MANTIV

MANTIV
● Mantiv(61)


__ADS_3

Disekolah, Indah menatap kearah Dua sahabatnya yang berwajah suram. Ada yang aneh dengan kedatangan mereka.


Saat tiba disekolah, langkah mereka bagaikan kutukkan yang membuat orang-orang menjadi takut untuk mendekat atau lewat dijalan yang sama.


Indah menghela nafas dengan tingkah sahabatnya ini, baru masuk sekolah sudah seperti ini mereka, apa liburan itu tidak membuat mereka puas. Tapi Indah juga begitu.


“Woyyyyy...pagi-pagi udah suram, engak takut masa depan ikut suram”ucap Indah sambil meletakkan minuman nya lebih keras agar didengar oleh kedua Sahabatnya.


“DIAM!!”kedua Sahabatnya langsung membuat Indah bungkam mendengarnya. Weh kayaknya memang ada masalah dengan kedua Sahabatnya ini.


“Apa kalian ada masalah?”tanya Indah dengan nada yang stabil. Membuat Kedua Sahabatnya mengangguk.


“Baiklah...jika sudah siap cerita, maka cerita ya...jangan dipendam woke”Indah merangkul kedua Sahabatnya sebelum guru masuk kekelas.


Kelas yang biasanya tidak sedingin es, dibuat merasakan es tersebut.


Guru pun tak berani menegur, takutnya singa-singa yang tertidur itu akan bangun, dan ia akan terkena masalah. Lebih baik ia mengajar tanpa ada kesalahan. Lagian ada bagusnya ketika anak paling nakal jadi diam. Tapi bahaya juga.


-


Sore harinya, ditempat latihan, Inul dan Nabila terdiam tak bisa bergerak bebas. Karena suasana saat ini memang benar-benar menakutkan.


Makin lama Evita makin merasa kesal. Beda dengan Amelya yang kini terdiam tak berbicara, tapi aura Amelya tidak terlalu menekan mereka. masalahnya ini Evita.


Orang yang sering bicara, tumben-tumben mengamuk dalam diam, mereka ingin bertanya tapi tak ada yang berani.


Hingga, “Kenapa denganmu..demam?”tanya Za langsung dengan tindakkannya. Ia menyentuh jidat Evita yang terdiam dengan aura dinginnya.


Tapi bagi Za yang sudah dingin sejak awal, tidak terpengaruh dengan aura itu. Yang lain melihat keduanya berinteraksi langsung cus pergi, karena tahu bahwa Evita tidak boleh disentuh sedikit pun.


Dan apa yang mereka duga benar terjadi, tak berapa lama terjadi perkelahian antara dua orang.Yoongi dan Echan yang melihatnya terdiam bingung. Mereka ingin membantu tapi ditahan oleh Indah dan Amelya.


“Jangan ganggu...semoga Za bisa meredakan amarahnya”ucap Indah yang menahan tangan Yoongi. Tapi tidak dilepas-lepas.


Yoongi yang menyadarinya hanya membiarkannya saja. Berbeda dengan Echan yang kini menatap heran kearah Amelya yang menundukkan kepala dengan menyendungkannya ke lengan Echan.


“Ada apa denganmu?”tanya Echan dengan memberanikan diri untuk menyentuh pundak Amelya. Amelya mengeleng ia sedang tak ingin berbicara, jadi cukup menahan Echan untuk tidak ikut campur kedalam perkelahian yang terjadi.


Echan yang mendapat jawaban mengeleng hanya bisa diam, Ia lagi-lagi memberanikan diri untuk mengusap kepala Amelya yang terdiam.


Berbeda dengan suasana yang adem itu, Dua orang tengah mengadu kekuatan tangan dan kaki mereka.


Evita diluputi dengan amarah yang tak biasa, ia melangkah untuk meninju wajah Za yang langsung ditahan oleh Za sendiri.


“Apa yang terjadi padamu?”tanya Za dengan suara yang khawatir. Ia baru kali ini memberikan perhatiannya kepada seorang wanita.


Evita tak menjawab, ia membalikkan tubuhnya dengan paksa dan melepaskan tangan yang lain untuk menyerang Za, tapi Za benar-benar mampu membaca gerakkannya.


Hingga tak berapa lama, Za berhasil mendiamkan Evita dengan mengunci semua gerakkannnya. Za memeluk Evita dan menenangkan amarah yang masih belum padam.


Melihat hal itu, semua orang mundur perlahan, mereka tak mungkin melihat lagi bukan. Lebih baik mereka membiarkan seseorang menenangkan singa yang ada ditubuh Evita saat ini.


“Ceritalah...kalau kau mau, ceritalah kepadaku”ucap Za dengan nada yang tenang dan memberikan dukungan. Evita yang mendengarnya seketika terdiam, dan membenamkan kepalanya kepada dada Za.


Hingga Za merasakan pakaian yang dikenakannya basah. Ia membiarkan apa yang dilakukan oleh Evita yang kini semakin lama suaranya semakin pecah.


-


Melihat hal itu, Evita langsung berteriak “Ibu....Ayah”ucapnya dengan nada bahagia, tapi melihat yang memandangnya membuatnya langsung berhenti ditempat dengan wajah yang datar.


“Ayah...siapa dia?”tanya Evita langsung tanpa menunda-nunda. Karena yang dilihatnya bukan apa yang diharapkan olehnya.


“Ah.....Dia anakmu Mas”ucap Wanita yang dikira Ibu Angkat Evita. ia langsung berdiri dan menghampiri Evita. tak tanggung-tanggung, ia bahkan memeluk Evita dengan erat.


“Cantik ya.....sangat Cantik”ucap Wanita itu memuji Evita dengan senyum bangga.


Ayah Angkat Evita mendekat dan merangkul Wanita yang Evita tahu bahwa itu bukan Ibu Angkatnya.


“Sayang...kenali dia Yani Tadian....ia Ibu mu”ucap Tuan Besar Kim Jae kepada Putrinya Kim Hyun Jae.


“Yani Tadian”wanita itu mengulurkan tanganya kearah Evita yang masih terdiam, memahami keadaan. Karena merasa tak enak, Evita menyambut uluran tangan itu.


“Kim Hyun Jae”ucap Evita dengan nada guman, tapi bisa didengar.

__ADS_1


Hanya wanita bernama Yani ini malahan mendekat dan berbisik ketelinga Evita.


“Kim Hyun Jae.....aku ibu barumu, jadi jangan bermain-main denganku ya....ah satu lagi Ibumu telah pergi meninggalkanmu.....”bisik Yani Tadian.


Setelahnya ia menjauh dengan memeluk lengan Ayah Evita. dan mengajak untuk istirahat, karena mereka baru saja kembali.


Reza yang terdiam ditempat tak bisa bilang apa-apa, bahkan tak bisa ikut Evita yang memilih untuk pergi dari rumah tanpa berbicara.


Evita tak bisa mengerti dengan perasaannya, mungkin karena kasih sayang Ibu Angkatnya itu membuatnya merasa sedih dan kesal. Ia ingin berbicara kepada Ayah Angkatnya tapi selalu terhalang oleh Wanita busuk itu.


Dan dengan pelampiasan didepannya, ia sampai menyerang Senior dan Kakak Kelasnya ini.


Za tetap diam tak berbicara, hingga ia merasa Evita terdiam tak menangis.


“Evita...kau tak apa-apa kan?”tanya Za, bukan apa takutnya anak orang pingsan karena kehabisan nafas. Kan dari tadi menyembunyikan kepalanya.


zzz...zzz....


Za menatap kearah Wanita yang bernafas tenang dengan mata yang tertutup. Ada bekas air mata yang mengalir dipipinya. Za memberanikan diri menyentuh wajah itu untuk membersihkan bekas air mata. Setelahnya ia mengendong Evita dengan hati-hati dan menyandarkan Kepala Evita didadanya. Agar tertidur dengan nyaman.


Kelakukan Za tidak luput dari pandangan Miss dan Mr yang dari awal masih dilokasi. Mereka akan mengira ada luka-luka atau tembak menembak. Tapi untuknya itu tidak terjadi.


-


Berbeda dengan Evita, Amelya ditarik oleh Echan untuk melangkah keluar. Ia diajak duduk ditaman halaman Detektif.


“Sekarang ceritakan apa masalahmu?”tanya Echan. Entah kenapa ia jadi peduli dengan urusan wanita.


“Tidak ada Kak...aku hanya merasa sedih saja”Amelya ingin menghindari pertanyaan Echan. Tapi tatapan Echan ini membuatnya takut.


“Woke....kalau tak mau cerita tak apa...tapi lain kali...sebaiknya diceritakan, siapa tahu ada solusi dibaliknya”ucap Echan yang memberikan sapu tangan miliknya.


“Ambil ini...dan hapus air matamu”Amelya mengambil sapu tangan itu, lalu mengapus air matanya.


Karena tak ada lagi yang dibincangkan, mereka pun kembali kedalam. Dan melihat situasi yang sangat sengit tadi.


Tapi yang dilihat tak seperti apa yang diinginkan. Evita dengan tenang tertidur dalam gendongan Za. Inul dan Nabila hanya bisa mengangga. Bukan kenapa baru kali ini mereka melihat Evita digendong oleh Pria.


“Bagaimana keadaannya?”tanya Miss Lila yang kini hadir dengan MR.Tom yang melangkah beriringan.


“Tidak apa...ia sedang mencari tempat pelampiasan amarahnya”jawab Za.


Yoongi dan Echan sedikit kagum dengan Evita ini. Karena mampu membuat Pria wajah datar itu berbicara.


“Baiklah.....Inul dan Nabila, kalian bawa Evita untuk beristirahat...sepertinya dia sangat lelah..dan yang lain juga ikut istirahat..beberapa hari kedepan, kalian akan mendapatkan misi masing-masing”ucap Mis Lila yang dianggukkan oleh Mr.Tom.


“Baik”jawab mereka bersama-sama.


-


Disekolah yang tenang. Yeah sekarang saatnya untuk tenang karena jiwa rusuh sedang tertidur.


Evita dan Indah tengah menikmati bakso yang mereka beli dari kantin sekolah. Ada 12 kantin yang ada. dan hanya 10 kantin yang disukai mereka.


Dan 10 kantin itu, mereka akan memanggil Bibi. Seperti saat ini, 10 pemilik kantin itu tengah duduk mengelilingi Evita dan Indah.


“Eh benar kah Indah....Evita digendong ama cogan?”tanya Bibi Kantin Pertama.


Karena malas bikin nama pemilik kantin..jadi Kim(Author) akan memanggil sesuai urutan kantinnya. Hehehhe


“Bener Bi.....Cogannya juga sekolah disini”terang Indah dengan wajah yang diangkat. Evita terdiam dengan wajah yang memerah. Ia bahkan tak jadi menyuap bakso yang dibuat spesial untuknya. Karena terdapat pentol gede yang diberi oleh Bibi Pemilik Kantin Ketiga.


“Aduh...kalau begitu mah, Evita bakal dapat pasangan...dan para idolanya langsung patah hati”ucap Bibi Kantin Keempat dengan senyum-senyum melihat kearah Evita.


“Patah hati apanya Bi......engak ada..Indah membual doang Bi...membual”ucap Evita sambil berusaha untuk menghindar tatapan senang dari orang-orang yang menatapnya.


“Bi..jangan gitu entar memerah lagi pipinya itu”ucap Indah yang langsung mendapat pukulan dibelakangnya oleh Evita. sehingga Pentol yang ingin dimakan terjatuh dari sendok.


“Evita!..lihat pentolku jatuh...pentol terakhir lagi”Indah menatap tajam kearah Evita. Evita hanya mendengus mendengarnya.


“Sudah tak usah ribut...ini Bibi kasih lagi”ucap Bibi Ketiga sambil mengambilkan pentol untuk Indah. Indah tersenyum mendengarnya.


“Terimakasih BI”ucapnya.

__ADS_1


Evita menatap kesepuluh Bibi yang ada, ia merasa mendapat keluarga jika ada disini, jika rindu Rumah dengan orang tua Kandung dan orang tua Angkat. Rindu itu akan hilang dengan kehadiran 10 pemilik kantin ini.


“Bibi..jika aku telah memiliki rumah sendiri...kerjalah dengan ku”ucap Evita yang berhasil menarik perhatian orang-orang.


“Aduh Evita.....rumah mana lagi yang ingin kau beli?”tanya Indah yang kini menyantap baksonya lagi.


“Siapa tahu kan aku punya Rumah..dan Kau serta Amelya juga menjadi pemiliknya”ucap Evita dengan ide yang ada diotaknya.


“Nak Evita...apa sih yang kurang dari kehidupan mu ini....kalau cari pelayan yang masih muda aja...kalau kami mah engak bisa”ucap Bibi Kantin ketujuh.


Evita meringit “Salah....siapa yang mau jadikan pelayan...lagian Bi, kalian itu hanya tinggal dan berkerja...yeah meski sebutannya sama, tapi aku menganggap Bibi sebagai Bibiku sendiri”ucap Evita yang langsung dianggukkan oleh Indah.


“Sudah...sudah....Nak Evita...jika memang takdir...kami tidak akan menolak tawaran itu....yeah, tapi saat ini yang terpenting kau harus sekolah dan belajar”ucap Bibi Kantin kedelapan yang langsung dianggukkan oleh Bibi Kantin yang lain.


“Ooh ya..ngomong-ngomong Nak Amelya kemana...tumben engak sama kalian?”tanya Bibi kelima yang melihat kedua anak sekolah kesayangan mereka.


“Ah...emang dari pagi dia tak ingin ikut..katanya ia tak lapar”jawab Indah yang langsung dianggukkan oleh Evita.


“kok gitu...yaudah, nanti ajak kesini ya”ucap Bibi ke sepuluh yang ingin meranjak bangun.


“Maaf bu....saya mau Nagor dan teh es satu...”ucap seorang gadis dengan wajah yang sangat cantik. Bukan hanya itu, pakaiannya yang terbilang seksi menarik perhatian orang-orang.


Namun yang membuat Evita dan Indah kaget adalah Gadis dibelakangnya. Ia tak lain adalah Amelya. Evita dan Indah langsung menyemburkan minuman yang baru saja diseduh oleh mereka.


Byuuurrr


“Amelya!!!”kaget mereka. kaget karena melihat Amelya juga mengenakan pakaian seksi. Bukan apa, memang sekolah mereka tak melarang pakai rok pendek. Hanya bukannya lebih baik mengenakan rok panjang. Kan mereka masih seorang gadis.


“Amelya....kau mengenal mereka?”Tanya Gadis lain yang ada disamping Amelya.


Amelya melirik kearah Evita dan Indah, ia menatap biasa saja. Dan menjawab “Ah..mereka temanku...tapi sekarang bukan lagi”Gadis yang lain langsung mengangguk.


“Kenali..Aku Rita....dan dia Ninta dan Dia Narti”ucap gadis yang kini mengulurkan tangan kearah Indah. Indah hanya melirik.


“Indah”ucapnya tak banyak basi-basi. Sedangkan Evita memilih untuk melangkah pergi. Membuat Indah langsung ikut melangkah meninggalkan kantin.


“Bibi Ketiga...nanti ditransfer ya”ucap Indah sambil menyusul Evita yang kini sudah menjauh.


Keempat Gadis itu hanya bisa terdiam melihat tingkah mereka. tapi juga bodo amat. Mereka melanjutkan apa yang ingin mereka lakukan.


-


Dimalam hari yang tak tenang untuk Amelya. Ia harus menghadapi seorang pria yang bernama Hun Kai.


“Nak Amelya...kenali ini Hun Kai..dan Hun Kai dia adalah Amelya..tunanganmu sekarang”ucap Ibu Hun Kai atau Bibi Amelya.


Hun Kai hanya memandang sekilas, dan mengangguk kemudian beralih untuk menatap ponselnya.


“Nak Amelya....besok kau akan berangkat dengannya..jadi jangan menolak ya”ucap Bibinya lagi.


Amelya mengangguk. Ia juga bingung harus berbicara apa. Menolak pun tidak bisa karena sekarang ini pilihannya.


Seperti apa yang dikatakan, kepagian harinya. Amelya harus menghadapi seorang pria yang ia sendiri tak menyukainya.


Amelya terdiam disamping pintu mobil. Bukan pengen dibuka kan pintu, tapi Amelya memikirkan nasibnya berada didalam mobil bersama pria. Ia takut seperti dinovel-novel. Akan dicium atau apa lah itu, yang pasti tidak ingin dibayangkan olehnya.


Pintu mobil terbuka dari dalam, berhasil mengembalikan kesadaran Amelya yang kini menatap kearah orang yang menyetir.


“Tuan Putri....aku bukan pelayanmu..jadi masuk sendiri dan buka pintunya sendiri”ucap Hun Kai yang membuat Amelya meringit aneh.


“Tahu...siapa juga yang mau dibukakan pintu olehmu”benak Amelya. Ia melangkah masuk dengan tenang dan berusaha untuk cuek.


“Dengar Nona Amelya.....Aku tunanganmu, kau harus menurutiku...”ucapnya sambil menatap Amelya.


Amelya terdiam sebentar, ia mengerti saat ini yang harus dihadapinya adalah syarat dalam hubungan mereka. mau tidak mau ia harus menerimanya.


“Baiklah”ucap Amelya.


Hun Kai mengangguk “Woke...pertama aku ingin kau selalu didekatku, jika istirahat nanti atau sepulang sekolah dan berangkat sekolah...kedua kau harus berteman dengan Rita, Ninta, dan Narti..ingat itu”ucapnya yang kemudian menancamkan pedal membelah jalan.


Amelya terdiam sejenak, “berarti aku tak bisa berbicara dengan Evita dan Indah dong...sudahlah sekarang yang terpenting masalahku dulu...maafkan aku sahabatku, sepertinya memang aku yang harus mengenakan topeng setelahmu Indah”benak Amelya.


Maka hal itulah yang terjadi saat ini,Amelya menyantap bakso yang ada dihadapannya. Berbicara dengan tiga orang baru untuknya. Mereka berbeda jurusan dengan Amelya dan dianggap siswa baru. Tentu saja Hun Kai juga siswa baru.

__ADS_1


__ADS_2