MANTIV

MANTIV
● Mantiv(8)


__ADS_3

sebuah mobil berbaris sekitar lima buah. Dari masing-masing mobil keluar seseorang dengan aura dingin yang membuat semua menjadi menundukkan kepala mereka.


“waah selamat datang tuan Zhan...senang bertemu kalian lagi” Sapa Kakek Evita dan Inul yang duduk didepan mereka kini berdiri lalu berjalan kearah pintu aula.


Aula yang besar itu terlihat dengan penuhnya orang-orang didalamnya, namun saat kedatangan keluarga dari Zhan ini, semua kembali keposisi dengan duduk sesuai dengan keluarga masing-masing.


Orang-orang yang berada didalam lima mobil itu pun melangkah ke Aula. Gaya pakaian mereka tidak bisa dibilang kalah saingan. Begitulah keluarga Zhan ini, mereka memang jarang terlihat namun nama dan ketenaran mereka sudah bergema dimana-mana.


Inul dan Evita yang tadi mendengarkan para Kakek mereka bercerita, kini kembali ke posisi sesuai dengan keluarga masing-masing.


Evita duduk diantara Ibu dan Ayahnya. Sedangkan adik-adiknya duduk dibelakang mereka. Inul juga duduk diantara Ibu dan Ayahnya begitu juga dengan Nabila.


-


“Lama tidak berjumpa lagi Tuan Alex” sapa Tuan Zhan.


“baru saja beberapa hari lalu kita ketemu Tuan Zhan”


“Hahaha..benar sekali, tapi aku tidak menduga, kau akan menyiapkan semuanya secepat ini”


“tidak juga..para anak-anakku dan cucu-cucuku juga ikut membantu”


“bagus...hmmm ..”pandangan Tuan Zhan mengarah kesegala arah, ia sempat memberikan senyuman ke Inul dan Nabila, namun setelahnya, pandangannya berhenti kearah Evita, ia terdiam dan memperhatikan Pandangan Evita yang tidak membalas tatapannya.


Evita yang merasa ada orang menatapnya. Langsung mencari tatapan tersebut.dan ia melihat bahwa Tetua atau Tuan Zhan itu menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa.


‘Apa dia tahu kalau aku seorang detektif’benak Evita. Ia tersenyum berusaha untuk tetap terlihat normal.


Melihat hal itu, Tuan Zhan membalas senyumannya. “Gadis ini sepertinya cocok dengan cucu dinginku itu”benaknya.


“sepertinya kita tidak perlu berbasa basi lagi...karena beberapa Cucuku terlalu sibuk, mereka sulit untuk mengelola waktu, jadi aku ingin cepat menyelesaikan ini” ucapnya. Karena mendapat anggukkan, mereka pun menyelesaikan apa yang sudah direncanakan.


Malam itu, Evita,Inul dan Nabila hanya terdiam sambil menahan diri untuk tidak membuat suasana yang riuh dan gembira ini.


-

__ADS_1


Pagi harinya, Intari dan seketarisnya Raja memeriksa dokumen yang tersisa, sedangkan Amelya sedang melatih beberapa orang yang akan melaksanakan tugas untuk menyelesaikan kasus dari pelanggan mereka.


“Raja..ini dokumen terakhirkan”


“benar Nona Intari”


“Hah...kapan ini berakhir” Ucapnya yang sebenarnya hanya beberapa dokumen untuk diperiksa. Sebenarnya ada sekitar dua puluh dokumen yang harus diperiksa namun karena merasa ada seketarisnya jadi Raja yang mengerjakan hal itu sampai Nonanya merasa sedikit tenang. Tapi tidak ada yang tahu ternyata Intari baru beberapa lembar membuka dokumen itu sudah banyak mengeluh.


“Sebentar lagi Nona”Ucap Raja sambil berusaha untuk menyemangati Nonanya itu.


Intari yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum lalu melanjutkan apa yang sudah menjadi tugasnya.


-


“Hei Evi....kenapa kau murung seperti itu...lagian Tuan Polisi itu sangat cocok untukmu” Ucap Inul yang memasuki ruangan.


Semua karyawan dan Intari yang baru menyelesaikan tugasnya, kaget mendengar ucapan Inul yang masuk tiba-tiba.


“Benar tuh Kak Evi, lagian dia sangat tampan” Timpal Nabila.


Evita berjalan lebih cepat dan menuju kelift untuk beristirahat. Dirinya sudah terlalu letih dan matanya tidak tahan lagi untuk menutup mata. Karena kemarin malam Ia harus meladeni Keluarga besar dari Zhan itu. Apa lagi sekarang dirinya sudah mendapat status baru, bukan menjadi pacar orang, melainkan menjadi tunangan seseorang pemuda yang selalu ingin Ia hindari.


“Cukup...aku ingin istirahat, dan ingat janji kalian” Ucapan singkat dari Evita yang tak berapa lama pintu lift pun menutup.


Intari yang berada disana merasa bahwa ada berita baru dari kedatangan Sahabatnya itu.


“Kak Inul..apa yang terjadi kepada si kutub itu” bertanya langsung merupakan jalan yang tepat dalam benak Intari, namun ia tidak mengetahui bahwa banyak hal yang tidak bisa diberitahu oleh Inul kepadanya.


“Ah itu Intari, kemarin kami kedatangan keluarga jauh, dan yeah gitulah...sekarang yang terpenting kau harus mengawasi Evita agar dirinya tidak mendekati pria lain...hahaha” Inul menahan perutnya karena mengingat kejadian tadi malam yang tidak bisa Ia lupakan begitu saja. Nabila yang melihat hal itu hanya menghela nafas. Ia tahu bahwa Tante mudanya itu sedang ingin menganggu Kakak tertuanya.


Nabila ingin meninggalkan ruangan penuh dengan candaan Inul, namun pandangannya teralihkan melihat pria yang berdiri tidak jauh dari Intari.


Raja yang melihat dirinya sedang dipandang, ia langsung tersenyum karena tahu bahwa Nabila adalah salah satu orang terdekat diantara bossnya. Dan lagi Nabila juga terlihat begitu ramah tidak sedingin wanita yang dijadikan bahan candaan.


Nabila yang melihat senyuman itu sedikit kaget, yeah memang jarang dirinya mendapat senyuman dari pria karena sekolah yang ia tempati adalah sekolah putri dan lagi dirinya juga jarang bertemu laki-laki, kecuali karyawan yang ada disini. Namun tidak ada yang membuatnya tertarik. Tapi entah kenapa melihat Raja tersenyum padanya ada rasa yang membuatnya ingin melihat lebih senyuman itu.

__ADS_1


Lamunan Nabila tiba-tiba menghilang karena dikagetkan dengan Inul yang menarik dirinya.


“Nabila..ayuk bantu aku memeriksa berkas yang kita tinggal kemarin”


“Ah..iya” Nabila menyusul langkah Inul lalu melihat kebelakang dan mendapati bahwa Pria seketaris Intari itu sedang berbincang-bincang dengan atasannya.


“Aneh...kenapa jantungku berdegup kencang” benak Nabila.


-


“Baik..sekarang kita lihat tembakkan kalian...ingat senjata ini hanya berguna jika kalian dalam kesulitan atau kalian sedang mendapat masalah. Tapi ini tidak diperuntukkan untuk warga biasa, ingat!” ucap Amelya yang sedang memberikan salah satu senjata yang terlihat ringan namun mematikan. Senjata itu mengandung jarum yang jika seseorang terkena maka Ia akan tertidur.


Senjata kecil itu bisa dibawa dimanapun namun hanya untuk orang yang terpilih. Karena dari banyaknya karyawan yang ada, hanya sekitar empat puluh orang yang turun tangan dalam menangani kasus. Makanya Amelya dan Intari kadang turun tangan jika mendapat kasus dan mereka kekurangan anggota.


“Baik Nona” jawaban serentak.


Amelya yang sudah berjam-jam berada diruang perlatihan kini bisa menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya.


“Huh....baiklah sampai disini dulu kita berlatih, besok jadwal kalian adalah memahami teori, jadi kalian bisa beristirahat untuk besok” jelasnya kemudian meninggalkan ruangan setelah mendapat jawaban dari anggota pemula yang berjumlah sepuluh orang.


Amelya berjalan sambil memandang sekelilingnya. Lalu menuju ke lift khusus untuk pergi kerumah dan mandi karena tubuhnya sudah lengket oleh keringat.


“aku pikir ini akan lama, untungnya tidak” ucapnya.


Setelah keluar dari Lift. Yang ia lihat bukan pelayan rumah melainkan melihatkan Evita yang sedang memakai pakaian hoodie hitam lalu celana oversize, selain itu rambutnya yang panjang dimasukkan kedalam tobong hoodie.


“Evita...kapan kau datang?”Tanya Amelya.


Evita yang mendengar namanya dipanggil membalikkan badannya. Dan melihat Amelya berdiri didepannya.


“tiga puluh menit yang lalu” ucapnya yang kemudian pergi keruang dapur untuk mengambil cemilannya.


Amelya yang mendengar jawaban itu hanya menghela nafas, ia tahu bahwa Evita jarang bicara, kecuali hal yang penting. Amelya selalu berpikir kalau Evita adalah orang yang sedang hemat berbicara, seakan-akan sekali Ia berbicara akan menghasilkan emas batang mungkin.


...********Bersambung********...

__ADS_1


*Jangan Lupa Like and Comment😊


jika ada saran atau masukkan silahkan coment ya🙏*


__ADS_2