MANTIV

MANTIV
● Mantiv(33)


__ADS_3

“Hei Yoongi..apa yang kau lakukan...seharusnya motormu itu diperlambat...bukan seperti ini”Echan menunjuk motor yang menabrak pintu. Iya Yoongi entah kenapa Malah terjun dari motornya tanpa mematikan atau menghentikan. Membiarkan motor itu berjalan sendiri hingga menabrak pintu.


Yoongi hanya mendengus. Ia juga tidak tahu kenapa ingin melompat dari motor, tanpa berniat menghentikannya. Lagian motor itu juga tidak rusak. Jadi ia tetap santai.


Echan yang melihat Yoongi hanya mendengus,membuatnya menghela hafas kasar. Ia kemudian beralih memasuki rumah yang terletak sangat jauh dari desa kecil. Echan dan Yoongi berpisah dengan Za. Mereka mengambil jalan satunya, sedangkan Za mengambil jalan lain, karena ingin memeriksa secara cepat, jadi mereka berpisah saja. Dan mengumpulkan apa yang mereka dapatkan nanti.


Suara langkah kaki mereka berdua begitu jelas. Membuat ruangan itu dipenuhi dengan suara gemaan langkah kaki.


Yoongi memandang seluruh ruangan dengan pandangan yang datar. Beda dengan Echan yang berusaha untuk meneliti setiap inci ruangan.


“Yoongi...apa menurutmu rumah ini telah ditinggalkan bertahun-tahun?”tanya Echan dengan suara yang tenang.


Yoongi hanya mengangguk. Tapi samar, ia masih memikirkan kenapa rumah ini dibangun begitu jauh dari kediaman warga. Saat tiba tadi, Yoongi mendapat pesan dari Za bahwa ia menemukan kediaman warga, terus ia tengah berbincang-bincang dengan kepala desa disana.Yoongi menerima pesan tersebut juga memberitahukan tentang keadaan mereka.Dan berakhirlah seperti ini, mereka menyelidiki ruangan yang diperkirakan itu adalah ruang tamu.


“mari kita cek semua ruangan yang ada disini” kali ini Yoongi berbicara. Echan yang mendengarnya hanya mengangguk. Mereka pun menyusuri ruangan yang terdapat 3 kamar. Dan 1 ruang dapur.


Langkah kaki mereka begitu perlahan tapi pasti. Ruangan yang mereka berdua kunjungi adalah 3 kamar.


-


Intari dan Amelya saat masuk tadi hanya terdiam mendengar suara langkah kaki masuk ruang tamu. Tapi ada yang membuat hati mereka resah, terutama Amelya. Entah kenapa ia merasa bahwa langkah kaki orang ini seperti familiar untuknya.


Dalam diam mereka mendengarkan suara seseorang berbicara.


“Yoongi...apa menurutmu rumah ini telah ditinggalkan bertahun-tahun?”


Mata Amelya membelak mendengar suara itu, hatinya merasa sakit, sakit yang begitu dalam, membuatnya menyentuh dada yang berdetak begitu kuat. Tanpa sadar Amelya berguman “Echan”.


Tak berapa lama, mereka mendengar suara lain, suara yang membuat Intari langsung berdiri tegang mendengarnya.


“mari kita cek semua ruangan yang ada disini”


‘Tidak..tidak mungkin, Yoongi, dia..dia...dia ada disini...kenapa?’benak Intari. Ia merasa batu jatuh didepannya. Batu yang entah dari mana asalnya, membuatnya menekukkan kaki dan terjatuh lemas.


-


Suara terjatuh itu terdengar diruang sebelah tempat Yoongi ingin memeriksa kamar didepannya. Karena mendengar suara terjatuh, ia pun langsung berlari dan membuka ruangan yang berada disamping. Echan juga mengikuti dibelakangnya.


Kreekk


Mata mereka terbelak ketika melihat dua gadis yang terlihat terkejut dengan kedatangan mereka. Yoongi mengamati dua gadis ini, ia mengingat bahwa salah satu dari mereka pernah bertemu dengannya, mungkin keduanya. Tapi ia hanya bisa mengingat gadis yang tengah terduduk lemas.


Echan melihat gadis yang tengah berdiri, matanya menatap tepat kearah wanita itu. Echan mengenali gadis yang berdiri itu, ia sempat bertemu, walau hanya sekilas.


Kali ini waktu serasa berhenti, tidak ada yang berbicara, hanya terdiam membisu. Angin yang terhembus begitu pelan. Pandangan yang saling bertatapan. Ada hati yang merasa sakit, ada hati yang merasa tenang dan ada hati yang merasa familiar. Semua tercampur dalam satu pandangan, dalam setiap tatapan.


Entah berapa lama mereka bertatapan, Intari menyudahi tatapannya dan beralih menyentuh pakaian Amelya. Amelya yang merasa ada tarikkan pun langsung menghadap kearah Intari. Mereka bertatapan sebentar,seperti berbicara bahwa ini hanya kebetulan. Amelya mengangguk, dan mengangkat Intari untuk berdiri.


Yoongi dan Echan yang tadi masih menatap, kini menunduk dan menatap bingung dengan keadaan. Mereka merasa bersalah karena menatap gadis yang tidak mengenal mereka.


Intari berusaha untuk tetap tenang, ingin rasanya ia memeluk lelaki yang dirindukan dalam diam. Dalam mimpi, dalam keindahaan Malam. Tapi itu hanya rasa rindu untuk seseorang yang dipikirnya tidak akan pernah bertemu lagi. Namun takdir berkata lain, ia bertemu lagi orang yang dicintainya.


Intari menatap Pria yang bermuka datar dari pria disampingnya. Tatapannya memang biasa, tapi Intari baru menyadarinya. Kenapa ia tidak mengenali saat bertemu dengan pria ini diBar yang waktu itu. Sungguh bodoh dirinya sampai tidak sadar bahwa pria yang waktu itu adalah orang yang selama ini ia cintai. Tapi ada rasa sedih yang muncul dibenaknya. ‘Apa Yoongi masih mencintainya?’


Amelya terdiam. Ia bingung harus apa, tapi melihat tatapan dari pria yang berdiri disamping pria lain, dengan mudah ia memastikan bahwa itu adalah Echan. Karena suara itu tidak mungkin berubah, kecuali Echan menyamar dan menggunakan suara samarannya. Yang biasa digunakan oleh para detektif jika Malas mengunakan suara asli.


Echan tersenyum, merubah suasana yang cangung tidak jelas ini. “Apa kalian tersesat disini?”tanyanya.


Amelya terteguh sebentar, sebelum tersenyum manis. Seperti penyamarannya. “Iya...kami tersesat, dan berakhir bersembunyi ditempat ini”jelasnya. Hatinya sakit saat ini ‘ku pikir ia mengingat ku, bukannya dulu kami sering bersama, bahkan dalam keadaan menyamar sekali pun, apa dia melupakan kami hanya dalam beberapa tahun..agh..hati bisa berubah bukan’benaknya.

__ADS_1


Echan tersenyum, ia pun mengulurkan tangannya. “Aku Taoran Chan..orang-orang memanggilku Echan”


Amelya tersenyum pahit, ia pun menyambut uluran tangan itu. “Kim Ara Jae...”ucapnya. entah sengaja atau tidak. Yang pasti saat ini ia tengah menyamar, dan nama samaran selalu dipakai. Ia juga ingin tahu apakah Echan mengingat namanya. Karena dulu, Echan selalu senang memangilnya dengan sebutan Ara.


“ah...Jae?..Apa anda dari keluarga besar yang tinggal ditebing..keluarga yang bermargan Jae,keluarga besar Kim?”tanya Echan. Ia mengingat lokasi tempat yang dikira adalah kediaman para detektif.


Amelya merasa bahwa orang didepannya ini ternyata melupakan dirinya. Hatinya sakit tapi jiwanya tenang. Ia merasa ini benar, tepat walau hatinya sakit, setidaknya ia bisa tenang, karena Echan dan Yoongi melupakan mereka. Yang berarti pria yang mencintai Evita juga melupakan mereka.


Dan mereka bertiga tidak akan dalam bahaya nanti. Amelya tersenyum. “Benar....kami saat ini tengah menikmati liburan...dan jarang kembali keKediaman kami”jelasnya.


Yoongi yang mendengarnya kini merasa yakin, bahwa pertemuan dibar waktu itu memang kebetulan. Mungkin saat itu dua gadis yang berkunjung bertemu dengannya tidak lain adalah mereka. Dan mungkin mereka juga tengah menikmati waktu santai. Sebelum terjadi penangkapan dan pengeledahan bar itu.


Intari menyadari satu hal dalam pertemuan mereka. Entah apa, tapi ia berharap memang ini yang terbaik, menjadi asing dan tak mengenal satu dengan yang lain. Dan kalau bisa saling melupakan. Walau hati mereka saling sakit. Dengan teknik penyamaran yang masih melekat. Intari merangkul Amelya. “ngomong..ngomong....kalian kesini juga tersesat”ucapnya.


Echan menganguk. Tentu karena tidak bisa menyebutkan tujuan mereka disini bukan. Jadi ia hanya perlu menutupinya.


“Ah iya...disamping ku, dia bernama Xue Yoongi”ucapnya menunjuk kearah Yoongi yang kini menatap balik kearah dua gadis. Intari tersenyum. “Oh...kenalin Kim Haneul Nim Jae”ucapnya.


Echan mengangguk. Begitu juga Yoongi yang mengangguk dan kemudian beralih untuk pergi menyusuri ruangan. Echan kembali berbasa basi dengan Amelya. Sedangan Intari memilih keluar dari ruangan dan meninggalkan mereka bertiga. Entah kenapa ia ingin sendiri sekarang.


Matanya menyusuri segala ruangan, pikirannya kalut tidak karuan ada kenangan yang tersimpan dalam memorinya.


“Yoongi....lupakan kita pernah bertemu...aku tidak ingin menyakitimu lagi..cukup sampai disini woke”


“apa maksudmu..Indah...apa kau tidak mempercayai cintaku”


“untuk apa aku tidak percaya, jika kau saja mampu memberikan duniamu khusus untukku..tapi Yoongi, tidak ada yang tahu takdir, tolong jangan membuat dirimu terbelagu dengan kurungan yang tidak jelas”


“tidak..aku tidak akan melupakanmu, aku akan tetap mencintaimu, kembalilah...aku akan menunggumu”


“apa jaminan ucapanmu”


“Yoongi...aku merasa suatu saat nanti, kita akan serasa asing, walau hati serasa familiar..entah kenapa, tapi yang pasti, jika itu terjadi, ku harap kau masih bisa tersenyum kepadaku”


Mengingat hal yang sudah lama terlupakan, kini kembali lagi. Dan mereka dipertemukan dengan situasi yang sangat berbeda. Tidak saling menunggu, melainkan saling bersapa asing. Layaknya orang yang pertama kali berkenalan. Takdir memang indah.


Intari berdiri disalah satu dinding yang terlihat kosong. Hanya ada lampu dinding yang tergantung disampingnya. Tanpa sadar membuatnya bersandar dilampu tersebut. Untungnya lampu itu tidak hidup. jadi ia bisa tenang. Namun entah tanpa disadari, lampu tersebut bergerak tergeser kesamping.


“EH”kaget Intari. Ia hampir terjatuh. Untungnya ada seseorang yang menahan tubuhnya. Dengan pelan, ia berdiri semula dan menatap kearah orang yang menolongnya.


Mata sendu, tenang dan terkendali. Intari tersenyum miris, ia lagi-lagi merasa rindu dengan tatapan itu. Tatapan yang selalu terlihat tenang dengan wajah datarnya. “terimakasih Tuan Xue”ucap Intari.


Yoongi hanya mengangguk. Ia pun beralih mengamati pintu rahasia yang terbuka dengan tiba-tiba.


Tak berapa lama, Amelya dan Echan menyusul. “apa yang terjadi?”tanya mereka bersamaan. Intari merasa lucu akan hal ini.


‘masih sama seperti dulu..’benak Intari.


Mereka berempat pun melangkah memasuki ruangan yang tersembunyi. Sebenarnya Intari dan Amelya tidak ingin diajak, tapi entah kenapa Yoongi Malah menyuruh Intari dan Amelya ikut.


Intari dan Amelya juga tidak enak jika harus ikut masuk, tapi mengingat misi mereka, mereka pun berusaha sebaik mungkin agar tidak dicurigai. Apa lagi mendapat izin mengikuti langkah mereka.


Melupakan masalah hati, Intari dan Amelya kini kembali ketujuan. Mereka juga ikut mengamati. Saat ini ruangan rahasia yang mereka masuki terdapat tangga yang menjulang kebawah tanah. Membuat keempatnya melangkah dengan hati-hati, agar mampu menyusuri ruangan tersebut.


Langkah demi langkah. Tapi tidak ada yang tahu, ternyata anak-anak tangga yang mereka lewati. Berdebu, membuat sepatu yang dipakai Intari dan Amelya tergelincir. Untungnya kedua orang itu ditolong oleh dua orang yang lain. Iya saat ini Intari melangkah bersama Yoongi. Dan dibelakang mereka ada Amelya dan Echan yang juga melangkah bersama. Meski tangga tersebut terlihat sempit. Tapi untuk dua orang yang jalan bersama. Tangga itu masihlah muat.


Setelah lama melangkah mengiringi anak tangga. Mereka berempat tiba dilantai yang menjadi tempat terakhir untuk mereka. Memandang ruangan tersebut. Membuat mata mereka masing-masing terbelak.


Ruangan rahasia ini ternyata sebuah lab yang digunakan oleh seseorang. Tapi melihat tempat ini dapat dipastikan bahwa tempat ini telah lama ditinggalkan.

__ADS_1


Intari melangkah menuju kemeja kerja yang ia yakini adalah tempat untuk menyusun dan mempelajari teori-teori. Dan ia juga melihat beberapa tumpukkan buku yang sudah berdebu.


Amelya mengamati sebuah tabung yang terlihat usam. Ia mengusap bagian dinding kaca yang melingkar. Mengamati yang terlihat didalam sana. Ia melihat cairan yang tersisa. “sepertinya ruangan ini memang sudah lama ditinggalkan”gumannya.


Yoongi dan Echan mengamati setiap meja-meja yang begitu banyak tombolnya. Serta papan tulis yang terlihat rumus-rumus kimia. Walau berdebu dan sudah ada beberapa terhapus. Yoongi dan Echan berusaha untuk mengambil beberapa gambar untuk dijadikan penelitian mereka.


Intari jangan ditanya. Sudah dari awal ia mengambil semua gambar yang ada. Walau Kameranya disita oleh Yoongi yang tidak mengijinkan dirinya. Tapi jangan lupa bahwa gelang yang dipakai Intari bisa menangkap gambar apa pun jika diarahkan ketempat yang ingin diambil gambarnya.


Kenapa Kamera Intari diambil, karena Intari tidak menyadarinya. Saat terduduk lemas. Kamera itu juga ikut terjatuh dari tangannya. Dan diambil oleh Yoongi. Intari tidak ingin memintanya, karena menurutnya lebih baik tidak ada yang curiga isi gambar yang ditangkap oleh Intari sebelum tiba dirumah ini.


Mereka mencari dan menyusuri setiap ruangan. Sampai ruangan tersebut telah terjelajahi. “sepertinya kita harus kembali...ini sudah menunjukkan waktu Malam..kalian berdua naiklah”ucap Echan.


Mereka menghabiskan waktu begitu lama. Hanya untuk memeriksa ruangan lab yang tidak terpakai. Intari juga merasakan hal yang sama. Lebih baik dirinya dan Amelya naik, agar dua orang ini tidak curiga pada mereka. Jadi Intari mengangguk dan membawa Amelya naik. Dan Kamera milik Intari dikembalikan oleh Yoongi setelah memastikan itu aman.


Sepeninggalan Intari dan Amelya. Yoongi didekati oleh Echan.


“Yoongi...apa kau merasa mereka seperti orang yang familiar?”tanya Echan.


“bukannya kita pernah melihat mereka dicafe waktu itu?”tanya Yoongi balik.


“iya aku tahu...tapi ada rasa familiar untukku..aku melihat tatapan gadis yang bernama Kim Ara itu, membuat diriku mengingat Amel”ucapnya dengan suara yang sedikit dipelankan. Tapi Yoongi masih bisa mendengarnya.


“Mungkin perasaan kita sama. Aku juga merasa melihat wanita yang bernama Kim Haneul itu juga seperti melihat Indah....”


Keduanya terdiam sesaat. Sebelum suara terjatuh terdengar oleh mereka berdua. Mereka pun naik keatas menyusul suara yang terjatuh tadi.


-


Intari dan Amelya yang tiba diatas. Melangkah cepat untuk bisa keruang tamu.


“Intari..apa mereka benar-benar Yoongi dan Echan?”tanya Amelya menatap kearah Intari. Ada rasa rindu ditatapan itu.


“tidak salah lagi, itu mereka...apa yang kita pikirkan benar Mel..kita bertemu dengan mereka lagi, sekarang sepertinya takdir selalu mempertemukan kita dalam keadaan seperti ini”


“Intari..aku masih menyimpan rasa yang sama”


“aku juga”


“aku masih merindukan suaranya”


“aku juga”


“aku masih berusaha untuk tenang”


“aku juga”


“apa kita tidak jujur saja sama mereka. Bahwa kepergian kita waktu itu bukan karena keinginan kita”


“Cukup Amel....aku tidak ingin membuat masalah baru lagi, biar waktu itu tetap seperti itu...Mel, jika mereka mencintai kita. Aku yakin saat itu juga mereka akan mengenggam kita, tidak akan melepaskan kita....hanya saja, kita sepertinya harus bersabar”


“tapi..tapi..Indah, Evita tidak akan menyetujui hal ini”


“kenapa begitu, Evita akan selalu mendukung kita Mel...jangan berpikir pendek...kita harus tenang. Aku yakin masalah yang lalu saat itu bisa diselesaikan sekarang. Sepertinya takdir membuat kita bertemu dengan mereka...”


“dan kita harus bersama”


“benar Mel...saat ini yang terpenting adalah menyelesaikan kasus ini, dan untuk masalah ini, kita pikirkan bersama”


Amelya mengangguk.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2