MANTIV

MANTIV
● Mantiv(26)


__ADS_3

Malam ini Za benar-benar tidak bisa tidur, pikirannya selalu dipenuhi dengan wajah Evita. Mulai saat mereka bertemu sampai saat mereka berpisah. Wajah tenang dengan tatapan kosong itu memenuhi pikirannya.


Za bangun dari tempat tidur dan pergi keluar kamarnya menuju keruangan bawah tanah. Mansion miliknya terdapat ruang bawah tanah yang ia buat sendiri.


Ruangan tersebut tidaklah besar, namun mampu menampung keluarga kecil. Terciptanya ruangan ini karena Za pernah berhayal membuat ruangan ini penuh dengan anak-anak tapi hayalan itu hanya tetap hayalan tidak akan tewujud semenjak Kim meninggalkannya didepan matanya.


Za saat itu masih muda, masih terlalu manis mengenal kehidupan, tanpa mengenal kepahitan hidup. saat kepergian cinta pertamanya itu, ia bagaikan sebuah pedang tanpa sarung.


Setelah dua tahun menghadapi kepedihan hati, dirinya berubah perlahan, dulu sering mengoda wanita yang dicintainya sekarang memilih menurut apa yang dipilih oleh bibi keduanya. Orang yang mengasuhnya dari kecil.


Za memilih menurut karena tidak ingin berdebat apa lagi masalah harta dan tahta, sebagai cucu pertama, tentu banyak yang ia dapatkan. Mulai dari warisan dan kasih sayang, tapi semua itu tidak berarti untuk Za. Karena menurutnya harta bisa dicari tapi kehidupan, kebahagiaanya sulit untuk didapatkan.


Asap rokok memenuhi ruangan kecil, ditemani secangkir wine berwarna merah. Dan juga diberi kesunyian yang menelan keadaan.


Za duduk disofa miliknya, sambil menutup mata agar perasaan serba salahnya bisa hilang dibenaknya. Dan besok kembali seperti semula. Seperti apa yang sudah ia tetapkan, menjadi dingin, dan tidak ingin ikut campur urusan keluarga.


Rasa hatinya yang merasa bahwa keputusan yang diambilnya telah salah, masih belum menghilang dibenaknya. Ia merasa benar-benar salah mengambil keputusan dengan melepaskan Evita dari genggamannya.


“huh”helaan nafas berkali-kali keluar dari mulutnya. Dan sudah 10 batang rokok yang ludes dihisap olehnya. Wine yang kini memasuki gelas ke 10 juga ludes diminumnya.


Za menatap langit-langit atap dan menutup mata berharap bahwa ingin hanya sekedar menghabiskan waktu luangnya. Dan besok ia harus kembali bekerja menghadapi berbagai kasus dan rapat yang ada.


-


Yoongi dan Echan kini tengah berada dikantor kepolisian, mereka sebenarnya tidak ingin menghabiskan waktu disini, tapi melihat keluarganya yang masih berduka, tidak enak hati mereka melihatnya.


Yoongi menyibukkan diri dengan memeriksa laporan dari bawahannya. Sedangkan Echan melihat latihan para polisi yang berlatih.


-


Inul dan Nabila yang tengah berada diruangan rapat mingguan dengan Intari yang memimpin. Mereka kali ini benar-benar tidak bisa bekerja dengan baik, sehingga rapat tersebut kacau setiap kali mereka yang bergerak.


“Maaf Indah..kami benar-benar minta maaf karena kesalahan yang kami berdua lakukan”ucap Inul sambil menunduk didepan Intari dan Amelya.


“Tidak apa-apa Kakak..kami hanya merasa aneh kenapa Kakak dan Nabila bertindak ceroboh kali ini....file yang mau kita bahas Malah tidak ada..apa kalian berdua tengah dilanda masalah?”tanya Intari.


Inul dan Nabila saling melirik, mereka mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu.


“Baiklah...ku harap ini tidak akan terjadi lagi..hmm ada yang ingin ku tanyakan, Kak Inul dimana Evita?”tanya Amelya melihat kearah Inul dan Nabila.


Mendapat pertanyaan tersebut, terlihat diwajah Nabila menunjukkan kesedihan, sedangkan Inul menunduk, membenamkan wajahnya yang terlihat sedih juga.


“ada apa?”tanya Intari menyadari ada yang salah.


“Tidak ada..Evita sedang ada urusan keluar negeri mendadak, kami diberitahu kemarin dan baru mengingatnya sekarang” alasan Inul. Intari dan Amelya mengangguk mengerti tentang hal itu. Mereka tahu bahwa Evita emang sibuk belakangan ini.


“Baiklah..tidak apa, ini sudah Malam, gimana kalau Kita istirahat woke”ucap Amelya mengakhiri acara mereka. Inul dan Nabila mengangguk. Dan bergegas keluar ruangan. Begitu juga dengan Intari dan Amelya.


-


Di tempat lain, Evita baru saja tiba setelah berjam-jam berada didalam pesawatnya.


Ia turun dari pesawat dan bertemu dengan para bodyguard yang menundukkan kepala mereka.


“selamat datang Nona”sapa mereka.


Evita mengerutkan keningnya. Sambil menajamkan tatapannya yang menangkap sosok seorang pria dengan tubuh tinggi besarnya, ia begitu tampan menarik perhatian para wanita yang melihatnya. Namun Evita lagi-lagi hanya menatap kosong kearah Pria yang kini mendekat kearahnya.


Pria tersebut mendekat dan mengambil tangan kanan Evita, lalu mencium punggung tangan Evita dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.


“Welcome my baby”ucapnya.


Evita menghela nafas melihat tingkah seorang pria yang mengakui bahwa ia adalah cinta pertama Evita.


Evita tidak tahu siapa dan kapan pria tersebut mendapat gelar menjadi cinta pertamanya, tapi dalam bayangan kaburnya perlakukan pria didepannya ini hampir sama dalam ingatanya. Meski hatinya tidak sepenuhnya percaya bahwa ia cinta kepada pria didepannya.

__ADS_1


Pria tersebut dengan lembut mengenggam tangannya dan membawanya kesebuah mobil yang sudah terparkir rapi didepan matanya.


“Baby..kita akan kemana?..tapi sebelum itu ayahku ingin bertemu denganmu”ucap Mavin Vintorin anak pertama dari Keluarga besar Mavin Vintarian. Mereka adalah keluarga yang bergerak dibawah tanah, lebih tepatnya sekumpulan keluarga mafia. Dengan gelar mereka yang disebut si blue. Nama yang membosankan tapi mematikan bagi yang mendengarnya.


Tinggal diamerika hanya sebagai tempat pelepasan lelah, Keluarga Mavin ini sering berpindah-pindah, dan tidak akan menetap sebelum mendapat sesuatu yang seru. Contohnya mereka mengetahui kembalinya Evita membuat keluarga tersebut langsung keluar dari sarangnya dan menjemput dirinya. Evita hanya memberitahukan kedatanganya kepada Vintorin tapi Vintorin selalu melaporkan kegiatannya kepada ayahnya jadi mereka pun menjemput dirinya.


Kenapa Evita melaporkan kedatanganya, karena seperti yang diketahui, bahwa Vintorin adalah cinta pertamanya yang sempat terlupakan 2 tahun yang lalu, Evita sebenarnya tidak percaya akan hal itu, tapi Vintorin mampu memberikan bukti kedekatan mereka berdua, sehingga Evita terpaksa mempercayainya.


Mendengar bawah sang Ayah Vintorin ingin bertemu dengannya, tubuh Evita mengigil, seperti tengah memasuki kandang serigala. Ia langsung mengeleng kearah Vintorin yang membukakan pintu mobil untuknya.


“Kenapa Baby?”tanya Vintorin.


“Tolong jangan kasih tahu kedatanganku kepada Ayahmu” ucap Evita melihat kearah Vintorin.


Vintorin tersenyum. “baiklah..akan kurahasiakan kedatanganmu, tapi kau tahu apa pun kegiatanku, Ayahku akan langsung mengetahuinya, jadi aku harap kau tidak marah kepadaku baby”ucapnya yang kemudian memeluk Evita.


Evita yang dipeluk hanya mengangguk. “makasih” ucapnya.


“No problem Baby”balas Vintorin yang kini menyuruh Evita masuk kedalam mobil miliknya.


Setelah mereka berdua masuk,mobil pun berjalan mengelilingi kota besar. Membuat Evita sedikit tenang.


“Ada apa dengan kedatanganmu kali ini Baby?”tanya Vintorin sambil mengelus lembut rambut Evita. Evita yang mendapat elusan tersebut menepis dengan tangannya tapi belum sempat menepis tanganya sudah digenggam erat oleh Vintorin dan membuatnya harus merelakan tangan miliknya digenggam oleh Vintorin.


“Aku..sedang menyelidiki kasus”jawab Evita dengan mata yang menikmati indahnya kepadatan lalu lintas.


“kasus?...kasus apa yang membuatmu turun tangan Baby?”tanya Vintorin dengan fokus kedepan dan membelai lembut tangan milik Evita.


“Kasus kematian orang tuaku”jawab Evita tanpa basa basi.


Evita sempat melirik kearah tangannya karena belaian lembut Vintorin tiba-tiba terhenti mendengar kata-kata kematian orang tuanya. Namun Evita tidak menghiraukan perubahan tersebut, dalam hatinya, Vintorin mungkin tidak percaya akan apa yang terjadi dengan keluarganya sehingga dirinya bereaksi seperti sekarang. Terkejut mendengar kematian orang tuanya.


“aku berduka atas kematian orang tua mu” seperti yang diharapkan oleh Evita, Vintorin merasa sedih sekarang. Membuat Evita memandang pria didepannya.


“Baby..apa kita akan makan bareng..aku akan mengajakmu ke salah satu restorant disini”ucapnya.


Evita mengeleng, menolak tawaran itu. “tidak..aku ingin langsung kekediamanku”


“kehotel gimana?”tanya Vintorin sedikit bergurau.


“aku bukan gadis murahan..antar aku kekediamanku” Evita mendengus membalas pertanyaan Vintorin.


“kau yakin..aku sudah lama menahan diri”ucap Vintorin.


“Cukup..aku bukan ****** yang kalian jadikan mainan setiap aku datang..kau mencintaiku hanya karena tubuhku?”tanya Evita sedikit penuh amarah. Dirinya sudah pernah dilecehkan sekarang masih ada yang ingin bermain dengan dirinya. Apa dia ini hanya menjadi sebuah pemuas nafsu laki-laki.


“maaf Baby..aku hanya mengodamu”ucap Vintorin dengan suara bersalah.


“aku tidak akan mentoleransi lagi jika ini terjadi, aku berterimakasih kepadamu mau berada disampingku selama masa terpurukku, tapi aku tidak suka, bahwa setiap apa yang dilakukan orang harus mendapat balasannya, jika ingin hal itu maka aku tidak seharusnya menerima pertolongan orang seperti kalian”ucapnya dengan wajah yang memerah karena amarah.


Vintorin melihat kearahnya dan menarik kepalanya untuk dibenamkan kedada kokoh miliknya. Bau parfum mahal masuk kedalam hidung Evita yang membuatnya merasa tenang menghirup aroma tersebut.


“Maaf kan aku woke..aku minta maaf..jangan seperti ini lagi, dan aku janji selama kau bahagia aku juga akan bahagia”ucapnya membelai lembut dan memberikan kecupan kecil kekepala Evita.


Evita hanya terdiam, hatinya sakit mendengar perkataan itu, seperti ada seseorang yang tengah bermain-main dengannya, tapi entah kenapa ia tidak bisa mengetahui siapa orang yang bermain-main dengan dirinya.


Setelah lama memeluk Evita, Vintorin melepaskan pelukan tersebut dan kembali melesatkan mobilnya yang kini telah mendapat akses jalan lancar tanpa hambatan menuju kekediaman Evita yang jaraknya jauh dari kota.


-


Tiba diMansion miliknya, Evita tanpa pikir panjang langsung keluar dari mobil dan meninggalkan Vintorin yang baru saja menghentikan mobilnya.


“Baby....!!!”Seru Vintorin yang langsung menyusul Evita masuk kedalam Mansionnya.


Para bodyguard berdiri diambang pintu utama dan beberapa pelayan lain yang menunggu kedatangan Nyonya mereka.

__ADS_1


Dengan membungkuknya tubuh mereka, semua menyambut kedatangan Evita yang mendadak. Sebastian sempat menghubungi mereka bahwa Nyonya mereka akan tiba diMansionnya. Para Pelayan dan BodyGuard yang telah bersantai sejak beberapa bulan kini bergegas kembali bekerja setelah mengetahui bahwa Evita akan tiba. Begitulah yang terjadi untungnya mereka sempat mempersiapkan diri untuk menyambut Nyonya mereka.


Ada raut terkejut diwajah mereka, melihat seorang pria yang berkulit madu tengah mengejar Nyonya mereka.


Para BodyGuard tidak bisa menghalangi langkah Vintorin, dikarena Vintorin masih menjadi penguasa dikota mereka dan bisa dibilang keluarga mereka ada dibawah tangannya. Tapi untungnya juga Evita memperjelas hubunganya dengan Vintorin sehingga para Bodyguard tidak berpikir untuk menghalangi langkah Vintorin yang selalu dekat dengan Evita.


“Baby!...kenapa cepat sekali kau melangkah...apa yang terjadi padamu?”tanya Vintorin yang kini telah berhasil menghentikan langkah Evita.


“tidak ada tuan Vintorin, aku hanya ingin cepat melangkah saja”jawab Evita. Jujur saja, dirinya masih belum bisa menerima hal ini. Apa lagi diingatkan tentang dirinya yang dulu telah kehilangan segalanya ditambah kehilangan orang tuanya sekarang. Ia merasa seakan-akan dirinya selalu melangkah kejurang yang dalam, sangat dalam hingga cahaya pun tidak mau menyinarinya.


“kalau begitu perlambatlah langkahmu...gimaan kalau Nona Babyku ini istirahat, kan Baby baru saja tiba dari Tempat kelahiranmu. Istirahatlah dikamarmu Baby”suara itu lembut, tapi untuk orang-orang yang bukan Evita, pasti akan mengerti maksud ucapan tersebut. Yang pasti itu bukan ucapan biasa atau bujukkan melainkan Perintah.


“Aku akan istirahat Tuan Vintorin, tapi aku harus melapor dulu kedatanganku kesini”jelas Evita menolak ajakkan lembut itu.


“baiklah..sepertinya keras kepala Nona Babyku ini sulit untuk dikalahkan, kalau begitu aku akan menemanimu”ucapnya. Namun belum sempat Evita berbicara,terdengar dering handphone milik Vintorin disaku celananya. Dengan begitu pandanganya teralihkan kePonsel pintarnya, membuat Evita bisa melarikan dirinya dari dekapan Vintorin.


Mansion miliknya ini bisa dibilang milik Vintorin juga, entah sejak kapan, yang pasti tanah Mansion ini sudah berganti nama menjadi nama Vintorin bukan lagi Nama-Nya. Hal itu tidak membuat Evita risih atau curiga, melainkan ia menjadi bodoamat dengan tindakkan Vintorin, kecuali dirinya diajak hal yang tidak baik, Evita akan memberontak bahkan bisa membuat Vintorin menjadi terdiam tidak bisa bergeming karena pemberontakkannya.


Jadi karena itulah Evita memberitahukan hubungannya dengan Vintorin meski dirinya sendiri tidak menyebutkan bahwa Vintorin kekasihnya, melainkan hanya menyebutkan teman penting kepada Sahabat, Keluarga dan Pelayan serta Bodyguardnya. Meski Vintorin menolak hal tersebut.


Evita pergi menuju keruangan lain didalam mansion miliknya, ada ruangan rahasia yang terletak dikamar miliknya yang bisa dibuka olehnya dan juga Vintorin, ingat Mansionnya ini juga milik Vintorin.


Setelah memasukinya, ruangan yang gelap menjadi terang karena mendeteksi kedatangan tuannya sendiri. Ruangan tersebut tidaklah besar juga tidaklah kecil, ruangan yang terdapat meja belajar yang berisikan komputer, komputer terus aktif tanpa penjaga, karena Evita yang akan mengendalikannya dikomputer lain saat berada dikota A.


Melihat komputernya kini telah menyala, Evita duduk dikursi miliknya. Dengan suara lembut ia berbicara “komputer..aku ingin mengetahui organisasi yang membuat bom dikota ***”


Seketika komputer tersebut memberikan beberapa kelompok kecil maupun terbesar yang tengah membentuk organisasi dengan membuat senjata-senjata.


Evita melihatnya, sambil melihat-lihat seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang, Evita tahu siapa orang tersebut, ia melepaskan tangan yang memeluknya dari belakang.


“Baby..aku menyuruhmu untuk istirahat, kau Malah mencari info yang tidak penting begini”ucap Vintorin setelah selesai dengan urusan panggilannya.


“tuan Vintorin, bagimu ini mungkin tidaklah penting, tapi bagiku ini penting, jadi jangan mengangguku”Jelas Evita sambil menjauh dari Vintorin. Namun meski jauh pun apa yang ia lakukan selalu berakhir dengan Vintorin yang makin mempererat pelukkannya. Membuat Evita menguatkan kesabarannya menghadapi laki-laki yang sebenarnya tidak jelas apa hubungannya dengan dirinya.


Karena konsentrasinya terbagi, disatu sisi ingin fokus mencari pencipta bom,Evita harus menghadapi godaan Vintorin yang dari tadi menghirup aroma tubuhnya dari tengkuknya, hal itu membuat Evita kehilangan kesabarannya.


Dengan cepat membalikkan tubuh dan menatap tajam kepria yang berkulit madu tersebut dengan kepala yang diangkat karena Pria didepannya lebih tinggi darinya.


“Tuan..ku mohon, jangan mengangguku, aku menjadi jijik karena tingkah anda”ucap Evita tanpa rasa bersalah, dirinya sudah mentolerin apa yang dibuat oleh Pria didepannya.


“Nonaku, apa salah aku mendekat dan menghirup aroma tubuhmu, kau tahu aku kangen dengan hal itu”ucapnya sambil tersenyum.


“kau kangen?..apa nafsumu yang tak tertahankan?..Tuan Vintorin, dulu aku melakukan hal itu denganmu karena aku kehilangan kendali tubuhku, kau tahu itu, dan efek obat-obat yang ada ditubuhku berdampak besar terhadapku, apa yang kau inginkan dariku, menikahiku dan memuaskan nafsu sampahmu, Tuan tolong, orang tuaku baru saja meninggal, dan aku tidak ingin melakukan apa pun yang membuat orang tuaku malu, cukup rahasia besar yang telah ku simpan tanpa sepengetahuan orang tuaku yang akan membuat mereka malu, jangan sampai aku membuat hal yang sama, kalau hal itu terjadi pilihanku adalah kematian”


Ucapan santai tapi penuh kesedihan dan rasa kecewa serta marah telah terlihat diwajah yang datar, Evita benar-benar telah berdiam diri, tidak ingin terlihat lemah. Ia sudah kehilangan keperawanannya, kehilangan harga dirinya, kehilangan kepercayaan dirinya, kehilangan orangtuanya, adik-adiknya, serta kehilangan jiwa-jiwanya, apa lagi yang harus ia pertahankan sekarang.


Yang lebih penting baginya adalah mengetahui dalang dari kematian orangtuanya. Setelah semua selesai, ia hanya percaya dengan takdirnya, kalau ia berakhir dengan menjadi orang bodoh dan tak berguna, maka itu tidak akan bermasalah lagi baginya. Asal ia tidak lagi terjerumus dalam dunia yang menghancurkan hidupnya.


Vintorin yang mendengar perkataan itu menjadi terdiam, ia tidak berbicara, dengan perlahan tangannya terlepas dari tubuh Evita. Sambil melihat wajah gadis didepannya. Mata Evita kukuh menatap kearah Vintorin, membuat Vintorin mengusap lembut wajahnya, kemudian tersenyum dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.


Kepergiannya membuat Evita merasa lega, ada rasa tenang dihatinya melihat kepergian laki-laki tersebut, tapi Evita tetap merasa bersalah akan apa yang diucapkan,namun rasa bersalah itu hilang saat Evita kembali fokus dengan komputernya.


...****************...


Pentas Kecil:


Kim: "Hai Mavin Vintorin"


Mavin: "Hai Kim"


Kim: "gimana rasanya ketemu sama kekasih yang menganggapmu sebagai teman tak lebih?"


Mavin: "Kim lagi menyindir atau apa nih?"


Kim: "Jangan marah woke...cuma bertanya heheh/Kabur"

__ADS_1


__ADS_2