
seperti yang dijanjikan, sayangnya Evita yang melaksanakan rapat 3 kali karena dipercepat. Seharusnya rapat yang diadakan ini selama 3 hari, tapi Evita minta kepada para pekerja samanya untuk mempercepat, yang dilaksanakan selama tiga hari, kini menjadi 1 hari dalam 3 kali pertemuan, pertemuan pertama saat disore hari tepat dirinya baru tiba dikota Q, kedua saat Malam jam 8 tepat dan Ketiga saat pagi ini.
Rapat baru saja selesai jam 10 pagi, Evita harus kembali kekota A dengan menempuh 4 jam perjalanan. Namun itu hanya perhitungannya saja, ternyata saat perjalanan pulang, kemacetan terjadi dan itu menunda kepulangannya sekitar 3 jam.
-
Disebuah Bar...kali ini Echan, Yoongi dan Za turun tangan dalam pengepungan bar yang melakukan transaksi ilegal, lebih tepatnya melakukan perjualbelian wanita.
Mereka memulai pengepungan dari jam 8 pagi, karena bar tersebut buka jam 9 pagi. Jadi mereka sempat melakukan penyamaran agar tidak diketahui oleh pekerja dibar tersebut.
Sekarang sudah pukul 12 siang, dimana semua orang sudah menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Echan sedang memeriksa ruangan dilantai atas sedangkan Yoongi memeriksa diruangan bawah tanah tempat transaksi atau penjualan dilakukan.
“Pak Za....semua pelaku sudah dimasukkan kedalam mobil..tapi ada sesuatu yang ingin saya beritahu pak...” ucap salah satu bawahan Za. Za mendengar hal itu hanya memberikan anggukkan kecil untuk Bawahannya melanjutkan ucapannya.
“Pelayan disini pernah terlibat dengan orang baru pak” ucapnya.
Yoongi yang datang dari lantai bawah mendengar percakapan itu. Ia tiba-tiba saja mengingat dua wanita yang ia temui dibar ini beberapa hari yang lalu.
“Apa mereka melakukan transaksi juga?” tanya Za tanpa melirik sang bawahan.
“Tidak Pak..mereka hanya datang dan pergi begitu saja” ucap sang Bawahan.
“berarti mereka tidak terlibat, tapi usahakan untuk mencari tahu identitasnya, agar kita bisa mencegah perjualan seperti ini” jelas Za yang kemudian beralih kelayar ponselnya.
Ia melihat waktu sudah menunjukkan waktu istirahat siang, dengan demikian, ia menyuruh para bawahannya untuk secepatnya menyelesaikan semua dan berisitrahat sedangkan dirinya kembali kekediaman keluarga besar Zhan bersama dengan Yoongi dan Echan.
-
Diperusahaan detektif sedang menerima kabar gembira. Iya mereka mendapat berita tentang pengepungan di Bar.
“Lihat...setelah ada bukti para polisi itu baru turun tangan” ucap salah satu karyawan disana.
“benar....tapi itu juga tidak bisa dibilang salah mereka, karena mungkin dulu saat pemeriksaan bar itu, tidak ada yang namanya penjualan seperti ini” jelas seseorang.
“Tapi tetap saja, menurutku para polisi disini sebenarnya banyak bersantai” ucap penolakkan.
“tidak...anda jangan asal mengklam buruk seperti itu, kalau mereka bersantai, menurutmu kenapa kecelakaan mulai berkurang sekarang, dan kenapa kasus kejahatan sedikit berkurang” bela seseorang.
“tapi aku benar bukan...tetap saja mereka membutuhkan kita untuk membuka misteri dalam kasus mereka” yang menolak tadi tetap membela dirinya.
Raja mendengar keributan itu, ia ingin menengahi pertengkaran dengan menghampiri mereka “sudah cukup...jangan seperti ini, Tetua dan Boss tidak menyukainya”
Melihat ada seseorang yang menghentikan ada rasa lega, namun mengetahui orang itu adalah Raja yang merupakan orang baru dalam dunia kerja ini, mereka sedikit tidak suka, karena Raja disini termasuk orang yang beruntung mendapat pekerjaan langsung dekat posisi atasan. Tapi rasa tidak suka itu mudah memudar karena selalu digantikan dengan kesopanan Raja kepada para perkerja disana.
Mereka kembali tenang, dan menyambut kedatangan Raja untuk membahas hasil kerja keras Intari dan Amelya tetua termasuk boss mereka.
__ADS_1
Dari kejauhan seseorang tersenyum melihat interaksi tersebut. Ia ingin bergabung namun niatnya terurunkan karena dirinya masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.
-
Jam sudah menunjukkan pukul 4 lewat 50. Evita baru bisa tenang saat melewati macet besar yang terjadi, ya macet ini terjadi karena pengepungan yang dilakukan pada sebuah bar. Entah karena apa, yang ia tahu bahwa para polisi mengangkap pelaku yang mencoba melarikan diri, hingga menyebabkan kemacetan.
“Sebastian...cukup antar aku saja” ucapnya saat dirinya sudah tiba dikediaman keluarga Zhan. Didalam mobil Sebastian hanya mengangguk. Dan Evita keluar dari mobilnya dengan perasaan yang tidak enak dihatinya.
Setelah mobilnya menjauh dari kediamana keluarga Zhan, Evita berdiri didepan pilar rumah bagai istana itu. Hatinya sedikit merasa tenang walau ia tahu bahwa setelah menginjakkan kaki dikediaman ini, akan ada saatnya ia benar-benar engan menginjakkannya atau mungkin akan ada saatnya ia menginjaknya dan menjadi bagiannya.
Seorang pelayan dari kejauhan berdiri diambang pintu masuk aula. Evita melihat hal itu ingin menyapa, namun tiba-tiba...
“APA-APAAN...... SUDAH JAM BERAPA INI..APAKAH CUCUNYA INI TERLALU DIBANGGAKAN SAMPAI KITA HARUS MENUNGGU SELAMA INI” teriakan dari dalam rumah itu terdengar ditelinga Evita. Ia hanya menghela nafas dan membuat raut wajah datar menjadi penuh akan senyuman.
Evita tidak langsung masuk karena pelayan didepannya menghalangi langkahnya.“Siapa anda?”Tanyanya.
Evita sedikit memiringkan kepalanya, mengambarkan bahwa pelayan didepannya ini tidak tahu dia..apa selama ini dia terlalu menyembunyikan diri atau karena emang jarang dilihat, benaknya.
“Saya...Evita”Mendengar hal itu, pelayan itu langsung kembali kemode ramahnya dan dengan senang hati membawa Evita masuk kedalam aula yang suasananya dingin namun memberikan hawa panas yang membuatmu berkeringat.
“Tuan Pertama, Tuan Kedua,Tuan Ketiga...ini Nona Evita telah datang” sapa pelayan kepada tiga orang yang tengah duduk paling tengah diantara para sofa yang panjang.
Ketiga orang itu sudah berumur, namun masih terlihat gagah untuk berjalan apa lagi dilihat mereka masih mampu memimpin keluarga besar ini.
Evita yang diseret tanpa persetujuannya hanya bisa tersenyum dan menenangkan diri. Dirinya melihat semua keluarga disini tengah berkumpul, atau lebih tepatnya menunggu kedatangannya yang terlambat.
Evita hanya mengatur nafasnya dengan tenang dan menunjukkan senyum aslinya tanpa menunjukkan sifat asli milik dirinya.
“Maaf Tuan Zhan dan semuanya, karena keterlambatan saya dalam pertemuan ini...alasan saya terlambat karena...”Evita ingin membuka suasana menjadi lebih tenang, dan ada suasana kekeluargaan, namun belum selesai ia berbicara seseorang dari kejauhan memotong pembicaraannya.
“Terlambat ya terlambat, tidak usah mencari alasan..ini cucu kebanggaan dari keluarga Alex?” ucapannya dingin, lantang dan juga penuh penekanan seakan-akan dirinya tidak boleh ditentang.
Evita mendengar hal itu hanya memasukkan ketelinga kanan lalu dikeluarkan ketelinga kiri. Ia berbenak “aku bukan cucu kebanggaan”
Evita tersenyum untuk menanggapi ucapan dari orang yang kini berdiri tidak jauh darinya lalu duduk layaknya nyonya besar.
“Sebutkan namamu siapa?” kasar itu yang terdengar ditelinga semua orang mungkin, tapi bagi Evita itu hanya ucapan kecil yang mengelikan ditelinganya. Karena Evita tahu bahwa dirinya tidak perlu mengenalkan diri lagi, orang-orang juga tahu jika melihat dirinya secara langsung.
Tapi menghargai orang didepannya ini atau mungkin nyonya besar dikeluarga ini, ia menjawab “Saya Evita” ucapnya sambil sedikit menunduk untuk memberikan rasa hormatnya.
“Wow.............kau Evita..orang yang dikenal karena sifat dinginnya, kalau begitu kau senyum-senyum seperti ini apa sedang mengunakan topengmu?” semua orang yang tidak suka dengan ucapannya ingin memotong namun mereka tidak memiliki hak.
Benar...saat ini Keluarga besar Zhan berkumpul hanya untuk melihat siapa sih cucu pertama dari keluarga besar Alex yang dijodohkan dadakkan dengan Za.
Dari 3 kakek yang menjadi tuan rumah, dan para menantu serta anaknya. Mereka memiliki 5 anak dan semua laki-laki jadi bisa dipastikan yang perempuan disini adalah menantunya.
__ADS_1
Panggilan disini hanya menyebutkan Paman dan Bibi dan jika ingin mengenal mereka, cukup menyebutkan paman dan Bibi kedua atau ketiga. Seperti itu mungkin cara kerja keluarga ini.
Echan dan Yoongi berdiri dibelakang sofa, karena kedua orang tua mereka duduk berdekatan jadi mereka berdiri dibelakang orangtua masing-masing sebagai petanda bahwa mereka adalah anak dari pasangan tersebut. Begitu juga yang lain.
Yoongi dan Echan saling memandang saat mendengar ucapan Bibi kedua mereka. Mereka berdua saling mengelang. “Bibi kedua kelewatan...padahalkan kami juga terlambat” benak mereka masing-masing.
Memang benar adanya, karena Yoongi, Echan dan Za saat menangani kasus sedikit terlambat datang, niat mereka jam 12 sudah selesai namun karena perlu istirahat sebentar dan perlu mengantar langsung para pelaku kekantor polisi. Hingga tiba dikediaman keluarga Zhan mereka datang jam 4 sore. Tapi tidak ada yang mengatakan mereka terlambat. Ya mereka tahu bahwa mereka adalah tuan rumah juga, tapi ada rasa tidak tega mereka melihat seorang wanita yang hanya tamu tapi diberi sapaan pedas saat masuk melangkahkan kaki kekediaman keluarga mereka.
Evita terdiam mendengar hal itu, ada rasa ingin tertawa lepas untuknya, tapi ia urunkan karena menurutnya saat ini waktunya memberikan yang terbaik agar orangtuanya tidak dihina oleh keluarga besar ini atau lebih tepatnya wanita yang tengah duduk ini.
“Maaf...ini watak saya..mungkin orang-orang mengira saya dingin” ucapnya membela diri, sebenarnya ia malas melakukannya tapi apa boleh buat, ia hanya perlu menyelesaikan ini dengan cepat dan berharap ini cepat berakhir.
Wanita itu pun melirik dari kaki sampai kewajah Evita, lalu menatap diam dan berbicara “Baiklah...sepertinya kau memang sibuk...mungkin kau sibuk menahan gugup mu” ucapnya. Evita hanya tersenyum.
“Sibuk gugup dengkulmu Nyonya besar....kalau bisa aku tidak perlu ikut dalam perkenalan ini dan bisa santai menghadapi rapatku” benak Evita.
“Sudah...jangan seperti itu menantu...Evita duduklah” ucapan seseorang dari tiga orang utama yang duduk dipaling depan. Evita tersenyum ingin melangkah duduk tapi tiba-tiba langkahnya berhenti karena seseorang tiba-tiba menahanya.
“Kau duduklah denganku” ucap wanita mengenakan pakaian pink manis layaknya seorang ibu yang lembut. Evita tersenyum ia mengangguk.
Wanita yang duduk layak seperti boss itu pun hanya berdesak kesal karena sepertinya semua orang tidak terlalu ingin ia ikut campur.
“Kenalin aku adalah Wenki..pangil saja Kiki” sapa Wanita yang duduk disamping Evita. Evita mengangguk ada rasa aman dihatinya duduk disamping wanita ini. Kiki disini adalah Menantu keTiga.
“Baiklah...karena itu kita akan bahas masalah perkenalan ini...nak Za apa kau ingin menyampaikan sesuatu?” tanya sang Kakek yang berdiri disamping kanan. Evita agak bingung memahami tiga orang didepan ini, aura mereka memang berjiwa pemimpin tapi ia bingung siapa mereka bertiga.
“Ah maaf...aku melupakan bahwa kami belum berkenalan...Perkenalkan aku adalah Tuan Zhan...disamping kananku adalah adikku, begitu juga disamping kiri ku” sapa orang dibagian tengah, Evita mengangguk menandakan dia memahami omongan orang yang ditengah.
“Kami dipanggil Kakek..tapi kalau kau ingin membedakannya cukup panggil Kakek Ketiga...” tunjukkan orang disebelah kiri.
“Kakek Kedua” lalu menujuk keorang disebelah kanan. “dan aku dipanggil Kakek Pertama” ia menunjuk dirinya sendiri. Evita mengangguk lagi.
“Yang ada disini semua menantu kami, aku memiliki 3 putra, sedangkan disampingku mereka mempunyai masing-masing satu putra” ucapnya dan lagi-lagi Evita mengangguk. Ia berbenak “susunan keluarga yang rumit”
“Kau bisa memanggil mereka dengan sebutan paman Bibi pertama. Atau Paman bibi kedua seperti saat ini kau duduk dengan Bibi ketiga” ucapnya. Evita menunjukkan reaksi santai dan mengangguk tapi sebenarnya ia menatap horor tentang susunan keluarga ini benar-benar rumit diotaknya.
...****************...
*jangan lupa like and comment......😊
pentas kecil:
Kim: " bagaimana Evita, paham dengan susuan keluarganya?"
Evita: "siap-siap aja bawa obat sakit kepala....paham kagak pusing iya"
__ADS_1
Kim:"🤭🤭"
Evita: "😑*"