
setelah mengetahui bahwa Evita tidak akan dapat mengikuti segala kegiatan yang ada, apa lagi berurusan langsung dengan kasus-kasus yang harus diselidiki, membuat Intari dan Amelya turun tangan disetiap kegiatan. Untungnya Evita tidak membawa Seketaris pribadinya itu, yeah meski ada Raja juga, tapi Raja masih terlalu baru untuk mengenal berbagai macam kasus.
Jadi dengan begitu, Raja selalu didekatkan dengan Sebastian agar banyak belajar dan mampu memahami dengan keadaan yang ada dan sekalian melatih bela diri Raja, agar nanti saat menjalankan kasus Raja mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Intari dan Amelya yang kini tengah berada diruang khusus untuk tamu yang ingin memberikan keluhan kepada mereka, ingin meminta bantuan agar masalah dan misteri yang mereka hadapi bisa diselesaikan.
Memang benar mereka jarang mendapat kasus, tapi entah kenapa setelah Evita pergi, ada begitu banyak kasus yang hadir, seakan-akan polisi yang bertugas sama hanya melaksanakan tugas mereka yang ada dibagian penangkapan.
Jujur saja Intari dan Amelya merasa ada yang jangal dari hal-hal yang mereka hadapi. Apa lagi mengingat Inul dan Nabila yang sekarang ini tengah istirahat selama beberapa bulan dan membiarkan Inul untuk melaksanakan pernikahannya dengan keluarga terhormat.
Mengingat kejadian yang ceroboh itu, Intari dan Amelya sempat memikirkan bahwa perubahan Inul dan Nabila pasti berhubungan dengan perginya Evita. Mereka berdua berdebat akan hal itu.
Perdebatan mereka tidak pernah terhentikan, sampai tiba kabar dari Sebastian alasan kenapa Evita pergi karena kehilangan orang tua dan adiknya dalam kecelakaan.
Mendengar itu membuat mereka berdua langsung terhuyung dari tempat. Bagaimana tidak, kabar duka baru saja disampaikan setelah Evita pergi 7 hari yang lalu.
Mereka sekarang terlihat bukan seperti sahabat. Mereka lebih terlihat seperti orang yang baru saja kenal dengan Evita. Evita yang memperlakukan mereka seperti seorang teman biasa.
“Hiks...kenapa Sebastian...kau baru memberi tahu kami”ucap Intari kala itu. Mereka berdua merasa serba salah, disatu sisi mereka marah karena Evita tidak memberitahu hal tersebut dan disisi lain mereka merasa sedih karena Evita harus menenangkan diri seperti dulu lagi.
Mengingat kejadian yang terjadi beberapa hari yang lalu. Kini seperti saat ini mereka kembali tenang dengan berharap Evita bisa kembali dan menceritakan secara langsung apa yang terjadi sebenarnya.
Intari dan Amelya melihat foto dan beberapa catatan kecil dari seorang klien mereka. Iya saat ini mereka berdua tengah menangani kasus aneh, dimana semua orang melapor hal yang sama.
Yang membuat itu aneh adalah, laporan masing-masing dari orang yang datang berbeda-beda. Ada yang melapor anak putri mereka sebenarnya pendiam tapi tiba-tiba hilang saat sedang mencuci pakaian disamping rumah. Ada juga yang melapor putra mereka tengah bermain diteras namun tiba-tiba mendadak demam tinggi hingga menyebabkan ia harus tertidur dengan tenang sampai malaikat kematian menjemputnya.
Dan ada beberapa lagi yang aneh, tapi kesamaan dari cerita itu terletak dipenyebabnya. Intari dan Amelya menyimpulkan jika Putri dan Putra yang berusia sekitar 8 tahun bukan sepenuhnya diganggu makhluk gaib. Mereka semua menghirup aroma yang membuat kinerja tubuh mereka diluar kehendak mereka.
Lebih tepatnya mereka seperti memasuki dunia ilusi. Yang pasti kasus kematian putra yang bermain diteras karena terlalu banyak menghirup aroma tersebut. Kenapa bisa disimpul kan seperti itu.
Intari sempat menyuruh Raja untuk berkeliling di desa-desa yang terkena kasus. Dan laporan yang diberikan oleh Raja adalah laporan tentang kabut yang sering muncul.
Jadi bisa ditetapkan bahwa kabut tersebut adalah aroma yang membuat beberapa anak hilang dan beberapa anak meninggal dunia.
Untuk kasus ini jelas harus diserahkan kepihak kepolisian agar mencari dan mengangkap langsung,tapi entah kenapa kepolisian tidak bekerja belakangan ini. Seakan-akan mereka tengah libur. Memang sepenuhnya para kepolisian masih bekerja tapi mereka seperti mengalami berbagai macam masalah sehingga kasus seperti ini mereka menyerahkan kepada Detektif yang menjadi saingan mereka.
“Baik Pak...kami akan membantu mengangkap dan mengungkapkan dalang dari kejadian ini”jawab Intari saat ia tengah berdiskusi dengan pria tua yang duduk didepannya.
Amelya mengangguk “benar..kami mengharapkan untuk bapak bisa tenang dan jangan terlalu khawatir, tolong jaga anak putri bapak, agar tidak terjadi yang lebih buruk”
Pria tua tersebut mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan ruangan. Raja yang tengah berdiri, memberikan Teh hangat untuk kedua Bossnya. Ia tahu belakangan selain merasa sedih atas duka yang dialami oleh Boss paling pertama mereka, Bossnya juga harus menghadapi berbagai macam kasus.
“terimakasih Raja”ucap Amelya yang kemudian menyeduh Teh manis buatan Raja. Intari juga ikut menyeduhkannya.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang Indah?”tanya Amelya.
Intari yang kini meletakkan cangkirnya. Menghadap kearah Amelya “tentu saja langsung terjun kelapangan, kau tahu dari semua kasus yang ada hanya kasus ini yang harus kita tangani”
Amelya mengangguk “baiklah...Raja beritahu Sebastian untuk menyiapkan peralatan kami”
Raja mengangguk dan langsung menjalankan perintah yang sudah ditintahkan untuknya. Intari dan Amelya pergi keruangan mereka masing-masing.
-
Setelah bersiap-siap, kini Intari dan Amelya memasuki mobil hitam khusus dari perusahaan detektif. Mereka memiliki sekitar 10 mobil untuk digunakan oleh semua orang.
__ADS_1
Kenapa memilih mobil milik perusahaan bukan milik sendiri, karena Intari dan Amelya pasti akan berdebat mobil siapa yang akan dipakai.
Jujur saja dua orang ini sebenarnya memiliki tempremen yang rendah, karena yang satu suka ngajak ribut dan yang satu suka terpancing. Jadi dalam hal sekecil apa pun pasti ada perdebatan yang tak berakhir, karena perdebatan seperti itu pasti akan berakhir dengan ghosting.
“Ayo kita berangkat”ucap Intari yang akan menyetir. Amelya mengangguk dengan wajah mayun.
Beberapa menit lalu.
“Mel aku yang menyetir ya?”ucap Intari yang mengunakan kaus tangannnya.
“Aku yang menyetir Indah..bergantianlah, kau pasti capek”ucap Amelya yang belakangan ini jarang menyetir mobil karena dirinya selalu saja mengalah untuk adik-adiknya ini.
“tidak..kau tertua diantar kami, jadi kau harus banyak istirahat, biar aku menyetir oke”Lawan Intari. Membuat Amelya hanya menghela nafas kasar, asal tahu saja ia juga bisa meladeni Intari dengan berdebat sekarang, tapi mengingat kasus mereka lebih penting, Amelya mengurunkan niat dan membiarkan Intari yang menyetir.
Dan itulah yang terjadi sekarang, untung mereka tidak berdebat dengan mobil yang mereka pakai.
Mobil melaju membelah jalan yang masih disinari oleh indahnya matahari. Jalan yang lumayan ramai namun tidak padat. Mobil terus berjalan dengan tenang.
Tak berapa lama, jalan yang mereka lalui kini makin sepi dan tidak mulus, iya mereka tengah mengunjungi Desa yang terletak lumayan jauh dari kota. Desa Gadang. Desa yang sangat kecil akan penduduknya.
Setibanya disana, Intari dan Amelya langsung menunju kekediaman Kepala Desa yang terletak lumayan jauh dari perkampungan. Kepala desa yang masih muda tentunya.
Iya kepala Desa disini masih dibilang berusia 28tahun, muda untuk umuran orang kota tapi tua untuk umuran orang kampung. Sehingga mereka menyebut sang Kepala Desa dengan sebutan sibujang lapuk.
Berbincang dengan kepala desa yang bernama Yuda. Mereka mendapatkan tempat tinggal untuk sementara. Alasan mereka tiba bukan ingin menjalankan kasus, karena mereka menjalankan kasus secara rahasia, jadi alasan yang mereka pakai adalah ingin berlibur ditempat ini, karena lebih tenang.
“Terimakasih telah mengunjungi kampung kecil ini”ucap Yuda sambil memberikan senyum manisnya untuk dua wanita cantik yang jarang ia lihat.
Jarang dan mungkin hanya sekali, karena saat ini Intari dan Amelya masuk kedalam mode penyamaran mereka, begitu juga nama mereka yang disamarkan.
Seperti biasa, nama yang digunakan tetap sama, yaitu Kim Haneul nim dan Kim ara. Kenapa tidak mengunakan nama asli, karena dalam aturan detektif nama mereka harus disamarkan apa lagi mengingat bahwa nama Intari dan Amelya yang merupakan tetua muda dalam perusahaan milik Evita, mereka tidak boleh tahu bahwa Intari dan Amelya adalah seorang detektif.
“mari saya antar”ucap Yuda dengan memberikan reaksi yang membuat Intari dan Amelya hanya mengangguk. Jujur saja orang didepan mereka ini terlihat sangat antusias melihat kedatangan mereka.
Setibanya dirumah yang kecil namun bersih dan terawat. Yuda berhenti diambang pintu dan memberikan kunci rumah kepada Intari yang dilihatnya lebih tua dari Amelya.
Amelya merasa beruntung jika berdekatan dengan Intari atau Evita, karena jujur saja ia bisa terlihat lebih muda. Padahal usianya lebih tua dari mereka berdua walau hanya beda bulan.
Intari yang mendapat kunci tersebut tersenyum dengan senang hati menerimanya. Lagian ia juga tidak terlalu memikirkan hal buruk tentang orang didepannya ini.
Setelah menerimanya, sang kepala desa itu pun pergi meninggalkan mereka dengan ucapan pamit yang lembut.
Intari tengah duduk didalam rumah sambil sesekali melihat telpon pintar miliknya yang kehilangan sinyal. Karena dikampung dan jauh dikota, sinyal pun ikut menghilang.
“Huh....kalau ku tahu disini engak ada jaringan, aku bangun tower jaringan dengan langsung wifi gratisnya”ucap Intari mengeluh melihat ponsel pintarnya tak bekerja sama sekali. Ia sudah mencari posisi yang baik untuk bisa mendapat jaringan, bukan kenapa, filenya disimpan dalam data online miliknya. Jadi perlu jaringan untuk membukanya.
“emang bangun tower jaringan seperti membangun pasir pantai”ledek Amelya yang baru saja selesai mandi. Ia menyisir rambut pendeknya dan mengenakan pakaian ala anak gadis perawan yang sedang menikmati liburan.
“Kalau bisa kenapa tidak dicoba”jawab Intari tak mau kalah. Ia kini tengah duduk dikursi kayu yang kaku tapi untuknya itu bukan masalah, karena dari kecil ia sudah merasakan susahnya hidup.
“mimpi...bangun jangan sering bermimpi”Amelya mendekat dan memercitkan air yang didapatnya dari rambutnya didepan wajah Intari yang membuat sang pemilik langsung geram melihatnya.
“Hei Kakk Ara..bisakah kau tidak menganggu mood burukku?”tanya Intari sambil memasang senyum penuh penekanan.
Namun bukan Amelya namanya jika tidak terpancing atau memancing, yang pasti saat ini entah kenapa ia sanggup meladeni amarah orang didepannya.
__ADS_1
“Ooh..ternyata adik Han ku ini sedang badmood ya...kalau begitu singgirkan ponselmu dan mandi, airnya dingin cocok untuk orang yang badmood agar tenang”ucap Amelya yang melempar handuk biru warna kesukaannya dan juga warna kesukaan Intari dan Evita meski warna kesukaan Evita lebih dominan kehitam dan Intari lebih dominan kebiru Malam. Mereka tetap menganggumi semua warna.
“aku tidak ingin mandi”balas Intari.
“kalau begitu biarkan saja airnya kotor dan kau harus mengambilnya disumur dekat rumah Kepala Desa”ucap Amelya meninggalkannya setelah selesai berkata-kata.
“Apa!...tidak-tidak..aku tidak ingin menambu air”ucapan Intari yang langsung berlari kedapur dan mandi.
Amelya yang menuju keteras rumah, tertawa mendengar ucapan Intari. Dengan memandang langit yang masih begitu indah walau sebentar lagi akan Malam, membuat Amelya merindukan sosok Wanita yang tegar dalam menghadapi masalah dan lagi diantara mereka, Evita yang paling dalam baik luka batin, luka mental dan luka jiwa yang membuatnya harus bersaing dengan diri sendiri.
Mengingat perjumpaan mereka yang berawal dari masa sekolah yang kejurusan. Pertemuan pertama Amelya dengan Evita saat berada dirumah sakit.
Saat itu, ia melihat seseorang yang tingginya bukan main, apa lagi suaranya wanita tersebut tinggi tidak rendah seakan-akan ia tak memiliki tata krama.
Melihat gadis tersebut duduk disebelahnya yang hanya berjarak 1 kursi lagi dengannya. Saat ini mereka tengah mengadakan tes urin untuk melengkapi persyaratan masuk keSMK yang merupakan SMK terfavorite dikota Q.
Wanita yang disampingnya ini memandang sekeliling hingga pandangan mereka bertemu dan saat itulah Amelya tertarik melihat wajah seorang wanita yang kulitnya saja tak seputih darinya namun dilihat dari mata wanita tersebut tersirat banyak kesedihan yang dalam tapi tertutup dengan senyum manis yang terdapat lesung pipi kecil dipipi kanannya.
Amelya saat itu membalas senyumanya dan tersentak kaget karena mendengar suara dari wanita yang disampingnya.
“Tes urin juga ya?”tanya wanita itu. Amelya mengangguk. Ia datang tak sendiri karena ibunya yang menemaninya. Ia tidak tahu apakah Wanita didepannya ini berangkat sendiri atau ada yang menemani, tapi ia mendengar suara seseorang yang memanggilnya dengan sebutan ‘Evita’. Dan melihat seorang pria yang berkulit madu dengan tinggi besar dan perawakan yang penuh amarah. Wajahnya seperti mengatakan bahwa ia adalah orang yang sulit menahan amarah. Tapi melihat orang yang dipangil ‘Evita’ dengan santai menjawab seruan itu.
“Kenapa Pah..aku disuruh tunggu”ucapnya menjelaskan keadaan sekarang, ya memang benar, Amelya tengah menunggu hasil tes urinnya begitu juga dengan wanita disampingnya ini.
Yang dipanggil ‘Pah’ pun pergi tanpa menjawab, membuat Amelya mengambil kesimpulan bahwa itu adalah ayah dari wanita disampingnya yang kini berbicara dengan pria lain didalam ruangan.
Amelya merasa wanita ini sedikit menjijikkan karena dia ternyata punya pacar, itu yang ada dipikirannya melihat pria lain menatap lembut kearah Wanita disampingnya. Tapi ada yang aneh, kenapa ia duduk jauh seakan-akan takut padahal kan ruangan masih cukup untuk mereka berdua saling duduk bersama.
Pikiran Amelya makin tak normal melihat wanita disampingnya selesai berbicara dan terlihat biasa-biasa saja. Seperti hanya berbicara dengan temannya. Tapi bukan Amelya namanya jika memikirkan hal yang tidak harus ia pikirkan, jadi dengan cepat pikiran itu berubah.
Setelah lumayan lama, wanita disampingnnya berbicara dan bertanya kepadanya.
“Tes urin untuk daftar sekolah ya?”tanyanya, dan Amelya dengan bangga mengangguk.
Wanita yang dipanggil ‘Evita’ itu pun tersenyum “sekolah dimana?”tanyanya lagi.
Amelya yang mendengarnya menjawab “Sekolah diSMK N1”
“Ooh berarti sama dong..aku juga akan sekolah disana..ooh ya jurusan apa?”
“jurusan Marketing”
“sama dong”
...****************...
Pentas Kecil....
Kim : "Amelya debat mulu ama Intari, engak bosan apa?"
Amelya : "Udah kebiasaan Kim..."
Intari : "Kebiasaan apanya?, kau aja yang sengaja"
Amelya : "lah kok aku...kau aja yang ngajak ribut"
__ADS_1
Intari : "APA!!!!"
Kim : "Sudah-Sudah...jangan ribut disini juga"