
“Aku memutuskan untuk bertemu dengannya”ucap Evita untuk menentukan akhir dari kesimpulan yang dibuat. Semua orang terdiam mendengarnya.
“Kalau memang keputusanmu seperti itu,maka Kami tak akan menolaknya...jadi apa yang ingin kau lakukan disana nanti sebagai persiapan?”tanya Za. Za tak mungkin melarang Evita untuk tetap bersembunyi. Karena Evita adalah orang yang bebas. Yang berarti tak bisa dikurung baik dalam sangkar apapun.
“Tak perlu persiapan, Aku akan membunuhnya tepat didepanku sendiri”ucap Evita yang membuat Intari dan Amelya terteguh. Mereka yang sudah bertahun-tahun tak bermain dengan senjata kini harus mengunakannya untuk bisa membunuh orang tanpa memikirkan resiko lain.
Dan seperti itulah yang terjadi sekarang. Evita menatap lekat kewajah Andre yang juga menatap kearahnya.
“Kakak...Seandainya, Aku bisa...mungkin Aku sudah mengurungmu seperti perbuatan Reza waktu itu, Aku mencintaimu”ucap Andre yang kini menurunkan pistol ditangannya. Ia membuang pistol yang ada lalu membentangkan kedua tangannya.
“Kemarilah Kakak...dan Bunuhlah Aku..Mari kita lihat, Siapa yang akan mati terlebih dahulu”ucap Andre yang tak berapa lama kilatan lain muncul.
Sretttt
Lengan kanan Evita mendapatkan goresan yang ada. membuat Andre tersenyum puas dengan apa yang dilihat olehnya.
“Kakak...bukannya sudah ku katakan untuk mempersiapkan anak buahmu...apa kau memang berencana mati disini seorang diri?”Andre berbicara dengan nada yang begitu puas.
Evita menahan lengan kananya, ia pun mengangkat kepalanya untuk menatap kearah dimana penembak jitu terarahkan.
“Evita...apa maksudmu menyuruh kami bersembunyi?”tanya Intari yang sudah bersiap dengan senjata yang ada. tak hanya mereka, Za,Yoongi dan Echan juga bersiap untuk melakukan pertempuran singkat meski tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku pikir pertemuan ini tak mungkin hanya sia-sia, atau berakhir dengan kematian Andre..jadi Aku ingin Kalian bersembunyi untuk melihat situasi...”
Semua menatap heran dengan apa yang dipikirkan oleh Evita. bagaimana bisa mereka meninggalkan Evita seorang diri diwilayah musuh.
“Tenang saja....Aku mungkin akan terluka, tapi dengan hal tersebut akan ada hal yang menarik yang menjadi target sebenarnya”
Evita tersenyum menatap kearah Andre yang langsung terdiam melihat wajahnya.
“Apa yang Kau senyumkan?”tanya Andre lagi. Evita menatap kearah belakang Andre yang terlihat kilatan pantulan cahaya yang berhasil membuatnya tambah bahagia.
“Tak sia-sia aku datang kesini...ternyata si penembak jitu memang benar ada, ia bukannya telah meninggal, tapi orang yang menyuruhnya memang ada disini”ucap Evita.
Andre yang mendengarnya langsung menatap kearah dimana orang suruhannya untuk menembak Evita. matanya kini menyusut ketika melihat dua orang tengah bergerak menuju kearah tepat persembunyian orang yang berkerja sama dengannya.
“Andre..Terimakasih telah meringankan pekerjaanku”ucap Evita yang mendekat kearah Adik Angkatnya. Ia bahkan merangkul pundak Andre yang lebih tinggi darinya.
Selama beberapa hari, dalam diam memikirkan masalah yang masih belum selesai, Evita masih berpikir kedatang Andre tentu saja bukan hal biasa. Ditambah kebetulan yang sangat jarang terjadi.
Jadi Evita beransumsi selain Andre, Yuda dan beberapa yang lain pasti akan menunjukkan dirinya. Seperti yang terjadi..
Setelah menangkap orang yang menjadi pembunuh Evita. ia diseret oleh Yoongi dan Echan. Intari dan Amelya membuka topeng yang ada diwajahnya yang langsung membuat semua orang membelakkan mata kecuali Andre yang membuang muka.
“Ha...ha..HHAHAHAHAHHA”Evita tertawa sambil membungkuk karena tak bisa menahan sakit perut akibat tertawa.
“Apa kalian?...benar-benar teman?...kalian bahkan masih berkerja sama...hahah..luar biasa”Ucap Evita menatap kearah Pria yang menjadi sasaran empuknya. Pria itu tak lain adalah Reza yang memasang wajah tenangnya.
Pria yang bertahun-tahun dikurung dalam penjara kini telah bebas dan masih berniat untuk membunuhnya. Luar biasa bukan?
Za,Yoongi dan Echan langsung menahan Andre dan Reza yang masih terdiam tak berbicara.
Evita masih tak mengerti, kenapa malah orang-orang terdekatnya ikut terlibat. Aneh sekali.
“Jadi..bagaimana tuan-tuan, Apa misi kalian membunuhku sudah selesai?”tanya Evita yang kini mulai merasa tenang meski emosi dalam diri belum padam. Ia ingin menghabisi orang yang ada dihadapannya ini.
“Kalian benar-benar luar biasa....dan Reza senang bertemu dengan mu lagi”ucap Evita kepada Pria yang dua kali mengurung dirinya.
Reza yang ditatap hanya memandang teduh dengan apa yang ada dihadapannya. “Ya senang bertemu denganmu lagi...”ucap Reza dengan suara yang penuh kesedihan.
Intari dan Amelya tak bisa menghilangkan pandangan kesal mereka kepada dua orang ini. Baik dimasa lalu mereka berdua berhasil membuat perkelahian yang luar biasa.
“Sebastian, bawa mereka ketempat yang dimana ada teman mereka juga”Ucap Evita kepada seketarisnya. Sebastian yang mendengar langsung mengangguk.
Acara yang dipikir akan menjadi tempat pemandian darah kini hanya menjadi tempat Evita makin merasa ingin cepat-cepat menemukan musuh yang sebenarnya.
Karena telah selesai mereka memutuskan untuk segera kembali ke Mansion perusahaan Detektif. Dalam perjalanan tak ada yang saling bicara. Evita tengelam dalam pikirannya yang berusaha mengontrol diri agar tak bertindak gegabah.
__ADS_1
-
Berbeda dengan situasi orang yang berniat untuk pergi dengan bebas. Yuda tertangkap oleh orang-orang berpakaian hitam. Ia dibawa dengan paksa mengunakan mobil yang entah milik siapa.
Saat tiba, ia diseret untuk masuk kedalam sebuah rumah besar yang tak dikenali olehnya.
“sial....Siapa Kau!!!?”Kalimat pertama yang keluar setelah ia bisa bebas berbicara. Ia melihat kearah pria yang kini melangkah mendekati kearahnya.
Terlihat wajah yang menatap dengan pandangan dingin yang berbeda dari biasanya.
“Kau!!...Tuan Mavin Vintorin?”ucap Yuda yang merasa lega. Ia ingin duduk dengan tenang namun saat ingin bersandar, seseorang mendorongnya hingga tersungkur kedepan.
“Apa yang kalian rencanakan?”tanya Mavin Vintorin yang berhasil menangkap Yuda. Yuda merupakan akses yang sangat tepat untuk mencari tahu kenapa Andre berniat ingin kembali kekota A.
“Hah?....justru Aku yang bertanya, Kenapa kau menculikku?”Yuda menatap kearah Mavin Vintorin. Pria yang ia kenal sebagai Kakak kandung Andre.
Mavin Vintorin menatap bingung. Alasannya menangkap Yuda karena melihat Yuda yang pergi tanpa Andre disisinya. Ia menjadi merasa salah melakukan tindakkannya ini.
“Aku menculikmu karena ingin mengetahui, Apa yang direncanakan oleh Andre?”Mavin yang dikenal dingin kini berusaha untuk bersikap lembut kepada Pria yang ia tahu bahwa pria itu kekurangan jiwa. Yeah sedikit aneh.
“Rencana?..tentu saja membunuh Kakak Angkatnya itu, bersama Reza yang melindunginya”ucap Yuda tampak tenang. Membuat Mavin Vintorin membelakkan mata mendengarnya.
“Sial..aku tak bisa jaga mulut..sudahlah, bunuh aku sekarang...lebih baik kau membunuhku dari pada membiarkanku hidup”ucap Yuda dengan mata yang tenang.
Mavin Vintorin baru kali ini merasa mangsanya sedikit jinak. Ia bahkan tak perlu mengatakan kata bunuh. Mangsa didepannya ini malah dengan gampang mengatakan untuk membunuhnya.
“Hah..apa aku sudah gila”benak Mavin Vintorin yang melangkah pergi. Ia akan menunggu hasil dari anak buahnya yang mengintai dikediamaan Andre. Lebih baik menunggu berita itu dari pada mendengarkan orang gila berbicara padanya.
“Oii..kau pergi begitu saja?...Kau tak berniat untuk membunuhku?”teriak Yuda dari dalam ruangan yang membuat Mavin Vintorin merasa salah menangkap orang.
Selain masalah membuntuti Andre,Mavin juga memikirkan tentang anak kecil yang ditemuinya waktu itu. sekarang ia akan mendengarkan apa yang disampaikan oleh seketarisnya.
“Sorry Master.....anda menunggu lama”ucap seketaris yang datang dengan wajah yang tak beda tampan seperti Mavin.
“Tak apa”ucap Mavin dengan melangkah duduk dimobilnya. Kali ini mereka berbicara sambil menuju kePerusahaan detektif Evita.
“Tuan...dari datang yang ku dapatkan, memang benar Anak yang Anda temui adalah Putranya. Bahkan dari catatan kehidupan yang didapat, ia melahirkan 5 tahun yang lalu di negara Perancis..”ucap Seketaris Mavin. Dan yang mendengarnya merasa perasaan yang tak nyaman.
Mavin makin dibuat gelisah. Apa maksudnya semua ini. Apa memang benar ia tak menyetubuhi Evita. melainkan wanita lain.
“Apa golongan darahnya?”tanya Mavin Vintorin. Sebagai Anak keturunan Mafia. Dari Ayah yang begitu mudah menanam benih entah dimana. Mavin Vintorin tak ingin menjadi seperti itu, maka ia memastikan bahwa kali ini ia tak melakukan kesalahan.
“Golongan darahnya sangat langka....”ucap Seketaris Mavin yang membuat Mavin tambah was-was.
“Golongannya....AB”Mavin Vintorin langsung bungkam mendengarnya.
“Sial....apa itu alasannya kau menghindariku”benak Mavin Vintorin mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu.
-
“Lihat.....ooowwwwww Tampannya”ucap Evita yang baru tiba diperusahaan detektif. Tangan kanan yang terkena tembakkan itu sudah diobati. Tentu saja yang mengobati adalah Za.
Intari dan Amelya tak menduga akan melihat seorang anak usia 5 tahun. Bahkan wajahnya begitu sangat tampan. Tapi matanya mengandung hawa dingin.
“Berhenti menyentuh putraku...sekarang istirahat....Evita, Kau sungguh berani ya..main kembalikan karyawan tanpa persetujuan kami”ucap Liyana yang datang dengan pakaian ala ibu rumah tangga. Ia membawa Sutil pengorengan.
“Prftttttt....Hahahahahh”Intari,Amelya dan Evita langsung tertawa melihat kedatangan Liyana yang bagaikan seorang Ibu tua tengah memarahi anaknya.
Hal tersebut membuat Liyana makin geram, ia mendekat dengan mengangkat tangan untuk memukul tiga wanita yang sudah dewasa.
“Hahahha...Maaf...maaf”ucap Evita yang menghentikan seorang Wanita yang dulu menganggumi dirinya.
“Sial..seandainya Perusahaan ini ada tempat penjualan makanan bergizi, aku tak akan masak disini”keluh Liyana yang memilih untuk melangkah pergi kedapur.
“Dasar...mak..mak”ucap Intari yang membuat Evita dan Amelya makin tertawa.
Yoongi,Echan dan Za hanya menatap datar sambil mengeleng. “Mereka merepotkan”ucap seorang Anak yang ada disamping mereka. berdiri diatas kursi dengan tangan menyilang didada.
__ADS_1
Yoongi yang dikenal dingin entah kenapa ingin menyentuh wajah bulat bagai mochi. Tak hanya Yoongi, Echan juga. Bahkan Za sudah mengusap kepala anak kecil itu.
“Bisakah kalian terlihat dewasa”ucap Anak yang berusia 5 tahun. Evita membalikan tubuhnya bersamaan dengan Intari dan Amelya. Mereka melihat suami mereka yang memandang kagum kepada Anak usia 5 tahun. Hal tersebut tak luput dari pandangan mereka.
“Kemari Vino-Li”ucap Evita kepada Anak usia 5 tahun. Anak itu bernama Vino-Li, seorang pria kecil berwajah tampan yang selalu membuat Evita penasaran siapa Ayah kandungnya.
“Yo...Tante Evita”sapa Anak 5 tahun yang menatap kearah Evita. Evita yang mendapatkan sapaan itu langsung mengangkat tinggi tubuh Vino-Li yang berhasil membuatnya memekik girang.
“Evita..gantian, Aku juga mau mengendongnya”ucap Amelya yang langsung mendapatkan gilirannya.
Tak hanya Amelya. Intari juga menginginkan untuk bisa mengendong anak usia 5 tahun itu. semua tampak bahagia dengan kedatangan anak kecil yang tak tahu siapa Ayah sebenarnya.
“Bagaimana perjalanannya?”tanya Evita kepada Wanita yang dulu memanggilnya Kakak.
Liyana yang mendengarnya langsung menjawab “Tentu menyenangkan....Evita, Apa kau berpikir bisa menghadapi semuanya sendirian?”
“Justru Aku yang seharusnya bertanya kepadamu, bagaimana kau melewati ini semua tanpa mengatakan yang sebenarnya”ucap Evita. 5 tahun bukan hal yang mudah mengandung dan menyembunyikan seorang Anak. Evita tahu Liyana melahirkan saat ia tengah kembali ke Amerika. Dan tak menduga bahwa Liyana melahirkan tanpa pendamping atau bisa dibilang ayah dari Anaknya.
“Tak perlu memikirkan tentang ku....sekarang, Aku akan menuntaskan apa yang selama ini aku rahasiakan darimu”ucap Liyana.
Evita tahu kedatangan Liyana karena Miss Lila memberi kabar padanya bahwa Liyana akan datang dengan membawa berita yang lain.
Selain itu Maya Anita Zahra juga mengabari dirinya bahwa ada pergerakkan dari para mafia yang sepertinya mulai melakukan peperangan.
“Kita akan berbicara..tapi bukan dimansion ini....Kita akan kekediamanku yang satunya”ucap Evita. kediaman ini bukan tak aman. Hanya tempatnya menganggu, jadi lebih baik kekediaman yang satunya.
“Baiklah..Kapan kita berangkat?”tanya Liyana. Evita menatap kearah Intari dan Amelya yang menatapnya juga. Semua sudah tahu rencana Evita yang selanjutnya.
“Sekarang!!!”ucap Evita dengan mengendong seorang putra yang mungkin tak lama lagi akan bisa diketahui siapa Ayahnya.
-
“Benarkah?....Kalian menemukan lokasi Putri Kim Jae?”
“Kami sudah menemukannya....bagaimana cara kita bergerak?”
“Menurutku, Kita hanya perlu menunggu seseorang bermain kepadanya....setelahnya ambil kesempatan yang tepat”
“Apa maksudmu..ini kesempatan langka. Sudah bertahun-tahun dicari...ternyata selama ini ia berada disekitar kita”
“Biarkan wanita eksperimen itu bermain dulu....setelahnya baru kita turun”
“Aku ingin mendapatkan tubuhnya....”
“Aku ingin jiwanya”
“dan Aku ingin....apa yang menjadikan dirinya seperti sekarang”
Sebuah meja bundar yang berisikan lebih dari 20 orang berpakaian hitam dengan mantel yang begitu megah dikenakan dipundak mereka. ditambah beberapa gadis berpakaian seksi menjadi peneman dalam acara pertemuan yang langka.
-
Yelina dan Merlina telah dikembalikan ketempat mereka. “Apa kita akan mengakhir ini?”tanya Merlina kepada Yelina yang baru saja turun dari mobil.
“Iya....sudah saatnya kita berpisah...Aku akan menghabisi Evita sendiri dengan tanganku”
“ooh..Baiklah...memang itulah dirimu, kalau begitu harap bertemu lagi nanti”
“Ah.....sampai jumpa”ucap Yelina yang melangkah masuk kemobil miliknya. beberapa pria menyambut kedatangannya.
Merlina yang melihatnya hanya tersenyum sinis. Ia melangkah masuk kedalam rumah bak istana.
“Ibu..Ayah!!!”teriaknya...
Plak!!!
Merlina membelak melihat apa yang didapatinya. “MASIH BERANI PULANG...KENAPA KAU PERGI, KENAPA TAK PERGI SEKALIAN..KALAU PERLU TAK USAH KEMBALI..DASAR ANAK TAK BERGUNA”
__ADS_1
Merlina menatap nanar kearah siapa yang menamparnya. Baru saja pulang setelah diculik, meski masih bisa makan. Tapi ini sudah kelewatan. Apa mereka hanya menganggapnya sebagai Anak penghasil uang atau mungkin Anak pelampiasan.
Ah Merlina merasa tambah sakit hati, bahkan tambah juga rasa dendamnya kepada Wanita yang membuat orang tuanya menjadi seperti ini.