
semua yang dilakukan Sebastian memang sederhana. Hanya mengikuti apa yang ditugaskan. Dan menjalankan apa yang diperintahkan. Namun dibalik itu ada rasa yang makin terpendam.
Jujur saja, Sebastian sangat cemburu saat tahu bahwa Nyonya-nya itu telah memiliki kekasih. Bahkan sangat lengket layaknya karet. Tapi apalah daya dirinya, kaya yeah sekarang ia memiliki gaji 15 juta perbulan dan akan terus naik. Itu pun belum dihitung dengan bonus yang diberikan.
Dari semua yang dijalaninya. Ia pun sadar bahwa meski berjuangpun. Hati Nyonya-nya ini telah dimiliki orang lain. Dan sulit diambil alih. Mungkin perlu puluhan tahun. Atau perlu meracuni Nyonya-nya ini agar mau padanya. Namun Sebastian belajar, bahwa Cinta tak seharusnya menjadi gila. Ia harus bisa menganggap bahwa Cinta ini juga misi. Dimana ia bisa mencintai dan juga bisa dicintai. Jadi meski ia mencintai Nyonya-nya, ia akan berusaha menerima wanita yang mencintainya. Maka tak akan ada luka yang membekas dihatinya.
“Tidak Nyonya..aku tidak bisa mencintai Nona Nabila...dia terlalu imut bahkan sudah aku anggap sebagai adikku sendiri”jawab Sebastian sambil merapikan mantel Evita yang kini kembali bersandar dibahunya.
“hahah....Sudahlah...kau akan bertemu dengan takdir yang sebenarnya, saat ini lakukan lah sesuatu yang tak membuat dirimu dan orang lain terluka”
Itu adalah perkataan yang keluar dari Nyonya-nya itu sebelum tertidur dengan lelapnya. Sebastian tersenyum, ia merapikan mantel dan mengusap pelan wajah Nyonya-nya. Lalu memandang kearah depan untuk melihat supir yang berkeringat dingin.
“Kau sungguh berani..Sebastian”ucap sang Supir pribadi Evita.
Sebastian yang mendengarnya hanya terkekeh. “Aku telah belajar..selama ini perjuangan yang tak terlihat memang membuatmu merasa tenang. Tapi aku juga ingin merasakan perjuanganku diketahui oleh orang yang ku perjuangkan..sehingga ia tak merasakan rasa kasihan atau simpati”
Sebastian telah banyak belajar akan perjalanannya. Mulai dari kenapa Sang Nyonya-nya ini pergi keamerika yang jarang dihadiri oleh Nyonya-nya, rapat besar yang diadakan diamerika itu adalah rapat rahasia. Rapat yang hanya dihadiri oleh orang-orang penting saja. Dan setelah itu, perjuangan Nyonya-nya untuk menghadapi kematian orang tua. Itu bukan hal yang mudah. Dan yang membuatnya belajar adalah, ketika perjuanganmu tak dilihat oleh orang-orang, maka orang-orang tersebut akan mudah menjatuhkanmu. Tapi jika mereka melihatnya, mereka akan memberikan dukungan dan memikirkan perjuanganmu yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Lalu apa yang membuat semua itu berarti. Sebastian telah menemukannya. Yang membuat semua berarti adalah ketika kau melakukan sesuatu yang mustahil bisa kau raih. Tapi kau tetap semangat dan tetap yakin bahwa kau pasti bisa mendapatkannya.
Perjalanan yang sunyi. Suara mobil yang menjadi backsound Malam ini. Sebastian memejamkan matanya dan menenangkan hati serta pikirannya. Sungguh ia merasakan luka Malam ini.
-
Pagi yang begitu cerah. Burung-burung merpati begitu bahagia hari ini, terbang kesana kemari bersama pasangan mereka. tak hanya burung, hewan-hewan peliharaan orang juga ikut senang karena melihat keindahan hari ini.
Beda dengan dua wanita yang kini tengah mengenakan pakaian kantor mereka. bersiap-siap untuk melakukan apa yang sudah dijanjikan.
Tak perlu penyamaran, mungkin mereka akan mengungkapkan identitas mereka secara langsung. Namun mereka juga berjaga-jaga kali ini.
Setelah bersiap-siap. Intari dan Amelya melangkah menuju kearah pintu yang terbuka.
“Nyonya..apa kalian tak sarapan?”tanya sang pelayan yang membawakan sarapan mereka.
“terimakasih Bibi..kami akan makan sambil kesana, tak perlu repot-repot menyiapkan makan siang atau Malam, kami akan makan diluar”ucap Amelya sambil tersenyum.
Para Pelayan yang ada hanya bisa mengangguk. Perasaan suram telah memenuhi ruangan.
Intari tak berbicara sama sekali, suasana hatinya saat ini masih sama. Tak ada niat untuk berbicara, tak ada niat untuk menangapi hal yang bukan tujuannya. Jadi ia hanya diam.
Selama perjalanan mereka, dua orang ini keluar dari ruangan dengan wajah serius. Bahkan Raja dan Nabila pun hanya terdiam melihatnya.
Ingin bertanya?, tentu saja mereka ingin, tapi saat ini jika wajah serius itu telah muncul, jangankan bercanda diajak berbicara pun hanya Amelya yang menangapinya.
Semua karyawan yang ada sudah mengetahui sifat dan tingkah boss mereka. jadi mereka hanya bisa kembali fokus meski hati mereka gelisah karena melihat perubahan boss-boss mereka ini.
“semuanya kembali ketugas kalian”perintah Nabila yang kemudian menyusul langkah Intari dan Amelya.
Tiba disebuah bagasi mobil. Dua mobil telah disediakan, mobil sport yang dimiliki dua orang ini telah dibersihkan. Dan dirawat sebaik mungkin. Mereka tak berbicara, masih fokus dengan apa yang menjadi tujuan mereka. masuk kedalam mobil dan mengendarainya.
Raja dan Nabila mengikuti mereka dengan mobil lain. Karena mereka sebenarnya tak diperintahkan ikut. Tapi juga tak dilarang untuk tidak ikut. Karena itulah mereka memutuskan untuk mengikuti saja. Siapa tahu mereka akan berguna nanti.
-
Kemarin sebelum perginya Mavin Vintorin dan Derka. Sempat ada pertengkaran kecil diantara dua orang itu.
“Tuan Mavin..anda mendengarnya, Kakak Moa sudah mengatakan bahwa ia tak mencintaimu”ucap Derka dengan tenangnya padahal ia juga tak dicintai.
“Aku tahu..tak perlu diperjelas...”ucap Mavin Vintorin. Ia melangkah meninggalkan ruangan dengan para bodyguardnya. Namun tak berapa lama.
“Tuan Mavin..bisakan Anda tak menunjukkan wajah anda lagi..didepan Kami dan didepan Evita”ucap Intari dengan nada serius. Ia berbicara tapi tak memandang lawan bicaranya.
Mavin yang mendengar ucapan itu membalikkan tubuhnya. Memandang gadis yang membelakanginya. Gadis yang ia ketahui suka menghajar tanpa memandang siapa didepannya.
“Aku tahu..kau membenciku, tapi asal kau tahu, akulah yang membuat Evita kembali kekehidupannya...dan karena akulah ia melangkah, jadi jaga ucapan mu..Nona Intari”
“Kau hanya membantunya..bukan berarti mengembalikan semua yang ada, apakah Hilang ingatannya Evita ada hubungannya dengan mu tuan Mavin?”
Pertanyaan entah dari mana. Intari sendiri juga tak tahu kenapa ia berbicara. Tapi setelah pertanyaan itu keluar, Mavin Vintorin tak bergeming, menjawab pun tidak. Ia Malah pergi begitu saja.
Mengingat kejadian kemarin. Intari entah kenapa merasa bahwa Evita benar-benar telah kehilangan ingatannya. Karena tak mungkin ingatan masa lalu yang hanya beberapa tahun bisa terlupakan. Apa penyebabnya?
__ADS_1
Dalam perjalanan yang membelah jalan. Intari dan Amelya terus fokus sampai mereka tiba disebuah gedung tinggi. Memarkirkan mobil mereka. mereka pun melangkah menuju kearah gedung tersebut.
Niat mereka ingin masuk, tapi mengingat bahwa mereka diundang. Jadi Intari dan Amelya menunggu kedatangan Evita.
“Kalian datang kesini?”tanya seseorang dengan suara beratnya. Intari dan Amelya yang mendengarnya hanya mendengus. Mereka mengenali suara ini.
“Anda lagi Tuan Mavin”ucap Amelya sambil tersenyum dengan wajah yang menunjukkan kebencian.
“senang bertemu dengan anda, Nona Amelya”ucap Mavin sambil sedikit menundukkan kepalanya. Layaknya seorang pangeran yang memberikan sapaan hormat kepada seorang putri kerajaan.
“Kenapa anda berada disini?”kali ini Intari yang berbicara. Membuat Mavin Vintorin tersenyum.
“Ayahku memberitahuku bahwa aku harus bertemu dengan pemimpin perusahaan ini”ucap Mavin.
“Akulah pemilik perusahaan ini”Amelya berbicara dengan nada sedikit menekan. Ia merasa bahwa orang didepannya ini tengah membicarakan orang lain. Padahal ialah pemilik perusahaan ini.
“ah benarkah?...tapi aku baru saja bertemu dengan pemimpin sebenarnya”ucap Mavin yang membuat Amelya membelakkan matanya. Intari pun begitu.
“bohong..tak mungkin, tanpa tanda tanganku, tak ada yang bisa mengambil perusahaanku”
“tak ada yang tahu seorang penipu”Mavin Vintorin mengatakan hal yang membuat Intari dan Amelya terdiam. Mereka baru ingat bahwa paman Amelya masih berkerja disini.
Terpendam dalam pikiran, mereka tak menyadari kedatangan seseorang yang tengah melangkah dengan santainya.
“Andre...bagaimana kabarmu belakangan ini?”
“tentu saja baik...kau lihat diriku..apa aku terlihat seperti seorang anak yang terlantar hahahaha”
“hahah Andre..kau sungguh lucu”
Intari dan Amelya kembali sadar saat suara yang familiar, mereka langsung memandang kearah suara itu berasal.
Dua pemuda yang berbicara itu pun kaget melihat Intari dan Amelya menatap mereka dengan tatapan mengerikan.
“weehh....Nona Indah dan Nona Amelya”ucap Reza sambil tersenyum.
“Jadi mereka berdua telah berubah ya...Reza tak ku sangka aku bertemu dengan mereka secepat ini...selamat pagi Nona Amelya dan Nona Indah”ucap pria disebelahnya.
“lihat Reza...aku merasa bahwa saat ini tengah memasuki kandang bintang buas”Andre berbicara sambil tersenyum. Nada bicaranya terdengar takut. Tapi nyatanya, wajahnya sendiri terlihat tenang.
Nabila dan Raja yang baru saja tiba merasakan aura membunuh, mereka sampai-sampai menjaga jarak mereka agar tak mendekat.
“hentikan tingkah kalian..Amel..Indah”ucap Evita yang baru saja tiba dengan Sebastian.
Mendengar suara itu, Intari dan Amelya langsung memutuskan aura mereka. jujur saja aura Evita lah yang mendominasi mereka saat ini. Jadi tak ada yang bisa melawan.
“Kak Hyunnnn!!!”panggil Andre dengan langkah berlari ingin memeluk Evita.
Evita mengangkat alisnya. Dan dirinya berpindah mendekat kearah Sebastian untuk menghindari pelukkan nya Andre.
Melihat hal itu, Reza yang tadi tersenyum sedikit meredupkan senyumannya. Andre yang telah tiba cemberut melihat Evita menjauh darinya.
“Kakak..jangan begitu, kau terlalu menjaga jarak dariku”ucap Andre sambil memayunkan bibirnya.
Mavin Vintorin yang berada disana, memasang wajah suramnya. Ia tak senang melihat hal yang tak disukainya. Kalau orang lain mungkin tak masalah tapi orang ini adalah orang yang ia cintai. Tak ada yang berani melakukan hal itu. Selain dirinya, atau Derka,sebenarnya Mavin tak mau mengakui orang itu. Tapi mau gimana lagi. Evita sendiri yang membiarkan dirinya dipeluk oleh Derka.
“Huh...kalian?”ucap Andre yang menyadari dirinya telah dikepung oleh Intari dan Amelya yang menatap tajam bagaikan hewan buas.
“jauhkan dirimu dari Evita”ucap mereka bersamaan.
Semua yang melihatnya hanya terdiam. Mavin Vintorin tak mempercayai apa yang dilihatnya. Seorang wanita mampu menekukkan pria. Sedangkan Reza melangkah mendekati Evita namun ia juga terhalang oleh Sebastian yang kini menghalangi mereka.
Evita tersenyum melihat semuanya. Ia melangkah menuju kearah Nabila dan Raja yang masih berdiri lumayan jauh dari perusahaan.
“Apa yang kalian lakukan di sini....aku memberikan kalian tugas di meja kalian masing-masing”sambil tersenyum. Nabila dan Raja yang mendengarnya hanya bisa mengikuti perintah dari Evita. Tak ada yang bisa membantah.
Kepergian Nabila dan Raja yang tadinya tenang tak ada apa-apa kini muncul para bodyguard yang datang dari segala arah.
“Sungguh apakah ini kejam Reza?”ucap Evita sambil tersenyum dan melangkah menuju kekursi yang disediakan.
Reza tersenyum, meski tak bisa mendekat, ia masih bisa duduk dan melihat kearah Evita. Begitu juga Mavin dan Andre yang ikut duduk didekat Reza. Jarak mereka sebatas meja bundar. Meski berjarak mereka masih bisa merasakan kedekatan.
__ADS_1
Intari dan Amelya berdiri dibelakang Evita dengan wajah yang siap menghajar siapa saja yang berani mendekat.
“Jadi apa yang membuat Nona Evita datang keperusahaan adikmu ini?”tanya Andre dengan wajah santai sambil menikmati secankir minuman yang disediakan olehnya.
“Apa maksudmu! Ini perusahaanku..berani-beraninya kalian mengambilnya dariku, ini penipuan namanya”Amelya meluapkan amarahnya, sudah dari kemarin amarahnya belum terluapkan dan sekarang ada kasus penipuan yang menimpa dirinya, ini hal yang membuat tabung amarah meletus seketika.
“tenang Nona Amelya....apa anda lupa dengan apa yang telah ada lakukan, beberapa tahun yang lalu, anda sibuk berkerja dan perusahaan yang anda kelola tak anda periksa. Jadi paman anda perlu seorang pemimpin, maka dengan kesepakatan yang dibuat pamanmu, saya menjadi pemimpinya disini”
“Tanpa tanda tanganku, bagaimana kalian bisa mengambil perusahaan ini?”
“Mudah..dengan memalsukan dokumennya, maka semua akan menjadi milik saya”
Amelya yang mendengarnya ingin mendekat, tapi dirinya terhalang oleh tangan Evita yang menyuruhnya untuk berhenti. Melihat hal itu, Amelya mundur kembali ketempatnya.
Andre yang mendapat perlindungan merasa senang, “Kakak benar-benar pengertian kepada adiknya...terimakasih kakak...aku menya.......
Swuuusssh
Sebuah tusuk gigi hampir mengores wajah tampan Andre jika arah Tusuk tersebut mengarah kewajahnya.
Yangimu”ucapnya yang terpotong. Ia merasa aliran darah menetes diwajahnya. Dengan mata yang tajam ia memandang Evita yang menunduk sambil memutar sedotan ditangannya.
“Apa maksudnya ini Kakak?”tanyanya. Mavin dan Reza yang melihatnya terkejut. Tak ada yang menyadari, siapa yang melemparnya dan bagaimana ia bisa menargetkan hal tersebut.
“Tak ada maksud...aku sudah muak dengan ucapan manismu...selain itu kedatanganku ke sini hanya mencari bukti, ternyata aku mendapatkannya dengan mudah”ucap Evita sambil menumpahkan jus yang disediakan oleh Andre. Reza dan Mavin yang melihatnya ikut berdiri. Andre yang kini ditahan oleh bodyguard Evita, meronta-ronta.
“Lepaskan aku.....apa maksudmu kakak...aku tak melakukan apa pun, lagian ini juga salah pamannya Amelya...dia sendiri yang menjual perusahaannya....”
Evita yang mendengarnya hanya menulikan pendengarnya. “Sudahlah.....lagian orang yang membantu sudah tertangkap, sekarang kita tinggal tunggu kedatangan orang itu”ucap Evita.
Semua yang ada disana dibuat kebingungan. Andre masih ditahan dan diikat agar tak melepaskan diri. Sedangkan Amelya dan Intari disuruh untuk memeriksa semua isi dalam perusahaan. Reza dan Mavin dikepung oleh para bodyguard yang ada. Meski ada bodyguard yang tersembunyi milik Mavin, tak ada yang bisa mendekat jika Mavin tak menyuruh. Jadi Mavin mengikuti permainan yang diberikan.
Seperti yang ditunggu-tunggu. Akhirnya telah tiba. Semua melihat kearah mobil yang datang, seorang supir langsung membukakan pintu dan terlihat seorang pria mengenakan jas hitam. Kaca mata hitam dan sepatu hitam.
Intari dan Amelya yang baru saja keluar dari perusahaan langsung dibuat kaget melihat pria tersebut yang kini berdiri mendekati Evita.
Reza dan Mavin menghalangi langkah orang tersebut, namun sayang Sebastian memberikan peluang untuk orang itu duduk disamping Evita.
“selamat datang Tuan YUDA..sang kepada desa”ucap Evita.
Intari dan Amelya yang mendengarnya, memandang dengan tatapan tenang. Mereka juga saat ini masih belum menemukan akhir misi mereka 4 tahun yang lalu. Tentang Kabut dan rumah yang menjadi tempat eksperimen.
“Senang bertemu anda Nona Evita.....ada keperluan apa anda datang keperusahaan saya”ucap Yuda dengan wajah penuh keangkuhan. Ia menatap Evita, Intari, dan Amelya dengan tatapan merendahkan.
Reza, Mavin dan Sebastian yang melihat tatapan itu, membuat amarah mereka memuncak. Jika bisa mereka ingin menghajar orang ini.
Amelya yang dipandang seperti itu, hanya terkekeh. Ia kemudian mendekat.
“jadi ini adalah pemimpin yang mengantikanku?”ucap Amelya.
“Dan siapa anda...apa anda mantan pemimpin diperusahaan ini.....”ucap Yuda, niatnya ingin melanjutkan ucapannya tapi Amelya sudah memukul wajahnya. Pukulan itu berhasil membuatnya jatuh.
Kini pandangan angkuh itu digantikan dengan pandangan ketakutan dari Yuda. Amelya yang ingin melanjutkan tindakkannya ditahan oleh Evita.
“sudah!”ucapnya. Evita mengulurkan tangannya untuk membuat Yuda berdiri, tapi Mavin yang langsung mendirikan Yuda dengan cepat dan mendudukkannya. Membuat semua orang kaget melihatnya.
“terimakasih”ucap Evita sambil tersenyum. Ia pun duduk dan melanjutkan apa yang ingin dibicarakan olehnya. Namun sayang seribu sayang, Andre melepaskan diri dan menarik Yuda, mereka berdua pun kabur dengan taksi yang berhenti.
“Kabur!!”Intari ingin menyusul, namun teringat dengan Reza. Ia langsung membalikkan tubuhnya dan melihat dua pria tengah memperebutkan seorang wanita.
Sebastian tentu saja melakukan tugasnya, karena tugasnya saat ini menangkap dua orang yang kabur. Jujur saja ia tak ingin, tapi mengingat ini adalah pekerjaannya. Tak bisa ia menolak begitu saja, lagian ada Intari dan Amelya yang berada disamping Evita.
“Tuan Mavin....senang bertemu dengan anda”ucap Reza yang berdiri menghadapi Mavin yang lebih tinggi darinya.
Pria bertubuh madu hanya menatap dengan tatapan tenang tapi menantang. “sebenarnya kenapa kau menarik Evita?”tanya Mavin yang kini menahan Evita yang sedang didekati oleh Reza..
“tentu saja aku ingin berbicara berdua kepadanya”jawab Reza. Intari melihat tingkah dua orang itu, Amelya juga mendekat dan langsung menarik Evita.
Namun belum sempat Amelya menarik Evita. Evita telah melepaskan diri dengan santai dan berjalan menjauh dari dua orang pria yang dikenal Intari dan Amelya sebagai pria bucin akut.
...****************...
__ADS_1