MANTIV

MANTIV
● Mantiv(85)


__ADS_3

Uhuk...uhuk...uhuk...


Terdengar suara ombak yang terhembus. Angin yang meniup wajahnya dan suara gesekkan dedaunan yang terasa didekatnya.


Evita membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Ia melihat kedua sahabatnya telah bangun dengan wajah yang ketakutan. Dan terlihat Derka yang mengambil ranting untuk menulis sesuatu dipasir.


Sudah dipastikan mereka terdampar dipantai. Untungnya arus baik membawa mereka dalam satu hari. Tuhan masih memberikan kebaikannya.


“Kau sudah sadar Evita?”tanya Amelya yang mulai mendekat. Ia bahkan memeluk Evita sambil menangis. Evita tahu bahwa Amelya pasti ketakutan terasa pelukkan itu gemetar hebat.


Indah mendekat kearah Amelya dan Evita. tumpah segala air mata yang datang. Tak ada yang bisa saling berbicara tentang masalah mereka sendiri.


“Aku tak percaya kita akan terkapar disini”ucap Derka yang memandang laut luas, begitu lepas. Ia mendekati tiga gadis yang telah menenangkan diri.


“OIIIII....APA ADA ORANGGGGGG!!!!”teriak Derka lagi. Membuat Evita menatap biasa kepadanya. Sedangkan Amelya dan Indah berada disampingnya.


“Evita...apa yang terjadi kepadamu?”tanya Indah. Indah dan Amelya sadar saat kejadian itu, Evita tutup mulut tak berbicara sekali pun. Setelah kabur Evita tak menunjukkan cahaya dimatanya.


“Ah..tidak apa-apa, aku hanya berpikir kita tidak akan bisa kabur tadi”jawab Evita.sebenarnya ia tak menjawab pertanyaan Indah. Dan bisa dibilang ia melenceng dari pertanyaan. Namun itulah Evita. Ia lebih memilih memendam sesuatu dari pada menceritakannya.


Amelya tersenyum, ia pun mendudukkan diri didepan Evita yang masih menundukkan kepalanya. “Evita..kami sahabatmu, kami tahu kau pasti memikirkan keadaan kami yang diculik ini...tapi tenanglah..kami baik-baik saja sekarang...jadi jangan simpan sesuatu yang membuatmu sakit nanti”ucap Amelya lalu mengelus lembut surai Evita.


Evita terpejam sesaat baru kemudian ia berbicara “Sebenarnya....aku..aku...ah aku cuma belum siap menceritakannya..tapi syukurlah kalian tak apa-apa..kalian tak disentuhkan”ucap Evita. Amelya mengeleng begitu juga Intari. Mereka tertawa bersama untuk menghilangkan rasa cemas Evita. Agar ia tak berpikir negatif. Kenapa iya karena mereka emang tak diperkosa. Kalian tahu sendiri tubuh mereka bukanlah tubuh model atau tubuh yang ideal. Mereka masih terbilang biasa saja.


Meski mereka tahu bahwa jika tak dibebaskan tadi, mereka mungkin saja telah tersentuh sepenuhnya. Indah dan Amelya hanya bisa menyembunyikan rahasia mereka.


Sedangkan Evita juga melakukan hal yang sama. Ia tak akan mengatakan bahwa ia tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Sahabatnya.


Derka yang mendekat langsung bergegas memeluk Evita. Evita tersenyum dan membalas pelukkan itu.


“Kenapa denganmu Derka?”tanya Evita.


Derka yang telah hidup dengan kemegahan merasa takut ketika terdampar. Tapi ini resiko karena ia tak tahu asal usul Evita ini.


“Kak Moa..kita terdampar dipantai ini...bagaimana dengan makan kita?..terus kita tidur..dan faktor utamanya kita buang air kecil dan besar...huaaa ini sangat sulit..seharusnya dulu aku memperhatikan guru menjelaskan masalah hidup dihutan”


Evita meringit mendengar ucapan itu. Ia memukul kepala Derka hingga sang pemilik merintih kesakitan. Evita berdiri setelah Derka melepaskan pelukkannya.


“Kau tidak pura-pura bodoh kan..lihat kau saja telah menulis kata HELP dipasir...itu salah satu cara terbaik untuk meminta bantuan”ucap Evita.


Amelya dan Indah yang mendengarnya mengangguk.


“Lagi pula....kita tak kekurangan makanan kok selama kita memanfaatkan dengan baik..seperti”Indah menunjuk sebuah pohon kelapa yang berbuah banyak. Derka yang melihatnya langsung mengerti apa yang dimaksud.


Amelya melangkah mengambil daun kering “lagi pula untuk kita istirahat, bisa mengunakan daun-daun kering ini....dan juga bisa digunakan untuk membuat api unggun”jelas Amelya.


Derka yang mendengarnya mengangguk. Mereka pun mulai berpencar untuk mencari sesuatu yang berguna.


Evita memutuskan untuk memanjat pohon kelapa. Dan mengambil beberapa buah untuk mereka. hal itu membuat Derka kahwatir.


“Jangan kahwatir..ia tak akan kenapa-napa..lagian ada kekasihnya yang akan melindunginya”ucap Indah yang mengambil buah yang telah jatuh.


“Kekasih?”tanya Derka.


Amelya yang menjawab “benar....ia punya kekasih..mana lagi seorang polisi”


“Kau juga mendapat polisi”celutuk Indah.


“Kau pun juga sama”Balas Amelya.


Derka yang mendengarnya hanya bisa terdiam. Ia menatap Evita yang melangkah turun. Dan merapikan rambut panjangnya.


“Kalian carilah lagi sesuatu yang bisa kita gunakan”ucap Evita. Indah dan Amelya mengangguk.


Derka kembali kekerjaannya yaitu menangkap Ikan. Meski sangat mustahil bisa didapatkan olehnya.


-


2 jam telah berlalu.


Mereka mengisi perut masing-masing dengan hasil yang didapat. Suasana sedikit sepi karena tak ada yang ingin berbicara sama sekali.


Hingga terdengar suara helikopter yang mendekat. Membuat semuanya langsung melihat kesumber suara.

__ADS_1


“Apa Paman menjemputku?”benak Evita.


Derka menatap kearah helikopter yang datang ia langsung melambaikan tangannya. “Sepertinya managerku telah menemukanku”ucapnya.


Evita yang mendengarnya mengerutkan alis. “Benar,tak mungkin Paman lama menjemputku..seharusnya malam itu mereka langsung mencariku...pasti telah terjadi sesuatu”benak Evita.


Helikopter itu pun turun dan mendarat dengan sempurna. Turun seorang Pria yang mengenakan jas abu-abu. Wajah yang tampan menatap ketiga gadis yang tentu saja memandang Derka.


“Kenapa kau malah terdampar disini...dan lihat kau berkencan dengan tiga wanita...kau sungguh serakah”ucap Pria itu.


Derka yang mendengarnya tertawa “Mereka bukan sembarang Wanita..mereka adalah Kakak-kakak sang penyelamatku”jelas Derka sambil menunjuk tiga gadis yang terdiam.


“Oooh benarkah...sungguh satu kehormatan bisa bertemu dengan sang pahlawan”ucap Pria yang langsung mengulurkan tangan untuk berjabatan.


Evita menyambutnya “Evita..salam kenal”ucap Evita dan langsung melepaskan jabatan tangan itu. Indah dan Amelya juga melakukan hal yang sama.


“Indah”


“Amelya”


Pria yang dikenal dengan manager Derka langsung mengenalkan diri “Saya...Ravel”ucapnya.


“Karena sudah berkenalan..sebaiknya kita langsung kembali...pasti kalian capek..mari naik”ucap Ravel.


Semua pun naik kedalam helikopter. Dalam perjalanan kembali tak ada yang saling berbicara. Semua tengelam dalam pikiran masing-masing.


Hingga tiba dipelabuhan awal tempat Evita naik kapal pesiar.


“Kami hanya bisa mengantar kalian disini....alasannya karena Derka harus melakukan syuting ditempat berlawanan”ucap Ravel yang langsung dilambaikan tangan oleh Indah. hal ini membuat ia sedikit memandang rendah Indah. karena yang ia tahu ketiga gadis ini pasti orang biasa.


“Tak perlu kahwatir..kami bisa mengatasinya sendiri”ucap Indah lagi.


“Maaf bukannya omongan Indah ini sedikit sombong ya”ucap Ravel sambil memandang Indah dengan pandangan meremehkan.


Derka yang melihatnya langsung menegur “Hei Manager” tapi dirinya terhenti dengan tangan Manager yang menghalanginya.


“Tuan Derka...bukan sebaiknya kita menghargai mereka, tapi dilihat-lihat kita tak dihargai oleh mereka”ucap Ravel.


“Ah maaf kalau perasaan anda tergores karena tingkah saya”ucap Indah dengan formal. Ia tak ingin basa basi sekarang. Yang terpenting ia harus cepat-cepat membersihkan dirinya.


“Benar..maafkan tingkah laku Indah yang semberono”ucap Amelya untuk menenangkan suasana. Tapi tampaknya seorang manager yang telah berada diatas tak bisa memandang kebawah. Jadi tetap saja memandang jijik.


Melihat hal itu Evita entah kenapa merasa sedikit kesal. Ia ingin angkat bicara. Tapi Derka langsung menghadangnya.


“Hentikan Ravel..mereka adalah orang yang ku hargai..jangan kau bertingkah seperti ini...maafkan Ravel Kakak Moa..dan Kakak Indah lalu Kak Amelya”ucap Derka sambil menarik Ravel untuk berbicara berdua.


Melihat hal itu Indah dan Amelya mengerutkan alis mereka. “Apa-apaan manager itu..ia seperti memandang sampah kekita”ucap Indah sambil menatap kejauhan dimana dua orang telah menghilang.


“Sudahlah itu tak penting..sekarang lebih baik kita pulang”ucap Evita yang ingin cepat-cepat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Hari yang seharusnya tenang tak bisa dipungkiri telah terganti dengan hari yang buruk. Evita memendam segala yang terjadi, meski mentalnya terusik berkali-kali. Karena rasa kahwatir yang kelewatan batas. Ia tak bisa membayangkan jika ia telat. Kedua sahabatnya akan langsung kehilangan segala warna kehidupan.


Tak hanya Evita yang berpikir seperti itu, Indah dan Amelya juga berpikir hal yang sama. Jika saja mereka tak ditolong. Mungkin untuk melangkah tak akan bisa mereka lakukan. Selain itu mereka juga pasti memilih untuk langsung bunuh diri sendiri dan menghilang tanpa jejak. Bayangan tubuh yang tak berbusana itu berhasil menjadi mimpi buruk dalam hidup. jika ada obat yang bisa melupakan kejadian itu, maka biar Indah dan Amelya meminumnya. Agar mereka bisa melupakan segalanya.


Karena mereka naik bus ditambah uang yang didapat itu juga dari Derka yang diam-diam memberikan kepada Evita. Evita merasa seperti saat ia masih SMP. Dimana uang jajannya hanya sekitar 5 ribu. Dan itu cukup untuk jajannya.


“Evita....kenapa kau bisa tahu kami ada disana?”tanya Amelya yang mulai kembali kemode biasanya. Evita yang mendengarnya juga langsung menjawab “tentu saja dengan gelang ini lah”ucap Evita.


Kedua gelang yang didesain khusus itu langsung lepas dari tangan Evita. dan langsung mengaitkan kepergelangan tangan Indah dan Amelya. Karena memang mereka bisa mengetahui tuan asli mereka siapa.


“Huaaa...aku merindukanmu gelang kesayanganku..”ucap Indah yang mencium gelang terukir manis itu. dipadukan dengan gelang pemberian kekasih mereka. sungguh sangat cantik untuk dilihat.


“Lebay Indah....lagian ini kecangihan yang tak bisa menipu mata”ucap Amelya. Benar karena teknologi yang mereka gunakan sedikit berkembang. Tahun 2030. Memang berkembang segala teknologi yang ada. meksi masih mengunakan berbagai teknolongi jaman kuno setidaknya ada sedikit perkembangan.


“Sudah-sudah..aku akan berhenti tempat dikediamanku..kalian langsung pulang mengerti”ucap Evita. Indah dan Amelya langsung mengangguk.


-


Seperti yang dikatakan, Evita turun terlebih dahulu. dengan lambaian tangan mereka pun terpisah.


Evita bergegas masuk kedalam kediaman utamanya. Yang tak lain adalah kediaman Kim. Evita memeriksa segala ruangan, dan matanya langsung memandang datar dengan apa yang dilihatnya.


“Apa ada pertempuran disini”gumannya. Dan silet mata langsung menangkap objek seseorang yang berdiri dibalik jendela. Jendela yang telah hancur. Kediaman yang telah dihancurkan terlihat sangat mengenasnya. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bisa seperti ini, Evita tak bisa menemukan jawabannya.

__ADS_1


“Apa tujuanmu?”tanya Evita menghadapkan diri kearah bayangan seseorang yang masih membelakangi dirinya. Tak ada jawaban disana, Evita benar-benar dibuat kesal.


Pertama kasus penculikkan, kedua kasus Reza yang cinta buta. Ketiga kasus awal yang dimana keberadaannya telah diketahui oleh musuh Ayahnya. Sekarang apa lagi masalah yang harus dihadapi olehnya. Otaknya yang tak pernah berpikir kini dibuat berpikir.


Bayangan itu menghilang tepat setelah Evita mengangkat kembali pandangannya. Ia tak bisa berpikir jernih sekarang. Tapi karena kebiasaan tubuh yang bergerak tanpa berpikir. Evita lari keluar Mansion dan menuju bagasi yang terdapat motor lain miliknya juga. Dengan pikiran yang kosong. Ia melesatkan motornya menuju kekediaman Pamannya. Entah kenapa ia berpikir ingin mengunjungi tempat tersebut. Tempat yang akan menjadi rumahnya. Dan Sahabatnya.


-


“Aku harus bagaimana..gila ini benar-benar seperti trauma dalam diri..aku...aku...apa aku harus bunuh diri saja”


“ah tidak...tidak...itu tidak baik bukan?”


“terus aku harus bagaimana..gila ini benar-benar seperti mimpi”


“ah iya mimpi..ini pasti mimpi bukan...astaga Ibu..Ayah...apa yang harus ku lakukan”


Indah memandang kearah cermin yang menampakkan seluruh tubuhnya. Tak ada satu helai kain yang terlekat. Karena ia masih trauma dengan apa yang didapatinya.


Ia membasahi diri dengan air yang mengalir. Ia memenjamkan mata, dan membukanya. Lalu memejamkannya lagi terus membukanya lagi. berulang kali dilakukan. Berharap itu adalah mimpi tapi kenyataannya. Tak seperti harapan yang diinginkan. Semua tetap seperti faktanya. Yeah Indah menyerah sekarang.


Ia memandang gelang pemberian dari Yoongi kepadanya. Gelang itu sangat indah apa lagi terkena dengan air yang mengalir. Terlihat mengkilat.


“terimakasih...terimakasih...huh Indah tenangkan dirimu..sekarang yang terpenting adalah tetap semangat meski trauma dalam diri belum hilang”


Indah menyemangati dirinya sendiri. setelah memandikan tubuh yang nyatanya masih berbekas. Karena rantai yang mengikat kaki dan tangannya terbuat dari besi. Jadi masih ada bekasnya. Hal itu membuat Indah menatap kosong melihatnya.


Ia mengambil baju oversize dengan lengan panjang sebagai **********. Celana panjang hingga menempel dilantai. Ia perlu istirahat. Jadi ia memutuskan untuk tertidur.


-


Berbeda dengan Indah.


Amelya mengurung diri dalam kamar sambil menangis dengan suara yang tersentak. Ia merasa dihantui oleh tatapan pria yang terhantui oleh nafsu.


Seandainya..seandainya Evita datang telat. Apa mereka bisa pulang. Ah Amelya langsung berbaring dengan memandang langit-langit rumahnya.


“Sial....hehehehe....gila, aku harus kepisikolog untuk menenangkan diri”gumanya. Tangan kanan terangkat terlihat gelang yang diberi oleh Echan. Gelang itu bersinar karena terkena cahaya yang sangat indah. Amelya tersenyum, setidaknya ada penyemangat dalam dirinya. Apa lagi diberikan energi oleh Kekasihnya.


“Ayok Amelya bangun..sekarang bukan saatnya memikirkan hal seperti ini..Evita dan Indah masih memperlukanmu”


Amelya bangun dan melangkah menuju kamar mandi. Ia akan membersihkan tubuhnya dan berisitrahat. Setelahnya akan bertemu dengan Evita. siapa tahu Evita memperlukan dirinya.


-


Brummm


Ciiitttt


Evita berhenti dengan pandangan kosong. Yeah ia melihat yang berkerja hanya tukang bangunan. Sedangkan para bodyguard yang ada sepertinya tak terlihat.


“Apa yang sebenarnya terjadi”guman Evita. tak lama ia melihat seseorang yang melangkah mendekatinya.


“Kau...Evita?”tanya wanita yang terlihat sedikit berisi.


“Benar....apa kau temannya Maya?”tanya Evita langsung. Wanita itu mengangguk menjawab pertanyaannya.


“Aku datang dengan niat untuk bertamu, tapi sepertinya Maya tak ada..jadi aku berniat untuk pulang”


“Sebaiknya memang begitu, karena ini bukan kediaman Maya..ia tinggal dimansion jalan...”


“Aku tahu..hanya aku pernah kesini, dan aku juga mendapatkan sebuah surat yang harus dikirim kesini”


“surat?”


“iya..ini surat yang dititip oleh Keluarga Maya untukmu..aku sebagai perwakilan saja..masalahnya orang kepercayaan Keluarga Maya tak bisa mengantarnya”


“Terimakasih”


“Tentu...sama-sama..kalau begitu aku permisi”


“Iya”Evita memandang surat yang ada ditangannya. Surat yang terlihat usam.


“Apa yang terjadi?”benak Evita.

__ADS_1


__ADS_2