
“Apa Kau tahu, Sahabat mu dan dirimu yang memakan Pil buatanku, ada resikonya..Yaitu tak bisa hamil”
Evita,Intari dan Amelya menatap dengan pandangan yang penuh keterkejutan luar biasa mendengarnya.
“Aku tak sembarangan berkata Evita, Pil yang ku buat menguras rahim yang ada didirimu dan Sahabatmu...apa lagi Serum yang ku suntikkan itu”lanjut Welida.
Intari dan Amelya memundurkan langkahnya, mereka masing-masing mendapatkan serangan dijantung mereka. degupan kencang memompa dengan begitu cepatnya.
Hal ini menarik perhatian Yoongi dan Echan yang melihat istri mereka dengan wajah syok begitu berat. Keduanya langsung melangkah mendekati Istri mereka.
“Serum?...Apa Kau menyuntikannya ke Sahabatku?”tanya Evita. hatinya saat ini benar-benar gusar.
“Sebenarnya Aku memang berniat untuk menyuntikkannya kepada Sahabatmu itu, tapi mereka hanya ku berikan setetes serumnya dan saat itu Kau tiba untuk menyelamatkan mereka”
Intari dan Amelya yang mendengarnya seketika itu juga menatap kearah Evita yang terlihat serius.
“Jangan bilang, Evita menyelamatkan kami waktu itu...”Benak keduanya.
“Lagian, Aku hampir bisa menyuntikkan serum itu, jika saja tak ada pria yang menyelamatkanmu kan?”
Derka yang mendengarnya terdiam. Ia ingat insiden di kapal persiar, dimana Ia menyelamatkan Kak Moanya dan langsung menyelamatkan Intari dan Amelya.
Intari dan Amelya yang mendengar ucapan Welida langsung memetakkan air mata. Rahasia mereka yang disimpan-simpan ternyata diketahui oleh Sahabat mereka sendiri. ditambah Sahabat mereka mengorbankan dirinya.
Intari dan Amelya langsung meringkuk dengan air mata yang mengalir. Tak bisa dibayangkan. Apa lagi sekarang, setelah mendengarkan bahwa Evita dijadikan eksperimen seseorang. Hati sebagai saudara sesumpah dan Sahabat sekaligus, merasa tersayat mendengarnya.
“Bentar, ada yang ingin ku tanyakan kepadamu Welida”Evita yang banyak diam kini mulai berbicara. Ia menatap Welida yang mengangguk untuk mengiyakan apa yang diucapkan olehnya.
“Apa benar, Kau memiliki seorang anak?”Tanya Evita yang membuat Welida terdiam.
“Kenapa Memangnya?”Tanya Welida kembali.
“Apa selama ini, Kau mengila hanya karena Kau hamil diluar nikah?”tanya Evita lagi.
Welida yang mendengarnya langsung menatap dengan pandangan tak suka. “Iya..jika Iya kenapa?”tanya Welida.
Evita yang mendengarnya langsung menjawab “Seharusnya Kau tahu, Kau tak perlu melakukan ini semua. Menghancurkan dirimu, maksudku Kau bisa memperbaiki dirimu, tak perlu takut akan perkara....”
Greb!!
Evita yang berbicara dengan tenang langsung kaget melihat Welida mengenggam bajunya dengan pandangan benci milik Welida.
“Aku sudah melupakan masa laluku, jangan Kau ungkit kembali”ucap Welida dengan nada penuh penekanan.
Namun Evita yang juga tersalut tak tinggal diam. “Tapi...anakmu itu masih hidup dan Ia sudah besar sekarang”
“CUKUP!!!”
“MAVIN VINTORIN ADALAH PUTRAMU KAN?”
Semua orang yang mendengarnya langsung bungkam ketika ucapan Evita dengan nada teriakkannya itu bergema.
Mavin yang mendengarnya langsung terdiam ditempat. Ia merasa hatinya dipenuhi dengan rasa penasaran.
Evita terdiam didalam mobil saat Sebastian memulai aksinya. Pikirannya kalut karena entah kenapa ada hal yang aneh didirinya.
Sebelum berangkat, Ia memeriksa berkas yang diberikan oleh Ibu Angkat kepadanya.
Berkas itu terdapat foto Welida yang masih terbilang muda. Mata indah yang begitu cantik dipandang.
Karena mata tersebutlah, Ingatan Evita meleset ke Vino anak Mavin Vintorin.
“Aku tak menduga ini, tapi Aku ingin melihatnya.”Benak Evita yang menyatukan gambar Mavin dan Welida bersamaan.
“Aku hanya menebak Welida, tapi ketika Aku sudah memastikannya, matamu dan mata Mavin vintorin sama, jadi bisa dibilang kalau Kau adalah ibunya”ucap Evita yang langsung mendapatkan tamparan dari Welida.
Plak!!!
“Aku memiliki seorang Putra, dan dia Mavin?..Anak Mavin Vintorian?....tidak mungkin!!”ucap Welida yang mulai kehilangan akalnya.
Evita mencoba untuk mendekatinya. “Bukannya Kau sudah menikah, kemungkinan memang benar Mavin Vintorian adalah Suamimu”jelas Evita.
__ADS_1
Welida mengangkat wajahnya. Ia memandang Evita lebih lama dan kemudian tertawa.
“Ha..hahahahh, Aku tak perduli dengan hal seperti itu, karena pada dasarnya, Aku sudah bercerai dan menyerahkan anak yang tak ku inginkan”
Mavin Vintorin mendengar ucapan itu hanya bisa memandang dengan rasa sakit didadanya.
Dari kecil mencari sosok Ibunya, kini yang ditemuinya adalah ketidak inginan seorang Ibu bertemu Anaknya. Mavin yang tak pernah menangis dibuat meneteskan air mata. Ini kedua kalinya ia menangis hanya untuk wanita.
“Sudahlah, lupakan masalah itu, Kita kemasalahmu saja Evita..Aku mengundangmu kesini bukan untuk membahas masa laluku, baik kita membahas masalah tentang serum yang ku suntikkan kepadamu”ucap Welida dengan santainya.
Evita gelisah mendengarnya. Ia menatap sekelilingnya yang masih dilingkari oleh api tanpa padam sama sekali. Seakan-akan mayat tersebut sudah berbaur menjadi api.
“Dengar Evita, meski dirimu telah bersetubuh berkali-kali, tak akan ada yang berkembang didalam janinmu”ucap Welida yang membuat Evita menatap tegang kepadanya.
Intari dan Amelya mendengar kata setubuhi langsung menatap kearah dua wanita yang masih dikelilingi oleh api.
“Jangan bilang, Evita sudah berhubungan dengan Kak Za?”tanya Amelya yang langsung dijawab oleh Echan.
“Iya, mereka sudah melakukannya”jawab Echan dengan tenangnya. Membuat Intari dan Amelya bungkam seketika.
“Za berani melakukannya, kenapa Kalian tak menyentuh kami?”benak Keduanya menatap sang Suami yang memeluk mereka.
“Orang yang sudah meminum serum yang ku ciptakan itu, tak akan bisa hamil meski sudah berhubungan selama setahun sekali pun”jelas Welida kembali yang membuat Evita terdiam mendengarnya.
“Kenapa Evita, Apa Suamimu telah berhubungan denganmu, dan Kau berpikir akan mendapatkan bayi lucu?”Welida membuat Evita makin terbungkam.
Ini bukan hanya menjadi masalahnya, Intari dan Amelya juga ada didalamnya. Dan lagi yang meminum serum itu bukan hanya dirinya. Kedua sahabatnya juga, jadi Jika Ia tak bisa bagaimana dengan sahabatnya.
Mata Evita bergetar bersamaan dengan perasaan yang kini menunjukkan bahwa Ia merasa sakit yang dalam.
“Kenapa...Kenapa Kau melakukan ini, Kau juga wanita, Kau juga tahu rasanya seperti apa, lalu kenapa Kau melakukannya?”tanya Evita dengan suara yang lemah.
Hatinya tertusuk mendengar kata tak bisa hamil sedangkan ada impian kecil didalam dirinya untuk bersama Suami dan Anaknya. Namun mimpi itu seketika hilang saat wanita didepannya ini menjelaskan apa yang terjadi padanya.
“Kau bertanya kenapa?..tak ada alasannya, Aku hanya ingin seseorang tahu apa yang ku rasakan, ketika tubuhmu digilir hanya untuk menghadapi nafsu lelaki...itu saja”Welida menerangkan dengan santai.
Orang yang mendengarnya langsung meringit, karena tak habis pikir. Bagaimana bisa Seorang wanita seperti Welida bertindak dengan gila seperti ini.
“Sebenarnya Aku berniat untuk melakukan itu kepada Ibumu, tapi Ibumu itu keras kepala dan berakhir Aku harus membunuhnya. Dan mengawetkan dirinya. Jika tidak Ia akan seperti mu yang membuka pahanya hanya untuk memuaskan nafsu pria”
“Dan lagi, Jika Kau tak kabur saat itu, Aku sudah menjualmu keberbagai belahan dunia untuk menikmati hasil eksperimenku...Hahahhaha”Welida tertawa dengan rasa puas didadanya.
Ia kemudian membentangkan tangannya “Kemarilah Evita sayang, datang kepadaku, dan Aku akan menyayangimu, tinggalkan suamimu karena Kau tak akan bisa memberikan keturunannya. Kau adalah subjek terindahku, dan Aku tak akan membunuhmu kecuali....”
Welida menghentikan ucapannya, garis dibibirnya terangkat ketika melihat wajah Evita.
Mata merah yang mengalirkan darah bukan lagi air mata. Wajah yang datar penuh akan kesedihannya dan terlihat sekali Evita meratapi nasibnya.
“Kemarilah Sayang”ucap Welida melanjutkan ucapan yang terhenti tadi.
Dari kejauhan, Sebastian melihat hal tersebut lagi menatap kearah Tuan Za yang melompat dari api.
Semua kaget melihat hal ini, tak ada yang mengetahui hanya Sebastian dan Za yang mengerti. Karena saat ini Evita sedang dalam keadaan gilanya.
Evita menatap kearah Welida yang masih menantikan kedatangannya. Langkah kaki Evita menuju kepadanya dan tak lama...
Jleb!!!
Jleb!!!
Semua memejamkan mata mereka ketika melihat dua pisau yang masing-masing menancam tepat disasaran mereka.
“EVITA!!!”teriak segala orang yang melihatnya. Melihat sebuah pisau yang menancam di dada Evita dengan baiknya. Za yang mendekat juga ikut berteriak mendapati sang istri yang sudah tertusuk dengan manisnya.
Welida tersenyum ia pun menarik pisau yang menancam ditubuh Evita. dan Ia juga menarik pisau yang menancap ditubuhnya.
“Suamimu begitu baik....sayangnya kita tak bisa bermain lebih lama, tak apa lah..Kita juga mati bersama”ucap Welida yang menjatuhkan tubuhnya kebelakang.
Terlihat seorang Pria yang menyelamatkan dirinya. Pria itu tak lain adalah Mavin Vintorian. Ayah dari Mavin Vintorin.
Welida tersenyum sesaat, Ia kemudian membangunkan tubuhnya dan mendekati Evita lalu berbisik kepadanya. “Evita, asal kau tahu, kenapa Aku bisa membunuh Orang Tuamu dan kenapa mendapatkan lokasi yang seharusnya dilindungi oleh pemerintah....itu semua berkat Mavin Vintorian, Ayah dari Mavin Vintorin atau lebih tepatnya lagi Suamiku”bisik Welida dengan senyumnya dan tak lama darah keluar dari mulutnya.
__ADS_1
“Kau menusukku lebih dalam Evita”ucap Welida yang digendong ala bridal sytle oleh Mavin Vintorian.
Evita yang masih berdiri itu langsung menatap kearah Pria berbadan madu sama seperti Anaknya namun perawakkan Pria ini yang membuat Evita takut untuk memandangnya.
“Hai Nona Evita”ucap Mavin Vintorian dengan senyum khasnya. Evita yang mendengarnya menatap dengan pandangan yang sudah asing untuknya.
“Hai Tuan Mavin Vintorian”sapa balik Evita dengan nada yang asing.
Mavin Vintorian yang mendengarnya tersenyum, “Jadi, Evita maafkan Aku yang membuat acara membunuhmu ini sampai disini, lagian dia tak akan lama lagi..Aku hanya menjemputnya”ucap Mavin Vintorian dengan memandang kearah mantan Istrinya. Orang yang masih dicintai olehnya.
“Silahkan, bawa dirinya...namun”Evita menahan tangan Mavin Vintorian yang ingin melangkah pergi.
Darah yang mengalir didadanya, diambil dan dicapkan dengan telapak tangan tepat dibaju Mavin Vintorian. Semua yang melihatnya menatap kaget.
“Dengar, Aku akan menghabisi dirimu Mavin Vintorian bahkan sampai keakarnya, karena kalian berani mempermainkan diriku”ucap Evita yang melepaskan tangannya.
Mavin Vintorian yang mendengarnya tersenyum “Aku menantikannya Nona Kim Hyun Jae, sang Mafia yang dinanti oleh orang-orang, temuilah Aku...Aku tak akan kabur sekali pun”ucap Mavin Vintorian yang melangkah pergi meninggalkan semua orang yang tercenga melihatnya.
Bukan hanya dirinya, Mavin Vintorin yang merupakan anak sendiri juga dilanda keterkejutan. Karena Ayahnya lah yang menjadi sebab kematian orang tua Evita.
Mavin menatap kearah helikopter yang dibawa. Terlihat Ayahnya mengangguk memandangnya dan pergi dengan mengendong orang yang tak mau dipercayai olehnya. Ibunya sendiri.
Za menatap kearah Evita yang membalikkan tubuhnya. Za merasa sakit melihatnya. Ia ingin segera menolong Evita, tapi Istrinya ini terlihat tak ingin disentuh olehnya.
“Za...Aku takut, apa yang ku takutkan malah terjadi, lihat..Aku hanya wanita sampah yang menjadi pemuas nafsu seseorang, Za....apa lebih baik,Aku mati saja?”tanya Evita kepada suaminya.
Za memeluk Evita lalu mengendongnya dengan hati-hati. “Saat ini berdiamlah, Aku akan membawamu kerumah sakit”ucap Za dengan nafas yang memburu. Ia takut telat, ia takut Istrinya memilih kematian dari pada dirinya.
Semua yang melihat Za mendekat langsung menyiapkan Mobil. Maya yang ada disana menuntun pasukkan Evita untuk kembali. Ia sempat melihat dibukit kecil dimana para pemimpin mafia sudah pergi tak terlihat.
“Mereka pasti akan melakukan sesuatu?”benak Maya.
Intari dan Amelya juga bersiap untuk pergi. Terlihat wajah Evita yang mulai mengantuk. Membuat air mata mereka tak bisa berhenti mengalir.
“Za..Aku ingin tidur..boleh?”tanya Evita yang merasa dadanya sakit sampai Ia ingin menahannya tapi tubuhnya tak mau bergerak sama sekali.
“Jangan Tidur Evita..kita kerumah sakit sekarang”ucap Za. Ia menatap sebastian yang menyetir. “Sebastian, pergi kerumah sakit terdekat disini, ada pamanku disana”ucap Za.
Sebastian mengangguk dan langsung menancapkan gasan nya. Mereka membelah jalan menuju kerumah sakit secepatnya.
Beberapa yang lain akan menyusul mereka. apa lagi untuk dua pemuda yang kaget melihat keluarga mereka datang dengan wajah yang penuh pertanyaan.
“Ka...Kakek?”guman Yoongi dan Echan yang melihat Kakek mereka datang menatap kesegala arah dan mendapati mereka berdua.
Tak hanya itu, Intari dan Amelya yang menangis itu langsung berhenti ketika melihat tiga orang yang disebut kakek oleh suami mereka. hal ini menjadikan suasana yang berbeda.
“Yoongi, Echan..jelaskan apa yang terjadi disini?”tanya kakek Kedua yang merupakan Ayah dari Ayahnya Yoongi. Yoongi dan Echan langsung mengenggam tangan Istri mereka.
Hal ini menimbulkan keterkejutan diantara para Kakeknya. “Kakek, lebih baik kita kerumah sakit terlebih dahulu, Kami akan menjelaskannya”jawab Echan yang dianggukkan oleh Yoongi.
Kakek mereka mengangguk, semua langsung bergegas menyusul Za yang dalam perjalanan menuju kerumah sakit.
Intari dan Amelya yang tadi menangis kini terdiam karena melihat raut wajah suami mereka yang terlihat serius dan penuh kekhawatiran. Mereka yakin memang sudah saatnya tiba apa yang dinanti oleh mereka sendiri.
-
Tak perlu lama untuk Sebastian membawa mobil, mereka tiba dirumah sakit dimana rumah sakit tersebut milik Paman Za. Kakak dari Ibunya.
Para suster langsung bergegas mendekat saat melihat Za mengendong Evita dengan darah yang memenuhi pakaian mereka.
“Kenapa?”tanya seorang pria berpakaian putih khas dokter umumnya. Ia datang ketika melihat orang yang dikenalinya.
“Keponakkanku Zhan, apa yang terjadi?”tanya Chen Rey, Kakak dari Ibunya yang bernama Chen Hya.
*panggilan dari keluarga Ibu Za, adalah Zhan sedangkan panggilan dari keluarga Ayahnya, adalah Chen.
“Paman, bantu istriku, ia tertusuk dibagian dadanya”jawab Za dengan nafas yang memburu.
Chen Rey yang melihatnya mengangguk, “Apa yang terjadi, Kau menikahinya, atau kau menghamili dirinya, apa keluarga besar Zhan mengetahuinya, Zhan...asal kau tahu, Ayahmu itu sedikit nakal sepertimu..meski setia kepada Ibumu,intinya Ia nakal bukan dalam arti mempermainkan wanita, tapi...”
“Paman, Istriku sedang kritis, tak ada saatnya untuk berbicara”ucap Za yang menatap tajam kearah Pamannya.
__ADS_1
“Kau sama seperti Ayahmu waktu itu..sudahlah, persiapkan saja dirimu Zhan”Pamanya pergi meninggalkan Za yang kini mendudukkan dirinya.