
kedatangan Evita membuat Amelya terkejut. Ia bahkan masih membenam amarah yang belum terlampiaskan.
“kenapa...kenapa...kenapa kau datang kesini?”tanya Amelya walau tahu jawabannya. Bahwa perusahan detektif ini juga milih Evita.
Evita duduk dengan tenang sambil memandang kearah arena panah yang terdapat beberapa anak panah yang telah tertancap tepat sasaran.
“aku...sebelumnya minta maaf karena telah kasar kepada kalian...namun emang itulah kebenarannya, aku adalah kepala keluarga Kim. Dan tolong jangan terlalu mengangguku”
“Maksudmu....kami menganggu dirimu?” Amelya ingin marah mendengar ungkapan dari Evita. Jujur saja sebagai Sahabat dan Saudara sesumpah. Ameyla melakukan semua ini, perhatian dan kekhawatirannya itu semua bukan untuk menganggu, tapi itu adalah rasa sayang dari seorang Kakak kepada Adik-adiknya.
“Sudahlah...itu tak penting, Amel..aku akan pergi ke perusahaan yang dulu dipimpin oleh Ayahmu....karena aku ada keperluan disana”ucap Evita sambil berdiri dari duduknya.
Amelya kaget dengan ucapan itu, pasalnya setelah kejadian beberapa tahun yang lalu. Ayahnya atau lebih tepatnya Pamannya telah melakukan kesalahan besar yang membuatnya dipenjara. Dan sekarang bisa dibilang kalau Pamannya telah bebas dan kembali bekerja. Tapi tak ada yang tahu keberadaannya. Selain itu kematian orang tua Amelya bertepatan setelah dipenjarakannya Pamannya itu.
Belum sempat ia bertanya. Evita mengucapkan perkataan lain yang membuatnya terteguh.
“Aku datang kesini untuk meminta bantuan kalian, jika kalian mau maka besok datanglah...keperusahaan ayahmu itu...dan jangan lupa bawa peralatan yang diperlukan”
Itu adalah perkataan yang Evita berikan sebelum melangkah keluar dari ruangan.
“jadi...dia ingin kita ikut dalam misinya kali ini....apa tujuan yang sebenarnya tengah ia lakukan?”tanya Intari setelah mendengar cerita Amelya tentang kedatangan Evita.
“Aku tidak tahu Indah..kau tahu sendiri, dirinya sekarang bertopeng...maka apa yang disampaikannya tak bisa kita prediksi..bisa saja ia meminta bantuan tapi dibalik topengnya ia tengah bahagia. Atau Malah sebaliknya” Amelya menyampaikan apa yang ada dipikirannya. Sebenarnya sudah lama ia memprediksi hal ini. Akan ada waktu berputar kembali. Dimana semua terasa asing baginya.
“sejujurnya aku merasa penasaraan...Evita jarang melakukan hal yang diluar dugaan...tapi sepertinya...”Intari mengeleng kepala mengingat hal yang tak ingin diingatnya.
“Bukan lagi..ia pasti telah bertemu dengan Keturunan Mafia itu”ucap Amelya yang mendapat anggukkan oleh Intari.
Kini mereka tengelam dalam pikiran mereka masing-masing. Dan mereka membayangkan hal yang selama ini tak mungkin terjadi. Pertama pertemuan mereka dengan orang yang telah mereka cintai. Kedua pertemuan kembali dengan Derka dan Mavin Vintorin. Itu hal yang tak bisa mereka prediksi. Takdir terus berjalan. Mungkin keinginan untuk melupakan itu tak bisa terjadi. Karena dunia yang luas ini, kadang akan menjadi sempit untuk mereka. hingga yang ingin dilupakan Malah teringat dan sulit untuk menolak apa yang telah dilupakan oleh mereka.
“Ah iya Mel...aku tadi ketemu dengan seseorang”ucap Intari dengan dadakkan membuat para pelayan dan Amelya kaget seketika.
“Siapa yang kau temui Intari?”tanya Amelya dengan merasakan perasaan yang tak enak dihatinya.
“dia...dia telah kembali Mel...kita harus melindungi Evita..bagaimana pun caranya...kita harus melindunginya...”Intari tampak berbeda sekarang. Entah kenapa membuat Amelya berpikir negatif melihat tingkah Intari yang kini mengenggam kedua bahunya dengan erat.
Seakan-akan badai besar akan datang kearah mereka.
“Jangan bilang...dia...dia..”Amelya menatap horor keIntari yang juga ikut memandangnya.
“REZA!!!”ucap mereka bersama-sama yang membuat para pelayan langsung terteguh mendengarnya. Benar pelayan yang ada disini merupakan pelayan yang telah lama berada didekat Intari, Evita dan Amelya. Jadi saat masa-masa sulit mereka, sebelum mereka masuk kedunia detektif. Para pelayan ini telah mengenal mereka sebagai seorang siswi yang berhati baik. Bahkan sempat menjadi seorang tamu tanpa ada jabatan atau majikkan sekalipun.maka wajar jika pelayan yang ada dirumah mereka. tahu tentang Reza sang Pria yang terobsesi dengan Evita melebihi apapun.
“Amel.....besok sebisa mungkin kita harus melindunginya....tak ada yang bisa kita lakukan kalau sampai mereka berdua bertemu”
“kau benar...orang yang telah berhasil membuat Evita merasa risih dengannya...kita harus menjauhkannya”ucap Amelya.
-
Diruangan gelap yang hanya diterangi oleh lampu redup. Seorang pria yang tengah menghisap batang rokoknya dan menghembuskan asap rokoknya. Sambil memandang kearah jendela yang menunjukkan keindahan Malam hari.
Zhan Za Chen, tengah memikirkan apa yang kurang didalam pikirannya. Sudah lama tak melihat wanita yang dicari olehnya. Kim yang telah bertahta dihatinya.
Wanita yang membuatnya berani melangar aturan keluarganya dulu. Sekarang telah berubah total. Dari pada 7 tahun yang lalu. Sungguh semua ini benar-benar menguji dirinya.
“Kim akhirnya...aku benar-benar menemukanmu...”ucapan lirih keluar dari mulut Za yang memandang datar kearah bulan yang begitu terang.
Tak berapa lama suara ketukkan datang dari arah pintu. Membuatnya menoleh dan berjalan kearah pintu untuk membukanya.
“Malam Kakak”ucap Echan dengan wajah yang terlihat lelah.
“Mn..Malam, ada apa denganmu?”tanya Za yang menyadari bahwa Echan tak berpenampilan rapi seperti biasanya.
Echan mengela nafas dengan tenang sebelum berbicara. Setelah merasa perasaan tenangnya. Echan pun mulai berbicara dengan wajah serius. Za yang melihatnya menatap dengan tatapan penuh keingintahuan.
“Kakak....aku mendapat kabar..bahwa tahanan yang kita tangkap disalah satu desa telah dibebaskan beberapa tahun yang lalu. Dengan uang tebusan sebesar 100 juta”ucap Echan. Info ini baru saja ia dapatkan. Jujur saja saat Kakak Putra menangkap pelaku yang bernama Sintro, ia adalah pelaku yang juga membebaskan para tahanan lainnya. Dan anehnya kenapa catatan tentang bebasnya pria itu baru diketahui oleh Echan. Kenapa tidak dari awal saat pria itu bebas. Hal aneh inilah yang membuatnya tergesa-gesa ingin memberitahukannya ke Za.
Za terdiam mendengar penuturan dari Echan. Ia memikirkan hal-hal kebetulan ini. Pertama tentang kematian orang tua Evita, terus pelaku pembuat kabut. Dan hasil penelitian mereka juga menunjukkan bahwa sang Pelaku pembuat kabut tak lain adalah Sintro. Namun ada yang aneh, pelaku ini tak pernah bermain-main kabut lagi setelah kematian sang kekasih. Dan anehnya jika dianalisa kabut yang menjadi penyebab kematian orang Tua Evita memiliki perbedaan sedikit dengan kabut yang dibuat oleh Sintro.
“Ini mungkin ada sangkut pautnya dengan orang yang mengendalikan kematian orang tua Evita...kita harus mencari jejaknya, Echan.....beritahu Yoongi dan Putra untuk mencari jejak Sintro..”ucap Za setelah berpikir panjang. Echan yang mendengarnya mengangguk.
“Baik Kakak..akan ku beritahu Yoongi dan Kak Putra...kalau begitu Aku permisi”
__ADS_1
Kepergian Echan membuat Za kembali larut dalam pikirannya. “ada yang aneh di sini....kembalinya Evita, dan Kembalinya Tuan Derka...apa maksudnya ini”benak Za.
-
Diwaktu yang sama. Seseorang melangkah memasuki ruangan yang memiliki lorong begitu panjang. Dengan suara sepatu yang mulai mendekat kearah pintu yang didalamnya terdapat 20 penjaga dan satu orang yang tengah diberi borgol dikedua kaki, ia tengah menikmati makan Malam yang disediakan oleh seseorang padanya.
Clik
Pintu terbuka, orang yang tengah makan menoleh untuk melihat siapa yang membuka pintu. Matanya berbinar melihat seorang wanita yang memiliki rambut pendek dengan wajah penuh senyum.
“Selamat Malam..Tuan Sintro”ucap Evita setelah melangkah memasuki ruangan.
Yang disapa tersenyum namun beberapa detik senyum itu hilang dengan wajah datar. “Selamat Malam juga....”balasnya.
Evita tersenyum lalu kemudian duduk didepan Sintro yang menatap datar kearahnya.
“kenapa anda duduk disini?”tanya Sintro. Meski ucapannya mengunakan kata Anda, nada bicarannya tengah mengintrupsi bahwa Evita hanya seorang bawahan.
Para penjaga yang berada disana langsung bersiaga dengan senjata yang berada ditangan mereka. Sintro yang menyadarinya langsung menatap kearah Evita yang tengah tersenyum dengan menikmati minuman yang telah disajikan oleh seorang penjaga yang ada.
“Apakah anda yang membebaskan ku?’tanyanya langsung dengan wajah yang kini terlihat santai dari pada wajah yang menantang.
“Hahahah...akhirnya aku bisa berbicara santai denganmu...kau terlalu tegang tadi”Evita meletakkan gelas yang masih tersisa wine. Ia kemudian mengkaitkan jari-jarinya untuk menunjukkan bahwa ia tengah serius sekarang.
“Benar....akulah yang membebaskan anda tuan Sintro”ucap Evita sambil menatap kearah Sintro yang juga tengah menatapnya.
“Terimakasih telah membebaskanku...jadi apa perlu anda...aku tahu bahwa aku tak mungkin dibebaskan begitu saja tanpa ada imbalan apa-apa”ucap Sintro dengan wajah yang serius.
Evita mendengar perkataan itu tersenyum, niatnya ingin ketawa, karena jujur saja. Sebenarnya ia juga tengah gabut waktu itu mengambil keputusan secepat-cepatnya bahkan rela mengeluarkan 100 juta, yeah walau itu tak seberapa. Yang pasti terlalu gabut dirinya cepat-cepat membebaskan pria didepannya ini. Tapi mau gimana lagi, saat itu ia tengah merasa senang karena bisa mendapat pelaku-pelaku yang bersangkutan membunuh orang tuanya. Jadi tak ada salahnya bukan.
“Kau benar...aku perlu sesuatu darimu..hanya sebuah jawaban”Evita memberikan penjelasan tanpa harus membuat pria didepannya kebingungan.
“jawaban?...jawaban apa yang anda inginkan?”tanya Sintro dengan wajah yang mengerut.
“Seperti ini...aku tengah mencari pelaku pembuat kabut..dan kau adalah pembuatnya, tapi ada yang aneh dengan data yang ku dapat, kau hanya membuat tapi kau tak ikut dalam kejadian itu..jadi beritahu aku, siapa orang yang menyuruhmu kembali membuat kabut?”ucap To the point dari Evita. Ia sebenarnya telah menyadari bahwa Sintro bukanlah sang pelaku yang sebenarnya. Ia hanya dijadikan sebagai pembuat bukan sebagai dalangnya. Maka setelah mengetahui hal itu, Evita hanya membebaskannya dan memberikannya perlakuan mewah. Jujur saja sebenarnya ada niat membunuh dihatinya, tapi saat ini yang terpenting dalang orang yang sedang bersenang-senang atas kematian orang tuanya.
“Aku tak bisa memberitahumu...tentang hal itu”ucap Sintro dengan wajah yang kembali serius.
“4 tahun..itu terlalu lama, aku tak akan bisa hidup selama itu”ucap Sintro dengan nada mengejek.
“Tentu saja bisa...sudah ku bilang akan ku berikan jaminan yang memberikan keamanan untukmu”
“aku akan memberitahumu.....tapi bisakah kau menjauhkan dan mengobati seseorang untukku?”
“hm...apa ini berkaitan dengan kekasihmu?”
Sintro kaget mendengar ucapan Evita. “bagai..bagaimana kau tahu?”
“Hahahah....entahlah...aku hanya menebak, soalnya aku pernah bertemu pria yang juga melakukan hal yang sama hanya untuk seorang wanita..dan bisa dipastikan wanita itu adalah kekasihnya”ucap Evita. Ada kilasan tentang dirinya yang tengah terkurung disebuah ruangan. Meski kilasan itu berhasil membuat bulu kunduknya berdiri.
“sepertinya aku harus mencari ingatan buramku ini”benak Evita.
Sintro terdiam mendengar ungkapan dari Evita. Setelah beberapa detik kemudian Sintro pun membuka mulutnya. Ia menceritakan semua kejadian yang terjadi. Mulai dari siapa yang menyuruhnya dan siapa yang membuatnya berakhir seperti sekarang.
“aku sudah menceritakan orangnya...maka tepati janjimu”
“hahaha tentu..maka tinggallah disini, dan tunggu kekasihmu itu datang”ucap Evita yang kemudian berdiri dari duduknya.
Wajah Evita telah terpancar sinar yang mulai terang. Ia merasa bahwa ia telah melangkah dua kali. Pertama ia mengetahui siapa pelakunya dan ia juga mengetahui siapa sang dalang orang yang menyuruh penembak jitu itu. Ini benar-benar salah satu keberuntungannya.
Boom
Pintu pun tertutup. Sintro yang memandangnya meramalkan doa yang besar untuknya. “entah kenapa aku merasa ada hewan buas yang bersemayang diwanita itu”gumannya.
Para pengawal yang mendengarnya hanya terteguh dalam diam. Mereka juga merasakannya. Karena sejak langkah kaki itu masuk kedalam ruangan. Nafas mereka tak bisa keluar dengan tenang sampai kaki itu melangkah keluar.
-
Evita menatap kearah mobil yang berdiri seorang pria dengan mantel ditangannya. Siapa lagi kalau bukan Sebastian yang menundukkan kepalanya. Menyambut Evita.
“Malam Nyonya.....ini mantel anda”ucap Sebastian. Ia memasangkan Mantel yang dibawanya.
__ADS_1
“Malam Sebastian”ucap Evita. Ia pun masuk kedalam mobil setelah Sebastian membukakan pintu mobil.
Mobil yang mereka gunakan kali ini terdapat seorang supir yang ikut kembali bersama Evita dari Amerika. Supir pun melajukan mobil membelah jalan yang kini tengah sepi.
Sebastian berada disamping Evita menatap Nyonyanya terus menerus. Membuat Evita mengalihkan pandangannya dari jalan hanya ingin melihat Seketaris pribadinya yang sibuk memandangnya.
“kenapa?”tanya Evita dengan wajah santainya.
Entah keberanian yang mana datang menghampiri Sebastian. Ia mengangkat tangannya dan meringkuh Evita. Lalu membaringkan kepala Evita untuk bersandar dipundaknya.
“Nyonya...apakah anda marah?”setelah sadar akan kelakuannya. Sebastian berbicara dengan suara yang gemetar. Jujur saja ini pertama kalinya ia melakukan hal ini.
Supir yang telah lama tahun bersama Evita, meneguk ludahnya dengan kasar. Karena melihat tingkah Sebastian yang berani menyentuh Nyonyanya itu.
Evita mendengar suara yang gemetar itu, bahkan tangan Sebastian yang memeluk bahunya juga ikut gemetar. Ingin tertawa melihat hal ini.
“tentu saja aku marah...kau meringkuhku dengan dadakan tanpa memberitahuku..biasanya kau akan meminta izin padaku..sebastian apa yang ada dihatimu?”
Pertanyaan Evita membuat Sebastian langsung terdiam seribu bahasa.
“Katakanlah..aku tak akan marah..kalau kau jujur, maka itu lebih baik dan akan membuat hati yang gelisah dalam dirimu akan tenang”
Sebastian menghela nafasnya. Ia pun tersenyum dan mengeratkan tangan yang memeluk Nyonyanya itu.
Evita yang merasakan apa yang dilakukan oleh Sebastian hanya tersenyum. Entah kenapa belakangan ini ada banyak perubahan dalam hidupnya. Dan sekarang Seketarisnya telah berubah. Usianya tak lagi muda. Seketarisnya telah dewasa.
“Nyonya..maaf atas kelancanganku....aku benar-benar minta maaf, dan aku ingin mengatakan bahwa yang ku lakukan bukan ada maksud lain, atau tujuan lain. Semua yang ku lakukan, refleks yang ku berikan, semua itu berasal dari hatiku sendiri. Nyonya, Aku Mencintai Mu...”
Setelah memendam Rasa yang jatuh terlalu dalam. Akhirnya semua bisa terungkapkan. Ada rasa sakit dan senang yang datang. Sebastian mengeratkan tangannya tanpa menyadari bahwa ia masih memeluk Nyonya-nya.
Evita tersenyum. Inilah yang dimaksudnya, orang yang telah bersamanya, telah menghabiskan waktu bersamanya. Mulai dari usia yang terbilang muda darinya. Telah dewasa dan telah menunjukkan ia memiliki perasaan untuk dicintai dan mencintai. Sungguh inilah yang membuatnya khawatir. Karena ada rasa tak ingin menyakiti dan dirinya tak memiliki rasa sama sekali. Apa yang harus ia lakukan.
“Nyonya...anda tak perlu menerima cintaku...karena aku tahu, dihati Nyonya.. ada seseorang yang telah bersemayang disana. Telah bertahta selama bertahun-tahun ini....aku hanya ingin Nyonya tahu, bahwa aku pernah mencintai Nyonya..itu saja”kesadaran Sebastian telah tenang. Ia mengendurkan pelukannya. Dan memberikan peluang untuk Nyonya-nya itu pergi dari pelukannya. Namun tak ada pergerakkan dari Nyonya-nya itu. Malah dengan tenangnya bersandar menikmati pundaknya.
Evita yang menyadarinya tertawa. Ia bahkan menurunkan kepalanya untuk mendengar detak jantung Sebastian.
“Hahahah..Sebastian...jantungmu saja masih berdetak dengan cepat, kau masih mencintaiku bukan?”tanya Evita.
Sebastian tersenyum. “aku akan selalu mencintai Nyonya..meski nanti ada seseorang yang akan hadir”
Evita mengangkat kepalanya. Memandang Sebastian dengan pandangan yang berbeda. Benar itu adalah pandangan yang selalu dirindukan oleh semua orang. Sebastian, Supirnya, Intari, Amelya dan keluarga lainnya. Wajah yang tak menunjukkan topeng sama sekali. Tak dingin, dan tak cuek bahkan tak manis yang berlebihan. Murni dari wajahnya sendiri.
“Terimakasih telah mencintaiku...aku senang mendengarnya..dan aku juga senang kau mengetahuinya, aku tak bisa menerima orang lain, selain orang yang entah siapa mengambil hatiku..Sebastian, tak ku sangka kau telah dewasa...ku pikir kau akan menyukai Nabila..ternyata kau Malah menyukaiku..hahaha..itu hal yang diluar dugaan...huh..sekali lagi terimakasih Sebastian”
Evita mengelus rambut Sebastian seperti pertama kali pertemuan Sebastian dengan Evita.
“Waah...kau pemuda yang sangat berani”ucap Evita yang memakai hoodie dengan celana panjang. Dibelakangnya ada dua wanita yang bernama Intari dan Amelya.
Mereka melangkah mendekati Sebastian yang baru saja menghajar sekumpulan anak muda yang memalaknya. Ia baru saja menjual hasil panen keluarganya. Uang itu untuk biaya orang tuanya. Tapi sayang uang itu Malah hilang dari rumahnya. Dan untungnya ada saksi yang mengatakan bahwa kumpulan anak muda yang dihajarnya ini adalah pelakunya.
Dengan keberaniannya. Ia pun datang dan menghajar-hajar mereka tanpa memikirkan resikonya. Meski salah satu tangannya harus patah karena menghadapi mereka yang berjumlah 15 orang.
“Siapa kau”Sebastian memandang kewanita yang lebih tinggi dan memandang wanita yang tingginya tak seberapa lalu wanita yang satunya yang paling rendah.
“Aku?...kenalin aku Evita”ucap wanita yang berdiri paling depan dari dua wanita lainnya.
“dan dibelakangku...Intari...sebelahnya Amelya”ucapnya lagi dengan menunjuk dua orang dibelakangnya.
Aku tak memperdulikannya. Yang harus ku lakukan adalah mencari uang lagi untuk biaya orang tuaku. Tapi siapa yang mau membantuku..uangku telah dipakai oleh para bajingan ini.
Sebastian yang terlelap dalam pikirannya dikagetkan dengan sebuah elusan dari wanita didepannya.
“Kau berani sekali....gimana kalau kau ikut denganku, kau akan mendapatkan gaji yang lumayan”
Mendengar ucapan gaji yang lumayan itu. Sebastian langsung berbinar dan mengangguk tanpa sadar.
“Hahahha..lihat Intari..Amelya..dia mengangguk dan kemudian mengeleng hahahah.....tenang aku tak akan menjual atau membuatmu menjadi babu..cukup jadi seketaris pribadiku..itu sudah cukup..apa kau mau?”
Sebastian saat itu tak mengerti. Namun yang ia bisa pahami adalah wanita didepannya ini telah mengetahui semua kisah hidupnya. Setelah ia setuju untuk menjadi seketaris Pribadi. Nyonya-nya ini melakukan hal yang diluar dugaannya. Pertama perawatan orang tuanya, kedua lahan yang digunakan oleh orang tuanya dibeli dan diberikan kepada orangtuanya. Sehingga tak perlu takut lagi jika pemiliknya mengancam. Hal itulah yang membuatnya merasakan sesuatu yang lain.
...****************...
__ADS_1