semua itu, tidak ada yang membuat Amelya gelisah. Yang membuatnya gelisah adalah tindakkan Ayahnya, Kemarin...


Malam ini Amelya tengah disibukkan untuk mencoba pakaian pengantin. Ada tiga pakaian yang dicoba. Saat telah selesai. Ayahnya datang.


“Kau tidak memaksa dirimu kan..Amelya?”tanya sang Ayah yang kini menatap putri semata wayangnya.


Amelya yang ditatap tersenyum. “tidak Ayah...aku yang telah memilihnya..lagian Hun Kai juga baik kepadaku”ucap Amelya.


“Meski hanya didepan umum..engak tahu nanti aslinya seperti apa?”benak Amelya.


Ayah Amelya yang mendengarnya mengangguk, ia mengusap kepala putrinya. “Putriku....jika ia menyakitimu cepatlah pergi darinya, dan katakan kepada Ayah..Ayah akan menampar dirinya”


Mendengar hal itu membuat Amelya bahagia. Ia tahu Ayahnya ini sangat menyayanginya.


“Ah iyaa....Ayah lupa memberitahumu, Ayah telah memberikan undangan pernikahan kepada Evita dan Indah”ucap Ayahnya. Amelya yang mendengarnya langsung membelakkan mata.


“Ayah..kenapa Ayah memberikannya kepada mereka?”tanya Amelya.


Ayah Amelya kaget melihat putrinya malah seperti ini. “Kenapa..mereka sahabatmu bukan?”tanya Ayah Amelya memastikan.


“Seharusnya Ayah tidak perlu turun tangan..biar-biar aku saja yang memberikannya”ucap Amelya merubah pembicaraan. Ia tak bisa mengatakan bahwa Evita dan Indah bisa saja langsung mengetahui apa yang disembunyikan olehnya.


Ayah Amelya yang mendengarnya hanya mengeleng “Sudahlah Nak..lebih baik mereka datang bukan..mereka sahabatmu..sekarang istirahatlah besok akan sangat melelahkan untukmu”

__ADS_1


Kepergian Ayahnya membuat Amelya terduduk lemas. Tak habis pikir dirinya. Jika sampai Evita datang kepernikahannya. Apa yang akan terjadi. Hun Kai terlihat menghindari Evita juga. Maka wajar jika Ninta, Rita dan Narti menjadi Temannya untuk mengantikan Indah dan Evita. tapi kenapa.


Amelya terdiam dengan pikiran kalutnya itu. ia ingin memejamkan mata dan melupakan apa yang telah terjadi kepadanya.


Ketika waktu berjalan. Sebuah mimpi menghampirinya,


“Amelya Pergilah...Nak kami sangat menyayangimu”ucap sang Ayah yang berlumpur darah.


Amelya tersentak kaget, bukannya ia akan menikah besok. Kenapa malah terlihat adegan begini.


“Benar nak...Kematian akan memberi kehidupan bagi mereka yang menginginkan...anakku hiduplah dan bahagialah”


“Tidak..hehe ini pasti mimpi....tidak mungkin kan?”benak Amelya. Dua orang tuanya berlumur darah. Bau yang menyengat. Dan apa yang dilihatnya diseberang sana.


Seorang wanita menatap tajam kearahnya. Wanita yang berhasil memberinya trauma yang sama. Trauma yang baru saja didapatkan olehnya.


“E...Evita!!!”


Mengingat mimpi kelam itu, ditambah kejadian yang dimulai olehnya sendiri. membuat Amelya mengerututi dirinya.


“Apa yang harus ku lakukan....mimpi itu ku harap tidak nyata”benak Amelya.


Tak berapa lama Ayahnya datang dengan jas berwarna putih. Ia sungguh sangat bahagia. Tapi juga terlihat sedih. Amelya yang melihatnya langsung memeluk sang Ayah.


“Kenapa denganmu putriku?”tanya Ayah Amelya.


“Ayah.....jangan bersedih...aku akan menghadapi ini dengan baik...tenang saja”ucap Amelya yang membuat pelukkan menjadi lebih kencang.


“Sudah...ayuk kita kealtar...semua telah menunggumu”ucap Ayahnya yang kemudian mengandeng tangan sang Putri.


Acara yang meriah dihadiri oleh orang-orang pembisnis. Amelya hanya bisa menunjukkan senyumnya. Ia melihat kesegala arah. Tidak ada Evita dan Indah, apa mereka tidak mau datang. Tapi tidak masalah, lebih baik mereka tidak datang bukan.


“Lihat wanitanya sangat cantik....”


“Aku dengar dia masih sekolah..mana lagi masih sekolah menengah”


“eh benarkah....aduh kenapa dinikahkan”


“tidak ada yang tahu...apa sebabnya bisa seperti ini”


“kasihan sekali”


Bisikkan itu hanya sampai ditelinga orang yang ada disekitarnya. Sedangkan sang keluarga yang menjadi pemilik acara tidak mendengar apa-apa.


Amelya melangkah bersama sang Ayah untuk menghampiri calon suami. Yeah calon suami yang ia sendiri tak ingin mengakuinya.


Bagaimana setelah ini, apa yang akan ia lakukan jika telah menjadi istri seseorang. Padahal hatinya tidak mencintai. Padahal niatnya ingin menikah dengan orang yang dicintai. Tapi itu hanya niat, tidak ada yang tahu apa masa depannya sendiri.


Amelya tersenyum pahit dengan apa yang hari ini dilihatnya. Sungguh tidak menyangka jika seperti ini akhir dari apa yang ingin diusahakannya.


Tapi mengingat ketika Indah yang menghadapi orang tuanya, sampai kabur. Hingga berakhir terselesaikan dengan mengkorbankan orang tua sendiri. membuat Amelya mengerti apa yang dikatakan oleh Indah.


“Yeah topeng yang ku pakai ini benar-benar sangat berguna..menyembunyikan segalanya yang ada...Indah kau selalu mengingatkanku...”benaknya.


Tiba ditempat yang dinanti, tangan Hun Kai terulur untuk menyambut kedatangan sang wanita yang akan menjadi istrinya.


“Lihat...keluarga bodoh ini memang sangat mudah dipengaruhi suamiku”Bisik sang istri kepada Suaminya.


Suaminya yang mendengar perkataanya mengangguk “justru bagus..mereka tidak mengetahui tentang masalah kita...jadi dengan begini kita punya kesempatan...aku akan mengembalikan apa yang hilang dari kita”


“Suamiku kau memang benar....tapi apa yang ku lakukan kepada gadis itu?”


“tinggal kau pisahkan saja dia, dia tinggal disini kita akan kembali ke kota A”


“Baiklah suamiku..aku setuju dengan saranmu”


Amelya melihat uluran tangan itu, ia membenak “Apa setelah ini aku akan benar-benar harus berubah menjadi orang lain..bukan diriku sendiri, tapi ini juga salahku”Amelya menyambut uluran tangan itu.


Tapi belum sempat tangan itu diraih oleh Hun Kai, tiba-tiba.....


“HENTIKAN PERNIKAHANNYA.....”teriak seseorang yang berdiri dengan style yang sangat rapi. Membuat para undangan begitu menatap kearahnya.


“Siapa dia...astaga dia sangat tampan?”


“apa dia kekasih gadis itu...astaga ini sangat seru”


“bisa-bisanya dia datang...apa dia tidak terima”


“apa dia ditinggalkan sama tuh cewek.....?”


Pikiran dan pendapat liar keluar begitu saja. Tapi itu tidak menjadi alasan Amelya mematung. Yang membuatnya mematung adalah orang yang berteriak itu.

__ADS_1


“Kau!!!!”kagetnya....


__ADS_2