MANTIV

MANTIV
● Mantiv(113)


__ADS_3

“Ronde pertama dimenangkan oleh Nona Yelina”tepuk tangan diberikan oleh para penonton yang ada. Evita masih menatap datar.


“Sayatan taruhannya, Silahkan Nona Evita”ucap Yelina. Ia menyodorkan pisau yang akan menjadi akses mereka.


Sesuai dengan apa yang disyaratkan, maka sebagai saksi, para penonton harus melihat darah Evita mengalir dalam mangkuk berpoles manis.


Sebastian dan Za ingin menghentikan namun Evita memberikan gelengan bahwa tak boleh diganggu sama sekali.


“Ini pertarunganku”itu yang diucapkan Oleh Evita. ia mengambil pisau yang ada. dan mengarahkannya kelengan kanannya. “Berapa Sayatan?”tanya Evita.


Yelina membelakkan mata tak percaya, Ia merasa senang dihatinya, jikalau bisa Ia ingin menari diatas darah yang akan keluar dari lengan Evita.


“Maksimalnya 3 bukan, Aku ingin tiga sayatan, tapi Evita, jangan menyayat dengan kuat, nadimu akan terpotong loh”ucap Yelina dengan nada kesenangan. Evita hanya menatap kearahnya..


Syeeetttt


Syeeettt


Syeettttt


Tiga sayatan pun diberikan, dan darah mengalir dengan derasnya. Darah itu pun menetes kearah mangkuk yang dipoles.


“Ah...Indahnya, Ini adalah Darah Evita, Merlina lihat, sebentar lagi Aku akan menemukanmu dengannya”benak Yelina yang melihat darah Evita. bukan hanya Ia yang tergiur, para penontonmu. Melihat darah tersebut seakan-akan mereka dihantui oleh Evita. namun tak ada yang berani mendekat. Karena hawa Za memenuhi ruangan.


“Aku tak akan membiarkan mereka membunuhmu disini Evita”benak Za. Ia ingin bertindak namun Sebastian menahannya. Sekali lagi Za harus mengalah dengan tindakkan Evita.


-


“Baik semuanya, kita akan memasuki Ronde kedua”ucap Host yang menatap kearah dua wanita yang tengah tenang.


Yelina menatap dengan pandangan Iba kepada Evita. “Evita maafkan Aku, tapi memang ini aturannya bukan, Kau juga yang membatasinya”senyum licik muncul dibalik bibirnya. Evita hanya memandang datar.


Host kembali berbicara “Silahkan disusun kartunya”Para Pelayan langsung bergegas menyusun kartu, tentu saja mereka mengocoknya terlebih dahulu.


Setelahnya 102 kartu itu disusun dengan begitu rapi. Semua tak bisa menebak dimana dan apa dibalik kartu itu. apakah ada Angka atau huruf. Tak ada yang tahu.


“Karena Nona Yelina yang menang, maka Ia berhak memulai permainan”ucap Host. Beberapa penonton tak menyetujui keputusan itu.


“Bagaimana bisa?..seharusnya ada kesempatan untuk yang kalah memulainya”


“Bukannya memang pemenang yang dahulu”


Evita tak memperdulikan omongan orang-orang. Ia membalikan tubuhnya sebentar untuk menatap kearah bodyguardnya. Evita mendekati Za dan mengambil sapu tangan miliknya.


“Nona Evita, jika anda mau, Kami bisa memperban luka anda”ucap Pelayan yang ada. Evita menunjukkan sapu tangan yang diambil olehnya.


“Tak perlu”jawaban yang diberikan oleh Evita, Ia kembali ketempatnya.


“Untuk siapa yang duluan”Yelina menatap kearah Evita. Evita mengerti saat ini Ia harus berbicara agar permainan makin menarik. “Kau, Yelina. Karena yang menanglah yang akan bermain lebih dahulu”ucap Evita.


Para Kubu yang mendukungnya langsung terdiam. Mereka tak lagi berbicara karena sadar bahwa Evita saja tak menghiraukan mereka.


Host langsung bergerak mendengar ucapan Evita. “Baiklah Nona Yelina silahkan memulainya”ucap Host.


Yelina mengangguk, ia mengambil kartu dan membukanya, Syetttt


Angka 2 ‘♠️'


Angka 2 ‘♠️’


Angka 2 ‘♦️’


Angka 2 ‘♦️'


Angka 2 ‘♥️’


Angka 2 ‘♥️’


Angka 2 ‘♣️’


Angka 2 ‘♣️’


“Bagaimana bisa?, seharusnya semua kartu teracak kan?”


“Apa ada kecurangan?”


Bisikan orang-orang yan tak menduga bahwa baru saja dimulai, Yelina sudah mendapatkan 4 poin dengan angka yang sama. Hal ini menjadi kecurigaan orang-orang.


“Nona Yelina, Kami akan memeriksa sekeliling anda”ucap Host yang bergerak memeriksa.


Kecurigaan orang-orang harus segera dipadamkan, jika tidak akan ada perkelahian diantara kubu.


“Bagaimana mungkin Aku melakukan kecurangan, sedangkan Kartu ini diacak oleh Kalian sendiri kan?”tanya Yelina yang berhasil mendapatkan respon dari Pelayan yang bertugas. Mereka mengangguk menjawab pertanyaan Yelina.


“Aku sudah memeriksanya, tak ada kecurangan, semua yang terjadi disini hanya keberuntungan”ucap Host yang kembali keposisinya. Semua langsung menatap kearah Evita.


Evita lagi-lagi tak perduli. “Lanjutkan”ucap Evita. sekali lagi Kubunya dibuat bungkam.


“Ayooo...Baiklah jika Nona Evita mengatakan hal tersebut”Yelina kembali membuka kartu yang ada..


Huruf J ‘♠️’


Huruf j ‘♠️’


Angka 9 ‘♣️’


Angka 9 ‘♣️’


Huruf K ‘♦️’

__ADS_1


Huruf K ‘♦️’


Angka 8 ‘♠️’


Angka 8 ‘♠️’


Huruf A ‘♥️’


Huruf A ‘♥️’


Angka 6 ‘♥️’


Angka 6 ‘♥️’


“Keberuntungan yang mengerikan, Ia bahkan bisa menemukan 6 kartu dengan kesamaan secara berturut-turut”


“Ia melebarkan jaraknnya dengan Nona Evita”


“Sulit diprediksi keberadaan dari kesamaan kartu, namun dalam sekejap saja Nona Yelina berhasil menemukan mereka”


“Apa Ia mengunakan rumus untuk menemukan kesamaannya?”


“Tak ada yang tahu, jangankan ingin tahu, Aku saja yang menonton dibuat pusing memikirkannya, bagaimana diposisi mereka, mungkin Aku sudah pingsan duluan”


Pendapat diberikan oleh Penonton. Namun seperti diawal tak ada yang menghiraukan mereka.


Yelina membuka kartu lagi..


Angka 3 ‘♠️’


Angka 10 ‘♣️’


“Berhenti menyentuh kartu Nona Yelina, poin yang didapat adalah 10 poin”ucap Host. Pelayan bertugas mencatat langsung menulisnya di papan tulis baru. Karena mereka akan bermain 5 ronde.


“Silahkan Nona Evita”ucap Host kembali. Evita mengangguk. Ia menatap kearah kartu yang ada. ada 10 kartu yang sudah diketahui kesamaannya. Dan ada 2 kartu yang sudah dibuka tanpa kesamaan. Jadi hanya ada 40 kartu yang tersisa.


“Baiklah, bagaimana Aku bermain kali ini”Evita menyentuh kartu mengunakan tangan kanannya. Tangan kirinya masih mengalirkan darah meski hanya menjadi tetesan saja. Namun itu berguna untuk pertaruhan mereka.


Sletttt.


Angka 4 ‘♣️’


Angka 4 ‘♣️’


Angka 5 ‘♥️'


Angka 5 ‘♥️’


Huruf A ‘♠️’


Huruf A ‘♠️’


Angka 8 ‘♦️’


Angka 8 ‘♦️’


“Tak ada yang tahu, selama ini Nona Evita hanya berdiam diri.ia tak banyak bicara”


Mendengar pendapat orang-orang, membuat Yelina menatap kearah Evita yang terlihat sibuk memilih kartu. Ditambah tangan kirinya yang masih mengalirkan darah karena tiga sayatan.


“Apa dia...”benak Yelina yang menatap kearah Evita. mata Yelina memindai pergerakkan Evita.


Huruf Q ‘♦️’


Huruf Q ‘♦️’


Angka 7 ‘♣️’


Angka 5 ‘♣️’


“Dia tak mungkin menemukannya”benak Yelina yang kembali mengisap rokoknya.


“Berhenti menyentuh Nona Evita, poin yang didapat oleh anda adalah 5 poin”jelas Host.


Evita yang mendengarnya mengangguk. Ia menatap kearah Yelina yang tersenyum kepadanya.


“Nona Evita, menurutmu. Apakah Kau akan kalah kali ini?”tanya Yelina yang dijawab oleh Evita “Tak tahu, kan belum ada kepastian dalam ronde kedua ini. Walau pun, Kau sudah mendapatkan 10 poin, tak ada yang tahu keberuntugan kan, siapa tahu yang menyayat tangannya sendiri nanti adalah dirimu”


Evita mengambil sapu tangan milik Za dari meja, dan mengelap disayatannya. Setelahnya, Bodyguardnya yang lain datang. Ia adalah Sebastian yang membalutkan sapu tangan Za menutup sayatannya.


“Silahkan Nona Yelina melanjutkan”ucap Host yang ada.


Yelina mengangguk, ia menatap kartu yang ada didepannya, “Kali ini, Ayo kita acak segala kartunya”benak Yelina.


Angka 7 ‘♠️’


Angka 7 ‘♠️’


Angka 10 ‘♥️’


Angka 10 ‘♥️’


Huruf Q ‘♣️’


Huruf A ‘♦️’


“Berhenti menyentuh kartu Nona Yelina, poin yang didapat anda adalah 2 poin, total kese...


“Berhenti”Evita memotong pembicaraan Host. Membuat semua langsung menatap kearahnya. “Begini Yelina, akan sangat membosankan jika poinnya disebutkan, bagaimana kita sedikit menantang nyali kita saja. Membuka kartu dan menemukan kesamaannya, namun poin dirahasiakan oleh host,bagaimana?”usul Evita.

__ADS_1


Yelina terdiam mendengarnya, “Apa Kau bodoh Evita?, percuma saja, selama kita merasa kartu yang kita buka itu tepat, maka tak ada kemungkinan kita akan berhenti bermain, dasar sang pemula dalam perjudian”benak Yelina.


“Sebenarnya tak masalah, tapi apa Kau yakin?”Yelina memandang kearah Evita yang masih tenang menatap kearahnya.


“Tentu saja, lagian Aku ingin ini cepat berakhir”ucap Evita yang membuat Yelina langsung tertawa.


“Baiklah jika Nona Evita menginginkannya..lakukan apa yang diucapkan olehnya”ucap Yelina yang langsung dianggukkan oleh Host.


Pemainan itu pun dilanjutkan, tentu saja dengan Evita yang memulainya. Ia membuka kartu perlahan sampai akhirnya menemukan titik butanya.


“berhenti Nona Evita, selanjutnya Nona Yelina”ucap Host. Ia sudah mendapatkan poin. Namun hanya bisa disampaikan dalam pesan dan ditulis dikertas kecil agar tak ada yang mengetahuinya.


Yelina yang merasa diuntungkan menikmati permainannya. “Aku tak perduli dengan pikiranmu itu Evita, sekarang yang ku pikirkan adalah mengacak-acak kartu yang ada, agar Kau makin kesulitan”benak Yelina.


Permainan itu berlangsung cepat dari ronde pertama. Semua kartu tentu saja sudah dibuka oleh keduanya. “Berhenti bermain untuk keduanya”


Para Penonton tak bisa mengetahui hasil yang sebenarnya. Mereka hanya bisa menerka-nerka siapakah yang menang dironde kedua ini.


Evita menatap kearah meja yang ada. “Yeah seharusnya selisihnya lumayan jauh”benak Evita.


“Huh......Evita seharusnya kau berpikir dengan bijak jika ingin memenangkan ronde ini”guman Yelina yang menyantap rokoknya.


“Baik, Kami sudah menghitung hasil dari segala yang didapat...kesalahan kartu terdapat 8, maka sisa 44 poin yang akan didapat”ucap Host yang kemudian menyuruh pelayan untuk membawa hasil penghitungan mereka.


“Nona Yelina berhasil mengumpulkan 21 poin..”mendengar hal tersebut Yelina senyum senang. Bahkan pendukungnya ikut senang mendengar hasil Yelina.


Sedangkan Pendukung Evita hanya bisa diam, Mereka ingin pindah untuk mendukung Yelina. Maka semua orang berpindah posisi mendukung Yelina.


Evita tampak bodoamat, Ia sibuk mendengarkan, bahkan memilih untuk mendudukkan diri dan menyandarkan kepalanya dikursi yang disediakan.


Za dan Sebastian sekali lagi saling memandang. Masing-masing menunjukkan wajah kebingungan. Masalahnya jika Yelina memenangkan ronde ke2 ini. Maka alur permainan akan dikendalikan oleh Yelina.


Memikirkan hal tersebut membuat mereka resah,dan ketika melihat Evita yang tenang-tenang saja, terbesit ketenangan juga dihati mereka.


“Untuk poin Nona Evita adalah 23 Poin”ucap Host dengan tangan yang menunjukkan hasil poin penghitungan mereka.


Semua langsung membulatkan mata karena tak menduga hal ini. Host kembali melanjutkan “Maka Ronde kedua dimenangkan oleh Nona Evita”


“Apa?”kerutan diwajah Yelina tampak dengan jelas. Namun beberapa saat kemudian ia kembali tenang. “Yeah tak masalah masih ada 3 ronde lagi”benak Yelina.


“Bagaimana mungkin?”


“Nona Evita bisa memenangkan ronde?”


“Sulit dipercaya, padahal tadi aku mengira Nona Yelina yang akan menang, karena dilihat-lihat Nona Yelina untung banyak”


“Permainan ini dari awal hanya sebuah keberuntungan saja bukan, yeah setidaknya Nona Evita bisa memenangkannya”


Semua orang berpendapat dan beragumen sendiri. tak ada yang menghiraukan mereka. dan fokus sang pemain ada dimeja yang dimana Yelina siap menerima hukumannya.


“Selamat Nona Evita, sulit dipercaya Kau bisa memenangkannya”ucap Yelina yang mengambil pisau lalu mangkuk untuk menampung darahnya.


Evita yang mendengarnya mendengus. “Itu hanya keberuntungan Nona Yelina...”ucap Evita yang kemudian berdiri untuk memutuskan hukuman yang diterima oleh Yelina.


“Berapa sayatan Nona Evita?”tanya Yelina dengan tenangnya. Evita menjawab “Satu Sayatan”ucap Evita yang membuat semua langsung tercenga. Bahkan Yelina sekalipun.


“Hah?”Yelina yang tak pernah menduga dengan apa yang diucapkan oleh Evita. Evita kembali mengucapkan keinginannya. “Aku ingin satu sayatan”ucap Evita.


“Nona Evita ini kekurangan atau apa?, dia bahkan berpikir untuk memberikan keringanan dalam hukuman, padahal dia mendapatkan 3 sayatan”


“Aku merasa ini permainan memang gila”


Evita hanya tersenyum mendengar setiap umpatan yang diberikan kepadanya. Ia hanya menatap kearah Yelina yang masih bengong.


“Sayatlah Yelina, waktu kita akan termakan banyak”ucap Evita. Yelina langsung tersadar setelah mendengar ucapan Evita. Ia pun mengangguk dan menyayat tangannya dengan satu sayatan.


“Apa dia sengaja?”benak Yelina setelah menyayat tangan sendiri. Host kembali menyampaikan permainan. Karena kali ini Evita mengambil alih alur permainan.


Ronde ke 3 dimulai.....


Kartu disusun kembali tentu saja setelah dikocok oleh Pelayan. Setelah semua tersusun, permainan dimulai dengan Evita yang mengambil alih permainan.


Awal yang dimulai ini banyak yang kebingungan karena Host tak menyebutkan poin yang didapat. Lalu hasilnya ditulis oleh Hostnya sendiri. hal ini makin membuat permainan penuh kemisterian.


Setelah Evita merasa cukup bermain, Ia mendapat kartu kesalahan. Yelina pun memulai permainannya.


Waktu berjalan dengan begitu cepat. Cepat karena setiap permainan hanya ada kalimat “Berhenti,lanjut” dua kata itu diucapkan oleh Host.


Dan segala kartu telah dibuka, Evita dan Yelina masing-masing memasang wajah datar. Karena kali ini Yelina merasa kejangalan dengan Evita yang selalu tenang.


“Hasil dari ronde ke 3....kesalahan terdapat 5 kartu”ucap Host yang menunjukkan lima kartu kesalahan.


Semua dibuat tegang mendengarkan hasil poin yang akan didapat oleh Kedua orang yang terlihat begitu tenang.


“Poin Nona Evita adalah 23 poin, dan Poin Nona Yelina adalah 24 Poin, maka Ronde ke 3 dimenangkan oleh Nona Yelina”ucap Host dengan menunjukkan hasil yang didapat olehnya.


Semua langsung tercenga kembali, masalahnya ada diselisih mereka. selisih Ronde kedua hanya beda 2 poin, dan sekarang selisihnya hanya 1 poin. Hal ini menjadi keterkejutan mereka.


Namun beda dengan Yelina yang entah kenapa merasakan firasat lain. Ia menatap kearah Evita yang mengambil pisau lalu bersiap untuk menyayat tangannya.


“Aku merasa ada yang salah disini”benak Yelina. “Nona Evita, Hukumanmu tetap sama seperti ronde pertama”ucap Yelina.


Semua langsung dilanda ketegangan. “Apa tak salah?”


“Nona Evita sudah memberikan keringanannya, tapi kenapa Nona Yelina tak memberikan keringanannya?”


“Tak ada yang tahu jalan pikir mereka”


“Aku pun tak tahu, kepalaku jadi pusing memikirkannya”

__ADS_1


__ADS_2