
《Evita, Ibu mungkin tak kembali setelah berangkat ini, jadi sebaik mungkin Kau harus berpikir tenang menghadap kasusmu, alasan lain dari Ibu yang meminta Miss Lila untuk mengajarimu menjadi detetif agar kau bisa membantu Ibu menuntaskan misi ini》
《Memang berat, tapi Ibu yakin Kau pasti bisa....Evita satu hal lagi hiduplah bahagia...baik duka maupun suka, tutuplah semua kesedihanmu dengan topeng diwajahmu》
Intari dan Amelya terdiam mendengar hal ini. Topeng wajah yang selalu digunakan oleh Evita, sekarang topeng itu sudah terlepas meski mereka tahu Evita pasti akan mengunakannya lagi. dan kemungkinan Mereka berdualah yang akan melindungi Evita meski sebenarnya itu tak diperlukan.
《Ibu senang mengirimkan pesan ini untukmu, dan satu hal lagi..akan tiba waktu dimana Kau akan mengetahui segala yang ada dan alasan kenapa keluarga Kim mengangkatmu menjadi putri Kami》
Hologram itu pun berakhir dengan berkas didalam koper. Evita terdiam mendengar pesan terakhir itu. Ia merasa ada sesuatu yang masih menanti dirinya.
Setelah melihat semua ini, Miss Lila menyuruh Evita untuk berisitrahat. Berserta yang lainnya.
-
Dikamar Evita, Evita fokus membaca data-data tentang Welida. Wanita yang memang diakui oleh Evita sebagai maniak Eksperimen. Bahkan lebih gila lagi dari pada Sintra.
Karena setiap proyek yang dikerjakan oleh Welida selalu diterbitkan tanpa hambatan. Namun ada satu proyek yang dibatalkan penerbitannya.Cream penunda tua dan satu lagi sebuah serum yang disuntukkan kedalam tubuh.
“Untuk apa serum itu?”benak Evita. data yang didapatkannya ini saja masih terbilang beruntung. Namun banyak kekurangannya, Evita menyimpan semua data tersebut dan memilih untuk memejamkan matanya.
Za masuk kedalam kamar mereka, Ia melihat Istrinya tengah berbaring dengan berkas-berkas yang tercecer diberbagai arah.
“Apa Kau mendapatkan sesuatu?”tanya Za melangkah mendekati Istrinya. Ia mengambil beberapa berkas yang ada lalu menyusunnya dan meletakkan ditepi kasur mereka.
“Yah..beberapa hal penting sudah ku dapatkan”jawab Evita. Ia kemudian memilih menatap Suaminya yang kini duduk disampingnya.
Za mengusap wajah Evita. mereka berdua saling menatap. “Za”panggil Evita yang dibalas dengan deheman oleh Za.
“Boleh Aku minta sesuatu”ucap Evita dengan nada yang pelan membuat Za menatap bingung.
“Apa hm..Katakanlah”ucap Za yang mendapati Evita duduk dipangkuannya.
“Za....Aku ingin”ucap Evita yang langsung dipahami oleh Za. Mereka sering melakukan hubungan badan meski tak setiap hari. Hanya kadang-kadang mood aneh Evita terjadi.
Za sebenarnya penasaran, bagaimana emosi yang meluap dari istirnya ini. Namun yang didapatinya hanya keinginan dadakkan oleh Evita.
Seperti sekarang, Za melakukan tugasnya. Bermain dengan Evita diwaktu yang masih siang ini. Untungnya kamar mereka terkunci otomatis.
-
Intari menatap para karyawan yang ada. saat para karyawan itu melihatnya, mereka memberikan hormat dengan membungkukkan badan. Melihat hal tersebut membuat Intari merasa berlebihan.
“Ada apa Indah?”tanya Yoongi yang kini berdiri disamping Istrinya.
“Aku hanya merasa semua karyawan disini begitu menghormati kami, aneh sekali”keluh Intari dengan menatap karyawan yang lewat dan seperti ucapannya karyawan tersebut menghormat kepadanya.
“Lihat, Dia begitu menghormati sekali” Intari menunjuk kearah dimana karyawan tersebut pergi. Yoongi yang melihat hal tersebut langsung tersenyum kecil.
“Kau tak lihat”Yoongi menujuk kearah langit-langit perusahaan, terdapat 10 nama yang menjadi legenda dalam detektif. Salah satunya adalah Intari sendiri. foto dengan kostum menyamarnya menjadikan tampilan yang begitu indah dipandang.
Intari sampai tercenga melihatnya. “Diluar dugaan”guman Intari. Yoongi yang mendengarnya hanya bisa mengeleng. Dan beberapa detik kemudian mengubah raut wajahnya menjadi dingin seperti biasanya.
“Indah, Kapan Aku bisa bebas menyentuhmu”benak Yoongi yang menatap wajah Intari penuh kebahagiaan.
-
Amelya memilih untuk melatih dirinya. Ruangan khusus para karyawan latihan terbilang lebih luas dari biasanya.
Apa lagi cabang yang dipimpin oleh Evita, masih luas tempat latihan pusat.
Amelya mengambil Busur dan anak panahnya. Ia bergegas menuju lokasi yang ingin digunakan olehnya.
Fokus membidik sasarannya, Amelya melepaskan anak panahnya hingga hasilnya tepat sasaran.
“Sepertinya, Aku masih bisa menembak tepat sasaran”benak Amelya. Ia bergegas untuk pindak lokasi lagi.
Ada berbagai jenis latihan yang disediakan oleh perusahaan detektif. Apa lagi dipusatnya ini. Amelya memilih latihan menembak tentu saja dengan pistol.
__ADS_1
Krek!!
Ruang menembak dibagi beberapa tempat dan wilayahnya dibuat khusus jadi wajar jika mereka bertemu pintu.
Amelya melangkah masuk setelah membuka pintu dan dilihatnya seorang Pria tengah fokus membidik lalu..
Dor!
Sasarannya tak meleset sekali pun, botol yang dijadikan sasaran itu langsung pecah berkeping-keping.
Pria yang fokus itu tak lain adalah Suami Amelya sendiri,Echan. Pria itu melepaskan headset yang digunakannya. ia kaget melihat Amelya sedang bersiap.
“Kau disini?”tanya Echan yang membantu Amelya. Amelya yang mendapati Echan membantunya langsung membiarkan hal tersebut. Lagian Dirinya hanya bersentuhan seperti ini. Tak lebih malahan.
“Tentu saja, Aku ingin melatih tembakkanku, siapa tahu perang nanti akan berguna”ucap Amelya. Echan yang mendengarnya langsung menatap kearah Amelya.
“Kau serius akan ikut turun tangan juga?”tanya Echan menatap dengan serius.
“Tentu saja Aku serius, Lagian selama ini Aku merasa kurang membalas kebaikkan Evita, dan ku pikir dengan ikut bersamanya sampai akhirnya Kami mendapatkan kebahagiaan kami sendiri, barulah Aku merasa puas membalas kebaikkan Evita”jelas Amelya.
Echan mengerti apa yang dimaksud. Meski Ia bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh Kakak Iparnya itu sampai begitu membuat Amelya dan Intari tak meninggalkannya.
-
Setelah bermain panas diwaktu yang terbilang aneh, Evita berbaring didada suaminya sendiri. saat ini pun mereka tak mengenakan pakaian, hanya selimut yang menutupi tubuh mereka.
“Za...menurutmu, berapa lama Aku akan menghabisi wanita itu?”tanya Evita kepada Suaminya.
Za yang mendengarnya langsung menjawab sambil mengusap kepala Evita. “Evita, Apa kau merasa pilihan lain dihatimu, atau mungkin Kau merasa tak sanggup melakukannya?”tanya Za.
Za memancing emosi Evita, karena tekad yang terpendam itu akan padam kalau tak dipancing. Evita mungkin memikirkan hal lain. seperti keselamatan Sahabatnya atau martabat keluarganya. Za paham akan pikiran Istrinya ini.
Namun, Za tak ingin semua menjadi beban untuk Istrinya. Ia ingin Evita terus maju seperti dulu tanpa memikirkan pikiran negatifnya. Bahkan Za ingin Evita melangkah maju dan menerima resiko dengan tenang meski nanti Za yang akan menghadapi resiko tersebut.
Dan emosi yang diinginkan oleh Za langsung membuat Evita terpancing. “Tentu saja tidak, Aku begitu ingin membunuhnya..hanya. Aku memikirkan Amelya dan Intari, mereka baru bahagia Za....Kau tahu, kematian kedua orang tua mereka?”
“Aku tahu, Intari pasti dihantui oleh rasa bersalah karena Ia begitu tega membunuh orang tuanya sendiri tanpa rasa takut, Ia juga berubah perlahan. Biasanya orang yang sering kesiangan itu menjadi bangun pagi dan bahkan mandinya pun lebih lama, menurutku, Ia pasti sedang menangisi perbuatannya”
Evita bercerita kejadian yang dialami Sahabatnya. Za diam mendengarkan apa yang diucapkan, ia tahu banyak yang terjadi sebelum jadian dengan Kekasihnya ini. Bahkan Yoongi dan Echan pun selalu merasa lemah tak bisa melindungi Kekasih mereka.
“Lalu kematian Orang tua Amelya, saat itu Aku terburu-buru mengendari mobil, Kaget melihat mobil seseorang yang sudah tertabrak. Aku memeriksa siapa yang ada disana, dan Kagetnya diriku ketika tahu bahwa orang tersebut adalah Ayah dan Ibunya Amelya...tentu saja Aku bergegas menolongnya..namun kau tahu, saat itu Amelya mengira Aku yang membunuhnya”
Za lagi-lagi diam mendengarkan kisah istrinya ini. Ia tahu sepertinya sisi lain Istrinya sedang ingin beristirahat. Mungkin setelah bercerita akan ada hal yang akan terjadi.
“Dan untungnya, Permasalahan itu terselesaikan dengan baik...huh, Aku lelah..Za boleh Aku tidur?”tanya Evita. Za yang melihat Istrinya menatap kepadanya langsung mengusap wajah itu.
“Evita dengar, Jika kau ingin mengamuk, mengamuklah..tapi ingatlah bahwa itu adalah dirimu sendiri, jika lelah istirahatlah, jika ingin menangis, menangislah...Aku dan yang lain ada disini untukmu”ucap Za yang berhasil menghadirkan air mata diwajah Istrinya. Dan tak lama raut wajah Evita yang seperti dulu berubah menjadi raut wajah yang sama seperti saat mereka melakukan pertuangan tanpa saling mengenal.
“Terimakasih”ucap Evita yang sudah diketahui oleh Za. Bahwa Istrinya itu baru saja tengah mengenakan sesuatu yang terlepas olehnya.
“Sama-sama”ucap Za yang kemudian melihat Evita beranjak bangun lalu pergi meninggalkannya.
Kepala yang berat karena pikirannya masih terus berjalan membuat Za menghela nafas lebih panjang. “Sepertinya, Kakek..Aku akan segera pulang”benak Za.
-
Sebastian yang membantu memeriksa berkas dikagetkan dengan Nyonya-Nya yang datang dengan wajah yang berbeda.
“Apa yang terjadi?”benak Sebastian ketika mendapati Evita masuk kedalam ruangan.
“Sebastian, dimana ponselku satunya?”tanya Evita. Ia mengenakkan topengnya kembali dan membulatkan tekadnya untuk menghabisi segala orang yang membunuh orang tuanya. Jadi dengan sikap inilah, Ia tak merasa ragu sama sekali.
“Ini Nyonya”Sebastian menyerahkan ponsel pintar yang memang biasa digunakan oleh Evita. Ia mengaktifkan ponsel tersebut dan berhasil mengirimkan sinyal kepada keluarga Alex. Meski Begitu Evita tak memperdulikannya.
Ia bergegas menghubungi Anak buahnya yang menelpon beribu kali.
“Hallo, ada apa kau menelponku?”tanya Evita ketika sambungan telpon itu terjadi.
__ADS_1
“Nyonya, Melapor....Tuan Andre dan Tuan Reza memilih untuk bunuh diri, saat ini kami sedang menangani mereka”
Suara yang penuh dengan kecemasan terdengar ditelinga Evita. karena Evita yang sudah bertekad itu hanya memandang datar.
“Mereka tak sabar ya menunggu diriku, sudahlah...kubur mereka jika memang sudah tak dapat diselamatkan”jawaban yang diberikan oleh Evita untuk anak buahnya. Yang diseberang sana langsung menjawab ‘Iya’.
Evita mengakhiri panggilannya dan menatap orang yang ada didepannya. Tentu saja Amelya dan Intari.
Intari dan Amelya merasakan aura membunuh Evita begitu memuncak hingga mereka merasa terpojok saat ini.
“Evita, Apa kau sadar dengan dirimu sendiri?”tanya Intari. Meski Ia tak mempermasalahan Evita mengubah kepribadiannya. Namun setidaknya nanti Evita tak melupakan apa yang terjadi.
Amelya juga menyetujui apa yang dimaksudkan oleh Intari. Lagian jika Evita lupa, akan membuat semua menjadi serba salah.
“Aku sadar Intari...Apa kalian siap berperang?”tanya Evita dan kedua sahabatnya tentu saja mengangguk.
“Baiklah, persiapkan diri kalian....Aku akan mempercepat pertemuan menyiksa ini”Evita bergegas pergi meninggalkan ruangan.
Intari dan Amelya yang ada langsung memandang datang. “Raja berlatihlah dengan Sebastian, Apa yang sudah direncanakan oleh Evita akan terjadi sebentar lagi”perintah Intari kepada Seketarisnya.
Amelya mengangguk “Bersiapkan, karena apa yang diucapkan oleh Evita itu tak akan melenceng dari keinginannya”
-
Mavin Vintorin menatap lelah, Ia sudah mencari keberadaan Liyana namun sia-sia.
“Bagaimana caraku mencarimu Liyana”benak Mavin. Ia bergegas untuk bersiap namun Anak buahnya berlari didepannya.
“Tuan, melaporkan...Yuda orang yang ditangap oleh anda, sudah meninggal”ucap Anah buahnya.
Mavin yang mendengarnya langsung kaget. Ia bergegas untuk memeriksa bahkan dokter sudah didatangkan terlebih dahulu oleh Anak Buah Mavin.
“Bagaimana keadaannya?”tanya Mavin kepada Dokter miliknya. Dokter tersebut langsung menjawab. “Tuan Mavin, Ada alat yang dimasukkan kedalam tubuhnya, alat tersebut berupa penyimpanan yang jika hancur langsung membunuh sang pemilik tubuh...Aku memeriksa apa yang ada didalamnya, dan yang ku dapatkah adalah kumpulan zat yang langsung membinasakannya”jelas dokter kepada Mavin.
Mavin mengangguk, “Baiklah, Kubur saja dirinya....Aku yakin Andre sudah mempersiapkan segalanya, bisa jadi Andre yang menghidupkan alat tersebut”
Mavin melangkah pergi, Ia memang tak memperdulikan Yuda. Yang dipikirannya sekarang adalah rasa rindu dan keingintahuannya.
-
Keluarga Alex gempar dengan munculnya keberadaan Evita. para anak buah keluarga Alex langsung memberitahukan hal ini kepada kepala keluarga.
“Tuan Besar, keberadaan Nona..Maksudnya Evita sudah didapatkan, Ia sekarang ini berada dikota Q”ucap Anak buah keluarga Aelx.
“Bagus, kirimkan lokasinya kepada keluarga Zhan, biar mereka mengurus sisanya, Aku yakin Evita pasti bersama dengan cucu mereka”perintah keluarga besar. Anak buah tersebut langsung mengangguk dan menjalankan tugas.
Kehebohan itu terdengar ditelinga Nabila yang baru saja pulang dari urusan kerjanya.
“Sepertinya Kak Evita sudah berada dikota Q, yeah Apa aku harus menyusul kesana”benak Nabila. Namun berpikir menyusul itu akan mustahil karena...
“Nak, Apa yang kau lakukan, sekarang bersiaplah, hari ini akan ada makan malam bersama keluarga besar Rin, jadi dandan yang cantik ya”ucap Ibu Nabila yang mendorong dirinya.
“Inilah yang ku pikirkan, Ibu pasti sudah menyiapkan acara pertunangan, benar-benar merepotkan....pantas kak Evita tak berniat untuk berada didalam keluarga besar ini, mereka benar-benar tak memikirkan perasaan orang lain”benak Nabila.
Ia hanya akan mengikuti rencana Ibunya, dan nanti akan mengakhiri pertunangan terrencana ini. Ia tak mau menikah dengan orang yang tak dicintainya. Lebih baik, Ia tak menikah sama sekali dari pada tersiksa nantinya.
-
Raja bungkam ketika melihat berbarisnya mobil yang berisikan orang-orang berpakaian hitam. Ia merasa sesuatu dibenaknya terwujud. Dengan sedikit garis lengkung dibibirnya ketika melihat banyaknya orang-orang yang dipanggil boss utamanya.
“Raja, mari kita akan berlatih sekarang”panggil Sebastian kepada Raja yang langsung mengangguk.
“Sebastian, maaf sebelumnya..”ini pertama kalinya Raja berbicara kepada Sebastian. Ia sebenarnya ingin memanggil Kakak, tapi terasa aneh didirinya.mungkin karena Ia anak tunggal jadi tak tahu bersikap kepada seorang Kakak.
“Bicaralah Raja, ada apa?”tanya Sebastian. Raja tahu orang didepannya ini memiliki sifat yang tak beda jauh dengan Evita, boss mereka sendiri.
“Aku ingin bertanya, Kenapa para orang-orang itu datang?”Sebastian yang mendapatkan pertanyaan itu merasa lucu. Ia kemudian menjawab “Tentu saja itu semua untuk persiapan. Kau akan tahu nanti..sudah latihanlah”Raja mengangguk. Mereka berdua langsung mengunjungi tempat latihan yang sangat luas bahkan begitu tepat untuk para detektif.
__ADS_1