MANTIV

MANTIV
● Mantiv(127)


__ADS_3

“Ada yang bisa saya bantu Tuan?”tanya Pak Security yang memandang kearah Mavin Vintorin.


Mavin Vintorin langsung mengangguk, “Pak, apa Nona Liyana ada?”tanya Mavin Vintorin dengan ramah. Pria berhati dingin itu menjadi ramah semenjak mengenal Evita.


“Nyonya Liyana ya, sebentar ya Tuan”Pak Security langsung menghubungi orang terdalam digedung.


Mavin Vintorin yang mendengar panggilan Liyana adalah Nyonya, membuatnya Tersenyum.


“Kau bukan sembarangan orang Liyana”benaknya.


Pak Security itu menatap kearah Vintorin kembali, “Tuan, Nyonya Liyana sedang ada urusan, Ia tak ada didalam perusahaan..saya sarankan lebih baik anda membuat janji dengannya, karena Ia akan menyempatkan waktu untuk anda”usul sang Security.


Vintorin yang mendengarnya mengangguk, “Baik terimakasih Pak”


Vintorin melangkah mendekati mobilnya, hatinya merasa sedih karena sampai saat ini belum menemukan Liyana. Ia tak ingin terus menundanya, takut nanti Liyana makin membenci dirinya karena tidak bertangung jawab.


“Apa Aku harus meminta nomornya?”benak Vintorin, Ia ingin membalikkan tubuhnya untuk meminta nomor Liyana agar mudah membuat janji. Namun..


Bruk!!!


“Ouch!”


Vintorin menatap kearah seseorang yang mengaduh kesakitan. Terlihat beberapa Pelayan mendekati kearahnya.


“Tuan Muda Vino, anda tak apa-apa?”tanya Pelayan wanita yang menjadi pengasuhnya.


Vino mengeleng, Ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang ditabraknya. Mata mereka saling bertemu dan berhasil membungkam keduanya.


“Tuan Muda Vino, Mari saya gendong”Pelayan wanita itu memecahkan keheningan dua orang yang saling menatap.


Vino yang sadar langsung menghentikan Pelayan yang ingin mengendongnya, Ia pun bangun dari duduknya dan berdiri didepan Pria yang memiliki mata sama dengannya.


Pelayan yang melihat aksi tersebut langsung menatap kearah Pria berkulit madu. Mereka yang melihat hal ini langsung menutup mulut karena wajah Tuan Muda mereka sama dengan Pria asing didepan mereka.


“Pak, apa kita pertama kali bertemu di bandara?”Vino bertanya dengan santainya.


Membuat Vintorin bertekuk lutut untuk menyamakan tingginya, meski masih tinggi dirinya.


“Iya benar Nak..perkenalkan, Aku Mavin Vintorin”sapa Mavin Vintorin dengan memberikan uluran tangannya yang langsung disambut oleh Vino.


“Aku Vino..Vino-Li”balas Vino dengan wajah seriusnya. Wajah tersebut mirip sekali dengan Vintorin. Melihat hal itu para pelayan langsung menatap satu dengan yang lain.


Vino yang memiliki kulit yang sama seperti Pria didepan Vino, namun cara senyum Vino dan nada bicarannya sama seperti Liyana. Pelayan yang ada dibuat kebingungan.


“Apa Kau Ayahku?”tanpa basa basi, Vino langsung bertanya kepada Vintorin yang menatap kearahnya.


“Jika Aku bilang Iya, apa kau akan marah kepadaku?”tanya Vintorin dengan menatap kearah Pria kecil yang ingin sekali dipeluk olehnya.


“Aku?....Iya Aku akan marah kepadamu karena meninggalkan Ibu, tak menolongnya dan bahkan Kau tak ada disampingnya, Ibu bahkan harus berkelahi dengan Tante Evita hanya untukmu. Tapi Kau tak sama sekali memilih Ibu, Apa Vintorin mencintai Tante Evita?”


Vintorin mendengar pertanyaan itu langsung mengangguk, tak ada yang salah. Ia memang mencintai Evita. “Aku mencintai Evita, tapi saat itu, meski sekarang masih mencintainya.hanya...”


“Tingalkan lah kami, jangan tunjukkan wajahmu lagi, jika kau mencintai Tante Evita, maka pergilah..Aku yakin kedatanganmu disini pasti karena merasa bertangung jawab kan..tak perlu, Aku bahagia bersama Ibu tanpa dirimu”Vino melangkah pergi meninggalkan Vintorin yang terdiam ditempat.


Pelayan yang melihatnya mengikuti Tuan Muda yang memang menjadi tugas mereka. melihat Vino yang sudah masuk kedalam perusahaan, membuat mereka menyusul dirinya.


Security yang melihat hal tersebut langsung menepuk pundak Vintorin.


“Nak, apa benar Kau adalah Ayahnya?”tanya Pak Security tersebut. Vintorin mengangguk.


“Iya Pak, makanya Aku datang kesini”jawab Vintorin.


“Nak, lebih baik pulang dulu, tenangkan pikiran lalu kembali lagi..Tuan Muda Vino sepertinya menyukai anda”tutur kata tersebut berhasil membuat Vintorin mengangkat kepalanya.


“Aku datang kesini karena merasa ingin bertangung jawab, dan benar apa yang dikatakan oleh Anakku, mereka tak memperlukan tangung jawabku”entah sejak kapan Vintorin menjadi mudah sedih dan mengeluh seperti ini.


“Nak..Nak, jika Kau merasa bertanggung jawab, kau mungkin tak akan datang kesini, tapi Kau pasti akan mengirimkan uang kepada mereka untuk menafkahi keduanya, namun Kau datang kesini. Yang berarti Kau bukan hanya bertangung jawab, tapi berniat untuk menjadi dekat dengan mereka dan membangun keluarga...”


Vintorin diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pak Security. Pungung yang ditepuk pelan itu seperti memberikan kehangatan didalamnya. Membuat Vintorin kembal mendapatkan kepercayaan dirinya.

__ADS_1


“Jadi, tekadkan didalam hatinya, bahwa Kau berniat baik..Bapak yakin mereka akan menerimamu”dukungan diberikan kepadanya.


Vintorin mengangguk, “Terimakasih Pak..ucapanmu membantuku, Aku akan kembali lagi.bisa anda berikan nomor ponsel Nona Liyana?”


“Untuk Nomor Ponsel, sepertinya tidak bisa karena kami tak memilikinya, tapi nomor telpon kamar Nona Liyana bisa, sebentar”Pak Security itu mengambil lembar kertas lalu menulisnya.


“Ini Nak, semangatlah..Bapak mendukungmu”entah apa yang membuat Dirinya mendapat dukungan. Vintorin tahu bahwa Bapak ini pasti mengerti kesalahannya. Jadi memberikannya dukungan sampai selebih ini.


“Terimakasih Pak”Vintorin mengambil kertas tersebut dan menyimpannya. Lalu melesat pergi meninggalkan kawasan yang dijaga ketat oleh orang-orang.


“Tunggu Aku Liyana”benak Vintorin.


-


“Dia sudah pergi?”tanya Vino menatap kearah Pelayan wanita yang menjaganya. Pelayan tersebut mengangguk menjawab pertanyaannya.


Yeah pelayan itu hanya mengikuti perintah, namun Ia juga mendapat kejutan kalau Ayah dari Tuan Muda ini adalah Pria yang sangat tampan.


Vino sengaja bertemu Ayahnya saat dirinya melihat kedatangan Vintorin dari kejauhan.


Dan bagaimana Ia tahu kalau itu adalah Ayahnya, tentu saja otak yang encer mengingat ucapan dari perkelahian Ibu dan Tante Evita. Ia mengingat jelas siapa yang menjadi Ayahnya. Maka ia bertanya siapa nama Pria tersebut dan langsung mengetahui kalau itu adalah Ayahnya.


“Tante Evita, seperti ucapanmu, Aku memberikan tantangan besar untuk Ayahku, apakah Ia seperti ucapanmu, yang akan menjaga dan menjadikan Kami sebagai keluarganya?”benak Vino yang menutup tirai kamarnya.


-


Amelya memasakkan makan siang untuk semua orang. Kali ini Ia memasak untuk membantu Intari yang membersihkan kamar Evita.


Mereka tidur diruang rawat? Bisa dibilang begitu, karena keluarga Alex memberikan tempat untuk mereka. memang menjadi tanya –tanya kedatangan Keluarga Alex. Namun mereka tak bisa bertanya langsung hanya bisa berbenak dengan pikiran positif.


“Apa yang Kau lakukan?”tanya Echan yang datang membawakan sayuran yang dibeli olehnya.


“Memasak, setidaknya kita makan-makanan yang bergizi bukan?”Amelya memasukkan bumbu-bumbu perlengkap masakannya.


Echan yang mendengarnya mengangguk, “Bagaimana kabar kak Evita?”tanya Echan yang meletakkan sayuran didalam tempat pendingin.


Meski Evita dinyatakan selamat, Ia masih belum bangun. Dan itu menjadi beban pikiran mereka.


Echan yang mendengar ucapan tersebut, tersenyum kecil. Ia mendekati Amelya yang mematikan kompor listrik lalu memindahkannya masakkannya kedalam tempat agar mudah dibawa nanti.


Echan memeluk Amelya dari belakang yang berhasil membuatnya kaget. “Apa yang kau lakukan, masakkannya akan tumpah”ucap Amelya dengan wajah memerahnya.


Bukannya menjauh, Echan meletakkan dagunya dibahu kiri Amelya. Lalu tangan Kanannya membantu Amelya memegang wajan.


Amelya yang mendapati kedekatan seperti ini membuatnya berdegup-degup. Dan berhasil membuat konsentrasinya terganggu.


“Lakukan dengan benar Amelya”ucap Echan yang menyentuh tangan Kiri Amelya dengan tangan Kirinya.


Amelya makin berdegup bahkan kedua tangannya gemetar karena hal tersebut, Echan menyadarinya. Ia tersenyum mendapati hal itu.


Setelah menyajikan makanan, wajan itu disinggirkan dan Amelya yang masih dipeluk dari belakang hanya diam ditempat. Bingung mau apa karena Ia gemetar dengan yang terjadi.


Echan yang melihat hal seperti ini ingin sekali memakannya. Namun Ia sadar masih ada hal yang harus membuatnya menahan.


Echan melepaskan pelukkannya, dan mengandeng tangan Amelya untuk berbalik menghadap kepadanya.


“Kenapa Amelya, apa kau tak suka aku memelukmu dari belakang?”tanya Echan. Ia ingin mengerjai Istrinya ini agar tak ada suasana sedih didalam mata Amelya.


Amelya yang mendengar pertanyaan itu makin memerah, Ia menundukkan kepalanya. “A..A..Aku, Aku tidak bilang kalau Aku tak suka”dengan wajah memerah dan menunduk itu membuat Echan tertawa melihatnya.


“Manisnya Istriku”ucap Echan yang memeluk Amelya. Lalu tak lama sebuah ciuman manis mendarat dipipi Amelya.


Bagai kejutan, Amelya langsung membelakkan matanya mendapat hal tersebut. Ia menjatuhkan kepalanya didada Echan yang membuat Echan makin gemes melihatnya.


“Kenapa hm, Kau tak suka dicium?”tanya Echan lagi. Amelya mengangkat tangannya, Ia ingin memukul Echan, namun sayang pukulannya terhentikan oleh Echan.


“Amelya, setelah Kakak Ipar sadar, jagalah dirinya ya..Aku akan menjemputmu”wajah serius Echan membuat Amelya mengerutkan alisnya.


“Apa yang terjadi Echan?”Amelya memandang kearah Suaminya yang tersenyum, lalu mendapati Echan memeluknya dengan pelukkan yang penuh akan kegelisahaan.

__ADS_1


Mendapati tingkah suami yang seperti itu, Amelya hanya bisa terdiam dengan pertanyaan dikepalanya.


-


Intari duduk dikursi taman, Ia memandang kesegala arah yang memperlihatkan orang-orang disekitarnya.


“Aku merasa ini semua mimpi, kehidupan yang ku kira akan penuh kesensaraan ternyata menyimpan kebahagiaan, namun dibalik kebahagiaan terdapat tantangannya”guman Intari. Ia tak menyadari seorang Pria berdiri dibelakangnya.


Greb!!!


“Woahhh!!”Intari ingin membanting seseorang yang berani memeluknya dari belakang. Namun mengangkat tubuhnya yang duduk saja sulit, gimana mau membanting orang dibelakangnya.


“Ini Aku Indah, Yoongi”ucap Yoongi yang melepaskan pelukkannya dari belakang. Intari yang mendapati Suaminya merasa lega.


“Kenapa tak berbicara, Main peluk aja”Intari cemberut menatap kearah Yoongi.


Yoongi yang melihat cemberutnya Intari, tersenyum kecil. Ia mengusap kepala Intari dan menuntun kepala itu untuk bersandar dipundaknya.


“Ada apa Yoongi?”Intari tahu, saat ini semua sedang dilanda kekhawatiran yang mendalam. Apa lagi dengan Evita yang masih belum sadar dari komanya.


“Tidak ada, Aku hanya ingin berduaan dengan Istriku”jawab Yoongi yang mencium puncak kepala Intari.


Intari yang mendapati sang Suami menciumnya, memilih untuk berdiam dengan nyaman bersandar dibahu sang Suami.


“Kapan Evita sadar ya?..Ia sudah lama tidur”Intari menyampaikan perasaannya yang tak tenang. Takut ditinggalkan.


“Baru satu hari Kak Evita tidur, Kau sudah berpikir yang macam-macam. Tenang saja, Kak Evita pasti akan bangun”Yoongi mengusap pungung Intari untuk menyemangati.


Intari yang mendengar ucapan Yoongi mengangguk, Ia memainkan tangan Yoongi yang bebas. Mengukir tulisan yang ia sendiri tak tahu tulisan itu apa.


“Yoongi, Aku ingin sekali mengatakan yang sebenarnya tapi..”Intari berbenak dalam dirinya. Ia hanya bisa terdiam dengan menikmati kehangatan Suami yang menemaninya. Ingin berbicara tapi takut, takut akan kekecewaan. Tapi jika tak dibicarakan, Mungkin akan lebih mengecewakan.


Keduanya yang fokus berdiam diri, dikagetkan dengan munculnya Za yang menyapa mereka.


“Kalian tak makan siang?”tanya Za berdiri didekat dua orang yang kaget memandang dirinya.


“Kenapa dengan kalian?”tanya Za kembali yang melihat kedua orang yang tengah bermesraan itu menjadi kelagapan. Seperti kepergok berduaan.


“Ah.. Kak Za, apa yang Kau lakukan disini?”tanya Yoongi membuka suasana yang sempat bikin malu sendiri.


Za yang mendengar pertanyaan Yoongi langsung menjawab, “Aku menyuruh kalian untuk makan siang, Amelya sudah memasak dan mereka menyuruh kalian berdua disana”


“Oh..Baiklah, Kami akan kesana”Yoongi mengangguk dengan tenangnya.


“Kak Za, Evita kau tinggalkan?”Intari merasa tak biasanya, Za meninggalkan ruang rawat Evita, bahkan mandipun harus dibujuk karena Za begitu ingin disamping Evita.


Namun sekarang, KenapaKak Za mereka ini malah dengan santai keluar dari rumah sakit. Lalu menampilkan wajah kusutnya itu. tak mungkin hanya menyuruh mereka untuk makan kan?.


“Raja ingin berbicara dengan Evita, Jadi Aku membiarkannya berbicara berdua”jawab Za dengan melangkah untuk pergi.


Intari yang mendengarnya, paham akan apa yang dimaksud. Ia yakin saat ini seketarisnya pasti sudah menemukan jawaban dan ingin memperlengkap apa yang dicari olehnya.


“Kita makan?”Yoongi mengulurkan tangannya untuk mengenggam tangan Intari. Intari menyambut uluran tangan itu. mereka melangkah bersama menuju keruang khusus.


-


“Kalian lambat....sudah makan”ucap Amelya yang melihat Sahabatnya datang bersama pasangannya.


Kedua orang itu langsung duduk, dan memulai makan mereka. Amelya memilih untuk memakan cemilan yang dibuatnya dan ingin pergi.


“Kemana?”tanya Intari kepada Amelya. Amelya langsung menjawab, “Aku ingin menjaga Evita, bukannya Kak Za sedang keluar kan?”tanya Amelya kembali menatap kearah Intari.


“Ada Raja yang menjaganya, Kau disinilah...”ucap Intari yang menyuap makanannya.


Amelya yang mendengarnya hanya bisa mengangguk, ingin bertanya tapi ia tahu pasti Raja sedang ada masalah, atau mungkin memang ingin menjaga Evita.


“Oh ya..Sebastian, dimana?”tanya Intari menatap kearah Amelya. Amelya menjawab “Ia, tentu saja berkerja..engak mungkin perusahaan Evita harus berdiam tanpa ada yang mengerjakannya, Ia berada didalam ruangan lain”


Intari mengangguk, Sebastian akan berkerja disiang hari dan akan berjaga dimalam hari. Itulah tugasnya. Dan Raja juga ikutan meski Intari ikut membantu menangani masalah perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2