
Didalam kamar rawat. Seorang Pria duduk disamping memandang kearah Wanita yang tengah tertidur.
Ia tak lain adalah Raja. Wajah suntuknya mulai terlihat, karena pikirannya yang berjalan-jalan mencari jawaban tentang isi hatinya.
Ia memandang kearah Boss nya, “Aku bingung ingin mengatakan apa, Tetua Evita...namun Boss Intari bilang, jika urusan seperti masalah cinta dan suka ini, harus bisa bertanya kepadamu”
“Aku tak tahu, apa yang bisa ku dapatkan dengan berbicara berdua kepadamu. Untung tadi Tuan Za tak membunuhku yang berniat untuk berbicara kepadamu”
“Hmm...sekarang Aku bingung memulainya dari mana Boss, bagaimana dengan panggilan. Aku tahu Kau adalah tetua dari atasanku. Tapi setidaknya Aku memanggilmu dengan lebih sopan lagi..hm bagaimana kalau Nyonya?, tidak Sebastian memanggil Anda dengan sebutan Nyonya”
Raja berdiam sejenak, Ia kemudian menatap wajah Evita yang masih tidur dengan tenang. “Hm bagaimana dengan sebutan Kakak?, tidak Aku sudah menganggap Nyonya Intari dengan sebutan Kakak, hm apa ya...Noona Evita?..nah itu akan lebih baik”
Raja tersenyum puas dengan apa yang didapatnya. Ia kemudian memulai ceritanya.
“Ehem!, jadi gini Noona...Anda mungkin akan marah atau malah tertawa mendengar ucapanku ini. Baiklah Aku mulai menceritakannya”
“Aku tak tahu dengan apa yang terjadi kepada diriku, mulai dari sesuatu yang penuh kegelisahan dan semacamnya. Semua muncul saat Aku mendengar ucapan Nabila yang mengatakan bahwa Ia menyukai diriku. Aku bertanya kepada diriku sendiri apa itu Cinta dan Suka. Jika Suka dimaksudkan dengan ketertarikkan kita kepada seseorang, lantas Cinta bermaksud apa?”
Raja mulai membicarakan apa yang ada dibenaknya, apa yang ada dipikirannya. Berbicara sambil menundukkan kepalanya dengan perasaan yang penuh ketulusan.
“Aku bertanya masalah ini kepada Nyonya Intari, dan Ia mengatakan bahwa Cinta dan Suka itu memiliki kesamaan dengan perbedaan mendalam, aku memahaminya. Jika Aku merasakan sosok didalam diriku, lalu posisinya sangat penting, berarti Aku mencintainya. Jika sosok seseorang tersebut hanya perasaan sesaat, berarti Aku hanya menyukainya”
Raja membelakkan matanya, lalu menatap kearah Evita yang tertidur pulas tanpa menjawab perkataannya. Ia menarik garis bibirnya dengan senyum yang memancar, lalu menyentuh kepalanya sambil mengeleng.
Jika Aku merasakan sosok didalam diriku, lalu posisinya sangat penting, berarti Aku mencintainya. Jika sosok seseorang tersebut hanya perasaan sesaat, berarti Aku hanya menyukainya
Ucapan yang baru saja dikatakan olehnya langsung membuatnya tertawa. Bagaimana bisa, jawabannya sudah ada. tapi ia masih mencari jawaban tersebut.
Raja menatap kearah Evita yang masih tenang tanpa ada tanda-tanda Ia akan bangun.
“Yeah tak ada salahnya Aku bercerita kepadamu Noona Evita, nyatanya Kau bisa memberikan jawaban dengan cepat..Noona Evita, Aku mencintai Nabila, Harapan ku semoga bisa diijinkan bersamanya”
Raja berdiri dari duduknya, jawaban sudah ditemukan olehnnya. Tinggal dirinya bertindak untuk mendapatkan Nabila.saat ingin membungkukkan tubuh untuk menghormati orang didepannya.
Raja berhenti dengan pandangan berbeda. Ia yang tadi penuh kebahagiaan kini merasa khawatir.
“Apa saat Kau sadar nanti, Anda akan memecatku?”guman Raja.
Krek!!!
Raja menatap kearah Pintu yang memperlihatkan Suami dari orang yang ada didepannya. Ia langsung tersenyum
“Terimakasih Tuan Za, sudah mengijinkan Raja berbicara berdua dengan Nyonya Evita”ucap Raja yang melihat Za mengangguk.
“Raja sudah selesai, dan Izin Pamit sebelumnya, ada yang ingin dititip untuk Raja belikan?”
Raja melihat bahwa Boss nya mengeleng yang berarti tak ada yang dititip oleh Za kepadanya. Ia mengangguk dan memilih untuk keluar karena sudah saatnya Ia pergi.
-
Kepergian Raja, membuat Zhan Za Chen, suami Evita mendekat kearah Istrinya yang masih tenang tertidur. Ia duduk disamping ranjang sang Istri lalu mengenggam tangan yang diinfus dengan hati-hati.
“Evita, hari ini penuh sekali kebahagiaan sepertinya..apa kau tak ingin bangun dan melihat secara langsung, Intari dan Amelya bahagia bersama Suaminya. Dan ku harap Kau bangun lalu kita akan tinggal dirumahku ya”Za mengucapkkan kata yang ada dihatinya.
Za menatap kearah Perut Evita. Ia yang mengenggam tangan sang Istri kini menyentuh perut yang belum tampak membuncit. Karena usia kandungan Evita masih terbilang muda.
Tak ada yang mengetahui Evita hamil, kecuali Za. Alasan Za tak mengatakannya, karena Ia perlu mendapatkan restu dari Kakeknya. Apa lagi ini bersangkutan dengan Yoongi dan Echan. Ia tak ingin Kakeknya menganggap mereka bermain-main dengan wanita.
Maka yang harus dilakukan adalah memberikan penjelasan sebelum membawa sang Istri. Ada faktor lain yang membuat Za melakukan ini, Ia tak mau Istrinya terganggu dengan ucapan orang-orang.
Yeah meski Ia terlihat dingin, Ia sangat perhatian jika berurusan dengan orang yang dicintainya.
Asik mengusap pelan perut sang Istri, Za kaget ketika melihat tangan Evita yang bergerak. Hal ini berhasil membuatnya bangun dari tempat duduk dengan terkejut.
“Evita..ka-kau?”Za yang berpikir cepat langsung menekan tombol darurat untuk memanggil Pamannya.
-
Mavin Vintorin menatap layar ponselnya. Ia siap menghubungi Liyana dengan perasaan yang sulit diartikan.
Orang yang berhati dingin itu bisa dibuat gugup hanya karena masalah sepele. Yeah sepele untuk Ayahnya. Sedangkan dirinya menganggap masalah yang sangat serius.
Ditekannya tombol panggil yang langsung menghubungkan dengan nada yang bisa dibilang tersambung.
__ADS_1
Tak lama, Panggilan yang dilakukannya itu berhasil disambut oleh seseorang.
“Hallo...Siapa?”
Sudah lama tak mendengar suara Liyana. Vintorin terdiam dengan degupan yang luar biasa bersenam.
“Jika tak ada, Aku akan mematikannya”
Diseberang sana yang mengucapkan hal demikian, membuat Vintorin langsung kelagapan menjawab.
“Maaf, ini Aku Mavin Vintorin, Liyana”ucap Vintorin dengan nada yang cepat namun sambutan yang didapatnya malah menyedihkan.
Panggilan itu langsung terputus yang langsung membuat wajahnya kaget.
“Baru kali ini, Aku menelpon. Setelah berbicara sekali langsung dimatikan, bahkan tak bertanya alasan Aku menelponnya”guman Vintorin yang menatap layar ponselnya.
Seperti tujuannya, Ia akan mengambil Liyana dan Putranya. Lalu membangun keluarga yang sebenarnya. Vintorin tak menyerah, Ia kembali menghubungi nomor yang sama.
“Hallo, Siapa?”
Suara disana sudah menjawab dengan kecut, yang menandakan bahwa Ia tak ingin menerima telpon sama sekali.
“Ini Aku Liyana, Mavin Vintorin...”
Vintorin tahu bahwa diseberang sana akan mematikan panggilannya. Ia langsung melanjutkan ucapannya “Dengarkan Aku sebelum Kau menutup panggilannya, Kau berhak memutuskan nanti”
Ucapannya berhasil memancing orang diseberangnya, yang langsung dijawab oleh Liyana. “Apa keinginanmu,Tuan Mavin?”
“Aku ingin melakukan pertemuan denganmu, dan berbicara denganmu, berdua”
“Apa itu perlu, Aku rasa itu tak diperlukan”
“Perlu, Karena Aku sudah tahu..dan Kau juga tahu maksudku menelponmu”
“Baiklah, Aku akan bertemu denganmu, tempatnya ada di Cafe milik Intari, jam 8 besok pagi”
Panggilan langsung diputuskan oleh Seberang sana. Vintorin baru saja ingin berterimakasih, namun mendapatkan perlakukan seperti itu membuat dirinya tersenyum dengan perasaan kesal.
“huh..tenang Vintorin, ini salahmu..”gumannya menenangkan diri, lalu memilih untuk mengisap rokoknya dibalkon kamar.
-
Berbeda dengan Vintorin, Liyana menjatuhkan dirinya di sofa miliknya dengan perasaan campur aduk.
Ucapan Evita yang mengatakan bahwa Ayah dari Anaknya akan mengejar dirinya. Hal ini benar-benar membuatnya tak tenang.
Apakah Ia senang dengan hal tersebut?, tentu saja tidak. Ia merasa tak pantas bersanding dengan Pria yang berkemegahan seperti itu. meski Ia sendiri tak terlalu mengenal Mavin. Tapi melihat begitu royalnya Mavin kepada Evita, membuatnya merasa tak akan bisa bersama dengan orang seperti itu.
“Bagaimana Ia bisa mengetahui Nomorku?”Liyana menatap kearah telpon rumah miliknya. Ia menyentuh jidatnya dengan perasaan yang ingin dilampiaskan.
Tuk...Tuk...
“Ibu!!!”
Liyana menatap kearah Vino yang melangkah masuk kedalam kamarnya. Terlihat sekali bahwa Putranya itu mirip dengan Ayahnya. Untungnya senyum dan matanya itu mirip dengannya. Meski tak sepenuhnya mirip.
“Kenapa Vino?”tanya Liyana menyambut Putranya. Ia memangku dengan hati-hati lalu memeluk Putranya.
“Ibu, Apa Ibu capek?, Ibu dari kemarin sering keluar rumah?”Tanya Vino dengan wajah penasaran.
“Iya, Tantemu sedang dirumah sakit..entah sekarang apa yang terjadi kepadanya itu”jawab Liyana dengan asal sambil memainkan rambut kecil Vino.
“Ibu, Jika Aku punya Ayah dan Menyukainya...Apa Ibu akan mencintai Ayah?”
Liyana terdiam mendengar pertanyaan Putranya ini. Ia menatap lekat kearah Mata sang Putra yang begitu serius.
“Kenapa hm?...Apa Kau ingin seorang Ayah, Ibu akan menikahi seorang pria”jawab Liyana dengan pikiran untuk menyewa seseorang. Dan Ia tahu pikiran itu taklah baik.
“Iya, tapi Aku ingin Pria yang ku pilih sendiri”Jawab Vino. Liyana yang mendengarnya merasa bahwa Putranya ini sedang menyembunyikan sesuatu.
“Vino Dengar, menikah itu bukan sebuah mainan. Jadi Biar Ibu yang menentukannya Nanti oke”bagai orang dewasa yang saling berbincang. Vino menganguk seakan-akan paham dengan apa yang diucapkan oleh Ibunya.
Tuk!!!!
__ADS_1
Seorang Pelayan melangkah dengan cepat, masuk kedalam kamar Liyana. Wajah tergesa itu menghadirkan kerutan didahi Liyana.
“Apa yang membuat mu berlari seperti itu?”tanya Liyana dengan bangun dari duduknya dan menurunkan Vino dari gendongannya.
“Nyonya Liyana, Tetua Evita sudah sadar dari komanya”ucap Pelayan dengan begitu cepat.
Liyana menatap bingung karena mendengar hal yang dinantikan. “Maksudmu”tanya ulang Liyana.
“Tetua Evita sudah sadar..Tetua Amelya yang mengkabarinya”ucap Pelayan mengulangi lalu menambahkan jawabannya.
Liyana langsung terkejut, Ia bergegas mengendong Vino. Ia melangkah menuju keluar kamar dan bergagas kerumah sakit.
-
Nabila sedang menandatangani sebuah dokumen yang diperiksa olehnya. Nada ponsel pintar miliknya berdering yang membuatnya langsung bergegas mengangkat. Karena yang memanggil seketaris dari Kakaknya Evita.
“Hallo, Sebastian ada apa?”tanya Nabila dengan perasaan yang bertanya-tanya.
“Nabila, Nyonya Evita sudah sadar”
Nabila yang mendengarnya langsung tersenyum, ia meninggalkan ruang kerja,melangkah menuju keruang tamu.
Terlihat sekali semua orang ada disana. Salah satunya Inul yang bertamu dengan membawa Putrinya.
“Apa yang terjadi kepadamu Nabila?”tanya Ibunya yang membuat perhatian Nabila terarah kepadanya.
Nabila mematikan panggilan Sebastian. Lalu berhenti melangkah menatap kearah keluarga besarnya.
“Kakak Evita sudah sadar, Aku ingin menjenguknya”ucap Nabila yang didengar oleh Inul serta yang lainnya.
“Tunggu Nabila,Aku juga ingin menjenguknya”usul Inul dengan mengendong Putrinya. Ibu Nabila menatap bingung dengan yang terjadi.
“Kakek, Kakek akan..”Kepala Keluarga besar berhenti berbicara, karena sadar Evita bukan bagian dari mereka. dan tak mungkin menunjukan wajahnya.
Nabila dan Inul yang melihatnya langsung menarik Kakek mereka. “Kita harus menjenguknya. Evita pernah berkata, meski Ia melepas marganya, Ia tetap cucu kalian, karena Ia lahir dari darah ayahnya yang juga milik Kalian”
Kakeknya dan yang lain menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Cucu mereka. semua langsung berangkat dengan tiga mobil yang dibawa. Menuju kerumah sakit dengan perasaan bahagia mendengar kabar sadarnya Evita.
-
“Kau kesini Mavin Vintorian?...”
“Apa salahnya Aku kesini, Pemimpin ke5, Leon Zer?”tanya Mavin Vintorian yang menundukkan diri disebuah sofa tamu.
Leon Zer, sang Mafia yang sering tidur jika ada pertemuan apa pun itu. namun yang pasti tindakkannya, dan perkerjaannya selalu bersih. Karena pekerjaannya adalah penyeludup, obatan ilegal yang diekpor keluar negaranya.
“Tak masalah jika pemimpin ke 1 mau mampir,hanya sangat aneh jika Kau kesini tepat setelah masalah kemarin?”Leon Zer duduk diseberang Mavin Vintorian.
“Yeah, memang aneh Aku kesini dengan keadaan seperti ini”Mavin Vintorian menyenduh secangkir wine yang disediakan didepannya.
“Aku bertanya-tanya Mavin, Kau sudah lama berada didunia Mafia, Aku penasaran kenapa Kalian mengintai Wanita yang lemah, ia baru disodok dengan pisau saja sudah pucat”Leon Zer adalah seorang penerus dari Mafia sebelumnya. Posisinya juga demikian.
Mavin yang mendengar ucapan Leon hanya bisa tersenyum sinis. “Kau hanya meneruskan kepemimpinan Ayahmu, tak akan tahu siapa yang diincar. Memang benar Ia lemah..tapi kita tak tahu selemah apa Ia sampai bisa membunuh Mantan Istriku”jelas Mavin Vintorian dengan wajah yang menatap kesal.
“Membunuh, memang Istrimu semudah itu ditusuk?”Leon bertanya lagi dengan wajah lugunya.
Mavin yang mendengarnya merasa ingin menghantamkan kepala Leon ini ke meja yang ada didepannya.
Mavin Menghela nafas dengan perlahan, “Aku tak bisa menjelaskannya, namun satu hal yang bisa ku katakan, orang yang kau sebut lemah itu bisa membuatmu bangkut dalam sekali ucapannya dan bisa membunuhmu sampai keakarnya”
“Aku tak percaya akan hal itu, jadi jangan takuti aku dengan gaya kekanakkan”
“Itulah yang ku maksud, Kau tak akan paham jika dijelaskan apa lagi diperingatkan”
“Yeah kau tak perlu menjelaskan dengan rinci dan memberiku peringatan. Percuma saja”
Leon bangun dari duduknya dan menatap kearah foto besar milik keluarganya. “Selama memimpin Mafia, Aku tak pernah sekali pun berpikir bahwa Aku meneruskan kepemimpinan Ayahku, hanya Aku ingat pesannya, jangan meremehkan seorang wanita, itu yang diucapkan olehnya”
Mavin Vintorian menatap kearah Punggung Putra kenalannya. Ia mendengarnya cerita yang disampaikan oleh Leon Zer.
“Wanita merupakan mutiara yang dijaga oleh kerang. Namun tak semua mutiara akan menampilkan keindahannya, jadi jangan sembarangan bertindak dan menganggap ia merupakan sang mutiara terindah diantaranya, kadang mutiara itu hanya dupilkat dari mutiara sebenarnya”
Leon melangkah lagi mendekat kearah Vintorian. “Jadi yang ku simpul dari pendapat Ayahku, Aku tak boleh bersangkut patut dengan masalah wanita, Aku tahu kedatanganmu disini pasti membahas masalah wanita itu bukan?”
__ADS_1
“Aku tidak akan menarikmu untuk ikut, hanya ada yang ingin ku titipkan kepadamu”Mavin Vintorian menyerahkan sesuatu didepan Leon yang menatap serius kepadanya.