MANTIV

MANTIV
● Mantiv(114)


__ADS_3

Tiga sayatan telah tergores dilengan Evita, darah mengalir dengan cepatnya, jatuh kedalam mangkuk yang sudah berisi darahnya. Evita dengan santai menatap kearah Yelina yang sudah berwajah pucat.


“Apa yang terjadi kepadamu?”tanya Evita yang berhasil menyadarkan Yelina. “Tak ada, kita lanjutkan””ucap Yelina.


“Aku tak boleh terlihat lemah, Kali ini Evita harus mati ditanganku”benak Yelina.


Ronde ke 4 pun dimulai. Seperti biasa segala kartu disusun dengan rapi dan Host memulai permainannya. Tentu saja kali ini Permainan diawali oleh Yelina.


Saat beberapa menit bermain, Yelina dihentikan oleh Host yang langsung mendapatkan hasil poinnya. Kemudian giliran Evita.


Semua bergiliran sampai akhirnya Kartu berakhir dengan Evita yang menutupnya. Tentu saja Evita mendapatkan kesalahan.


“Bagaimana perhitunganmu?”


“Sudahku katakan, jangankan menghitungnya, kepalaku saja sudah pusing melihat banyaknya kartu itu”


“Kau benar, sangat merepotkan memang”


Bisikan para penonton yang hanya bisa berbisik. Mereka tak sanggup lagi menentukan siapa yang menang. Apa lagi hanya sisa satu ronde.


-


“Ini benar disini tempatnya Amelya?”tanya Intari yang berdiri di depan dua tabung panjang berisikan lorong udara. Didepan mereka terdapat kotak segi empat yang belum tahu isinya apa.


“Lokasi yang kita periksa dirumah Evita memang ini tempatnya”jawab Amelya yang mengeluarkan alat-alat bawaannya.


“Kenapa juga hotel ini memiliki benda seperti ini, merepotkan”Gerutuk Intari yang membuka penutup kotak yang ada didepannya.


Keduanya langsung membulatkan mata melihat apa yang mereka dapatkan. “Apa kita perlu alat itu Intari?”tanya Amelya yang langsung dianggukkan oleh Intari. Keduanya mengeluarkan alat kecil yang mirip seperti laptop. Lalu menyambungkannya mengunakan kabel usb yang dibawa oleh mereka.


“Sepertinya ini memakan waktu”Ucap Intari yang dianggukkan oleh Amelya. Keduanya memulai memainkan tangan mereka untuk memasukkan kode-kode yang membuat mata pusing melihatnya.


-


Semua orang merasa deg degan karena menunggu hasil dari ronde ke 4 ini. Meski yang mendominasi permainan adalah Yelina. Tetap saja mereka harus waspada, siapa tahu Evita yang akan memimpin kali ini.


Host yang menghitung keseluruhan poin akhirnya angkat bicara. “Dari hasil keseluruhan kartu yang dibuka, kesalahan kartu ada 3..maka”


Ketegangan terjadi pada seluruh penonton, mereka melirik sang pemain yang dimana ada Yelina dan Evita. Yelina yang terlihat gusar dan Evita yang terlihat tenang.


“Poin Nona Yelina adalah 24 poin....dan Poin Nona Evita adalah.....25 Poin”ucap Host dengan menunjukkan hasil penghitungannya.


“Maka ronde ke 4dimenangkan oleh Nona Evita” semua langsung heboh mendengar kemenangan Evita yang tak disangka-sangka.


Prok...Prok..Prok


“Keren juga Nona Evita mengikuti perjudian ini, sudah dua kali kemenangan..baiklah maka sama-sama kita sudah mendapatkan dua kali kemenangan”ucap Yelina. Ia mengulurkan tangannya untuk bersiap menerima sayatan.


“Berapa Nona Evita”para penonton yang mendengarnya hanya bisa bengong dengan pikiran yang berjalan. Tak habis pikir mereka, taruhan ini benar-benar bukan lagi perjudian, melainkan taruhan berujung nyawa. Yeah sudah dari awal mereka mengetahuinya. Semua pun melihat kearah Evita yang dengan tenang duduk bersandar.


“Baiklah, Kalau begitu satu sayatan”ucap Evita dengan santainya.


“Lagi, satu sayatan saja?..apa Nona Evita ini tak mengetahui bahwa Ia sudah dua kali menghabiskan darahnya, sedangkan lawannya sendiri hanya bergores sedikit dengan darah yang mengalir dikit”


“Aku tak bisa ikutan kalau seperti ini, kalau Aku jadi Nona Evita, Aku sudah melabuhkan menjadi 3 sayatan”


“Sudahlah kita bukan pemainnya”


“Kau benar”


Pendapat diberikan meski hanya mereka saja yang bisa mendengarnya. Seperti diawal tak ada yang memperdulikan mereka.

__ADS_1


Yelina yang mendengarnya langsung tersenyum dan menyayat tangannya. “Tak masalah hanya sayatan kecil, lagian masih ada ronde ke 5, Aku yakin habis ini Kau akan tamat Evita”benak Yelina.


“Baiklah, empat ronde sudah dimainkan, ronde pertama dimenangkan oleh Nona Yelina,Ronde kedua dimenangkan oleh Nona Evita, Ronde ketiga dimenangkan oleh Nona Yelina dan Ronde ke empat dimenangkan oleh Nona Evita...maka Kita akan memulai ronde ke lima”ucap Host yang kemudian para pelayan menyusun kartu yang ada.


Setelah semuanya disusun rapi, “Baiklah Nona Evita silahkan memulai”ucap Host tersebut.


Evita yang duduk memilih berdiri kembali, “Sudah ronde kelima ya?”tanya Evita. Host menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, Nona Yelina, Aku memberimu kesempatan..”ucap Evita yang menarik perhatian seluruh orang yang ada. “Aku memberimu kesempatan untuk membuka 3 kesamaan kartu. Jika sudah menemukannya baru Aku memulainya..ingat hanya 3 kartu saja”ucap Evita.


“Aku tak mengerti jalan pikir Nona yang satu ini, kenapa Ia memberi kesempatan untuk musuhnya”


“Tak jelas memang, Aku juga pusing memikirkannya”


“Sudahlah Kita lihat saja”


Yelina yang mendengar ucapan Evita menatap heran. “Apa yang diinginkan oleh Wanita ini?”benak Yelina. Ia pun melakukan keinginan Evita. “Bodoamat lah, lagian dia juga tak mengetahuinya”benak Yelina.


Setelah tiga kartu dibuka olehnya, Yelina mendapatkan 3 poin dari kesempatan yang diberikan oleh Evita. Host menyuruh Evita untuk memulai Ronde kelima.


“Yelina..Apa kau tahu sesuatu”ucap Evita yang membuka kartu yang ada didepannya.


Yelina mengerutkan alisnya saat Evita berbicara kepadanya. “Nona Evita, seharusnya fokus dengan kartu anda, jangan sampai ronde ini anda kalah, jika seperti itu, Maka akan sangat memalukan untuk Anda”ucap Yelina yang mengisap pipa rokoknya.


“Yelina, justru Aku lah yang seharusnya mengatakan hal seperti itu, Kau seharusnya menyembunyikan trik keberuntunganmu itu dariku, karena yeah akan sia-sia untukku”ucap Evita yang masih membuka kartu dan menemukan kesamaannya.


Yelina menatap Evita dengan wajah serius kali ini, Ia bahkan memperhatikan meja yang dimana Evita menemukan kesamaan kartu yang ada.


“Apa maksudnya ini, Apa ia mengetahuinya?”benak Yelina.


Evita masih membuka kartu dan menemukan kesamaannya. “Yelina, jika Kita bermain Kartu secara online, mungkin akan sulit menemukan taktiknya, lalu jika Kita bermain Domino Qiu Qiu, mungkin Aku tak perlu lama-lama berada disini”


“Kau tahu, Dari ronde pertama Aku sudah bosan bermain, lebih tepatnya malas bermain, inginnya cepat menyelesaikan tapi Aku berpikir lebih baik bermain dengan tenang”


Yelina mendengarkan ocehan Evita yang makin lama membuatnya gelisah, masalahnya Kartu yang dibuka oleh Evita tak menemukan kesalahan sama sekali.


“Ba...Bagaimana bisa”guman Yelina yang didengar oleh semua orang. Semua orang yang mendengarnya langsung menatap kearah Evita yang tenang membuka kartu.


Hingga wajah gelisah itu akhirnya gusar dengan seluruh kartu yang dibuka oleh Evita. hal ini membuat tercenga para penonton yang ada.


“Nona Yelina, sebenarnya ada beberapa perusahaan kartu yang ada dikota A ini, salah satunya adalah perusahaan kartu N. Mereka memproduksi berbagai macam kartu dengan tipenya. Bahkan kita bisa mengkostum kartu tersebut, benar bukan?”tanya Evita yang sudah membuka segala kartu yang ada.


Evita yang berbicara tak bisa membuat Host menyampaikan hasilnya. Yelina yang mendengar pertanyaan Evita menatap dengan tatapan tajam.


“Apa dia mengetahuinya, kapan..”Benak Yelina sambil berpikir bagaimana bisa ronde ke lima ini begitu kebalikkan dari keinginannya.


“Kau pasti bertanya bagaimana bisa Aku mengetahuinya kan?”tanya Evita yang berhasil menarik perhatian Yelina. Yelina memandang kearah Evita. “Dengar Yelina, Aku sudah bilang dari awal permainan Aku sudah bosan melihatnya”


“Jangan bilang dari awal kau sudah mengetahuinya?”tanya Yelina dengan wajah gelisah.


“Yeah..dari mulainya permainan”jawab Evita. Yelina menjatuhkan pipa rokoknya. Ia menundukkan kepalanya. “Kartu itu hanya memiliki tanda-tanda yang tak mungkin diketahui olehnya, bahkan tanda itu akan bertahan selama 1 menit. Bagaimana Ia mengingat tanda itu?”benak Yelina.


“Yeah untuk dirimu pasti perlu bertahun-tahun menghapal tanda tersebut, tapi tahukah kau. Yang membuat tanda-tanda itu adalah diriku sendiri, jadi meski kau mengajakku bermain puluhan ronde, jika kartu itu berasal dari perusahaan Kartu N, maka kau sudah salah besar mengajakku”ucap Evita.


Banyak yang tak mengetahuinya, namun asal kelahiran Evita berada dikota N. Kota N dikenal dengan dunia yang penuh orang penjudian sayangnya itu hanya berlaku pada orang-orang tua. Dan tradisi perjudian dikota N hilang secara perlahan. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mewarisi kepintaran para orang tua jaman dulu. Dan Evita salah satu orangnya. Evita keturunan dari keluarga Muchen yang merupakan salah satu dari legenda penjudian yang mampu meraup kekayaan dalam sekali main.


Namun sebagai legenda, Papah Evita tak berniat untuk bermain lagi, karena tentu saja judi itu tidak baik. Namun tak ada yang menyadari permainan dan trik Papahnya, Evita sudah mempelajari segala yang ada. hingga perusahaan Kartu N didirikan secara rahasia oleh Evita. dan sampai sekarang tak ada yang mengetahui perusahaan tersebut selain Evita. bahkan Sebastian sekalipun.


Yelina termundur, Ia tak menduganya. Memang benar segala kartu yang ada didalam usahanya ini adalah Kartu dari perusahaan Kartu N. Namun Ia tak menduga orang yang mendirikannya adalah orang yang ada didepan matanya.


“Bagaimana, Apa kau paham sekarang?, baiklah Ronde kali ini dimenangkan oleh ku bukan?”tanya Evita yang menatap kearah Host.

__ADS_1


Host langsung berbicara “Tak ada kesalahan, Poin Nona Yelina adalah 3 poin, Poin Nona Evita adalah 49 poin...Ronde kelima dimenangkan oleh Nona Evita, dan permainan kali ini dimenangkan oleh Nona Evita dengan memenangkan 3 ronde”


Semua langsung heboh mendengar apa yang diucapkan oleh host yang ada. Yelina berwajah pucat mendengarnya. “Selisihnya, kenapa bisa begitu jauh”guman Yelina.


Ia menatap kearah Evita yang dengan tenang memakai kembali jas miliknya. “Dengar Yelina, Alasan Aku tak memberimu 3 sayatan karena Aku tak suka barang cacat, mengerti bukan”Evita tersenyum dengan wajah yang tampak berbeda.


Melihat hal tersebut Yelina bergegas untuk bediri dan menyodorkan pipa rokok miliknya. “Jangan senang dulu Kau EVITA!!!”teriak Yelina, Ia menghempaskan pipa rokoknya hingga hancur. “Tak perduli Aku menang atau kalah,Kau harus mati ditanganku”ucap Yelina penuh dengan wajah kebahagiaan. Ia membentangkan tanganya menunggu sesuatu yang sepertinya akan muncul.


Semua orang tampak panik melihat tingkahnya, tapi mereka tetap tenang berdiri ditempat mereka.


“Kenapa,kenapa kalian semua masih hidup?”tanya Yelina. Ia bahkan melihat dirinya sendiri.


“Oh apa Kau berpikir kita sekarang sedang diambang kematian, atau Kau sedang membayangkan kita diabsen untuk masuk kedalam kematian?”tanya Evita yang membuat orang lain tertawa mendengarnya.


“Yelina..Yelina, Kau sepertinya tak belajar..oh ya Apa Kau berkunjung kepemakaman keluarga Yan?”tanya Evita. Yelina yang mendengarnya terteguh.


“Tentu saja Aku berkunjung..Aku adalah temannya”ucap Yelina. Kalau tak diakui oleh Merlina, Yelina tak mungkin bisa mendapatkan bisnisnya dan kalau Keluarga Nurganto tak memberinya kesempatan maka Ia tak mungkin bisa bertahan.


“Nah, Kalau begitu Kau seharusnya belajar dari sana, Kenapa bisa Merlina memilik kematian dari pada kehidupan...sudahlah itu tak penting”ucap Evita yang kemudian menunjukkan sebuah hologram tepat didepan Yelina.


Sebuah gedung tergambar didepan mereka. Evita memainkan bagiannya lalu menunjukkan bagian dimana mereka semua berada.


“Yelina, Kau memang pintar, bahkan sangat pintar...Aku mengakuimu, namun ada yang lebih pintar darimu..tentu saja Aku”ucap Evita. entah itu memuji diri sendiri atau hanya berbicara, semua hanya bisa menangapi pada diri mereka sendiri.


“Bagaimana Amelya, Intari...Kalian sudah menyelesaikannya?”tanya Evita yang membelai rambut dibagian telinga kanannya. Terlihat earphone yang ada disana.


“Tentu saja aman, Apakah kami ikut turun tangan disana?” ucap Intari yang menjawab pertanyaan Evita.


Evita tersenyum “Tak perlu, Ada Sebastian dan Za juga disini” panggilan berakhir.


Evita mengarahkan hologram yang ada didepannya. “Dengar Yelina, Kau meletakkan 7 bom disini, apa kau tak berpikir kalau itu bisa merobohkan seluruh bangunan yang ada..yeah sebenarnya Aku ingin membiarkanmu, tapi yasudahlah..intinya Aku ingin memberitahumu bahwa Aku berniat untuk membunuhmu menyusul Merlina”ucap Evita yang tersenyum.


“HA....HAHAHHAHAAHHA”Yelina tertawa dengna perasaan yang begitu bahagia.


Clank!!!!


Didalam ruangan sudah dipenuhi berbagai macam senjata yang ada. Yelina tersenyum menatap kearah Evita. “Dengar Evita, Aku memang sangat pintar, maka dari itu, jika satu rencanaku gagal, Aku sudah menyiapkan cadangannya...dan Aku yang seharusnya berkata bahwa hari ini Aku berniat untuk membunuhmu”ucap Yelina.


Evita menatap keselilingnya. Ia tertawa kecil melihatnya. Semua orang yang melihatnya langsung menatap bingung. “Inilah yang ku suka, para penonton disini seakan-akan mereka adalah pengunjung dan berlagak seperti pemain dalam perjudian. Nyatanya, Mereka semua adalah orang-orangmu”mata hitam lekat milik Evita menatap kearah semua orang.


Benar adanya, segala penonton yang tadi beragumen, berpendapat dan memberikan dukungan, semuanya adalah orang suruhan Yelina. Senjata yang disembunyikan dibalik baju mereka, lalu menyodongkan segala senjata itu tepat didepan mata Evita. Evita merasa senang melihatnya.


“Jadi, Apa kau punya rencana lain?”tanya Yelina dengan wajah yang penuh kebahagiaan. Karena saat ini kemenangan sudah pasti menjadi miliknya.


“Yelina...Yelina, sudah ku katakan be.la.jar.lah, karena yang ku maksud belajar itu akan menyadarkanmu”ucap Evita yang tak berapa lama, sekumpulan orang berpakaian hitam mengepung mereka.


Yelina yang melihatnya langsung terteguh. Ia menatap keseliling dan melihat dua pria yang ada dibelakang Evita. “Ja...jangan bilang Kau sudah menyiapkan orang-orangmu?”tanya Yelina dengan nada yang mulai gusar.


Evita berdiri dan melangkah menuju kearah dua Pria dibelakangnya. Tentu saja Mereka adalah Sebastian dan Za. Evita mengenggam tangan Za lalu menangkap pistol yang berada ditangan Sebastian.


“Sudahlah, ini sudah jam 1 malam, dan Aku sangat lelah sekarang”ucap Evita yang membalikkan tubuhnya. Ia pun menyodongkan pistolnya kearah Yelina.


Semua dilanda ketegangan. Degupan jantung Yelina pun terpompa dengan cepatnya. Seakan-akan tahu bahwa nyawannya akan menghilang dari tubuhnya.


“Yelina, jika malaikat maut tak mau menjemputmu, maka izinkan diriku mengantarmu kepadanya”ucap Evita yang langsung menembak Yelina tepat dibagian kepalanya.


Dor......


Suara pistol beradu dengan cepat, Evita dilindungi oleh Sebastian dan Za yang ada didekat mereka. lalu para anak buah Yelina juga saling beradu tembakkan bersama dengan anak buah Evita.


Yelina yang mengorbankan pelayannya bergegas untuk pergi. Untungnya Tembakkan tadi meleset darinya. Ia berlari dengan cepat karena tahu Ia tak akan menang kali ini.

__ADS_1


“Aku harus pergi dari sini”benak Yelina.


__ADS_2