
setibanya dirumah, Evita mengarahkan tamunya keruang tamu. “Tunggu sebentar..aku akan mengambil kotak P3Knya”ucap Evita yang kemudian pergi meningalkan Amelya dan Indah.
“aku ambilkan air hangat sebentar”ucap Amelya yang kini meranjak bangun. Indah dibuat bingung karena ia saat ini tengah memikirkan bagaimana cara untuk kabur.
Tak berapa lama Evita datang dan begitu juga Amelya. Suasana yang mereka lihat sedikit aneh karena Indah benar-benar diam, bungkam dengan keadaan.
“Ini....”ucap Evita. ia tak memikirkan bahwa harus ia juga yang mengobati. Jadi Za mengambil alih kotak P3K, tapi langsung direbut oleh Amelya. Membuat Evita, Indah, Yoongi dan Echan kaget melihatnya.
“Ehm..biar aku yang obati...”ucapnya. karena melihat bahwa Amelya memang ingin mengobati, maka Za dan Yoongi membiarkannya. Echan mengangguk dan menyinggirkan sedikit anak rambutnya untuk mempermudah Amelya mengobatinya.
Melihat hal ini, membuat Indah dan Evita saling melirik dan tersenyum kecil.
“Ada apa?”tanya seorang Wanita yang kini sedang turun dari tangga. Evita yang melihat kedatangannya langsung sedikit menegang.
“Astaga....Kamu kenapa Nak?”tanya Ibu Evita yang melihat kearah Echan. Ia bahkan mengangkat wajah Echan untuk menatap kearahnya. Membuat Amelya kaget dan refleks mundur hingga ia hampir terjatuh jika tangan Echan tak menahan pingangnya.
“Tidak apa Tante...aku tak sengaja terkena batu”ucap Echan dengan tangan yang masih menahan Amelya. Amelya ditariknya mendekat kearahnya. Membuat mereka menjadi sedikit mendekat. Tak ada yang menyadari hal ini kecuali mereka berdua.
“Batu!!!...siapa yang melemparnya?”mendengar pertanyaan itu, Evita seketika membawa Ibunya menjauh. “Mah....dia tengah diobati....aku akan menjelaskannya...sini ikut aku mah....mari ikut aku..hehehe”Ibu Evita yang mendengar tutur Anaknya sedikit mengerutkan alisnya.
Setelah Ibu dan Anak itu menjauh, Amelya seketika sadar dengan posisinya saat ini karena tangan yang menyentuh pingangnya tak terlepas dari tadi.
“Ah maafkan aku”ucap Amelya yang menjauh sedikit. Membuat Echan melepaskan tangannya.
“Akan ku lanjutkan”Amelya menyentuh kepala Echan dengan hati-hati. Ia gemetar kecil karena mengingat perlakukan Echan, meski ada nada marah ia tak bisa menyalahkan Echan, dia sendiri yang salah duduk. Jadi ia hanya bisa berdiam diri.
Berbeda dengan Amelya, Indah saat ini tengah memikirkan keadaan Evita. karena sudah dipastikan Evita akan menjelaskan segalanya. Bisa gawat mereka.
Dan apa yang dipikirkan oleh Indah kini bisa dilihat dari wajah Evita, yang tengah menjelaskan dari kejauhan.
“Kenapa..apa yang terjadi kepada pemuda itu?”tanya Ibunya yang kini sudah diamankan. Sementara saja sih.
“Itu Mah......tadi siang..kita niatnya pengen ambil buah mangga....tapi terjadi kecelakaan”ucap Evita dengan nada yang pelan. Ibunya Cuma mengangguk.
“Nah....Aku..Indah dan Amelya kan pengen ambil buah yang tinggi dari pohon Mah..niat awal tuh mau manjat..tapi karena pohonnya terlalu tinggi kan sedikit bahaya...jadi kami mengunakan ranting untuk melempar kearah buahnya”
“dan kena orang gitu maksudmu”ucap Ibu Evita menyimpulkan segalanya. Evita mengangguk.
“Astagaa......Kalian melemparannya!!”sedikit bernada tinggi membuat Evita menatap kearah lain. aduh sudah dipastikan ia harus jujur saat ini.
“Minta maaf sama mereka.....kalian bersalah, setidaknya kalian bertanggung jawab”ucap Ibu Evita yang kemudian melangkah keruang Tamu. Membuat Indah yang melihatnya panas dingin.
Amelya kini telah selesai mengobati, ia berbicara “Lukanya tidak dalam....jadi ini tak akan berbekas...” setelahnya ia menjauhkan diri dan menyusun kotak P3K.
Ibu Evita datang menarik perhatian mereka. Evita bahkan menyusul dan berdiri disamping Indah. Amelya yang telah selesai membereskan kotak P3Knya, ikut berdiri berdampingan dengan Sahabatnya.
“Apa yang kalian tunggu...cepat minta maaf”mendengar hal itu, Echan, Yoongi dan Za menatap kearah Tiga gadis yang menunduk.
Karena mendengar hal itu, Evita yang paling duluan maju, dan berbicara “Sebelumnya Maaf ya Kak Za....
“Kak Yoongi”ucap Indah.
“dan Kak Echan”ucap Amelya menyusul.
Evita mengakhiri “Maaf karena kami kalian malah harus menghadapi hal seperti ini....ranting dan batu itu karena ulah kami”
Mendengar hal itu tak membuat Raut wajah tiga pria terkejut. Seakan-akan mereka sudah mengetahuinya. Yeah siapa yang tidak tahu, bayangkan saja sendiri saat kau melempar sesuatu terus kena seseorang, apa yang akan kau lakukan, biasanya orang akan kabur, tapi Orang yang merasa takut akan melihat dulu siapa dan merasa kenal akan menjadi seperti ini. Jadi jangan heran jika Za,Yoongi dan Echan sudah duluan tahu pelakunya siapa.
“Tidak apa....lagian kenapa kalian melempar ranting dan batu?”tanya Echan.
Amelya menjawab “Mengambil buah mangga”
Mendengarnya membuat Ketiga pemuda itu mengangguk, Ibu Evita juga ikut mengangguk. “Baiklah...Evita,Indah dan Amelya bertanggung jawablah, dan satu lagi hidangkan mereka minum...kasihan tamu tak dihidangkan minuman.....Ibu akan keluar, untuk pergi keacara keluarga, Ayahmu ada disana..jadi jangan melakukan hal aneh...ingat”ucap Ibu Evita sambil menatap tajam kearah tiga gadis yang menjawab serentak “Baik Mah”ucap Mereka.
__ADS_1
Ibu Evita pun pergi. Jadi kini hanya tinggal enam orang yang ada dirumah ini. Evita,Indah dan Amelya memutuskan untuk membuatkan minuman dingin. Sekalian bertangung jawab.
“Huh......mereka menarik”ucap Echan yang sudah ditinggalkan oleh Evita, Indah dan Amelya. Ucapannya hanya didengar oleh Yoongi dan Za.
Tak berapa lama, Ketiga Gadis tiba dengan mapan dan cemilan. “Ini Minuman dingin dan Cemilannya..silahkan dimakan dan diminum”ucap Indah yang menghidangkannya.
Evita dan Amelya duduk disalah satu Sofa yang ada, dan Indah menyusul mereka.
“Ini Rumahmu Evita?”tanya Echan yang telah meminum es yang dibuat oleh Ketiga gadis, lebih tepatnya buatan Amelya. Evita mah Cuma bagian menghancurkan batu esnya.
“Iya benar Kak....”jawab Evita sambil mengambil cemilan yang sebenarnya untuk tamu mereka.
“Kapan kalian datang kesini....?”tanya Echan lagi. dan Indah menjawab “Kemarin”
“Berarti lebih dahulu kami..kami sudah dua hari disini”ucap Echan. Ia pun melanjutkan “Sebenarnya apa yang ingin kalian perbuat dengan mangga itu?”
Amelya yang menjawab “Untuk ngerujak Kak....eh...Evita kau tak mengambil mangga yang sudah kau jatuhkan tadi?”
Evita yang mendengarnya langsung berdiri. “Sial....ku tinggal bree...”Ia berlari membuat Indah dan Amelya menyusul. Echan,Yoongi dan Za yang melihat mereka berlari ikut berlari. Untungnya dirumah ada pelayan yang bekerja. Kalau engak mungkin bakal kemalingan.
Setelah lumayan berlari, yang berhasil menguras keringat. Evita berhenti ditempat. Ia melihat kearah dimana jatuhnya Buah yang berhasil kena sasaran.
“Gimana?”tanya Indah yang sudah tiba dan setelahnya Amelya. Tak berapa lama, Tiga Pemuda juga tiba dengan nafas yang berhembus cepat.
“Lah...Kalian tak usah ikut”ceplos Indah yang menyadari bahwa Ketiga Kakak Kelasnya ini mengikuti mereka.
“Kami ikut...karena kami pikir ada bahaya”ucap Echan yang memang sebenarnya berpikir demikian, begitu juga dengan Za dan Yoongi. Tapi yang mereka dapati hanya pohon mangga yang berbuah.
“Tak ada bahaya kak”ucap Amelya yang kini bergegas mencari buah yang berhasil jatuh. Setidaknya satu itu berguna untuk disantap mereka.
“Ketemu engak Evita?”tanya Amelya yang langsung mendapat jawaban “Engak ketemu breee”Jawab Evita.
Membuat Ketiga Pemuda ikut mencari. Mereka pun mencari disetiap sisinya. Bagaikan mencari jarum dalam tumpukkan kardus berwarna sama. Maksudnya buah mangga yang mereka ambil berwarna hijau dan ia bersembunyi dibalik daun-daun dan ilalang yang berwarna hijau juga. Jadi yeah rada susah.
Amelya saat ini tengah menyusuri salah satu arah yang bisa membuat buah tergelicir dari jatuhnya. Saat langkahnya mulai diberikan tiba-tiba seorang menariknya. Membuatnya terjatuh menimpa yang ditarik.
“Ugh”ucap keduanya. Amelya menatap terlebih dahulu. dan yang dilihatnya sebuah pakaian yang menompang tubuhnya. Membuatnya terteguh dan menyadari bahwa pakaian ini milik Echan.
Amelya bangun dari jatuhnya. Melihat ini merasa sedikit dejavu. “Maaf Kak...”ucapnya yang kini melihat Echan bangun dan duduk ditanah.
“Kau tak apa-apa?”tanya Echan yang melihat kearah Amelya. Mendengar pertanyaan itu membuat Amelya meringis aneh. “aku tak apa-apa Kak”jawab Amelya.
“Syukurlah...tadi ada lebah yang mengelilingi mu”ucapnya yang membuat Amelya merinding karena membayangkan jika tak ditarik tadi, bisa jadi ia akan bengkak-bengkak.
“Terima kasih Kakk....terimakasih banyak”ucap Amelya yang kini meranjak bangun.
Kreek
“Agh!!!”Amelya meringis memegang kaki kanannya. Membuat Echan langsung mendekat kearahnya. “Apa yang terjadi..kaki mu terkilir?”tanya Echan yang langsung dianggukkan oleh Amelya.
“sepertinya begitu kakak...aku coba bangun dulu”ucapnya yang tiba-tiba mengandeng tangan Echan untuk membantunya berdiri. Tapi sayang Kakinya malah semakin tambah sakit.
“Agh....benar-benar terkilir Kak”ucapnya membuat Echan langsung mengubah posisi dan mengangkat tubuh Amelya. Kini terlihat Amelya tengah digendong ala bridal style.
“Kak..apa yang Kakak Lakukan?”tanya Amelya yang langsung dijawab oleh Echan. “maafkan aku..tapi begini lebih baik..sebaiknya kita cepat pulang..”ucap Echan yang melangkah menuju ketempat pertama mereka tiba.
Berbeda dengan Amelya. Indah dan Yoongi tengah menyusuri jalan yang mengelilingi pohon mangga.
Tak ada yang bisa mereka temukan disana. Apa lagi dibagian sisi pohon yang lain terdapat tanah yang bergelombang. Mereka berdua melangkah kesana. Suasana sunyi karena tak ada yang ingin ngomong sama sekali. Mereka pun berpencar sebentar.
“Engak ada disini..aduh gini nih..harusnya aku mengingat rumus fisika..siapa tahu kan bisa menemukan arah jatuhnya”benak Indah. Ia tak menyadari bahwa jalan yang dilewatinya sedikit basah. Hingga...
Bruk
__ADS_1
“Agh....Sial nih tanah”caci Indah yang berusaha untuk bangun tapi rasa sakit menjalar dikakinya.
“Aduh...mulai dah mulai nih kaki”gurutuknya. Tak habis pikir dirinya kok bisanya datang kemalangan untuknya. Udah engak bisa makan rujak, sekarang ia maha harus menerima kemalangan.
“Sial”gumannya yang tiba-tiba tubuhnya terangkat sendiri yang membuatnya kaget. “Astaga dewa mana datang menyelamatkanku”ucapnya yang seketika bungkam melihat wajah Yoongi yang mengendongnya.
“Kak Yoongi apa yang kau lakukan?”tanya Indah yang menatap kearah lain. masalahnya nih ya Cowok didepannya ini sangat tampan.
“Lebih baik kita kembali”ucapnya. Dan melangkah membawa Indah yang masih butuh penjelasan rinci. Tapi mendengar kata Lebih Baik, ia merasa itu benar. Dari pada disini apa lagi ia terluka gini. Aduh kemalangan hadir lagi kepadanya.
Ketika kedua Sahabatnya aman-aman aja. Evita malah menemukan buahnya dan mendapatkan hukumannya. Maksudnya..
Evita saat ini tengah berlari karena buah yang ditemukannya telah ada ditangan. Karena ilalang dan beberapa tanaman lain lebih tinggi dari lutut. Ia tak menyadari bahwa ada batu besar yang ditumpuk disana.
Dan membuatnya menendang salah satu batu yang ada. Masalahnya ini batu yang ditendang kalau kecil engak masalah, tapi yang ditendang ini seukuran buah semangka. Hehe perih gak tuh kena kaki.
Membuat Evita tersungkur kedepan. Sudah kaki yang kena Dagu lagi yang dapat bagian. Membuatnya mengerutu diri “Baru aja dapat buahnya, eh dihukum...ini pasti karena kau berbohong”
“Apa yang terjadi”ucap Za yang menyadari bahwa Evita masih tersungkur dengan nyaman ditanah.
“Kau tak apa-apa?”Za membangunkan Evita dengan hati-hati. Evita yang mendapat pertanyaan itu tersenyum. Yeah mau nangis itu engak guna saat ini, lebih baik tersenyum.
“Aku tak apa-apa Kak”jawab Evita sambil mendudukkan diri, tak menyadari bahwa yang didudukinya adalah Paha Za. Za terdiam dengan keberanian Evita.
“Terimakasih Kak...Aku akan mencoba berjalan”ucap Evita yang memegang bahu Za. Ia berusaha mengangkat tubuhnya tapi itu sia-sia, rasa sakit dikakinya benar-benar menganggu dirinya.
“Berdiri disini”ucap Za menuntun tangan Evita untuk bertahan disalah satu pohon, dan setelahnya Za berjongkok didepan Evita. membuat Evita terteguh melihatnya.
“Apa yang Kakak lakukan?”tanya Evita sambil memandang orang yang menunjukkan pungungnya.
Za sedikit menoleh “Naiklah...lebih baik kita pulang”mendengar Kata Pulang membuat Evita mengangguk. Ia menaiki tubuh Za dengan pelan. Tak lupa dengan buah yang masih ditangannya. Bodo amat Buahnya harus dibawa pokoknya. Udah susah-susah dilempar, dia juga dapat kemalangan. Masa harus ditinggal nih buah. Kagak bisa.
Evita digendong hingga tiba ditempat kembali dan terlihat Indah dan Amelya yang juga sama-sama digendong oleh Pria yang tak lain adalah kesayangan sekolah.
Karena melihat nasib yang sama, Indah, Evita dan Amelya tertawa bebas yang membuat ketiga Pria asing berbenak.
“Nih cewek sarafnya lagi konslet karena kakinya terkilir?”benak Echan.
“Kok ketawa....bukannya tadi mengerutu kerjaannya..apa otaknya lagi mengalami kendala”benak Yoongi.
“huh....mungkin karena rasa sakit dikakinya...ia menjadi aneh”benak Za.
Mereka pun pulang dengan Evita yang menunjukkan arah jalan. Sambil bercanda dan menikmati perjalanan mereka.
“Evita..kita tak dapat buahnya”ucap Indah yang dengan tenang bergerak dalam gendongan Yoongi. Meski banyak bergerak Yoongi tak menegurnya.
Berbeda dengan Amelya yang terdiam, tangannya digantung dileher Echan. “Benar Evita gimana nih..”ucap Amelya yang ikut berbicara.
“Aku ketemu kok..Ini”ucap Evita sambil menunjukkan buah yang ada ditangannya. Ia tak menyadari bahwa saat ini pipinya bersentuhan dengan pipi Za. Bahkan nafas mereka berdua berhembus diwaktu yang sama.
“Eh benarkah?”Indah langsung mengoyangkan diri untuk melihat kearah Za yang ada dibagian tengah mereka. Yoongi memperbaiki gendongannya agar mempermudah Indah melihat kearah Za.
“Sungguh!!”Amelya menegakkan pungungnya, membuat Echan mengunci gendongan agar ia mudah membawa Amelya. Tangan Amelya pun makin terkunci dileher Echan. Membuat Echan mudah bergerak.
“Engak lihat nih...lumayan besar loh”ucap Evita dengan wajah yang masih menempel. Tak membuat Za marah kepadanya. Bahkan Za memperbaiki gendonganya. Hingga tangan Evita yang satunya mengerat memegang pundaknya.
“Ih..kalau begitu kita bisa nih ngerujak”ucap Indah yang kini merebahkan kepalanya didada Yoongi. Membuat Yoongi sedikit melirik padanya dan kembali menghadap kedepan dengan wajah dinginnya.
“bener nih...engak sia-sia kita”ucap Amelya yang kembali keposisinya. Dan itu menarik perhatian Echan yang kini memandangnya. Sesaat kemudian menghadap kedepan.
“woke...nanti kita buat”Akhir dari percakapan mereka bertiga. Evita kembali meletakkan tangan satunya kepundak Za yang berlawanan. Ia mengeratkan gengamannya. Dagu yang berdarah itu menarik perhatian Za, hingga tangan Za yang satunya mengambil sapu tangan dan langsung menempelkannya kearah dagu Evita.
Evita terteguh sebentar, ia mengerti apa yang dimaksud Za. Dengan cepat ia mengambil sapu tangan itu dan menutupi lukanya. Tangan Za kembali keposisi mengendong Evita.
__ADS_1
“terimakasih”ucap ketiga gadis yang membuat Tiga Pemuda tersenyum dan mengangguk.