MANTIV

MANTIV
● Mantiv(51)


__ADS_3

tembakkan itu mengenai lengan kiri Evita yang tak membuat Evita mundur karena tembakkannya. Zamru dengan wajah senang kini terdiam melihat mata Evita yang menatap datar kearahnya. Hingga pria berpakaian hitam langsung melesatkan peluru mereka.


membuat karya indah yang menjadi pemandangan luar biasa untuk Indah dan Orang tuanya.


Pria perpakaian hitam itu pun mendekat kearah Evita. “Nyonya Muda...apa yang anda lakukan disini?”tanya Salah seorang yang berani maju. Evita tak menjawab.


Ia melangkah menuju Indah yang kini terdiam mematung. “Indah...apa kau pernah mendengar kalau aku menyerahkan diri kepada polisi karena membunuh dua wanita?”ucap Evita yang langsung mendapat anggukkan dari Indah.


“Maka jangan kaget melihatnya..begitu juga denganmu Amelya”ucap Evita yang melihat kebelakang dimana Amelya masuk yang terhenti dengan mematung ditempat.


Indah dan Amelya langsung memeluk Evita. mereka tahu bahwa Evita pembunuh, tapi mereka merasa bahwa Evita tak salah. Yang salah adalah orang yang dibunuh.


“Sudah..lebih baik kita menyelesaikan masalah disini”ucap Evita yang mendapat sodoran pistol oleh Ayah Indah.


Indah membelakkan mata melihatnya, begitu juga dengan Amelya. Mereka tak habis pikir dengan tingkah dari Orang Tua Indah ini.


“Kenapa anda bisa ada disini..dan menghancurkan rencana kami”ucap Ayah Indah yang menatap Evita dengan pandangan membenci.


“Aku datang karena ingin bertemu dengan sahabatku”Evita tetap diam dan tenang menghadapi amarah orang tua Indah kepadanya.


“Kau mengagalkan rencanaku..aku harus membunuhmu”ucap Ayah Indah. Belum selesai dengan jelas ucapannya seseorang menembak lengan Ayah Indah yang langsung melepaskan pistol ditangannya.


Reza datang dengan santai sambil meletakkan mantel ketiga orang yang kini harus ia lindungi.


“Nona Muda Evita....apa tidak perlu menghabisi mereka?”tanya Reza dengan memandang Ibu Indah yang kini menyodorkan pisau kearah Evita. yeah setelah lengah sedikit Evita yang menjadi sandar lagi.


Evita menatap Indah yang kini terdiam. Membunuh bukan hal yang sulit, tapi keputusan akhir yang menjadi tantangan untuk mereka. ditambah Orang tua ini adalah orang tua Indah sendiri. orang tua kandung.


Amelya menatap Indah. Ia juga tahu bahwa ini bukan hal yang mudah. Mengambil keputusan yang tepat harus ada resiko yang dihadapi. Jadi apapun keputusan Indah, Evita dan Amelya akan menyetujuinya tanpa penolakkan.


“Bunuh saja keduanya..mereka bukan orang tuaku lagi...Pak Reza bisa kau berikan pistol itu kepadaku?..”Indah menyodorkan tangannya untuk mendapatkan pistol yang kini diserahkan oleh Reza sesudah mendapat anggukkan dari Evita.


Seketika itu juga, Indah melesatkan pistolnya mengarah ke Ibu dan Ayahnya. Tembakkannya mengarah tepat sasaran membuat Evita dan Amelya tercenga melihatnya.


“Kau sudah melatih tembakkanmu Indah?”tanya kedua Sahabatnya yang mendapat anggukkan oleh Indah. “Yeah aku latihan secara rahasia..maafkan aku Sahabatku, aku berbohong dan tak memberitahu kalian tentang masalah ini”ucap Indah yang mendapat pelukan oleh Evita dan Amelya.


Indah terdiam memandang dua orang yang telah terkapar. Ia tak menyadari air mata lolos didirinya dan beberapa menit kemudian meraung menangis menumpahkan rasa sedihnya. Ini keputusannya, lebih baik ia ditinggal dan merasakan penyesalannya sendiri, dari pada orang tuanya yang akan terus menyiksa dirinya. Sudah cukup ia akan menjalani kehidupannya sendiri.


-


Seminggu semenjak kematian orang tua Indah. Indah tinggal di apartement milik keluarga Evita. ia juga telah menjual rumah yang ditinggali dulu olehnya dan tak tanggung-tanggung mengakui segala perbuatannya. Walau begitu polisi tak bisa menangkapnya, karena Indah sudah diamankan oleh seseorang.


Seminggu mungkin bukan waktu yang mudah melupakan semuanya. Tapi bagi Indah itu hal yang sangat mudah. Tak ada lagi yang akan memaksanya, tak ada lagi mental yang diuji. Sekarang ia bisa hidup dengan tenang.


Seperti hari ini, setelah kerja disebuah Restorant. Ia bergegas untuk pulang mengunakan taksi. Tapi sesampainya diluar tempat kerja. Sebuah mobil keluarga berhenti didepannya. Menghadirkan wajah kebingungan.


Kaca Mobil pun terbuka. Menampilkan empat orang yang tengah tersenyum menyambutnya.


“Hai Kakak Indah.....ayuk masuk, hari ini kita ada acara disebuah club”ucap Nabila yang mendapat pukulan kecil dari Amelya.


“Anak kecil dilarang ikut...kenapa kau ikut hah?”Amelya menatap tajam kearah Nabila yang masih terbilang muda.


“Sudah...ia dititip oleh ibunya...untuk ku jaga dan ku awasi, kalau ditingalkan ia akan kabur lagi dan lagi”Inul menjawab perkataan Amelya yang kini mengangguk mengerti.


“Kalian ini merepotkan diriku”Evita menatap kearah orang-orang yang kini tersenyum mendengar perkataannya. Ia memandang Indah yang masih diluar mobil.


“Kau ikut?”tanya Evita kepada Indah. Indah yang tadi tersenyum langsung menjawab “Tentu saja.....mari kita menikmati momen muda!!!”ucapnya yang kemudian masuk kedalam mobil.


Mereka pun melesat kesalah satu Club yang terbilang ramai. Tenang saja mereka tak akan bermain hal yang aneh kok. Selama perjalanan, mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol.

__ADS_1


“Kak Inul...kapan datang?”tanya Indah sambil melirik Inul yang mengendarai mobil.


“Tadi Sore sih”jawab Inul sambil melirik bentar lalu kembali fokus.


“Kami menginap dirumah Evita”ucap Nabila secara dadakkan membuat Indah dan Amelya terkekeh.


“Yeah setidaknya Rumah angker itu berpenghuni”ucap Indah yang menghadirkan ketawa dari mereka semua. Evita tak terkecuali.


“Rumahku bukan angker bree..tapi memang lagi dekat hutan”ucap Evita. yeah itu rumah yang dibelinya dari uang ayahnya. Ayah angkatnya. Kalau ayah kandung beda lagi.


“Hutan?..perasaan tanaman tetanggamu itu deh Evita”ucap Amelya. Mereka pernah bertamu sebelumnya. Dan memang benar rumah Evita itu dikelilingi oleh tanaman hijau. Jadi seakan-akan dihutan.


“Iya....dan aku sudah menyuruh untuk memindahkannya...tapi tetanggaku itu kayak maniak tanaman”ucap Evita. tak habis pikir kok bisa ada orang yang mencintai tanaman sehingga tak rela memotongnya. Padahal sudah merambat kemana-mana.


“Sudahlah...pindah aja dari pada bikin risih”ucap Indah, menyampaikan ide yang ada diotaknya.


“Kalau pindah...Ayah Angkat gua mah engak bisa setuju breee”Evita mengingat betul bagaimana bisa Ayahnya antusias saat memberikan hadiah rumah pertama kali kepadanya.


“Iya juga sih....itukan hadiah pertama ayahmu...Eh ayah Keberapa?”tanya Indah. Iya mereka tahu Evita punya dua orang tua. Dan mereka tak tahu orang tua angkat Evita ini.


“Ayah Angkat”jawab Evita. yang langsung mendapat anggukkan dari Indah. Amelya dan Inul serta Nabila hanya bisa terdiam. Toh mereka juga bingung mau ngobrol apa lagi.


-


Setelah lama mengendarai, tibalah ditempat tujuan. Masing-masing keluar dari mobil.


“Ini Club untuk anak-anak kan?”tanya Evita yang dijawab oleh Indah.


“Bukan Anak-anak..tapi balita”Indah mengatakannya sambil tertawa, Evita yang mendengarnya ikut tertawa. Yeah mereka tahu bahwa Club yang mereka datangi adalah Club untuk orang dewasa. Dan Club ini terdiri dua jenis. Yang jenis rendah Cuma minum dan menikmati musik yang ada. dan di jenis yang tinggi itu dilantai dua. Yeah nikmati masa dewasa disana.


Evita, Inul dan Nabila, lalu Amelya serta Indah tak akan kesana. Mereka memilih menikmati musik dan minuman yang disediakan.


*jangan ditiru siswa yang menyimpang ini


Inul,Nabila, Indah,Evita dan Amelya duduk dimeja yang kosong. Seorang pelayan datang mendekati mereka.


“Wine jenis apa Kakak-kakak”ucap Pelayan itu. Ia seorang laki-laki. Dengan wajah yang sangat imut. Membuat Indah,Evita dan Nabila berbinar melihatnya.


“Waah..udah punya pacar?”Tanya Indah yang langsung dijawab oleh Pelayan “Maaf....saya tidak pacaran”jawabnya. Membuat Indah memandang Evita yang terkekeh.


“Kenapa ketawa Evita?”tanya Indah. Evita menjawab sambil merangkul Nabila. “Tidak ada...hanya menikmati wajah merah dari pelayan itu”Evita menunjuk wajah Pelayan yang kini makin memerah. Benar Tunjukkan itu tidak tanggung-tanggung,Langsung menyentuh kulit Pria itu.


“Hei Evita..berhenti dia malu tahu”ucap Inul yang menurunkan tangan Evita. Evita hanya tertawa melihat pelayan itu. Meski malu masih betah untuk menunggu apa yang mereka pesan.


“sudah..sudah..lebih baik pesan sekarang”ucap Amelya. Ia menunjuk minuman soda didaftar menu. Sedangkan Nabila dan Inul menunjuk wine yang dicampur dengan buah. Evita dan Indah menunjuk Wine level tinggi. Pelayan yang mencatatnya sedikit kaget.


“Maaf ini yakin memesan Wine ini?”tanya Pelayan itu. Evita dan Indah tertawa melihat wajah lugu dari Pelayan yang ada didepan mereka. Inul hanya bisa mengeleng, ia pun menjawab “Minuman itu memang kesukaan mereka”


Mendengar itu, Pelayan itu pun langsung bergegas mengambilkan pesanan mereka. kepergian menghadirkan rengekkan oleh Indah dan Evita yang mendapat pukulan dari Inul.


“Sudah besar...dan kalian itu cewek..jangan suka mengoda”Inul memberikan pencerahan untuk Evita dan Indah yang kini hanya mendengus.


Tak berapa lama, pesanan mereka tiba dan yang mengantarnya adalah Pelayan yang sama. Ia kini berdiri didekat mereka. membuat Nabila sedikit merasa aneh.


“Kenapa kau ada disini....kami tidak akan memesan lagi, kecuali kami panggil”ucap Nabila. Ia hanya merasa aneh karena biasanya Pelayan akan pergi setelah pesanan mereka diantar.


Pelayan itu sedikit terteguh, ia pun menjawab “aku masih baru disini..jadi tidak tahu apakah harus pergi atau berdiri disini”ucapnya. Yeah sudah bisa ditebak. Ia memang masih baru karena Evita yang sering ke club ini. Baru kali ini melihatnya.


“Sudahlah..kalau kau merasa lebih enak berdiri didekat kami, berdirilah...kami tak akan marah kok”ucap Evita. Pelayan itu pun menangguk.

__ADS_1


Menikmati momen yang ada, dengan musik yang didengar. Lampu germelap begitu bersinar menghiasi ruangan. Semua wanita yang telah mabuk akan menari tak jelas. Dan laki-laki akan menikmati apa yang tampil didepan mereka.


Inul, Nabila dan Amelya menikmati apa yang mereka lihat. Sambil berbincang-bincang. Sedangkan Indah dan Evita, sudah memasuki botol kedua yang mereka minum. Pelayan yang masih baru itu merasa sedikit ngeri ketika bertemu dengan peminum seperti Evita dan Indah.


“Apa kalian tidak merasa mabuk meminumnya?”tanya Pelayan itu. Mendengarnya, Inul,Nabila, dan Amelya memandang kearah tiga orang yang kini Pelayan itu ikut duduk disamping mereka.


Indah mengeleng. “Sebenarnya Mabuk, tapi tergantung berapa botol yang kami minum, dan aku sudah cukup..aku sudah selesai”ucapnya rada mabuk. Yeah sudah saatnya ia masuk kezona mabuk. Membuatnya sedikit merasakan kesenangan.


Evita tertawa melihatnya “Bagaimana ini Indah..baru dua botol, belum masuk botol ketiga, kau sudah ambruk hahahaha”ucapnya. Evita tak menunjukkan tanda-tanda ia akan mabuk. Ia bahkan dengan tenang meneguk wine digelasnya. Membuat Pelayan muda itu langsung terdiam dibuatnya.


“Apa kau anak sekolahan?”tanya Amelya menatap Pelayan yang kini menuangkan Wine ketiga untuk diminum oleh Evita.


Mendengar pertanyaan itu, membuat tangannya gemetar hingga salah menuangkannya. Ia pun langsung meminta maaf kenapa Evita.


“Maafkan aku...aku gelagapan menuangnya”ucapnya sambil mengambil sapu tangan untuk dilapkan kecelana Evita. Evita menatap horor dan langsung berdiri. Membuat Pelayan itu tersentak kaget dan takut.Inul,Nabila, Indah dan Amelya terteguh melihat Evita menatap dengan tatapan tajam.


“Jangan menyentuh kakiku, tak baik untukmu...Kau laki-laki, cukup berikan lap tanganmu itu”ucapnya. Bukan apa, Evita tak ingin orang-orang seperti pengemis kepadanya. Ia tak ingin melihat hal itu. Tak tega melihatnya, lebih baik ia yang berjongkok dari pada Laki-laki, apa lagi orang itu baik padanya. Kecuali hal lain seperti sekarang.


Manager Club datang karena melihat hal yang mengejutkan. Membuat ia langsung bergegas datang membawa amarah diwajahnya. Ia langsung menampar Pelayan yang masih terbilang muda. Dan bisa dipastikan bahwa Pelayan itu adalah anak sekolahan.


“Kau ini sudah ku beri kesempatan untuk bekerja dengan baik malah membuat kesalahan begini..seharusnya kau yang berjongkok dan membersihkan celananya itu. Kau ini....”ia ingin menampar lagi, tapi tangannya tertahan oleh Evita yang kini menatap tajam kearahnya.


“Turunkan tangan anda”ucap Evita yang langsung membuat Manager itu menghempaskan tangan Evita. Indah langsung mendorong Manager dan membuatnya bertekuk lutut. “beraninya kau menghempaskan tanganmu”ucap Indah yang masih dalam keadaan setengah sadar.


Tak berapa lama, anak buah Manager datang dengan cepat, tapi langsung ditumbangkan oleh Amelya,Inul dan Nabila. Mereka kini menatap Evita yang masih tenang meneguk Wine dalam botol.


Brakkk


Botol itu pecah seketika. Menghadirkan ketakutan untuk Pelayan muda yang melihatnya. Evita mendekati Manager yang kini masih bertekuk lutut didepannya.


“Berapa harga wajahmu ?...aku membelinya untuk mengoreskan ini diwajahmu”ucap Evita. tangan yang memegang botol Wine itu melayang dengan cepat untungnya ditahan oleh Reza yang tiba tepat waktu.


“Nyonya Muda...jangan melakukan kesalahan seperti ini”ucapnya. Ia mengambil botol minuman itu. Dan mengerahkan anak buahnya untuk menangkap orang-orang yang ditahan oleh Indah, Amelya,Inul dan Nabila.


Evita hanya mendengus. Ia pun melihat kearah Pelayan yang masih muda itu. Pelayan itu langsung bertekuk lutut membuat Evita menuntunnya untuk berdiri kembali.


“Kau ini tak usah seperti itu...Siapa namamu?”tanya Evita kepada Pelayan itu. Pelayan yang mendengar pertanyaannya langsung menjawab “Aku..Aku Derka..Derka Jamesta”ucapnya.


Mata Evita,Indah dan Amelya terkejut. Nama itu sangat mereka kenal. Tapi dimana. “Derka Jamesta..Tuan muda Aru”ucap Reza yang langsung berdiri disamping Evita.


“Jelaskan Reza”ucap Evita. ia memang mengenal keluarga ini, tapi lupa keluarga yang mana.


“Baik Nyonya...Keluarga Aru adalah keluarga yang berkerja sama dengan kita Nyonya....keluarganya saat ini merintis sebuah toko Pakaian. Tapi mereka sedikit mengalami kendala”


“Apa kendalanya?”


“Keuangan....saya baru saja mendapatkan laporannya”


“Berapa?”


“Sekitar 150 juta”


“Baiklah......Apa Ayah tahu?”


“Tidak Nyonya...saat ini Nyonya dan Tuan Besar sedang melakukan bisnis lain, mereka tak mengetahui hal ini”


“Kalau begitu bantu Keluarga Aru ini”Akhir dari kesimpulan Evita. ia menatap Derka Jamesta, yang masih tertunduk lemah. Melihat hal ini membuatnya ingat dengan adek dikampungnya. Yeah ia punya adik kandung.


“Derka...Belajarlah dengan baik...dan wujudkan cita-citamu..Semoga kita bertemu lagi, tapi dengan pertemuan yang baik, bukan seperti ini”

__ADS_1


__ADS_2