MANTIV

MANTIV
● Mantiv(55)


__ADS_3

“Eh benar juga....wah engak beres nih orang....yang lain cek diluar, sisanya tunggu disini”ucap Indah yang disetujui oleh yang lain.


Indah,Amelya,dan Nabila tinggal ditempat. Sedangkan Inul dan Evita mencari keluar. Mereka melakukan penyamaran mereka sebagai akses pencarian.


“Maaf”Evita menghentikan salah satu pelayan yang baru saja keluar dari ruangan VVIP. Pelayan itu pun mendekat.


“Ada yang bisa saya bantu Nyonya?”tanya Pelayan itu dengan ramah. Ia seorang Pria. Evita tersenyum sesaat “Begini...aku mencari seorang Pria..mungkin anda mengetahuinya....Namanya adalah Tuan Qasit”ucap Evita.


Pelayan itu tampak kebingungan dengan perkataan Evita. “Maaf sebelumnya, Tuan Qasit ini tak ada dalam ruang VVIP yang ada. mungkin anda mencari orang yang salah”ucap sang pelayan sambil tersenyum.


Evita mengerutkan alisnya. “Lah bukannya Miss bilang Qasit..kenapa engak ada disini....”benaknya. ia melanjutkan “Apa disini ada seorang tuan yang menunggu kedatangan orang lain?”tanya Evita. mungkin mereka salah mengingat nama orang yang menjadi target mereka dalam misi.


Mendengar hal itu, membuat Pelayan itu langsung mengangguk “ada seseorang yang menunggu kedatangan lima gadis....ia ada diruangan sebelah ruangan itu”ucapnya. Evita melihat kearah ruangan yang ternyata disamping ruangan mereka sendiri. setelah menemukannya. Ia pun berterimakasih dengan Pelayan tersebut.


Evita memberikan pesan singkat kepada Empat yang lain. ia memilih untuk datang terlebih dahulu. dan akan menunggu yang lain datang.


Tuk


Tuk


“Permisi”ucap Evita. ia berusaha menunggu, tapi didalam tak ada tanda-tanda ingin membuka pintu. Dengan inisiatif sendiri, ia pun membukanya.


Memindai kesegala arah. Hingga ia dikagetnya dengan tergeletaknya orang yang ada dilantai. Darah baru saja mengalir. Membuatnya mundur hingga menabrak Inul.


“Apa yang terjadi?”tanya Inul yang kemudian melihat dengan matanya sendiri.


“Eh...orang ini mati?”tanya Nabila sambil menutup mulut tak percaya. Yeah mereka baru kali ini bertemu dengan kejadian seperti ini.


“Periksa sekarang”ucap Amelya. Ia memanggil salah seorang pelayan untuk membawakan seorang dokter yang ada. biar diobati. Sedangkan Evita, Indah dan Inul memeriksa sekeliling. Nabila memandang orang yang tengah berbaring.


“Ia sudah tak bernyawa”akhir dari pendapat Nabila. Ia melihat keempat orang yang lebih tua darinya.


Seorang Pelayan pun datang dengan dokter yang diminta. Mereka melakukan pemeriksaan. Dengan hasil yang sudah dikatakan oleh Nabila. Bahwa orang tersebut telah pergi. Ia terkenal racun yang membuatnya langsung meninggal dalam hitungan detik.


“Sial....”umpat Indah dalam benaknya. Mereka melupakan pesan terpenting dari Miss Lila.


“Ingat....Misi kali ini, adalah misi yang berat, jika gagal..kalian akan gagal total....selain kalian, ada orang yang juga menginginkan koper itu..jadi kalian harus hati-hati”


“Apa yang akan kita lakukan?”tanya Inul yang kini mereka berlima kembali keruangan mereka. mereka telah memeriksa bahwa orang tersebut adalah orang yang mereka cari. Dan tak ada tanda-tanda kemana orang yang membunuhnya pergi.


Evita,Indah dan Amelya terdiam sesaat. Sebelum akhirnya Evita menyampaikan idenya. “Aku tak yakin semudah ini, mereka pasti ada disekitar sini...saat aku masuk, gengang pintu itu masih panas. Kemungkinan seseorang baru saja keluar meninggalkan ruangan. Menurut kalian, kemana kalian akan pergi setelah membunuh orang?”tanya Evita.


Inul menjawab “Aku pasti langsung pergi keluar...kan sudah berhasil mendapatkan apa yang kita cari”


Evita langsung mengeleng “Tidak bisa...hanya ada satu jalan keluar, yaitu pintu masuk....dan ruangan ini memiliki keamanan, kemungkinan sulit untuk keluar semudah itu”


Nabila menyampaikan pendapat “Kalau aku..mungkin akan pergi ketoilet....untuk membersihkan diri dan mengatur rencana lain”


Evita lagi-lagi mengeleng “Ke toilet memang benar....tapi koper yang kau bawa akan dengan mudah ditebak. Saat ketoilet barang-barang kita akan dititip kesalah satu pelayan....ingat pelayan yang berkeliaran disana sini”


Amelya kini berpendapat “Kalau dua hal itu tidak memungkinkan..apa ia hanya akan berdiam diri..tak mungkin seseorang keluar dari ruangan lalu tak ada jejaknya...menurutku ia mengetahui segala yang ada..seperti kenapa orang tersebut ada diruangan lain sedangkan janji kita diruangan ini”


Indah mengangguk “Benar...kemungkinan orang ini sudah dari awal tahu bahwa ia datang. Dan dengan cepat menuntun orang tersebut menuju ruangan lain....hanya orang yang dengan mudahnya bergerak kesana sini bukan?”


Mereka berlima langsung berdiri dari duduk mereka. dengan cepat mereka melangkah keluar. “Ubah kegiatan kita”ucap Evita.

__ADS_1


Mereka pun berpencar kesegala arah. Hanya satu kemungkinan akhir, bahwa orang yang mencuri akan pergi saat ini. Dan orang tersebut adalah seorang Pelayan yang menyamar.


Dalam ruangan yang masih ramai menghadirkan banyaknya orang-orang membuat mereka sedikit kesusahan. Indah dan Nabila melangkah menuju kearah pintu masuk. Inul dan Amelya memilih untuk meninggalkan ruangan dengan melompat dari jendela. Mereka dengan mudahnya terjun tanpa takut dengan apa yang dilihat.


Setibanya ditempat. Inul dan Amelya berpencar mencari seseorang yang kemungkinan akan pergi dengan mengunakan transportasi yang memudahkannya agar tak terlihat.


Evita kini menyusul keluar setelah Nabila dan Indah keluar. Mereka ikut berpencar hingga Mata Evita mengangkap sebuah objek yang baru saja masuk kedalam taksi.


“Itu dia..arah jam satu...”ucap Evita mengenakan earphone miliknya. mereka berlima langsung melesat meninggalkan acara. Dengan motor masing-masing.


Mengebut membelah jalan, mereka mendapatkan kejutan lain yang dimana sebuah mobil hitam tengah mengejar taksi tersebut.


“Sial..ada orang lain yang menginginkan koper itu”ucap Nabila dengan earphonenya. Membuat yang lain langsung mendengarnya.


“Kita tak bisa membiarkannya begitu saja...ini misi kita sendiri..sudah yang lain, ayo bermain”ucap Evita yang langsung membuat Empat yang lain tersenyum mendengarnya.


“Indah dan Nabila ambil jalan pintas bagian kanan...seperti rute yang diberikan. Ada kemungkinan Taksi ini tak akan berbelok...karena rute ini menuju kereta bawah tanah”perintah Evita yang langsung membuat Indah dan Nabila meninggalkan tempat mereka menuju apa yang diperintahkan.


“Inul dan Amelya bisa kalian ikuti disini...kabari aku jika ia merubah posisi..akan ku hadapi pengendara mobil ini”ucap Evita. Inul dan Amelya mengiyakan apa yang diperintahkan.


Setelah mendengar apa yang disuruh. Inul dan Amelya melakukannya. Sedangkan Evita melanjutkan motor untuk menyusul kecepatan Mobil yang kini tengah menjadi penghalang mereka.


Tak ada yang menduga akan terjadi hal yang lain. motor lain datang menghalangi Evita. membuat Inul dan Amelya yang melihatnya langsung menatap tajam. “Sial...lagi-lagi bantuan?”guman mereka berdua.


“Lanjutkan saja tugas kalian..akan ku hadapi ini”ucap Evita. ia meladeni orang yang kini sejajar dengan kecepatannya. Mereka tak saling menyerang. Cuma sang Pengendara motor ini menghalangi kecepatan Evita untuk mendekati mobil yang menjadi penganggu utama.


“Sial ini orang”benaknya. Ia menatap dengan lekat kearah Pengendara yang kini menatapnya juga. Helm yang sama-sama tertutup itu menghadiran tanda tanya siapa yang ada disana.


Hingga salah satu cahaya mengenai helm mereka.membuat mata mereka saling bertemu dengan cepatnya. Mata yang masing-masing membelak melihat apa yang dilihat.


Inul dan Amelya mendapatkan ide lain, melihat bahwa sang pengendara motor yang menganggu itu tak mau melepas Evita. jadi mereka mengunakan ide lain.


“Evita....biar Amelya yang mengatasi Mobil itu...untuk Taksi biar Aku yang urus..kau urus saja orang yang bermotor itu..menganggu sekali”ucap Inul yang langsung diiyakan oleh Evita. yeah lagian ia masih merasa kaget dengan ketidakpercayaannya.


Dua motor melewati Evita dan Pria yang menganggu. Membuat Inul dan Amelya dengan mudahnya mendekati mobil yang kini tinggal beberapa meter lagi.


Tapi lagi-lagi motor lain datang, dan menghalangi Amelya. “Ih...motor siapa lagi nih”ceplos Amelya dengan rasa kesalnya. Membuat Indah yang menunggu dari kejauhan langsung melesat menghalangi Motor itu.


Nabila menghalangi Taksi yang kini telah berhasil dihentikan. Membuat semua orang berhenti ditempat mereka.


Inul yang turun dari motor terlebih dahulu langsung bergegas mendekati Taksi. Setibanya disana, yang didapatkan olehnya adalah seseorang menyodorkan pistol kearahnya.


“Siapa kalian..berani mendekat”ucapnya. Namun itu membuat muak Nabila yang tiba langsung menghantam bagian leher belakang. Koper tersebut kini dipegang olehnya.


“Pergi”ucap Evita yang kini tiba ditempat. Membuat Nabila langsung bergegas kemotornya. Tapi seseorang mengambil dengan mudah koper tersebut dan melemparnya kemotor yang kini melaju dengan cepat.


Evita berdecik dengan kasar. Ia menancamkan gasannya. Begitu juga dengan yang lain. meninggalkan pria yang kini kebingungan menghadapi segala situasi.


“Aduh bagaimana ini..pak bayar dulu pak...baru pingsan”ucap sang Supir taksi.


Evita melesatkan motornya mendekati pria yang kini bisa didekatinya. Tangannya ingin mengapai koper yang terletak ditangan kiri pria itu. Tapi Pria itu mengeser motornya yang membuat Evita tak bisa mengapainya.


Disisi lain, masing-masing dari mereka menghadapi motor dan mobil. Inul dan Nabila harus terhalang dengan mobil yang kini menghalangi mereka. ingin melewati ada banyak mobil dan motor yang lain. membuat mereka merasa kesal.


Indah dan Amelya harus menghadapi motor yang entah dari mana bisa menyusul kecepatan mereka. membuat mereka berdecih dengan kasar. Tak ada lagi rencana. Satu-satunya kesempatan mereka adalah mendapatkan kembali koper tersebut.

__ADS_1


Harapan mereka kini ke Evita yang bersejajar dengan pembawa koper itu.


Evita terdiam sesaat, didepan ada tiga jalan. Kalau ia lurus. Kemungkinan pria ini berbelok atau berhenti. Membuatnya mengambil ancang-ancang yang lain.


“Pak Polisi..maaf membuat keributan”benaknya. Dengan cepat ia menempatkan diri dan kemudian mendekatkan motornya. Dalam hitungan nafas. Evita melompat dari motor dan menaiki motor yang kini tengah dikendarai sang pembawa Koper.


Motor Evita melesat tanpa pengemudi hingga menabrak trotoran yang menghadirkan kemacetan. Ia yang melihatnya hanya bisa tersenyum miris.


“Moga Reza tak memarahi ku heheh”benaknya. Ia kembali konsentrasi dengan yang kini dihadapinya. Pria itu tetap melesat tak memikirkan apa yang terjadi. Ia berbelok kekanan saat tiba ditikungan. Membuat Evita mengetahui apa yang dipikirannya.


Inul,Nabila, Indah dan Amelya sedikit tercenga dengan tindakkan Evita. yeah mereka hanya tak bisa membayangkan motor mahal itu harus dibaiki lagi oleh para karyawan detektif.


Mereka pun dengan cepat menyusul orang yang kini mulai menjaga jarak dari mereka. ditambah ada penganggu yang harus mereka hadapi.


Evita terdiam sesaat. Pria didepannya tak menyerang dirinya. Mana lagi kecepatannya ini lebih cepat dari motornya. Ia sedikit tak terima. Hingga mereka menabrak sesuatu yang membuat Evita refleks memeluk orang didepannya. Membuat Evita terdiam seribu bahasa.


Dan hal yang tak terduga terjadi. Tangan Evita yang ingin melepaskan pelukkan kini ditarik dan dikencangkan kembali. Membuat Evita membelakkan matanya. Ia merasa koper ditangannya. Tergenggam ditangan Pria ini, membuat jiwanya mengila.


“Tuan....aku tahu kau pria....bisa kembalikan koper itu”ucap Evita. membuat Inul,Indah,Amelya, dan Nabila terteguh mendengarnya. Yeah nada bicara Evita kali ini sedikit.ehm gimana yah..manja gitu.


Tak ada jawaban. Evita mendapat ide lain. tangan yang memeluk pria didepannya ini, diangkat olehnya hingga menyusuri dada Pria yang mengenakan jaket hitam. Ia memainkan resletingnya.


“Tuan...aku tak bisa membiarkan kau membawa koper itu..jadi bagaimana kalau kita buat kesepakatan”kata kesepakatan menarik perhatian Pria itu. Bukan katanya tapi tangan yang kini dengan seenak jidat berjalan liar ditubuh Pria itu. Ia dengan cepat menghentikannya. Tapi tak menyadari bahwa itu yang dijadikan peluang oleh Evita.


Ia dengan cepat mengambil koper itu kembali dan dengan cepat pula melesat melempar diri kesalah satu bendungan. Dengan tali yang bisa membantunya. Ia langsung melesat pergi.


Sebelum pergi, Evita sempat berbicara “moga ketemu lagi Tuan...permisi”ucapnya yang langsung pergi dengan tali penyelamatnya.


Pria itu menghentikan motornya. Inul. Indah.Nabila,dan Amelya melewati dirinya yang kemudian Evita ikut dimotor Amelya.


“Hahahha...seru juga ya”ucap Evita sambil mengamankan koper yang dipegangnya. Pengendara motor yang mengejar mereka kini hilang tanpa tanda-tanda.


“Seru kepalamu....kau pikir itu tak berbahaya...ku adukkan ke Reza baru tahu”ucap Amelya yang memberikan sikuan keEvita.


“Eh jangan..bahaya..Ayah angkatku bisa tahu nanti..diam aja lah..yang penting kita dapat kopernya”ucap Evita menahan sakit diperutnya akibat sikuan dari Amelya.


“Kurang manja sih yang ngomong tadi”ucap Indah yang terkekeh setelah mengatakannya. Membuat Nabila, Inul tertawa mendengarnya.


Evita yang mendengar tersipu malu, wajahnya seketika memerah. “Sial..eh asal tahu aja...aku terpaksa melakukannya”ucap Evita sambil membuang muka.


Tak ada yang mendengarkannya. Yang lain hanya tertawa bebas dengan mengejek sepuasnya.


Malam itu misi mereka tak berjalan lancar. Kekacauan terjadi. Tapi tak membuat mereka risih. Meski motor detektif menjadi tumbal. Selain itu mereka juga menghadapi amukkan dari Reza yang mendengar bahwa mereka belakangan ini sering keluar malam tanpa penjelasan lengkap.


Membuat Evita mengarang cerita. Ia mengatakan apa yang ada diotaknya dan untungnya Reza percaya, meski tak ada yang tahu apa yang membuat Reza begitu khawatir kepada Evita.


Selain itu Kelima gadis ini harus mendapat nasehat dari Miss Lila dan Liyana karena mereka hampir membahayakan diri. Bahkan mereka diberi pelatihan ganda sebagai hukuman. Membuat hari-hari mereka penuh dengan keluhan.


-


“Kami ingin melakukan pertemuan”ucap seorang Pria yang kini menghadap kearah meja rapat.


Miss Lila yang mendengarnya hanya terdiam. Pria itu melanjutkan “Kami tak menyangka kau membangun anggota detektif tanpa persetujuan kami..dan itu mengangguk anggotaku...aku ingin mereka dites untuk melakukan kerja sama dengan kelompokku”


Miss Lila yang mendengarnya mengangguk. Pria itu pun berdiri “lagian...Sudah saatnya penerusmu yang melanjutkan dirinya....kalau begitu besok pertemukan mereka”akhir dari ucapannya sebelum melangkah pergi keluar ruangan. Membuat Miss Lila menghela nafas.

__ADS_1


__ADS_2