
kepagian harinya. Semua orang telah sarapan. Begitu juga Evita yang kini tengah duduk kembali dikursi aula. Kali ini ia tinggal dikediaman keluarga Zhan. Sempat berpikir kalau saja ia tidak tidur disini. Kan ia kangen dengan tempat tidurnya yang berwarna hitam dan akan selalu hitam seperti tidak ada kehidupan.
Kali ini sepertinya tidak ada yang berniat memberinya hinaan, jadi hatinya sedikit tenang apa lagi disampingnya ada Bibi Ketiga dan keempat serta Bibi Kelima yang menyumpal mulutnya dengan manisan.
Jujur dirinya pencinta manis, bahkan selalu menyuruh Amelya atau Ibunya membuatkan manisan untuknya.
“Makan ini sayang” ucap sang Bibi Ketiga memasukkan kue kering kedalam mulut Evita.
Evita menerima dengan hati senang. Siapa yang mau menolak. Apa lagi tiga orang rela duduk disampingmu untuk memberikan suapan manis kedalam mulutnya. Sungguh tidak bisa ditolak bukan.
“Kakek...aku ingin membawanya kekediaman ku”
“UHUK!!!”
Seketika orang langsung melihat kearah siapa yang batuk itu. Tentu saja itu terarah keEvita yang baru saja diberi larva cake oleh Bibi Keempat.
Ketiga Bibi itu panik sampai mengusap lembut punggung Evita. Evita sendiri berusaha untuk mengatur nafasnya karena tersedak kue yang mudah dilenyapkan namun entah kenapa jadi batu saat dimakan olehnya.
“sial...kemalangan apa lagi yang menimpaku..bisa-bisanya dia ingin membawaku kekediamannya?” benak Evita mendengar ucapan itu.
Yeah saat ini adalah keputusan akhir. Mereka tetap melanjutkan perkenalaan selama 3 hari itu. Kali ini Bibi kedua tidak ada entah pergi kemana yang pasti rumah sedikit tenang dan suasana aman, maka saat membahas ini pasti mudah dipahami oleh mereka.
“Apa kau yakin....Kakek tahu, kau tidak pernah membawa siapapun kekediamanmu apa kau yakin keputusanmu itu?” tanya Kakek Kedua. Za mengangguk.
Mereka bertiga menghela nafas dengan tenang. Sebenarnya Za sudah menyampaikan pendapat ini tadi Malam.
Flashback
“Apa-apaa...didikkan dari kecil....bilang aja dia dari keluarga kurang mampu”ucap Bibi Kedua. Kali ini Evita sudah tidur dikamar tamu. Sedangkan yang lain sedang berdiskusi.
“Hei kakak...sudah jangan mencari sesuatu yang menyakiti orang lain” tegur Bibi Keempat. Bibi Kedua Cuma memutar bola matanya.
“Sudah...Aku mengambil keputusan..gimana mulai besok hitungan untuk masa perkenalan ini”
“Tidak..aku tidak setuju Paman Kedua” ucap Bibi Kedua pada Kakek Kedua.
“Kenapa...apa sudah masuk hitungan kejadian tadi?” tanya Kakek Ketiga.
“Iya...” jawab Bibi Kedua.
Yoongi dan Echan saling melirik satu sama lain. Tidak percaya rasanya dengan Bibi mereka ini. Entah kenapa seakan-akan Bibi Kedua lah sang ratu dikediaman ini.
“Biar Za saja yang memutuskan apa yang dia inginkan...ini adalah pertunangan Za dan ia juga yang akan menjalaninya” ucap Paman Keempat. Ia merupakan seorang yang selalu berfikir kritis dan selalu memberikan peluang untuk yang lain dalam menuntaskan masalah.
“Benar..” ucap Bibi kelima dan para Paman serta yang lain kecuali Paman dan Bibi Kedua.
__ADS_1
“Tapi...Kalau Chen yang memutuskan, apa dia mampu, dia selama ini selalu disibukkan dengan banyaknya kasus yang harus diselesaikan” ucap Paman Kedua.
“Biar Yoongi dan Echan yang menyelesaikannya” ucap Paman Keempat.
“Tidak...mereka itu sudah berkerja keras...kalau seperti itu maka Chen tidak akan banyak pengalaman, dia kan jendral Polisi” ucap Paman Kedua.
Yoongi dan Echan mendengarnya memutar bola mata mereka bersamaan. Mereka tahu bahwa memang perkerjaan banyak dikantor. Tapi tidak sebanyak itu, apa lagi sampai Za turun tangan yang ada paling Cuma kasus kecil atau besar. Dan untuk pengalaman, Za itu adalah Detektif sama seperti mereka. Jadi pengalaman apa lagi yang dicari oleh Paman Kedua ini.
“Tidak baik kalian selalu mewakilkannya..apa kalian tidak pernah tahu isi hatinya atau keinginannya” ucap Bibi Kelima.
Dia adalah orang yang jarang bicara tapi sekali bicara bisa aja tuh di diamkan singa seperti Bibi Kedua dan Paman kedua. Seperti saat ini, Bibi dan Paman kedua tidak bisa menjawab pertanyaannya. Karena pada dasarnya keputusan mereka selalu diikuti oleh Za tanpa menolak.
“kalau begitu biar Za sendiri yang memutuskan apa keinginannya” ucap sang Bibi Kelima. Yoongi dan Echan dari kejauhan mengacungkan jempol mereka. Bangga itu yang ada diperasaan mereka sekarang.
Mereka semua pun menunggu keputusan Za yang tengah asik menikmati tehnya. Ia tidak suka kopi tapi suka teh. Tidak suka minuman bersoda tapi suka wine. Dan ia juga suka merokok walau itu tidak sering dilakukannya kecuali dirinya stress keadaan.
“aku akan membawanya kekediamanaku”
Seketika Malam yang tadi sedikit dingin kembali tambah dingin apa lagi yang saat ini aura Bibi dan Paman kedua begitu berat tidak setuju dengan keputusan Za ini.
“Tunggu...Chen ku sayang..Bibi tahu kau ingin menilainya sendiri, tapi dikediaman mu..itu mustahil...kau..kau...”penolakan Bibi Kedua memang sama seperti yang lain. Pasalnya kediaman Za ini tidak pernah dihadiri oleh mereka. Kakeknya sendiri hanya beberapa kali saja. Dan itu pun hanya sebentar tidak bermalam sekali pun. Kediaman Za ini ibarat seperti tempat langka yang hanya orang beruntung untuk masuk kedalam.
“Biar aku yang menentukannya Bibi” ucap Za sambil berdiri dan meninggalkan mereka. Semua orang terdiam. Yeah kali ini keputusan Za tidak bisa ditolak. Karena Za sudah memikirkan resikonya, maka tindakkan yang ia ambil pasti akan ditanggung jawab olehnya.
Flasback end
Evita hanya mengangguk tidak bisa menjawab lagi. Bingung itu yang terpampang diwajahnya. Jujur saja meski wajahnya terlihat tenang tapi otak dan hatinya kacau.
Semua orang pun tersenyum dengan keputusan itu. Mereka menghabiskan waktu untuk bersama Evita yang siang nanti akan dikirim kekediaman Za sendiri.
-
Yoongi dan Echan yang kini duduk disebuah cafe biasa mereka. Mereka tengah menikmati minuman yang mereka pesan.
“Sungguh...Kak Za baru ini melawan keputusan Bibi Kedua” ucap Echan yang tengah asik minum.Yoongi menganguk mendengarnya.
“Tapi Evita ini benar-benar cantik ya....hanya kenapa aku merasa tidak asing dengan nama ini, seperti ada sesuatu yang melarangku untuk mencari tentangnya” ucap Echan. Yoongi yang mendengarnya kini melihat kearah Echan.
“Apa kita pernah bertemu dengannya?” tanyanya.
“menurutmu?...aku hanya merasa bahwa orang ini sepertinya sang maniak topeng. Bisa berubah kapanpun”
“aku tidak mengerti”
“ayooo....Kak Yoongi...Kau tahu ada didunia ini ya seperti Bibi Kedua, dia bersikap manis didepan Za dan bersikap kasar didepan kita. Itu udah termasuk topeng. Berusaha untuk memberikan topeng manis yang menutupi muka aslinya. Dan itu yang kurasakan saat melihat Calon Kakak Ipar kita ini...dia datang memang penuh kerahasiaan seperti yang dikatakan Bibi kedua tentang topeng”jelas Echan.
__ADS_1
Yoongi diam memikirkan hal itu, ia memang ingat tentang Bibi menyingung calon Kakak Ipar mereka.
“Kita berpikir positif saja, dan kita harus waspada juga” ucap Yoongi.
Echan mengangguk dan kembali menghabiskan minuman yang dipesannya.
Ting
“Ayolah...Kim Ara...kau tidak ingin aku kelaparankan”
Rengek seseorang yang menarik perhatian Yoongi dan Echan. Mereka melihat kearah pintu masuk dimana ada wanita tinggi dan wanita pendek yang tengah berdebat kecil.
“Sudahlah...Kim Han..kau ini ah..ayuk kita minum dulu..kau tidak capek apa dari tadi mau makan mulu, engak mau minum gitu” celetuk Amelya. Sedari tadi mereka yang tengah mengirimkan laporan hasil pengamatan disebuah perusahaan kecil. Karena mendapat tugas pengamatan putri salah satu penjabat diperusahaan itu. Yeah mereka menjadi bodyguard yang menguak informasi.
“iss.....aku kan lapar Ara..wajar aku makan mulu” balas Intari tidak menyukai ucapan Amelya. Mereka berdua duduk disebuah meja yang disekitarnya tengah memperhatikan mereka walau mereka tidak menghiraukannya.
“Sudah...kita masih ada tugas..pesan minuman sana” ucap Amelya.Intari hanya mendengus. Dan pergi untuk memesan minuman.
Yoongi dan Echan yang duduk disamping mereka sedikit meringitkan alis. Entah kenapa masing-masing diantara mereka seperti mengenal dua orang gadis ini. Seperti sudah akrab dengan mereka tapi kapan?, dimana?, dan kenapa mereka bisa mengenalnya?.semua itu masuk dalam pikiran mereka.
Sampai Intari kembali kemeja mereka dan membawa dua cup minum ditangannya.
“Sudah..ini” ucap Intari sambil memberikan minuman Amelya. Amelya menerimanya dan berdiri, mereka berdua pun meninggalkan Cafe itu hingga suasana sedikit tenang kembali.
Yoongi yang memandangi kepergian dua gadis itu sampai benar-benar menghilang didepan matanya.
“Apa kita mengenal mereka?” tanya Echan yang membuka suasana.
“Tidak..tapi sepertinya iya juga...hanya kapan kita mengenal mereka?..aku juga pernah bertemu mereka, tapi mereka itu terlihat asing” ucap Yoongi.
...****************...
*Jangan Lupa Like and Comment😊
pentas kecil 👋
Kim: "Evita bagaimana rasanya dibawa kekediaman calon suami?"
Evita:"Calon suami Matamu Kim.....Percepat saja Chapternya atau ganti scene menjadi Intari dan Amelya"
Za:"Kau tak merindukanku? Evita?"
Evita: "Belum saatnya...sudah sana menganggu"
Za:"😔"
__ADS_1
Kim: "🤭🤭Kachian*"