
langkah kaki bergerak begitu cepat. Bahkan sampai seseorang menendang pintu yang membuat suara menjadi tambah kacau. Intari dan Amelya melihat kesumber suara. Dan menampakkan sosok seorang kepala desa bersama orang-orang lainnya.
Waktu sudah Malam, kepala desa dan warga merasa aneh dengan ketidak hadiran dari pengunjung desa mereka. Membuat mereka harus bersama-sama mencari. Untungnya ada seorang pria yang asing berkata bahwa adik-adiknya menemukan dua orang gadis yang tengah tersesat.
Echan yang memberitahu kegiatan mereka saat dirumah, ia tidak ingin dua wanita itu hanya terdiam membisu, atau takut dengan mereka. Jadi Echan berusaha siapa tahu ada yang kenal dengan dua gadis ini.
Saat Echan dan Yoongi tiba diatas. Mereka melihat segerombolan orang mendekat kearah Intari dan Amelya.
“ayoo....apa kalian baik-baik saja..kalian membuat kami khawatir...kalian pergi tidak bilang..”ucapan seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya. Hehe anak gak tuh.
Tapi Intari dan Amelya hanya mengangguk tanpa menjawab. Mereka merasa ini lucu. Seakan-akan mereka telah menjalin darah dengan mereka. Bahkan gadis-gadis yang baru diajak bicara dua hari yang lalu, kini memeluk mereka.
“sudah..kami tidak apa-apa..kami diselamatkan oleh dua pemuda ini”ucap Amelya.
Membuat Yoongi dan Echan terteguh mendengarnya. Mereka hanya mengangguk mengiyakan.
“Terimakasih..sungguh ini tanggung jawab kami....kami lupa memberikan panduan untuk dua gadis yang tengah berlibur ini”ucap Kepala Desa. Membuat Intari dan Amelya hanya tersenyum miris.
Hingga tak berapa lama. Intari dan Amelya mengikuti Kepala desa dan warga kembali kekampung. Yoongi, Echan dan Za tetap disana untuk mengawasi sekitar. Kepala desa tahu bahwa Za adalah polisi.jadi ia membiarkan Za memeriksa rumah asing tersebut.
Setelah kepergian yang membuat kehebohan. Yoongi kembali melangkah menuju keruang rahasia bersama Echan dan Za.
“apa yang kalian dapatkan?”tanya Za.
“Kak..kami hanya bertemu lab yang telah lama ditinggalkan, sepertinya tempat ini hanya tempat uji coba...dan sepertinya tempat ini tidak berhubungan dengan kematian orang tua Nona Evita”
“aku juga berpikir begitu kak”ucap Yoongi menyetujui Echan.
Za menatap kearah ruangan setelah tangga terakhir. Ia memandang semua yang berada disana. Sampai memutuskan “ruangan ini kita sita. Sisanya diperiksa. Aku tidak ingin menghilangkan bukti-bukti yang susah payah ditemukan”ucap Za. Yoongi dan Echan mengangguk.
-
Intari dan Amelya kini tengah berbaring diruang tengah. Mereka merasa lelah dan juga merasa senang.
“Han...apa mereka akan mengingat kita nanti?”tanya Amelya.
“Kenapa pikiranmu Malah kearah sana...biarkan saja mereka, lagian mereka dulu yang berjanji tidak akan melupakan kita, tapi sekarang Malah lupa..cih”Intari sebenarnya senang, tapi hatinya tengah kesal. Kesal mengingat janji yang ia pikir akan terlupakan, sekarang Malah teringat kembali.
“hei...biasanya kau yang begitu antusias”
“sudalah Ara...entah kenapa aku merasa mereka tetap sama, apa lagi keluarga mereka..aku Malah menjadi membenci mereka”
“tadi senang...sekarang kesal”
“siapa yang tidak kesal coba...dia berjanji tidak melupakan kita, tapi Malah mereka sendiri yang melupakan diri kita, bahkan keberadaan kita. Sungguh mulut manis kadang kenyataannya pahit”
“benci ya....?”
“masih bertanya Ara...tidak sadar dengan ucapanku barusan”
“Han...aku sepertinya tidak bisa membenci mereka...kau tahu bukan, selain Kau, Evi..mereka adalah orang yang bisa melindungi kita saat itu”
“kau benar..tapi”
Intari terdiam, ia menatap kearah langit-langit rumah yang disewa olehnya. Ada kilasan masa lalu yang membuatnya merasa serba salah.
Amelya menyadarinya, ia merasa bersalah membuat Intari mengingat kenangan buruk mereka. Kenangan sebelum bertemu dengan cahaya yang begitu menyilaukan.
“Sudahlah..jangan dipikirkan..Han...besok kita pulang karena misi sudah selesai, dari awal memang hanya Sintro pelakunya”jelas Amelya. Memang mereka berdua juga merasa hal yang sama. Dan merasa yakin bahwa ada dalang dibelakang Sintro. Tapi melihat beberapa fakta yang ditemukan, kemungkinan Sintro memang dalam utamanya.
Intari terdiam sesaat, sebelum akhirnya ia mengangguk. “kau benar..yasudah kita istirahat, besok kita pulang woke”
Amelya mengangguk. Mereka berdua pun melelapkan mata yang sudah mengantuk karena sudah 1 hari tidak tidur. Tidak perduli tempat apa yang mereka tiduri. Saat ini kantuk telah merajalela.
__ADS_1
-
Seperti apa yang diucapkan oleh Amelya. Mereka kini tengah berkemas-kemas untuk pulang.
“apa kalian yakin?...kalian baru beberapa hari disini”ucap Kepala Desa yang kini tengah membantu menyusun beberapa tas milik Intari dan Amelya.
“maafkan kami merepotkan kalian..kami pulang karena ada keluarga kami yang akan datang, jadi kami harus pulang”alasan Amelya agar tak ada yang curgia dengan kepergian dadakkan itu.
Para warga pun juga hanya bisa tersenyum dengan apa yang diucapankan. Dan tanpa berbasa basi mereka pun langsung berpamitan dengan segala orang. Bahkan Intari dan Amelya memberikan beberapa donasi untuk warga agar bisa membantu perekonomian mereka.
Mobil hitam kini berjalan meninggalkan kawasan Desa terpencil itu. Dan kini setelah 30 menit mereka menghadapi jalan yang penuh dengan mobil lain.
“sepertinya mulai macet lagi”
“sudah jadi kebiasaan bukan”
“mn..benar”
Suasana dalam mobil tidaklah nyaman. Ada kecangungan yang ada, karena mereka masih mengingat kejadian tadi Malam. Pertemuan yang tak diinginkan Malah berakhir dengan bertemu dan kini menjadi asing.
Setelah lumayan menghadapi perjalanan. Intari dan Amelya datang ke kediaman yang dibilang oleh Echan, kediaman keluarga Kim.
“dia bilang ini adalah kediaman keluarga Kim”ucap Amelya yang kini turun dari mobilnya.
“kau masih mengingatnya?”
“aku tak bisa melupakannya. Sejujurnya ku pikir hidup tanpa mereka benar-benar membuat kita tenang”
“benar....aku sekarang berpikir..bagaimana keadaan Evita saat ini”
“iya....apa dia akan menjauhi orang itu Mel?”tanya Intari kala kaki mereka telah melangkah menaiki tangga mansion.
“menjauhi siapa?”tanya Inul menyambut kedatangan Boss mereka ini. Ada Nabila dan seketaris pribadi Indah dan ada Sebastian yang menatap datar.
“Selamat siang semua”sapa Intari dan Amelya bersamaan tanpa menjawab pertanyaan Inul barusan.
‘Apa mereka akan marah besar saat tahu tentang kepergian Evita yang dadakkan itu’benak Inul dan Nabila yang telah mengantar Intari dan Amelya ke rumah mereka.
-
Disebuah ruangan yang begitu tertutup, hanya diterangi 4 buah lampu yang redup.
“Kakak...apa kakak yakin akan hal ini?”tanya Laura kepada Wanita yang tengah meminum wine dan memandang kearah depan dengan tatapan kosong.
“aku tak akan mengulangi perkataanku”suara datar menjadi jawaban yang tak ingin dibantah.
Maka Laura dengan berat hati mengambil gunting dan melakukan apa yang diperintahkan oleh wanita yang dipanggil Kakak itu.
-
Empat Tahun Kemudian...........................................
Sebuah pesawat mendarat dengan tepat. Dan para bodyguard dari kejauhan datang dengan teratur. Berbaris menyambut kedatangannya.
Dan pintu Pesawat itu pun terbuka. Menampilkan seorang pria yang berpakaian hitam dengan wajah dingin yang menawan. Membuat para gadis yang melihat dari kejauhan tak bisa memalingkan bahkan berkedip sekali pun.
Vintorin turun dari tangga dan berhenti setelah anak tangga terakhir. Ia melihat keatas yang menampilkan sosok wanita dengan wajah dingin bahkan mungkin lebih dingin tapi beberapa saat kemudian muncul senyum manis yang terukir diwajah itu. Ada lesung pipi kecil disana. Membuat siapa saja yang melihatnya langsung dibuat terjungkal kebelakang.
“Apa kau akan terus berdiri disana sayang”ucap Vintorin menyambut dengan tangan terulur dari bawah.
Wanita yang tersenyum dengan rambut hitam, pendek sebahu dan berponi membuatnya tampak seperti gadis lucu biasa yang menjadi rebutan anak muda.
Wanita itu turun dan menyambut uluran tangan itu. Lalu melangkah menuju kebandara yang kini tengah dilanda keributan. Bahkan ada wartawan sekali pun.
__ADS_1
Bagaimana tidak. Seorang anak mafia datang menunjukkan diri. Bahkan sangat langka melihat Mavin Vintorin yang dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Walau pun ada yang lebih kuat lagi dari mereka. tapi yang saat ini masih menunjukkan taring adalah Mafia dari Keluarga Mavin ini. ‘si Blue’.
Meski begitu, tetap saja Media tidak bisa menampakkan wajahnya kelayar kaca. Karena dengan cepat ditutup oleh pihak yang berada dibelakang mereka.
Tapi ngomong-ngomong keadaan saat ini tidak seromantis yang dipikirkan ya. Vintorin tidak mengandeng wanita disampingnya. Mereka berjalan layaknya rekan bisnis walau panggilan kepada wanita disampingnya tetap kata sayang yang keluar.
Jalan seperti ini orang akan mengira mereka pasangan. Tapi bagi wanita yang kini tersenyum, hanya sebatas teman biasa.
Hingga tak berapa lama, langkah mereka berhenti kala mendengar teriakan yang bergema sampai membuat para pekerja dibandara berhenti. Memandang kesegala arah untuk melihat siapa yang berteriak.
Tidak hanya mereka. dua orang yang menjadi pusat perhatian juga mencari asal teriakkan itu. Yang kini memandang kearah seorang pemuda berlari menghampiri mereka dengan tangan melambai kearahnya.
Wanita itu tersenyum. Tentu saja apa lagi melihat wajah lucu pemuda yang meneriakkan namanya.
“KAK MOA!!!!!”
“KAK MOA!!!”
Teriakkan itu mengalahkan mickrofon bandara. Begitu nyaring. Tapi gadis yang dipanggil Moa dan gadis yang kini telah kembali dari liburannya menyambut kedatangan pemuda itu dengan pelukkan hangat layaknya seorang ibu yang ingin menyapa anaknya.
Pemuda yang berlari itu pun kini mendekap tubuh yang lebih kecil dari tubuhnya. Bahkan mengangkatnya. Dan lebih mudah lagi membuat tubuh itu terbang layaknya layangan.
Evita menikmati hal itu sampai tangan lain mengambil alih tubuhnya dan memeluknya dengan posesif.
“jangan mendekatinya”ucap Vintorin sedikit tekanan. Evita hanya memutar matanya dengan Malas. Jujur saja sejak ia ditemani pria ini. Vintorin tak pernah sekali pun memberinya kebebasan, bahkan sampai ia kembali. Empat tahun bersama pria yang menyebalkan ini membuatnya bisa stress dadakkan.
Pemuda yang memeluk Evita hanya mendengus. Ia berbicara “Tuan Mavin Vintorin..sejak kapan Kak Moa itu kekasih anda..atau milik anda....sedangkan Kak Moa sendiri tak mengakui hubungan kalian yang dibilang hanya pengakuan sepihak”ucap Pemuda itu dengan sinis.
Benar adanya. Evita tidak mengatakan bahwa ia kekasih Vintorin atau sebaliknya. Yang ia katakan hanya Evita berteman dengan Vintorin. Dan seperti sebelumnya, meski Vintorin memberikan segala bukti tentang cinta pertama Evita. Evita tetap tak bisa menerimanya. Bahkan sampai sekarang ini.
Evita hanya memasang wajah yang tenang. Ia mengeleng dan keluar dari rekuhan Vintorin yang posesif itu. Dengan langkah kecil mendekati pemuda yang kini lebih tinggi darinya.
“Hai....Derka Jamesta..lama tak berjumpa dydy”ucap Evita yang kemudian mengelus lembut kepala Pemuda yang bernama Derka.
Derka atau Derka Jamesta, ia merupakan anak dari keluarga Aru. Derka merupakan teman Evita saat ia masih dimeja SMK. Dan Derka juga orang yang ada disamping Evita saat masa terpuruk darinya. Derka merintis karir sebagai seorang aktor dan model. Jadi tak heran jika melihat style pakaian yang dikenakannya. Ia merupakan anak yang sangat mandiri tapi juga bisa royal jika bersangkutan dengan Evita. Tak ada yang tahu, hanya Derka sendiri yang tahu bahwa kasih sayang dan rasa perhatiannya itu bukan sekedar Teman tapi ia sebenarnya Mencintai Evita secara diam-diam.
Dan Derka kali ini beramsumsi jika tak ada yang mengklam Evita. Maka ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkannya.
Bagi Evita, Derka adalah adiknya. Adik yang rasa kasih sayangnya sama dengan adik-adik kandungnya. Apa lagi melihat perkembangan Derka yang makin sukses. Membuatnya keingat Adik laki-lakinya yang ingin menjadi seorang polisi.
Mengingat Polisi membuat Evita teringat dengan pertunangannya dengan Zhan Za Chen. Dari keluarga besar Zhan itu. Huh wajahnya yang cerah seketika redup. Tapi tak berapa lama senyum manisnya muncul dan mengajak Derka untuk berjalan bersamanya kemobil yang menjemputnya.
“Kak Moa....tumben Kakak bersama pria asing ini...sudah asing merepotkan lagi”ketusnya, Derka benar-benar membuat Vintorin ingin melemparnya. “kenapa engak terima dibilang gitu”lanjut Derka kala menyadari tatapan Vintorin yang ingin membunuhnya. Derka taklah takut dengan tatapan itu. Lagian ia tahu siapa yang paling menakutkan dan bahkan lebih mengerikan.
Vintorin hanya memandang remeh pemuda disamping Evita yang mengenggam tangan kekasihnya itu. Sakit sih setelah tahu bahwa Evita hanya menganggapnya teman tapi mau bagaimana pun tak ada yang tahu isi hati Evita dan kepada siapa ia menyimpan rasa. Vintorin pun hanya mengikuti langkah mereka. sebenarnya niatnya hanya mengantar,tapi melihat Pemuda disamping Evita ini. Malah membuatnya tak ingin meninggalkan Evita. Sebenarnya Vintorin tahu bahwa Evita memiliki Sahabat lain. Mengingat tujuan Evita. Ia menjadi waspada karena seperti dulu, Evita tak akan memberitahukan kegiatannya ini kepada Sahabatnya itu. Yakinlah.
Evita dengan tenang berjalan, menunjukkan wajah yang begitu cerah, tak tampak lagi wajah sedih penuh luka. Ia kembali. Kini melangkah kembali dengan wajah baru. Iya dan cerita baru pastinya.
“Sekarang...mari bermain”ucapnya memandang kearah kota yang begitu indahnya.
Dari kejauhan seorang pria memandang kearahnya. Dan berlari mendekatinya.
“Selamat datang Nyonya Evita”ucap Sebastian menyambut Nyonya yang kini telah berubah dari pandangannya.
“mn....aku pulang sebastian”dengan senyum manis. Membuat semua orang terteguh melihatnya. Bahkan Vintorin dan Derka langsung tercenga melihatnya.
Dimana sifat dingin Evita. Dimana wajah yang penuh tantangan itu. Dimana wajah yang datar, dimana itu semua.
Sebenarnya Vintorin sedikit kaget saat menjemput Evita yang sudah memotong rambutnya waktu itu. Tapi ia tak berniat bertanya lebih rinci. Ia juga curiga kok bisa gadis seperti Evita memotong rambut dan kini tampil layaknya gadis umum seperti biasa. Apa ia tengah menyembunyikan sesuatu. Tak ada yang tahu.
“Vintorin....Derka aku pulang dulu ya....Vintorin terimakasih telah mengantarku”ucap Evita dengan suara lembutnya dan kemudian masuk kedalam mobil yang dibawa oleh Sebastian. Sebastian menundukkan kepalanya dan menyusul Evita. Meninggalkan dua laki-laki yang masih terbengong dengan suasana yang ada.
“sejak kapan Kakak Moa seperti ini?”tanya Derka dengan berguman pada diri sendiri. walau begitu suaranya masih terdengar oleh Vintorin yang memandangnya.
__ADS_1
Derka melihat Vintorin lalu meranjak pergi. Dan Vintorin beralih untuk tinggal beberapa hari dan melihat apa langkah Evita yang dari Amerika tak menemukkan petunjuk apapun. Atau mungkin Evita telah menemukannya tapi hanya Evita sendiri yang tahu.
...****************...