MANTIV

MANTIV
● Mantiv(21)


__ADS_3

“maka dari itu......."


Braakkkk


Suara benda terjatuh tidak jauh dari mereka, lebih tepatnya dibelakang Za sendiri.


Evita mengangkat wajah yang sedikit tertunduk karena ia tidak ingin menatap pemuda didepannya ini, tapi mendengar suara terjatuh, dengan cepat refleks tubuhnya melihat kearah sumber suara.


“Ada apa?” tanya sang majikan kepada Kepala Pelayan yang mengambil sebuah buku dari lantai.


“tidak apa tuan..sepertinya Buku ini tidak terletak dengan benar” jawabnya sambil meletakkan kembali buku tersebut dan menyusunnya hingga terdengar suara meratakan tinggi buku yang dihantamkan kemeja.


Evita hanya memasang wajah datarnya begitu juga dengan Za yang kini menatap Evita.


“kita lanjutkan”ucapnya, Evita mengangguk.


“aku ingin membuat kesepakatan denganmu, besok adalah terakhir kau berada disini, jadi aku memberitahumu, kau hanya boleh berada diruang tamu, kamar mu, dan dapur. Selebihnya kau tidak usah menginjakkan kaki...dan besok tepat pukul 9 Malam, pertunangan kita akhiri dengan membatalkannya” jelas Za tanpa memikirkan jawaban orang didepannya.


Evita yang mendengar itu sedikit risih, bagaimana tidak. Dia dilarang tour keliling mansion ini, kan rugi datang Cuma 3 tempat aja dikunjungi, hah..menyebalkan. itu terbenak dihati Evita. Tapi ada rasa senang juga, karena dengan pasti bahwa ia akan membatalkan pertunangan ini dan menjauh dari orang yang tidak ia cintai. Lebih tepatnya emang engak ada rasa,mungkin.


Dari usia Evita yang ke 17, entah kenapa hatinya saat itu telah tutup tidak lagi memberikan peluang untuk orang memasukinya. Meski Ayah dan Ibunya kadang menyuruhnya berkencan dengan seseorang, ujung-ujungnya kencan itu tidak berjalan lancar, karena saat Evita tiba, sang pria sudah lari entah kemana.


“baiklah..aku setuju” jawab Evita. Za yang mendengarnya hanya mengangguk. Kemudian berdiri.


“Antar ia kekamar tamu, dan ingat dia hanya diizinkan keruang tamu, dapur dan kamarnya, tidak ditempat lain, jika kalian melihatnya, beritahu aku” tintahnya. Setelah selesai memberi perintah ia keluar dari mansionnya dan pergi dengan mobil mahalnya. Itu yang terbenam dibenak Evita.


“Orang Kaya..bebas, bahkan cukup memerintah saja sudah langsung dituruti, bukan hanya memerintah. Paling tinggal kedip mata semua orang langsung nurut. Untungnya aku bukan orang seperti lebah, yang tergoda dengan yang manis seperti bunga” benaknya.


“Nona silahkan ikut saya” seorang gadis berusia sekitar 16 tahun membawa koper Evita dan mengarahkan Evita menuju kekamar tamu. Evita tersenyum melihatnya, ia seperti melihat kembaran Nabila yang saat ini tengah sibuk dengan sekolah.


“bagaimana kabar Nabila dan yang lain ya?” benak Evita.


Lumayan lama, mungkin karena Evita mengikuti langkah kaki sang pendek didepannya ini. Evita tidak bisa memanggilnya pelayan, lebih tidak sopan bukan. Jadi dia memberi gelar kegadis didepannya dengan sebutan Pendek yang nanti ia panggil menjadi PEIPEI. Aneh emang.


Hingga tiba didepan pintu yang bernuangsa biru Malam, gengangan pintu itu pun terlihat megah. “Wow” benak Evita melihatnya.


“Nona..ini kamar anda, kalau ada apa-apa panggil saja saya, atau tekan tombol disamping pintu dengan gambar dapur, kami akan langsung datang” ucapnya dengan sopan. Evita melihatnya serasa melihat seorang gadis lugu yang imut.


“mn” balas Evita. Mendapat jawaban Gadis pendek itu pun pergi meninggalkan Evita.


Kreeek


“wow suara pintu saja lembut seperti angin..orang kaya bebas” berguman.


Evita masuk dan melihat sekeliling kamarnya, ada kamar mandi tentunya dan ada tempat minum yang sudah disisi, ada ruang kerja, ada kasur yang bisa ditiduri oleh tiga orang sekaligus. Dan yang pasti ada televisi yang tepat didepan kasur.


“sungguh sangat-sangat-sangat ka-ya” ucapnya perlahan. Pintu tertutup otomatis. Evita lagi-lagi dibuat kagum. Bagaimana tidak kamar tamu saja mendapat fasilitas yang luar binasa, maksudnya luar biasa. Pasti tempat ini menjadi langka untuk semua orang.

__ADS_1


Mengingat kata Kakek yang mengatakan bahwa Mansion dikediaman Za ini tidak pernah dihadiri oleh orang kecuali kakeknya. Sungguh Evita merasa sedikit bangga bisa menginjakkan kakinya disini.


Evita merebahkan tubuhnya, sambil melihat langit-langit kamar tamu yang super mewah ini. “wow..emang tidak boleh disia-sia kan, harus aku nikmati...biar kan saja Cuma 3 tempat setelah itu aku bisa keluar bebas dan tidak terikat lagi dengan hubungan” benaknya yang kemudian tak berapa lama terlelap dalam tidur indahnya.


-


Ditempat lain atau dapur kediaman Za, semua tengah bersantai, karena kerjaan mereka akan dimulai lagi jam 7 Malam kecuali ada yang menyuruh mereka.


“lihat..gadis itu terlihat seperti tidak setuju dengan pertunangan tuan” ucap salah seorang pelayan. Ingat pelayan disini terdapat 15, masing-masing dari mereka mendapat gelar sesuai dengan angka. Bukan karena kerajinan tapi emang diatur sesuai pertama kali masuk berkerja. Sedangkan Kepala Pelayan yang baru saja masuk sekitar 5 bulan lalu, ia lah yang paling dibilang beruntung karena mendapat posisi lumayan tinggi dari mereka.


Pelayan dari 1-15 ini tidaklah seusia, dari 1-10 usia mereka sudah terbilang kepala tiga, sedangkan 11-15 mereka anak remaja yang berusia 16-17 tahun. Sedangkan kepala Pelayan sudah dipastikan usia dewasa.


“iya benar...tidak bisa aku bayangkan, dia seperti tidak terbuai dengan ketampanan Tuan kita” jawab Pelayan 12. Dari pertanyaan Pelayan 11.


Bisa dibilang pelayan 11-15 ini merupakan orang yang mengidamankan tuan mereka sama dengan kepala pelayan mereka. Yang pasti mereka bersaing untuk mendapat kesempatan agar diperhatikan oleh Tuan mereka. Walau tetap saja dicuekin.


“apa ini berarti kita tidak akan mendapat tambahan saingan?” tanya Pelayan 13. Pelayang yang lain mengangguk. Mereka bersorak senang dengan hal itu.


Tanpa disadari dibalik dapur ada seseorang menguping mereka. “aku ingin tahu, apa dia bisa mengerjakan tugas pelayan” ia melangkah keruangan yang saat ini adalah Kamar tamu Evita.


Tuk


Tuk


Tuk


Evita membuka perlahan matanya, karena terganggu dengan suara ketukkan yang muncul tiba-tiba.


Krek


“oh!” Evita kaget melihat seorang gadis yang usianya pasti sudah 25 tahun. Dan dilihat detail lagi orang didepannya ini seorang kepala pelayan.


“Kau?” tanyanya sopan, tapi saat mata Evita melihat lebih jeli ternyata orang didepannya tidak suka dipanggil ‘kau’.


“Pelayan berjiwa nyonya disini” benak Evita mengetahui watak orang didepannya ini. Ia pun melanjutkan aksinya.


“maaf...ada apa anda kesini?” tanya Evita dengan suara yang lembut layaknya busa sabun cuci piring, lembut gak tuh.


Mendengar ucapan ‘anda’ wanita didepannya atau kepala pelayan itu tersenyum dengan lebar.


“maaf menganggu anda...bisa ikut saya, makan Malam nanti akan dimasak oleh anda” ucapnya.


Evita sedikit mengerutkan alisnya. “makan Malam..tunggu jam berapa ini...apa aku tidur sudah dua jam..tidak..aku saja datang kesini jam 3 sore, berarti” benak Evita yang kemudian melihat kearah Jam tangannya menunjukkan pukul 6 sore.


Matanya terbelak, sungguh tidak percaya, ternyata sudah berjam- jam ia tertidur. Dan begitu pulasnya sampai tidak menyadari bahwa Malam akan tiba.


Dan anehnya kenapa dia disuruh memasak, bukannya didapur dia Cuma makan. “aku tidak benar-benar disuruh memasak bukan?” benak Evita.

__ADS_1


“tunggu dulu, anda menyuruh saya kedapur untuk memasak makan Malam, bukannya saya hanya disuruh kedapur untuk makan saja” terang-terangan yang disampaikan Evita, bukan tidak bisa memasak. Tapi sekali memasak ia bisa membuat beberapa jenis makan yang berbeda, bahkan masakkan yang harusnya manis dibuat tambah manis, kan aneh nanti.


“tapi Nona..menurut saya, ini adalah kesempatan anda, bukannya anda adalah tunangannya. Dengan memasak makan Malam untuk Tuan, ini akan memberi nilai plus kepada anda” ucap sang Kepala Pelayan begitu hormatnya. Evita yang mendengarnya hanya angin lalu.


“kalau dipikirkan ada benarnya juga, kalau ini masalah penilaian, maka akan ku buat nilai tertinggi” benak Evita senang.


“baiklah..anda pergilah dulu saya akan membersihkan diri sebentar” ucapnya dan langsung dibalas dengan anggukkan oleh Kepala Pelayan.


Setelah kepergian Kepala Pelayan itu, Evita pun pergi masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.


-


Didapur sudah berdiri 2 koki yang rupanya seorang laki-laki. “aku tidak menyangka bahwa laki-laki disini tenang bekerja. Ku pikir sang tuan kaya* hanya memperkerjakan seorang perempuan” benak Evita melihat koki yang sekarang ini sedang berdiskusi dengan Kepala Pelayan.


*Sang Tuan Kaya\= Zhan Za Chen, gelar baru


Beberapa menit lalu, ia tidak perlu lama untuk mandi. Setelah mandi dan berpakaian, ia pergi kedapur. Untungnya ruang tamu dan ruang dapur dekat, walau jaraknya lumayan jauh.


Setelah tiba, ia melihat 3 orang tengah berdiskusi, siapa lagi kalau bukan Kepala Pelayan dan dua koki dirumah ini. Itulah yang terjadi saat ini, Evita tidak memperhatikan apa yang mereka diskusikan. Melainkan melirik seluruh ruang dapur yang ada disini.


“apa-apan...ini memang khusus orang kaya” benaknya. Entah kenapa belakangan ini sifat cuek dan ketidak peduliannya terlepas dari jiwanya. Mungkin jiwa sederhananya sedang ditantang ditempat orang kaya seperti sekarang. Bagaimana tidak, dikediamannya pelayan yang memasak untuknya menggunakan kompor yang harus dibantu dengan korek api. Sedangkan disini kau hanya perlu menyentuhnya dengan telunjukmu. Maka api akan keluar dengan cepat.


Selain, oven yang sepertinya terdiri empat pintu selain itu ada dua kulkas yang diletakkan didekatnya. Sungguh kan membuat jiwa kesederhanaan tertantang.


“apa aku perlu merusak semua barang disini..mengingat setiap yang ku sentuh pasti rusak” benaknya.


Tak berapa lama, 3 orang yang berdiskusipun mendatanginya.“selamat sore Nona” sapa ketiga orang itu. Evita mengangguk, lagian bingung juga mau jawab apa.


Setelah menerima anggukan Evita, dua Koki itu pergi meninggalkan dapur memberikan tanda tanya untuk Evita. “kenapa mereka pergi?”benak Evita.


“Nona..silahkan lanjutkan kegiatan Nona, kami tidak akan menganggu. Ooh ya makan Malam dimulai jam 8, jadi anda punya banyak waktu untuk memasak” ucapnya sopan, Evita lagi-lagi mengangguk, engan untuk menjawab sampai sang Kepala Pelayan pergi meninggalkannya.


Ditinggal sendiri, bukan masalah besar untuk Evita. Jadi tanpa basa-basi ia mulai mencari bahan masakkan.


“kita lihat...apa aku dapat nilai tinggi disini”benaknya sambil menyeringai.


-


Dihalaman belakang. 5 pelayan tengah berdiskusi.


“apa yang dilakukan oleh Kepala Pelayan, bukannya tuan hanya memberitahukan bahwa bisa kedapur hanya untuk makan.. dia tidak mengatakan membiarkan Nona sampah itu memasak” ucap Pelayan 14 yang tidak terima saat melihat seorang wanita cantik masuk keruangan dapur dan memasak.


“aku sampai shock, bagaimana tidak, seharusnya dia tinggal santai, tapi kenapa jam segini kedapur, apa lagi berapa jam lagi, makan Malam akan tiba..atau jangan-jangan wajahnya aja yang menolak tapi niatnya lain” ucap Pelayan 12.


“tidak..menurut ku ini ada hubungannya dengan saingan utama kita” ucap Pelayan 13.


“apa menurutmu dia akan melakukan hal sebesar ini?” tanya Pelayan 15.

__ADS_1


“tentu saja.....kenapa tidak, pertama menjilat dengan memberikan suapan manis, habis itu yakin saja Nona.....tunangan Tuan akan mendapat sesuatu diluar dugaannya” mendengar ucapan Pelayan 13. Semua pelayan yang ada mengangguk. Memang benar, bahwa sang Kepala Pelayan ini tidak tangung-tangung memberi pukulan pada orang yang berani menjadi saingannya. Dan mereka adalah korbannya. Mulai dari mereka yang bertugas membersihkan kamar tuan yang berakhir dimarahi karena Malah mengotori bukan membersihkan padahal membersihkan kamar tuan mereka perlu waktu yang lama, tapi dengan mudahnya sang Kepala Pelayan mengotorinya. Tidak ada yang tahu siapa pelakunya yang pasti tetap salah sang Pelayan yang membersihkan. Gara-gara kejadian itu hanya Kepala Pelayan yang bisa masuk dan Pelayan 1 dan 2. Karena mereka yang diberi tangung jawab oleh Kepala Pelayan.


...****************...


__ADS_2