MANTIV

MANTIV
● Mantiv(73)


__ADS_3

Evita malam ini mengendarai didalam hujan yang lebat. Karena ingin mendapatkan informasi tentang ibu angkatnya. Ia menuju kekediamannya.


Tapi ada yang aneh, kenapa dua mobil dibelakangnya tak berniat untuk pergi darinya. Dengan terpaksa ia mengambil jalan lain. karena tak ingin orang tahu kediamannya.


Untungnya ia membawa senjata api. Jadi ia bisa tenang. Sebastian tentu tidak ikut karena Evita pergi mendadakan. Lalu Reza tengah menangani kasus ibu barunya itu. apakah harus dipenjarakan disini atau ditempat asalnya.


Evita terus melaju sampai menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti.


“Siapa mereka..kenapa bisa kecelakaan seperti ini?”Evita melangkah keluar dari mobil dengan membawa senjata api dipingangnya.


Ia menatap korban kecelakaan. Dilihat penyebabnya karena hujan ini. Dan petir yang menyambar. Saat mendekati sang korban. Mata Evita membelak.


“Tente...Paman?”ucap Evita, ia langsung mencoba untuk mengangkat Orang Tua Amelya.


“Nak...jaga Amelya ya..kami mohon...”ucap ibu Amelya yang kini menahan rasa sakit.


“Tante..jangan banyak berbicara....ayuk kita kerumah sakit”Evita ingin mengangkat Ibu Amelya tapi ditahan oleh Ayahnya.


“Evita kami tak akan bertahan lagi...tolong jaga putri kami ya..dengarkan kami..kami ingin kau menjaga putri kami...”ucap sang Ayah Amelya.


Evita terdiam mendengarnya, namun..


Dorrr..dorrr.


Lengan kanannya terkena tembakkan membuat Evita langsung menatap kearah orang yang telah menyusulnya. Ini pasti musuh orang tuanya.


“Kenapa harus ada disini sih?”benak Evita. ia menurunkan ibu Amelya. Dan menjauhkan diri agar orang tua Amelya tak menjadi sandara mereka.


Mendekati musuh dan menembaknya menjadi tujuan Evita saat ini. Ia terus mendekat dan mencari celah untuk mengenai sasaran.


Namun mobil lain tiba, dan berhasil mengusir dua mobil yang mengejarnya. Membuat kelegaan Evita, tapi yang membuat kaget Evita adalah orang yang keluar dari mobil itu. ia tak lain adalah Amelya.


“Amelya”Benak Evita.


-


Evita terdiam dengan hujan yang menguyur dirinya, lengan kanan yang sakit itu hilang dengan rasa sakit akibat dirinya menerima perlakuan sahabatnya.


Tak habis pikir dirinya, apa statusnya inilah yang membuat Sahabatnya menjadi berpikir buruk kepadanya. Ia menutup matanya merasakan rasa takut yang muncul dalam dirinya.


Tak berapa lama, orang lain datang membawakan payung kepadanya dan terlihat dua pasang suami istri mendekat.


“Kenapa kau menangis disini..apa yang terjadi?”tanya Ibu Maya yang datang langsung melihat Evita.


“Aku membunuh orang tua Sahabatku sendiri dan hampir membunuh sahabatku lagi”ucap Evita yang menatap teduh. Tatapan itu kosong yang membuat Ibu Maya terteguh.


“Kau tak salah..Evita kembali lah, memang tak seharusnya kau mencari keberadaan ibu angkatmu itu”ucap Ibu Maya.


Evita tak menjawab, ia dibawa untuk kembali, tapi sebelum itu lukanya diobati oleh anak buah keluarga Zahra. Luka dilengannya tak membuat Evita merasakan rasa sakitnya.


“Evita...sekali lagi ku tekankan jangan mencari tahu tentang kematian ibu mu”ucap Ayah Maya yang duduk dikursi depan. Evia menatap datar dengan pandangan yang kosong.


“Tidak..Aku akan mencari tahunya”ucap Evita. ia begitu sangat menyayangi ibu Angkatnya itu. sama seperti ibu kandungnya.


“Karena kau keras kepala, aku akan memberi tahu mu sesuatu, Ibu mu hilang karena menangani kasus”ucap Ayah Maya yang dihentikan oleh Istrinya.


“Hentikan Suamiku,Evita tak seharusnya tahu”Ibu Maya menahan Suaminnya untuk tidak memberitahukan yang sebenarnya.


“Tante..jangan seperti ini, beri tahu saja aku Paman, lagian aku tak bodoh, jika memang berbahaya..aku akan menghindarinya”luka Evita telah selesai diobati. Dan tibalah dikediaman Evita yang masih dalam tahapan pembangunan.


“Baiklah..paman akan mengatakannya, Ibu mu sedang menjalankan kasus, yang hanya orang detektif tahu kasus apa itu”ucap Ayah Maya yang langsung membuat mata Evita membelak.


“Baik terimakasih informasinya....”Evita melangkah keluar dari mobil dan berpindah mobil dengan satunya lagi. lalu pergi kembali kerumah sakit.


-


Amelya dan Indah telah tiba dikediaman Amelya. Mayat orang tuanya tengah diperiksa apa penyebab kematiannya.

__ADS_1


Meski Evita menjadi tersangka utama, entah kenapa ada keraguan didiri mereka.


“Indah apa kita melakukan kesalahan?”Tanya Amelya sambil menatap Indah yang kini juga dilanda keraguan.


“Entah..aku tak tahu”jawab Indah apa adanya. Ia juga bingung sekarang harus bagaimana menangapi semua ini.


“Indah, Aku takut, kalau yang salah kali ini aku lagi...Evita..Evita..Pasti..pasti menolong orang tua ku”


Indah yang mendengarnya langsung memeluk Amelya. “Aku tahu Amelya..sekarang yang terpenting masalah orang tua mu dulu, habis ini kita akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Evita..ia pasti akan memberikan kita penjelasan”


Amelya mengangguk. Besok pemakaman akan dilaksanakan, harapannya adalah melihat Evita ada disana. Semoga memang ada.


-


Tiba dirumah sakit, Evita membuat Reza dan Sebastian kaget. Baju basah kuyub. Wajah yang kosong dengan tangan yang terbalut perban. Keduanya langsung mendekat.


“Nyonya Muda apa yang terjadi?”tanya Reza yang mendekat. Sebastian juga tak tinggal diam, ia memberikan mantel untuk Evita.


“Tidak ada apa-apa, Aku mengalami kendala saat berkendara tadi”jawab Evita. ia melangkah terus menuju keruang rawat Ayahnya.


Saat ini Ayahnya tengah duduk dengan wajah yang lesu melihat putrinya datang dengan keadaan yang lebih buruk. Membuat Ayahnya ingin meranjak bangun.


“Ayah tak usah bangun, Aku tak apa-apa”ucap Evita yang mendekat. Sekarang hanya tinggal mereka berdua.


Ayah Evita yang bukan Ayah kandungnya tak sanggup membendung air mata. “Maafkan Ayahmu ini...Ayah benar-benar tak berguna”ucap Ayahnya yang langsung membuat Evita memeluknya.


“Ayah tak salah...Kim yang salah...Kim tak tahu apa yang Ayah alami...Ayah maafkan Kim”Evita ikut menangis tak kuasa dengan apa yang terjadi. Hatinya saat ini dilanda banyak masalah. Rasa takut kehilangan mulai menghantuinya.


“Tidak Nak..seharusnya Ayah memang tak berbohong kepadamu,tak membuat mu curiga kepada Ayah...Maafkan Ayah Nak”Ayah Evita memeluk erat tubuh putri yang sudah dianggap darah sendiri.


Meski Evita bukan anak kandung, tapi darah yang mengalir juga terkandung darah Keluarga Kim. Evita mendapatkan darah tambahan oleh Ibu dan Ayahnya. Jadi Darah Evita saat ini sangat langka untuk orang-orang yang tak tahu kebenarannya.


“Nak...Ayah harap kau tak mencari tahu keberadaan ibumu, jangan tinggalkan Ayah ya..Ayah Mohon”Baru kali ini Evita mendengar Ayahnya memohon kepadanya. Ia tak habis pikir kenapa bisa seperti ini. Tapi ia tak ingin mengecewakan orang tuanya. Lebih baik ia mengikuti keinginan Ayahnya.


“Baik Ayah...Kim akan menuruti keinginan Ayah”Evita memeluk erat Ayahnya.


-


Kepagian harinya..


‘Kecelakaan terjadi dijalan poros, kecelakaan ini terjadi akibat hujan deras yang membuat pengendara tak bisa melihat jalan ditambah petir yang kuat malam tadi benar-benar membuat pengendara menjadi kehilangan kendali..untuk korban, dua orang dinyatakan meninggal karena terlempar keluar dari mobil. Dari sini kami melaporkan..kembali kestudio’


Berita kematian orang tua Amelya telah sampai dan diberitakan. Semua juga tahu akan hal ini, dan Amelya akhirnya benar-benar terserang mental sendiri. ia telah menuduh Sahabatnya sendiri. dan hampir membuat sahabat yang lain berkelahi. Ini benar-benar hal buruk yang yang terjadi kepadanya.


Ditempat pemakaman orang tuanya, Amelya menatap teduh kearah dua makam yang bertuliskan nama orang tuanya.


Para tetua yang menangani perusahaan bersama Ayahnya memberikan sapaan hangat untuk menenangkan Amelya. Tapi tak ada satu pun yang membuat Amelya tenang.


Hingga Indah menghampirinya. “Amelya apa kau tak beristirahat...apa kau tak sarapan?”Indah hanya bisa bertanya hal yang ia coba hindari. Ia tahu ia juga salah tapi mau bagaimana pun semua telah terjadi. Hanya Evita yang menentukan apa yang akan terjadi dengan persahabatan mereka.


Echan datang dan langsung memeluk Amelya. Hal ini membuat kaget Amelya sendiri. ia terdiam tak membalas pelukkan itu.


“Amelya tenang dan tabahlah....aku disini, aku akan menjagamu”ucap Echan sambil menenangkan Amelya.


Indah yang melihatnya tersenyum, setidaknya Echan ada dan membantunya menenangkan diri. Amelya pasti merasa sedikit tenang.


Yoongi juga datang, merangkul Indah yang menunduk “masalah akan terus terjadi, tak terkecuali. Jadi jangan terus menyalahkan diri sendiri”Indah yang mendengarnya mengangguk. Yeah saat ini memang hanya mereka yang diharapkan. Untuk Evita, mereka tak bisa memikirkannya. Karena rasa takut kehilangan Evita telah muncul dibenak mereka.


-


Evita terbangun jam sepuluh pagi, ia kaget karena tak seharusnya ia tertidur, ia harus pergi kepemakaman orang tua Amelya. Dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


“Anakku, kau mau kemana?”tanya Tuan Besar Kim yang kini telah kembali sehat meski harus dirawat dirumah sakit. Ia membawa sarapan untuk Putrinya.


“Ayah..aku harus kepemakaman, Indah dan Amelya pasti merasa marah kepadaku..aku ingin menjelaskannya kepada mereka”Evita ingin meranjak pergi, tapi tangannya langsung ditahan oleh Ayahnya.


“Ayah menyuruh mereka kesini, jadi tak perlu kesana”ujar sang Ayah yang kemudian mendudukkan putrinya. Tapi Evita tetap berisi keras. “Ayah..orang tua Amelya telah meninggal, aku harus datang kepemakamannya”

__ADS_1


Ayah Evita mengeleng. “Tenangkan dirimu, kau harus mendinginkan kepalamu dulu, selesaikan masalah dengan sahabatmu, baru kemudian pergi kepemakaman”ucap sang Ayah yang menyuapi Evita. Evita pun menerima suapan itu. ia makan sambil menikmati Ayah yang memanjakannya.


Tuk


Tuk


Tuk


“Paman..Kami masuk”ucap seseorang yang membuat kedua orang yang didalam langsung menghentikan kegiatan mereka.


“Masuklah Nak”ucap Ayah Evita yang kemudian meletakkan piring kemeja.


Terlihat dua gadis yang melangkah masuk dengan wajah yang tertunduk. Evita yang melihatnya langsung melangkah dan memeluk Mereka.


“Indah..Amelya..maafkan aku ya, aku tak mengatakan yang sebenarnya, aku tak bisa mengatakan langsung kepada kalian...malam itu kalian salah paham, aku tidak...”belum sempat Evita menyelesaikan ucapannya.


Amelya langsung memotongnya “Tidak Evita...aku yang salah, terimakasih kau telah melindungi orang tua ku...maafkan aku sekali lagi aku telah menyakitimu”


Indah juga tak tinggal diam “Evita...maafkan aku juga, aku telah menyingung mu, telah melukai dirimu...maafkan aku sekali lagi maafkan aku”


Evita yang mendengar ungkapan itu langsung menangis, ia takut kehilangan Sahabatnya ini.


“Kalian tak salah...ini salahku”ucap Evita sambil terhisak. Tapi kedua Sahabatnya langsung mengeleng lagi.


“Tidak..kami yang salah”ucap Amelya yang langsung diangukkan oleh Indah.


Tapi kekeras kepala Evita, ia menolak lagi, hingga perkataan itu saja yang keluar dari tadi. Dia yang salah, ini yang salah. Sampai Tuan Besar Kim mengakhirinya.


“Sampai kapan kalian mengatakan salah dan ini lah...berhentilah..”Ucap Ayah Kim yang berhasil menarik perhatian tiga gadis yang ada.


Hehehe


Itu yang keluar dari ketiganya saat mendengar ucapan Ayah Evita. Ayah Evita mendengus, ia kemudian duduk untuk menjelaskan sesuatu.


“Duduk Indah..Amelya..dan Evita kemari lah”ucapnya. Evita langsung mendekat, Ayahnya langsung mendudukkannya disamping dirinya.


“baiklah..aku tak ingin basa basi lagi, akan ku katakan sesuatu kepada kalian....”ucapnya jeda sebentar ia melanjutkan “Amelya dan Indah jadilah putri angkatku”


“Hahah Jadi apa A....Yah”Evita membelakkan mata, ia tak salah mendengarkan. Apa maksud dari ucapan Ayah Evita ini. Yeah meski ia sebenarnya senang mendengar hal ini.


Indah dan Amelya bagaikan tersedak pentol bakso. mereka tak mengira dengan ucapan dari Ayahnya Evita ini.


“Maksud Paman?”tanya Indah yang mulai sadar kembali. Ayah Evita tersenyum “Aku tahu ini terbilang dadakkan, tapi memang rencanaku ingin menjadikan kalian anak angkatku selanjutnya..apa kalian setuju?”tanya


Mendengar hal itu membuat ketiga gadis yang ada disana langsung terdiam lagi. tapi Amelya yang cepat menyimpulkan langsung berbicara.


“Paman...ini memang dadakkan, tapi Paman, apa Paman Yakin?”Amelya sebenarnya senang, tapi tak juga bisa menerimanya. Karena pada dasarnya ia takut Ayah Angkat Evita ini hanya ingin bermain-main. Tak semudah itu mengangkat seorang anak.


“Benar Paman..coba dipikirkan baik-baik”ucap Indah. Indah juga tak ingin nanti mereka malah berkelahi dan akan mengungkit hal-hal yang tak diinginkan.


“Tentu saja Yakin.....lagian Evita sangat menyayangi kalian seperti seorang kakak...jadi kenapa tidak, lagian aku telah lama membahas ini dengan keluarga kalian, tapi orang tua kalian tak menyadarinya”Ayah Evita memang pernah mengungkit hal ini, tapi selalu disepelekan. Sekarang biar ia yang melindungi tiga gadis yang ia sayangi. Apa lagi gadis yang sudah dianggap darah daging sendiri.


“Amelya...Indah, terima lah..aku sangat senang jika kalian menjadi saudaraku juga, meski bukan saudara kandung..”ucap Evita yang menyakinkan kedua Sahabatnya.


“Tidak Paman...aku tak bisa, menurutku ini berlebihan, Paman tak pelu melakukan hal yang sejauh ini....kalau memang ingin menjadi saudara, Evita kita bisa melakukan saudara sesumpah..”ucap Amelya. Ia telah memikirkan baik-baik bagaimana keputusan yang tepat.


Indah yang mendengarnya mengangguk “Benar...itu tak masalah, malah lebih bagus....jadi kita bisa menjadi saudara”


Ayah Evita yang mendengarnya tersenyum, ia mengerti memang sulit untuk memenangkan hati mereka. tapi ia juga tak masalah, bagaimana pun mereka memiliki keputusan untuk mereka sendiri.


“Baiklah...tapi Ijinkan namaku ada dibelakang nama kalian..”Ucap Ayah Evita yang langsung dianggukkan oleh Indah dan Amelya. Setidaknya mereka memiliki marga meski tak resmi.


“Sekarang Aku punya permintaan”ucap Ayah Evita yang membuat ketiganya langsung menghadap kearahnya.


“Apa Ayah?”tanya Evita yang dianggukkan oleh dua gadis yang lain.


“Boleh aku memeluk kalian?”tanya Ayah Evita yang merentangkan kedua tangannya. Ketiga gadis yang melihatnya langsung memeluk tanpa menjawab. Mereka saling tertawa bahagia dengan apa yang terjadi sekarang.

__ADS_1


Setidaknya masalah yang ada bisa sedikit dilepaskan, setidaknya rasa sedih yang melanda bisa tergantikan. Dan setidaknya rasa duka bisa diberi kebahagiaan. Kehangatan yang dicari meski tak seperti yang diharapkan. Tetap memberikan kekuatan untuk ketiga gadis yang akan dikuatkan dan diberi tantangan dimasa depan.


__ADS_2